NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6: Ancaman yang Menjelang di Balik Bayang

Sore itu, langit di atas kota tua kembali berubah menjadi kelabu pekat, seolah langit pun ikut merasakan ketegangan yang melanda rumah besar keluarga Ardiansyah. Setelah kejadian pembacaan surat wasiat yang memalukan itu, suasana di dalam rumah tidak pernah kembali tenang. Berita tentang pertengkaran hebat antara Lira dan Tuan Handoko segera menyebar ke seluruh penjuru kota, menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan masyarakat, rekan bisnis, maupun orang-orang penting. Ada yang memuji keberanian Lira, ada yang merasa kasihan padanya, namun tidak sedikit pula yang bergumam bahwa gadis muda itu terlalu berani, terlalu nekat, dan pasti akan menanggung akibat buruk karena telah melawan orang sekuat Tuan Handoko.

Di ruang kerja ayahnya yang kini menjadi miliknya sepenuhnya, Lira duduk di belakang meja besar yang dulunya selalu diduduki oleh Tuan Ardiansyah. Di atas meja itu, tersusun rapi berkas-berkas penting, surat wasiat asli, serta salinan bukti kejahatan yang diberikan Raga kemarin malam. Lira menatap tumpukan kertas itu dengan pandangan serius, tangannya memegang pena namun tidak bergerak sedikit pun. Pikirannya kacau, hatinya tidak pernah merasa tenang sedetik pun.

Ia tahu betul, kemenangan yang ia raih kemarin itu hanyalah kemenangan sesaat. Tuan Handoko bukan orang yang akan menerima kekalahan begitu saja, apalagi kekalahan itu terjadi di depan banyak orang dan membuatnya dipermalukan habis-habisan. Lelaki itu pasti sedang menyusun rencana balas dendam yang jauh lebih kejam, jauh lebih berbahaya, dan Lira harus bersiap menghadapinya kapan saja, tanpa tahu bentuk bahaya apa yang akan datang.

Pintu ruang kerja tiba-tiba diketuk pelan, membuat Lira tersentak kaget dari lamunannya.

“Masuk,” ucap Lira dengan suara tenang, berusaha menyembunyikan rasa kagetnya.

Pintu terbuka, dan tampak Bu Sumi masuk dengan nampan berisi teh hangat dan sepiring kue kering. Wajah wanita tua itu tampak cemas, matanya sesekali melirik ke sekeliling ruangan seolah takut ada orang lain yang mengintai atau mendengar.

“Nona, ini teh hangat. Minumlah sedikit, supaya badan Nona tidak dingin karena terus-menerus duduk di ruangan yang agak sejuk ini,” kata Bu Sumi pelan, lalu meletakkan nampan itu di sudut meja.

“Terima kasih, Bu Sumi,” jawab Lira lembut, lalu menatap wanita itu dengan pandangan penuh perhatian. “Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Bu, ya? Aku lihat Bu gelisah sekali sejak tadi.”

Bu Sumi menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat, membungkukkan badannya sedikit dan berbicara dengan suara sangat pelan, hampir berbisik.

“Benar, Nona. Aku… aku mendengar kabar buruk dari orang-orang pasar tadi pagi. Katanya, Tuan Handoko sangat marah besar sampai-sampai ia mengumpulkan semua orang kepercayaannya, orang-orang yang kasar dan tidak punya aturan, di rumahnya. Orang-orang itu bilang, Tuan Handoko bersumpah tidak akan membiarkan Nona hidup tenang, dan ia akan melakukan apa saja untuk mengambil kembali apa yang menurutnya menjadi miliknya. Bahkan ada yang bilang… beliau tidak segan-segan menggunakan cara kotor, cara yang tidak pantas dilakukan orang baik-baik.”

Darah Lira terasa mengalir dingin di seluruh tubuhnya. Ia sudah menduga hal itu akan terjadi, namun mendengarnya secara langsung membuat rasa takut itu menjadi lebih nyata dan terasa dekat.

“Bu Sumi takut, Nona. Aku takut beliau akan mengirim orang jahat ke sini, mengganggu Nona, atau bahkan mencoba mencelakai Nona diam-diam. Beliau orang yang punya koneksi di mana-mana, punya uang yang banyak untuk membayar orang jahat, dan tidak ada hal yang tidak berani beliau lakukan,” tambah Bu Sumi dengan mata berkaca-kaca karena khawatir.

Lira bangkit berdiri, lalu mengusap lembut bahu wanita tua itu untuk menenangkannya.

“Tenanglah, Bu. Aku tahu bahayanya. Aku tahu aku sedang melawan orang yang sangat jahat dan berkuasa. Tapi aku tidak takut. Selama aku memegang kebenaran, selama aku punya bukti kejahatannya di tangan, dia tidak akan berani bertindak terlalu terang-terangan. Dia masih takut jika sampai semua rahasia kejamnya terbongkar ke hadapan umum,” ucap Lira tegas, meskipun di dalam hatinya ia juga merasa cemas.

“Tapi Nona, beliau orang yang cerdik. Beliau pasti akan mencari celah, mencari cara yang tidak akan menimpakan kecurigaan pada dirinya sendiri. Bisa jadi lewat kecelakaan, lewat penyakit mendadak, lewat hal-hal yang terlihat alami namun sebenarnya rekayasa jahat,” kata Bu Sumi dengan nada getir. “Aku sudah melayani keluarga ini puluhan tahun, aku sudah melihat betapa kejam dan dinginnya hati orang itu saat dia menginginkan sesuatu. Nona harus sangat berhati-hati, lebih berhati-hati dari sebelumnya. Jangan pergi sendirian ke mana pun, jangan percaya siapa pun selain aku, kunci semua pintu dan jendela setiap malam, dan jangan pernah makan atau minum makanan yang disuguhkan orang yang tidak kita kenal atau tidak kita percayai.”

Lira mengangguk perlahan, menyadari bahwa peringatan Bu Sumi itu bukan ketakutan berlebihan, melainkan peringatan nyata yang harus ia perhatikan dengan serius.

“Aku paham, Bu. Aku akan melakukan semua itu. Aku tidak akan ceroboh lagi,” janji Lira dengan sungguh-sungguh. “Dan satu hal lagi, Bu… Aku khawatir dengan nasib Raga. Setelah kejadian kemarin, Ayahnya pasti sangat marah padanya. Pasti Ayahnya mengawasi dia ketat, melarang dia keluar, melarang dia bertemu atau menghubungiku. Aku takut Ayahnya akan menyakiti dia, atau melakukan hal buruk kepadanya karena dia dianggap sudah mengkhianati keluarga.”

Mendengar nama Raga, wajah Bu Sumi juga berubah menjadi sedih dan khawatir.

“Aku juga khawatir begitu, Nona. Mas Raga memang orang yang berani dan tegas, tapi beliau sendirian melawan kekuasaan Ayahnya sendiri. Tapi percayalah, Mas Raga pasti sudah siap menghadapi risiko itu demi kebenaran dan demi Nona. Beliau sudah pernah bilang padaku dulu, bahwa apapun yang terjadi, beliau tidak akan pernah menyesal memilih berada di pihak Nona, meskipun harus dibuang dari keluarganya sendiri.”

Kalimat itu membuat hati Lira terasa hangat sekaligus nyeri. Cinta Raga yang begitu besar dan tulus itu menjadi satu-satunya kekuatan yang membuatnya tetap kuat menghadapi semua masalah ini, namun di saat yang sama, rasa bersalah selalu menghantuinya karena pemuda itu harus menderita dan terancam bahaya hanya karena mencintai dirinya.

Saat mereka sedang berbicara tiba-tiba terdengar suara gaduh dari halaman depan rumah, disusul suara bentakan keras yang membuat keduanya terkejut dan menoleh bersamaan.

“Apa itu?!” seru Lira kaget.

“Kedengarannya ada orang datang dan membuat keributan di depan, Nona!” jawab Bu Sumi dengan wajah pucat.

Tanpa membuang waktu lagi, Lira segera melangkah cepat keluar ruang kerja, diikuti oleh Bu Sumi yang berjalan tergesa-gesa di belakangnya. Saat mereka sampai di beranda depan rumah, pemandangan yang terlihat di sana membuat darah Lira mendidih sekaligus kaget.

Di halaman depan, sudah berdiri empat orang lelaki bertubuh besar, berotot, berpakaian kasar dengan wajah yang galak dan mengerikan. Mereka berdiri di sana dengan sikap tidak sopan, menginjak rumput halaman yang sudah rapi, sementara Pak Darto dan dua orang pelayan lainnya mencoba menahan mereka dengan wajah ketakutan namun tidak berani bertindak keras karena tubuh mereka jauh lebih kecil dan lemah dibandingkan orang-orang itu.

Di depan gerbang, terparkir sebuah mobil truk tua yang besar, dan beberapa orang lain sedang sibuk menurunkan tumpukan barang-barang bekas, karung, dan barang rongsokan yang kotor.

“Apa maksud semua ini?!” bentak Lira dengan suara keras dan tegas, membuat semua mata yang ada di sana seketika beralih kepadanya. “Siapa kalian? Berani-beraninya masuk ke halaman rumah orang lain tanpa izin dan membuat keributan!”

Salah satu orang lelaki bertubuh besar itu, yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok, melangkah maju dengan senyum sinis yang tidak sopan. Wajahnya penuh bekas luka, matanya yang tajam menatap Lira dengan pandangan yang tidak pantas, seolah-olah wanita muda itu bukan pemilik rumah, melainkan orang rendahan yang bisa diperlakukan sembarangan.

“Kami dikirim oleh Tuan Handoko Wijaya, Nona Cantik,” ucap orang itu dengan suara kasar dan serak, nada bicaranya penuh nada meremehkan. “Tuan kami bilang, tanah di sebelah kiri rumah ini adalah milik sah beliau. Karena Nona sudah mengambil hak beliau atas harta keluarga Ardiansyah dengan cara licik, maka beliau memerintahkan kami untuk menggunakan tanah itu sesuai keinginan beliau. Mulai hari ini, tanah itu akan kami jadikan tempat penumpukan barang rongsokan dan tempat kerja kami. Silakan Nona nikmati pemandangan dan suasananya, karena ini baru permulaan saja.”

Kalimat itu membuat darah Lira mendidih karena marah. Itu jelas-jelas tindakan provokasi, tindakan sengaja untuk mengganggu, membuat tidak nyaman, dan menekan mentalnya. Tanah yang dimaksud itu memang berbatasan langsung dengan rumah utama, dan jika dijadikan tempat penumpukan barang rongsokan, maka suasana rumah yang dulu tenang, bersih, dan indah itu akan menjadi kotor, berantakan, bau tidak sedap, dan penuh keributan setiap hari. Tindakan ini jelas merupakan cara balas dendam yang kejam namun dilakukan secara halus, supaya tidak terlihat melanggar hukum secara terang-terangan, namun cukup membuat Lira menderita dan tidak tenang.

“Itu bohong! Tanah itu sudah menjadi milik keluarga kami sejak puluhan tahun yang lalu! Ada surat buktinya, ada sertifikatnya! Kalian tidak berhak sedikit pun berada di sana, apalagi menggunakan tanah itu sembarangan!” seru Lira dengan suara tinggi, menahan amarahnya yang sudah meledak.

Orang lelaki kasar itu malah tertawa keras, suara tawanya terdengar kasar dan mengerikan.

“Nona muda memang pintar bicara. Tapi Nona harus tahu, di dunia ini, surat-surat kertas itu tidak ada artinya jika yang punya kuasa dan uang mengatakan lain. Tuan kami sudah mengurus semuanya. Semua surat tanah itu sudah diubah namanya, sudah disahkan secara hukum. Jadi sekarang, tanah itu benar-benar milik beliau, dan kami hanya menjalankan perintah tuan kami saja. Kalau Nona keberatan, silakan bicarakan langsung dengan Tuan Handoko, atau lapor ke polisi, silakan saja. Kami tidak takut.”

Kata-kata itu penuh tantangan, penuh ancaman yang tersirat. Lira tahu betul, melapor ke polisi saat ini tidak akan banyak membantu. Tuan Handoko memiliki koneksi yang luas, memiliki uang yang cukup untuk memutarbalikkan kebenaran, dan bisa saja polisi yang ia datangi adalah orang-orang yang sudah dibayar atau berada di bawah pengaruhnya. Melapor sekarang hanya akan membuang waktu dan energi, bahkan bisa membuat dirinya semakin dipermainkan.

Namun membiarkan mereka melakukan sembarangan juga sama saja dengan menyerah, sama saja dengan membiarkan Tuan Handoko memenangkan permainan jahatnya perlahan-lahan.

“Kalian pergi sekarang juga!” bentak Lira dengan suara gemetar karena marah. “Saya beri waktu lima menit untuk mengangkut kembali semua barang itu dan pergi dari sini. Jika kalian tidak mau pergi, saya akan memanggil orang-orang keamanan dan akan bertindak keras untuk mengusir kalian keluar, sesuai hak saya sebagai pemilik sah tanah dan rumah ini!”

Orang lelaki itu menyeringai makin lebar, lalu melangkah maju semakin dekat ke arah Lira, sampai jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal saja. Bau bau asap rokok dan bau badan yang tidak sedap langsung menyambar hidung Lira, membuatnya ingin muntah namun ia tetap mempertahankan sikap tegapnya.

“Wah, galak sekali Nona cantik ini. Tapi kami tidak takut ancamanmu, Nona. Ingatlah baik-baik kata-kata kami: ini baru permulaan. Selama kamu masih keras kepala, selama kamu masih berani melawan Tuan Handoko, kamu akan terus mendapatkan gangguan seperti ini, bahkan yang jauh lebih buruk lagi. Jangan sampai kamu menyesal dan menangis minta ampun saat semuanya sudah terlambat.”

Saat orang itu hendak mengulurkan tangannya kasar untuk menyentuh bahu Lira, tiba-tiba sebuah suara berat, dingin, dan penuh tekanan terdengar memecah keributan itu, membuat semua orang seketika terdiam dan menoleh ke arah gerbang.

“Singkirkan tangan kotormu itu, sebelum aku mematahkannya.”

Suara itu… suara yang sangat dikenal oleh Lira, suara yang selalu membuat jantungnya berdebar, suara yang selama ini dirindukannya namun tidak sempat ia dengar lagi sejak kejadian kemarin.

Dari balik gerbang yang terbuka, tampak sosok Raga berdiri di sana dengan wajah yang sangat serius, dingin, dan penuh amarah yang tertahan. Wajahnya tampak sedikit kusam, matanya tampak lelah seolah tidak tidur semalaman, namun tatapan matanya yang tajam itu penuh kekuatan dan ancaman yang nyata. Di balik pakaian rapi yang dikenakannya, terlihat jelas ada bekas lebam kecil di sudut bibirnya, tanda bahwa pemuda itu pasti baru saja dipukul atau dipaksa bertengkar hebat dengan ayahnya sendiri.

Raga melangkah masuk ke halaman dengan langkah tegap, tidak peduli tatapan curiga orang-orang kasar itu, lalu segera berdiri di depan Lira, melindungi tubuh wanita itu dengan tubuhnya sendiri, persis seperti yang dilakukannya di taman malam itu.

“Siapa kamu? Berani sekali ikut campur urusan orang lain!” bentak pemimpin orang kasar itu dengan wajah merah karena marah.

“Aku orang yang akan mengajarimu sopan santun, jika kamu tidak tahu caranya berbicara dan bersikap di depan wanita,” jawab Raga dengan nada datar namun sangat mengerikan, tatapannya tajam menembus pandangan orang itu. “Kalian dikirim oleh Ayahku, kan? Aku tahu itu. Tapi ingat satu hal: apa pun perintah yang kalian dapatkan, jangan pernah berani menyentuh, mengancam, atau menyakiti Nona Lira sedikit pun. Selama aku masih berdiri di sini, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan jika kalian tidak percaya, silakan coba saja.”

Suara Raga rendah namun penuh kekuatan, penuh keyakinan yang membuat orang-orang kasar itu merasa segan dan ragu. Mereka tahu siapa Raga Adhitama, anak dari majikan mereka sendiri. Meskipun mereka dikirim untuk mengganggu Lira, mereka tidak berani bertindak kasar pada anak majikan mereka, apalagi Raga tampak siap bertarung habis-habisan demi melindungi wanita itu.

Pemimpin orang itu menatap Raga dengan wajah bingung dan marah, lalu menatap teman-temannya yang tampak ragu-ragu, akhirnya ia mendengus kasar dan meludah ke tanah.

“Baiklah, kami pergi untuk hari ini. Tapi ingatlah kata-kata kami, Nona Lira… Permainan ini baru saja dimulai. Kamu tidak akan bisa selamanya berlindung di balik orang lain. Suatu saat nanti, kamu akan sendirian, dan saat itu, kami akan datang kembali dengan cara yang jauh lebih menyakitkan,” ancam orang itu, lalu memberi isyarat pada teman-temannya untuk segera mengangkut kembali barang-barang itu ke dalam truk.

Beberapa saat kemudian, suara mesin truk menderu keras, dan kendaraan itu perlahan pergi meninggalkan halaman rumah, membawa serta orang-orang kasar itu, namun meninggalkan rasa tidak nyaman dan rasa ancaman yang masih terasa menempel di udara.

Saat suasana kembali hening, Lira segera menarik lengan baju Raga dan memutar tubuh pemuda itu agar menghadap kepadanya. Matanya langsung tertuju pada bekas lebam di sudut bibir Raga, dan hatinya seketika terasa perih sekali.

“Raga… Bibirmu… Apa yang terjadi padamu? Apakah Ayahmu yang melakukannya?” tanya Lira dengan suara gemetar karena khawatir, tangannya perlahan terulur ingin menyentuh bekas luka itu namun ia menahannya karena malu dan ragu.

Wajah Raga yang tadinya penuh kemarahan perlahan melunak saat menatap wajah cemas wanita itu. Ia tersenyum tipis, senyum yang sedikit menyakitkan namun tetap hangat. Ia menggeleng pelan, lalu perlahan menggenggam tangan Lira yang terulur itu dengan lembut.

“Tidak apa-apa, Lira. Ini hanya luka kecil, tidak ada apa-apanya. Aku baik-baik saja,” jawab Raga pelan, matanya menatap lekat-lekat wajah wanita itu, seolah ingin menghafal setiap sudut wajahnya yang sudah lama tidak ia lihat dengan leluasa. “Maafkan aku, aku baru bisa datang sekarang. Ayahku mengurungku di rumah sejak kemarin sore, melarangku keluar, melarangku menggunakan telepon, dan mengawasi setiap gerak-gerikku. Aku baru saja berhasil kabur diam-diam lewat jendela kamar belakang rumahku, hanya untuk memastikan kamu aman, hanya untuk melihatmu sebentar saja.”

Air mata bahagia sekaligus sedih menetes di pipi Lira. Mendengar bahwa Raga rela mengambil risiko besar, rela kabur dari pengawasan ketat ayahnya, bahkan rela dipukul dan terluka, hanya demi datang melindunginya dan melihat keadaannya… rasanya hati Lira penuh dengan rasa syukur dan cinta yang semakin besar.

“Kamu gila, Raga… Kamu benar-benar gila,” bisik Lira dengan suara menangis pelan. “Kenapa kamu harus melakukan hal sebodoh ini? Kalau Ayahmu tahu kamu kabur dan datang ke sini, dia pasti akan sangat marah besar padamu, dia pasti akan menyakiti kamu lebih parah lagi. Aku tidak mau kamu terluka karena aku, aku tidak mau kamu menderita karena aku.”

Raga menggeleng tegas, lalu perlahan mengusap air mata yang jatuh di pipi Lira dengan ibu jarinya yang kasar namun hangat.

“Tidak ada hal yang terlalu berat atau terlalu bodoh untukku, Lira. Bagiku, keselamatanmu, keamananmu, dan kebahagiaanmu jauh lebih berharga daripada nyawaku sendiri. Ayahku boleh marah, boleh menghukumku, boleh melakukan apa saja kepadaku… itu tidak masalah bagiku. Yang paling penting bagiku adalah kamu selamat, kamu baik-baik saja, dan kamu tidak terluka sedikit pun oleh kejahatan orang lain.”

Suara Raga penuh ketulusan, penuh cinta yang begitu dalam, membuat Bu Sumi yang berdiri agak jauh di belakang pun sampai ikut meneteskan air mata haru melihat pemandangan itu.

Namun Raga tiba-tiba mengubah ekspresinya menjadi serius kembali, lalu menatap Lira dengan pandangan khawatir.

“Lira, dengar aku baik-baik. Keadaan sekarang makin berbahaya. Ayahku sudah kehilangan kendali atas emosinya. Dia sudah tidak sabar lagi, dia mulai bertindak secara kasar dan terang-terangan. Apa yang terjadi tadi hanyalah awal, dia pasti akan melakukan hal yang jauh lebih buruk lagi, bahkan hal yang berbahaya bagi nyawamu. Kamu harus benar-benar waspada. Jangan pernah pergi ke mana pun sendirian, jangan percaya siapa pun selain Bu Sumi, dan simpan semua bukti serta barang berharga itu di tempat yang sangat aman, tempat yang tidak ada orang lain yang bisa menemukannya.”

“Aku tahu, Raga. Aku sudah bersiap menghadapi itu,” jawab Lira tegas, lalu tangannya erat menggenggam tangan Raga. “Tapi bagaimana dengan kita? Bagaimana kita bisa bertemu dan berkomunikasi jika Ayahmu terus-menerus mengawasimu ketat seperti ini? Aku takut Ayahmu akan melakukan hal buruk kepadamu jika dia tahu kamu masih diam-diam membantuku.”

Raga terdiam sejenak, lalu perlahan mengeluarkan sepotong benda kecil berbentuk bulat pipih berwarna perak dari saku bajunya, lalu meletakkannya ke dalam telapak tangan Lira dan menutup tangan wanita itu agar benda itu tersembunyi di sana.

“Ini alat komunikasi rahasia, Lira. Ukurannya kecil, tidak mudah terdeteksi. Aku punya satu pasang lagi di tanganku. Alat ini bisa saling terhubung meski jaraknya jauh dan meski ada penghalang dinding tebal. Simpanlah ini di tempat yang aman, selalu bawa ke mana pun kamu pergi. Jika ada bahaya datang, jika ada hal darurat, atau jika kamu butuh bantuan apa pun, tekan tombol kecil di bagian tengahnya. Aku akan segera tahu, dan aku akan datang kepadamu secepat kilat, di mana pun aku berada dan apa pun yang sedang aku lakukan.”

Lira menatap benda kecil itu di tangannya dengan perasaan haru yang luar biasa. Raga benar-benar memikirkan segalanya, benar-benar menyiapkan segala cara untuk tetap bisa menjaga dan melindunginya, meskipun mereka terpisah dan diawasi ketat.

“Terima kasih, Raga… Terima kasih untuk segalanya,” bisik Lira dengan suara tersendat karena emosi. “Kamu benar-benar malaikat pelindungku yang sesungguhnya.”

Raga tersenyum lembut, lalu melirik ke arah jalan raya dengan cemas, menyadari ia tidak boleh berlama-lama berada di sini. Jika Ayahnya tahu dia ada di sini, masalahnya akan menjadi jauh lebih besar dan berbahaya.

“Aku harus pergi sekarang, Lira. Kalau aku terlambat kembali, Ayahku akan curiga dan akan mencari tahu keberadaanku,” kata Raga dengan nada berat dan enggan. “Ingatlah pesanku: selalu berhati-hati, jaga dirimu baik-baik, dan percayalah… Aku tidak akan pernah jauh darimu. Di mana pun aku berada, hatiku selalu bersamamu, dan aku selalu menjagamu dari jauh.”

Sebelum Lira sempat menjawab, Raga dengan cepat namun lembut menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat dan erat, memeluknya sejenak seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan dan rasa cintanya ke dalam pelukan itu, lalu melepaskannya kembali dengan berat hati.

Tanpa berkata apa pun lagi, Raga segera berbalik badan, lalu berlari cepat keluar dari halaman rumah, menghilang di balik pepohonan dan tikungan jalan, meninggalkan Lira yang berdiri terpaku dengan benda kecil perak di tangannya, serta perasaan hangat namun penuh kekhawatiran di dadanya.

Bu Sumi perlahan melangkah mendekat, lalu tersenyum haru sambil mengusap bahu majikannya.

“Mas Raga benar-benar cinta mati sama Nona, Nona. Beliau rela melakukan apa saja, mengambil risiko apa saja, demi Nona. Cinta seperti itu sangat jarang ditemukan di dunia ini. Alhamdulillah, meskipun ada banyak bahaya dan kesedihan, Nona masih beruntung memiliki cinta seindah itu di sisi Nona.”

Lira mengangguk pelan, lalu menatap benda kecil di tangannya dengan pandangan yang penuh tekad.

“Iya, Bu. Aku tahu. Dan karena itu, aku harus lebih kuat lagi. Aku tidak boleh menyerah, aku tidak boleh takut. Aku harus bertahan, bukan hanya demi kebenaran dan keadilan, tapi juga demi cinta ini, demi janji yang sudah kita ucapkan bertahun-tahun lalu, dan demi masa depan yang semoga suatu hari nanti bisa kita miliki bersama dengan damai dan bahagia.”

Namun di sudut jalan yang agak jauh, di balik rimbunnya pepohonan besar, ada sebuah mobil hitam yang terparkir diam-diam. Di dalam mobil itu, seorang lelaki tua duduk di kursi pengemudi dengan wajah yang gelap dan penuh amarah yang mengerikan. Matanya menatap tajam ke arah rumah besar keluarga Ardiansyah, ke arah sosok anaknya yang baru saja berlari keluar dari sana.

Itu adalah Tuan Handoko.

Ia ternyata diam-diam mengikuti pergerakan anaknya sejak Raga kabur dari rumah, dan ia melihat semuanya: bagaimana Raga datang melindungi Lira, bagaimana mereka saling memegang tangan, saling berpelukan, dan saling berjanji cinta. Rasa marah, rasa malu, dan rasa kecewa yang luar biasa besar meledak di dadanya. Bagaimana mungkin anak kandungnya sendiri, orang yang seharusnya menjadi penerusnya, orang yang seharusnya bersatu dengannya untuk menghancurkan keluarga Ardiansyah, malah berbalik menjadi pelindung dan pendukung musuh bebuyutannya?

Tangan Tuan Handoko mencengkeram setir mobil dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih, urat-urat di lehernya menonjol karena menahan amarah yang siap meledak kapan saja.

“Kamu benar-benar mengecewakanku, Raga…” geramnya dengan suara rendah yang mengerikan. “Kamu memilih wanita itu daripada ayahmu sendiri, kamu memilih kebenaran palsu itu daripada darah dagingmu sendiri. Baiklah… Kalau kamu sudah memilih pihak itu, jangan salahkan ayah kalau ayah harus membuangmu, harus menyingkirkanmu juga bersama dengan mereka. Karena siapa pun yang menghalangi jalanku, siapa pun yang berani mengkhianatiku… tidak akan aku biarkan hidup dengan tenang, bahkan jika itu anak kandungku sendiri sekalipun!”

Mobil hitam itu kemudian menderu pelan, bergerak menjauh dari tempat itu, membawa serta rencana balas dendam yang kini semakin gelap, semakin kejam, dan kini tidak hanya ditujukan kepada Lira saja, tapi juga kepada anak kandungnya sendiri yang dianggap sudah mengkhianatinya.

Di bawah langit sore yang semakin gelap itu, badai besar yang jauh lebih dahsyat sedang bersiap untuk meledak, siap menghancurkan siapa saja yang ada di jalannya tanpa ampun.

 

(Bersambung ke Episode 7)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!