Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Histeria Sang Mantan
Napasnya memburu, terasa begitu panas hingga membakar tenggorokannya. Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya. Dengan gerakan yang terkesan kasar dan tak sabar, tangan Kenzi yang gemetar merenggut dasi sutranya hingga terlepas dan melemparkannya ke atas lantai marmer. Tidak berhenti di situ, jemari kokohnya mencengkeram kerah kemeja putih mahalnya, merobek kancing-kancingnya satu per satu hingga terlepas berhamburan bagai butiran mutiara yang pecah. Ia melepas kasar kemeja itu, mencampakkannya begitu saja ke sudut ruangan.
Suci yang berdiri hanya selangkah di hadapannya seketika terperanjat. Langkah kakinya tertahan, sepasang matanya membelalak lebar dengan binar kelaparan yang tak lagi disembunyikan.
Di bawah temaram lampu ruang kerja eksekutif, Suci nampak terkejut melihat penampakan tubuh Kenzi yang kini terekspos tanpa busana di bagian atas. Pria oriental itu memiliki proporsi tubuh yang teramat seksi dan sempurna. Kulitnya putih mulus, bersih tanpa cela, membungkus otot-otot dada dan lengan yang liat serta terlatih dengan baik. Di bagian bawahnya, perutnya yang rata dengan guratan otot six-pack yang tegas tampak naik turun seiring dengan helaan napasnya yang memburu dramatis.
Pemandangan erotis yang tersaji nyata di depan mata membuat gairah di dalam diri Suci mendidih seketika. Rasa serakah dan syahwatnya berbaur, menciptakan dorongan iblis yang membuatnya ingin segera menerkam pria perkasa itu.
"Kenzi..." bisik Suci dengan bibir bergetar, tangannya yang terbungkus sarung tangan karet tipis terulur, mencoba menyentuh dada bidang Kenzi yang berkilat oleh peluh dingin.
"Jangan... sentuh... aku... wanita menjijikkan!" geram Kenzi.
Dengan sisa kekuatan logika yang ia pasung mati-matian, Kenzi mengumpulkan seluruh energi maskulinnya. Sebelum jemari Suci menyentuh kulitnya, Kenzi mengayunkan lengan kokohnya, mendorong tubuh Suci dengan sangat kuat. Sentakan itu begitu bertenaga hingga membuat Suci terhuyung ke belakang, pinggulnya menghantam sudut meja jati dengan keras hingga ia memekik kesakitan.
Memanfaatkan momentum itu, Kenzi membalikkan badannya dengan langkah yang limbung. Sambil mencengkeram kepalanya yang terasa mau pecah, ia menyeret langkah kakinya menuju pintu selebar satu meter di sudut ruangan—pintu menuju kamar mandi pribadi eksklusif milik CEO.
BRAKK! CLICK!
Pintu kayu jati solid itu ditutup dengan bantingan keras, disusul suara besi pengunci yang berputar ganda dari dalam.
Suci yang baru saja berhasil menguasai keseimbangannya langsung berlari mengejar. Wajah cantiknya berkerut mengerikan oleh rasa tidak percaya. Ia menghantamkan kedua telapak tangannya ke atas permukaan pintu jati tersebut dengan beringas.
"Kenzi! Buka pintunya! Kenzi!" teriak Suci histeris. Jari-jarinya mencengkeram kenop pintu, mencobanya berkali-kali dengan gerakan cepat yang frustrasi.
Suci menggeram kesal saat ia menyadari bahwa pintu itu sama sekali tidak bisa dibuka dari luar. Pintu kamar mandi VIP itu dirancang dengan sistem keamanan tingkat tinggi yang mustahil ditembus tanpa kunci digital atau kapak penghancur. Di dalam sana, terdengar suara gemercik air pancuran yang mendesau deras. Kenzi sengaja mengguyur tubuhnya yang membara dengan air es yang dingin, mencoba membunuh racun jahanam yang merusak sarafnya, meninggalkan Suci yang berdiri di luar sambil menghentakkan kakinya, mengutuk kegagalannya yang nyaris saja berbuah kemenangan manis.
****
Di sudut kota yang lain, di sebuah rumah kontrakan sempit di dalam gang padat penduduk—tempat pelarian Rian dan ibunya setelah seluruh aset mereka disita oleh pengadilan—suasana terasa sangat mencekam dan berbau kepasrahan yang pekat. Dinding ruang tamu yang berjamur dan udara yang pengap seolah menegaskan bahwa kejayaan keluarga Mahesa telah mati menjadi abu.
Rian duduk di atas sofa usang dengan kepala tertunduk, sementara Anne Wahyuandini berbaring di atas tikar plastik sambil memegangi dahinya yang dikompres kain basah. Di sudut ruangan, Arka duduk memeluk lututnya, menatap kedua orang dewasa itu dengan pandangan yang kosong dan ketakutan.
Keributan kecil di pintu depan memecah keheningan. Pintu tripleks yang lapuk itu terbuka, memunculkan sosok wanita yang sangat tidak asing bagi mereka.
Sintia Arunika melangkah masuk dengan keanggunan seorang ratu yang tak terusik oleh debu kemelaratan di sekelilingnya. Ia mengenakan setelan blazer kasual berwarna krem, sepasang matanya yang jernih menatap lurus ke arah Arka, mengabaikan dekorasi ruangan yang menyedihkan.
Rian dan Anne nampak terkejut bukan main. Sepasang mata mereka membelalak, seolah melihat hantu dari masa lalu yang datang untuk mencabut sisa nyawa mereka.
"Sintia...?" suara Rian tercekat di tenggorokan. Ia langsung bangkit berdiri dari sofa usangnya.
"Aku datang ke sini bukan untuk berdebat denganmu, Rian. Aku juga tidak tertarik melihat kondisi kalian," ucap Sintia, suaranya terdengar sangat datar, tenang, namun memiliki ketegasan hukum yang mutlak. "Aku datang untuk membawa Arka bersamaku. Sesuai dengan draf gugatan yang sedang disusun oleh Mas Bram, aku akan mengambil hak asuh anak ini. Kalian tidak lagi memiliki kelayakan finansial maupun moral untuk membesarkannya."
****
Mendengar kalimat itu, otak Rian yang sudah tumpul oleh stres mendadak berputar cepat. Alih-alih marah karena anaknya hendak diambil, pria egois itu justru melihat sebuah celah besar—sebuah tali penyelamat yang dilemparkan takdir untuk menariknya keluar dari lubang kemiskinan ini.
Rian melangkah cepat, lalu tanpa memedulikan harga dirinya yang sudah hancur lebur, ia menjatuhkan dirinya di depan Sintia. Pria itu berlutut, mencengkeram ujung celana Sintia dengan kedua tangannya yang bergetar hebat.
"Sintia... Sin, aku mohon... jangan cuma bawa Arka," ratap Rian, air mata buayanya mulai meleleh membasahi pipinya yang kotor. Pria itu menggunakan momen ini dengan sangat licik untuk mencoba kembali pada Sintia. "Bawa aku juga, Sin! Aku minta belas kasihan padamu. Aku sudah bangkrut, aku tidak punya apa-apa lagi di dunia ini. Suci sudah menipuku dan pergi. Aku sadar sekarang, cuma kamu wanita yang tulus mencintaiku. Izinkan aku kembali jadi suamimu, Sin... aku rela jadi apa saja, asalkan kita bisa bersama lagi seperti dulu..."
Sintia menatap pria di bawah kakinya dengan pandangan yang dipenuhi rasa jijik yang teramat pekat. "Lepaskan tanganmu, Rian. Kamu membuatku mual."
****
Tidak ingin ketinggalan kereta keselamatan, Anne Wahyuandini yang tadinya merintih sakit di atas tikar plastik, mendadak melompat bangun dengan kekuatan yang entah datang dari mana. Wanita tua yang dulunya selalu menatap Sintia dengan dagu terangkat dan memaki mantan menantunya itu sebagai "wanita mandul mandor sial", kini merangkak mendekat dengan lututnya.
Anne ikut berlutut di samping anaknya, wajah keriputnya dipenuhi oleh senyuman paksa yang terlihat sangat mengerikan sekaligus menyedihkan. Ia melakukan hal yang sama—menjilat mantan menantunya demi bisa hidup enak dan kembali ke rumah mewahnya di kawasan Mampang.
"Sintia, menantuku yang paling cantik, paling saleha..." ucap Anne, suaranya mendayu-dayu, terdengar sangat menjijikkan saat ia mencoba meraih jemari tangan Sintia untuk diciumnya. "Ibu mengaku salah, Nak. Ibu dulu dibutakan oleh bisikan setan si Suci itu. Kamu adalah menantu terbaik yang pernah Ibu miliki. Tolong ampuni Rian, Nak... bawalah kami kembali ke rumah Menteng. Ibu janji tidak akan pernah memarahimu lagi. Ibu akan melayanimu setiap hari, asalkan kita bisa hidup enak seperti dulu lagi, Sintia... Ibu tidak kuat tinggal di gang sempit ini, baunya busuk, Ibu bisa mati..."
Sintia menarik tangannya dengan sentakan kasar sebelum kulit keriput Anne menyentuhnya. Ia mundur dua langkah, menatap dua sosok manusia di hadapannya yang kini tak lebih dari sekadar ulat kekuasaan yang merangkak di dalam lumpur keserakahan mereka sendiri.
Hatinya menjerit perih, bukan karena sedih atas penderitaan mereka, melainkan karena ia menyadari betapa mengerikannya watak asli manusia-manusia yang pernah mengisi hidupnya selama tujuh tahun. Mereka tidak menangis karena menyesal telah menyakiti hatinya, mereka menangis hanya karena mereka telah kehilangan harta materi mereka. Pengkhianatan mereka begitu murah, dan penyesalan mereka jauh lebih murah lagi.
Sintia mengalihkan pandangannya dari dua sosok yang bersujud itu, menatap langsung ke arah Arka yang masih meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
"Arka, ikut Tante sekarang," ucap Sintia, suaranya melembut, memancarkan ketulusan suci yang kontras dengan kebusukan di sekelilingnya.
Arka menatap Sintia, lalu melihat ayah dan neneknya yang masih meratap di lantai. Bocah polos itu tidak mengerti apa yang terjadi, namun insting murninya mengatakan bahwa wanita anggun di depannya adalah satu-satunya pelindung yang aman. Arka bangkit berdiri, berlari kecil melewati tubuh ayah dan neneknya, lalu menggenggam erat jemari tangan Sintia yang terasa begitu hangat. Sintia memeluk bahu kecil Arka, membalikkan badannya, dan melangkah keluar dari rumah kontrakan itu tanpa menoleh sedikit pun ke arah raungan histeris Rian dan Anne yang terus memanggil namanya di atas puing-puing kehancuran harga diri mereka yang telah tergadaikan.