Hari itu dimana aku salah memilih dan bersikeras walau orang tua ku melarang dan memperingatkan atas apa yang ku pilih.
aku hidup dengan status baru sebagai seorang istri, dimana aku harus selalu berusaha menutupi apa yang ku rasakan.
Hingga dimana hidup ku bagai di ujung jurang neraka yang menjelma di dalam bumi,
rasa ingin mengakhiri waktu untuk diriku sendiri.
sayang Tuhan masih baik mengirimkan perantara untuk hidup ku.
hari hari ku masih dengan segala pertanyaan hingga ayah ku datang ke rumah ku dengan seribu misteri jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra Badrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keluarga chandra
Apa lagi yang mau kelak kristi? kau sama dengan adik mu hanya mau menguntungkan dirimu sendiri, ngak pernah kau berfikir dampang dari ulah mu, mengambil barang yang bukan milik mu walau itu dirumah saudara mu sendiri, kembalikan semua yang pernah kau pakai dan sedang kau pakai.
"aku di ijinkan chandra untuk mengambil apapun yang ku suka di apartemen milik nya, semua barang itu di berikan ke perempuan itu dengan hasil kerja chandra,bang. Aku tau Chandra bekerja keras untuk hidup di jakarta ini"
Mereka semua tidak mengetahui apapun tentang adik nya selama di Jakarta ini, karena memang chandra sebelum nya hanya tinggal dengan kakak nya. Arma dan Kristi tinggal di luar jakarta, mengira chandra membeli tempat nya tinggal nya, hingga mereka mengijinkan untuk keluar dari rumah keluarga nya.
"chandra hanya benalu bagi ku, sayang aku baru menyadarinya setelah kejadian yang menimpa ku, aku ngak mau lagi memperjuangkan diri nya, bahkan berdebat kalian, aku akan menempuh jalur hukum yang pantas untuk dia, ngak akan pernah mengubah keputusan apapun, kau Kristi kau pun akan merasakan lebih pahit dari yang terjadi kini, karena kau sama mengejar harta dunia yang bukan milik mu, menderita lah hidup serta anak anak mu karena ulah dan ucapan mu"
Seketika mata dua pasang suami istri dan semua yang ada disana menoleh ke gadis itu, tidak ada yang menyangka bunga yang penuh lembah lembut, sifat welas asih nya bisa mengutuk dengan begitu keras.
"Sudahlah nak, biarkan hukum karma dan hukum dunia yang berlaku, jangan membuang tenaga mu untuk hal yang seperti ini, iklaskan semua nya"
"maaf ayah aku ngak bisa mengiklaskan sedikitpun perlakuan mereka dan aku sudah cukup bersabar untuk hal itu"
"ingat yang ku katakan Kristi, ketika keluar dari tanah yang kau pijak sekarang hidup mu berubah sangat memprihatikan, sama seperti adik mu yang kau junjung atas kesalahan nya, kau pun dengan lancang bersumpah atas nama Tuhan Yang Esa atas perbuatan buruk mu"
Langit yang terang mendadak di hujani petir begitu besar ketika gadis itu berkata, getaran nya sangat di rasa di dalam rumah.
Eyang, senopati, pahing melihat semua yang terjadi, hanya bisa geleng kepala bukan karena ada nya mereka gadis itu berani dengan lantang bersuara, menarik diri pergi dari kumpulan yang ada dirumah nya, pergi ke halaman belakang dengan laki terseok-seok seperti lupa diri nya sakit.
"lidah nya begitu tajam sangat bahaya" jelas Senopati
Revo datang menghampiri gadis itu duduk termenung menatap jauh entah kemana, menanggis terguguh atas semua yang terjadi.
"kepercayaan itu sulit aku bangun, rasa itu sulit aku ciptakan setelah andra pergi, lalu dia dengan mudah merusak semua nya vo"
Revo menarik kepala gadis itu untuk bersandar di pundak nya, "menanggis lah kalau itu membuat hati mu tenang, ngak perlu di sesali sedikitpun pasti ada yang lebih baik untuk hidup mu kedepan, kami masih bersama mu menemani mu"
Di ruang keluarga masih berkumpul menjamu tamu tamu itu, suasana begitu cangung tidak ada yang berani suara arma dan keluarga begitu malu atas semua yang terjadi.
Banu menunggu apa lagi yang akan di ungkapkan dari keluarga itu, sampai di rasa sudah tidak ada lagi yang mereka katakan, lelaki paruh baya itu membuka suara.
" tidak ada seorang ayah yang mau anak gadis nya terluka, sakit bahkan sengsara. Bukan begitu Arma ?"
Arma yang mengagungkan kepala menjawab nya dengan wajah agak tertunduk.
"saya sangat mengenal anak saya bahkan di antara semua yang disini mungkin hanya saya yang mengetahui sisi lain anak nya, gadis itu tidak pernah membenci sampai menyumpahi hidup seseorang, ini kali pertama saya melihat secara langsung bagaimana murka hati nya "
"maafkan kami atas kelancangan kami om membela yang salah" potong arma merasa bersalah.
"kau seorang ayah bukan? kau akan mengerti ketika anak mu di asuh oleh tangan dan hidup mu sendiri, saya tidak pernah membenci dan marah pada kalian,
karena saya tidak memiliki masalah dengan kalian"
"jika kecewa jelas sangat kecewa, saya hanya mau yang terbaik untuk anak gadis saya, jadi kalian ngak pernah susah payah menuntut balik atau meminta ganti rugi apapun itu, kalian siapakah diri kalian jika mau membantu saudara kalian itu"
"Maksud om bagaimana?"
Arma dan istri bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Banu, takut takut mengambil keputusan malah berdampak kehidupan nya.
"kalau mau membantu saudara kalian itu maka bersiaplah mampu mengganti semua yang sudah di pakai" banu menyerahkan Card Credit dan laporan tagihan yang di dia terima dari helen.
Keluarga itu melihat isi kertas yang banyak sekali angka, memperhatikan semua nya urut demi urut yang ada.
arma memijat kening nya di rasa sangat berat
"tidak mungkin adik kami memakai ini semua om?"
bantah Fani membuka suara sedari tadi hanya memperhatikan duduk masalah nya.
banu menyerahkan lagi kertas laporan medis yang di simpan selama bunga tidak sadarkan diri, "cocokkan lah, kau pernah bekerja di salah satu rumah sakit besar ternama di rumah sakit, pasti kau mengerti nak"
Kristi yang merampas kertas kertas itu memperlihatkan semua nya, sambil mengingat apa ini yang pernah di pakai nya selama seminggu waktu singgah di jakarta
"tidak mungkin pasti ini palsu, kalian karang semua ini untuk memeras kami, bukan begitu?"
"nyonya sedari tadi saya diam tidak mau berbicara karena saya tau diri, walau semua bukti masalah ini saya menyimpan nya, nyonya takut ketahuan memakai nya juga bukan ? Ini saya berikan bukti CCTV foto"
arma semakin geram dengan kristi yang dari tadi hanya membantah semua bukti yang di berikan."diam kau cukup kau membuat onar" perintah arma dengan kasar
"selama delapan bulan bunga koma? chandra memakai ini semua?"
"betul tuan, bahkan chandra selalu datang memastikan kondisi bunga dari jauh" kembali helen memberi rekaman cctv halaman rumah yang berisi dimana chandra mengumpat dengan kata kata sangat tidak pantas
"kami menyimpan semua memori digital bahkan memori ini nyata, real bukan sebuah editan".
"saya ingin mengetahui apa yang terjadi dengan bunga sampai koma, apa boleh karena dari tadi saya tidak mendengar penjelasan tepat nya, maaf"
"boleh sangat boleh" vandy mengambil alih dengan menatap banu sebagai tanda meminta ijin, hingga Banu mengangguk setuju.
Story memories
Hari itu dimana kami semua pergi ke taman yang baru selesai di renovasi dan mengadakan opening, ngak jauh dari rumah ini.
Memang saat itu Candra dan bunga lagi dalam hubungan yang ngak sehat, bunga sering mencari tahu tentang adik kalian, hingga sampai dimana bunga melihat sendiri semua secara ngak langsung dengan mata kepala nya.
*Mendapati chandra dengan seorang wanita bukan sekali atau dua kali itu sering terjadi.*
bunga malas berdebat karena tau jawaban dari semua pertanyaan nya adalah palsu tidak ada yang benar.
Yang benar hanya ketika chandra meminta uang ke bunga, baik pekerjaan bahkan usaha semua palsu.
adik kalian membuka toko dan itu toko milik bunga, dengan besar hati meminjamkan nya untuk adik kalian..
Dalam perdebatan nya, bunga mematikan ponsel sampai berminggu-minggu menghindari chandra, memastikan apa benar menghubungi nya untuk meminta uang aja.
Sampai saat itu Chandra melihat kami ada di taman, dan bunga tau chandra dengan seorang wanita di taman itu, terjadi perdebatan antara mereka.
Chandra memukul bunga, beruntung kami mendapat rekaman cctv taman yang tadi saya berikan, jadi saya punya bukti tidak hanya bercerita.
Bunga berlari sampai di tengah jalan berhenti lalu tertabrak mobil.
Sampai saat itu Chandra tidak pernah datang dengan hati yang baik melihat bunga.
Datang seperti pencuri mengendap endap.
Oh iya Apartemen dan kios yang di pakai adik kalian, kami sudah ambil kembali.
...****************...
Mata vandy melirik ke arah Kristi yang selalu menguasai fasilitas tersebut, melihat kegelisahan disana sangat.
"Jadi seperti itu cerita sesungguhnya, mungkin kalian sudah mendapatkan cerita dengan lain versi, tapi jika mau di sandingkan semua yang mengetahui akan sama cerita nya dengan saya"
Arma semakin pening memijat kepala nya dengan tidak beraturan. "begitu rumit sekali masalah ini pelaku merasa menjadi korban"
"apa yang bisa lakukan untuk menebus kesalahan pahaman hari ini, memang ini kesalahan nya , saya ngak akan membela adik saya yang memang bersalah, karena dari semua bukti memang benar real"
Arma menimbang menawarkan diri untuk membantu keluarga banu, karena malu telah menganggu mereka.
bunga datang jauh lebih tenang di dampingi revo menghampiri semua nya.
"abang ngak perlu berbuat apapun dirumah ini, karena disini sudah banyak orang, aku tidak menyukai berurusan dengan keluarga chandra walau beberapa di antara kalian baik, tapi tolong kristi detik ini juga kau kembalikan"
Bunga melirik helen untuk memberikan bukti apa saja yang emang di pakai kakak dari Chandra itu.
"ini semua bukti nya segera kembalikan atau kau tidak akan bisa pergi sebelum mengembalikan" helen menyambung ucapan bunga.
"Kalian salah berurusan dengan aku, disini aku lah lawan kalian bukan mereka, mereka hanya berusaha melindungi aku" bunga memandang dengan sorot tajam rasa ingin menerkam siapa saja yang menghalangi nya