NovelToon NovelToon
Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.

​"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."

​Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rutinitas sebelum badai

Di dalam kamar utama, lampu temaram menerangi sosok Rani yang sedang sibuk di depan lemari pakaian. Meskipun lelah setelah seharian bekerja dan harus mempersiapkan barang-barangnya sendiri untuk dinas ke luar kota besok, Rani tidak melupakan kewajibannya sebagai istri.

​Dengan telaten, ia mengambil sebuah kemeja kerja milik Angga, menyetrikanya hingga rapi, lalu memadukannya dengan celana kain yang serasi. Ia menggantung pakaian itu di luar lemari, siap untuk dikenakan suaminya besok pagi.

​Angga yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di leher, memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya. Ada rasa bersalah yang kembali menyengat ulu hatinya melihat bagaimana Rani begitu perhatian dan berbakti, sementara di dalam kepalanya sendiri justru sedang dipenuhi oleh bayangan lekuk tubuh adik kandung istrinya itu.

​"Mas, ini baju kerja untuk besok pagi sudah aku siapkan, ya," ujar Rani sambil berbalik, melemparkan senyum tulus yang selalu ia miliki untuk Angga. "Besok kamu masuk jam berapa?"

​"Ah... besok aku dapat shift siang, Ran," jawab Angga agak gugup, berusaha mengalihkan pandangannya dari tatapan teduh Rani. "Mungkin jam sebelas baru berangkat ke bank."

​"Oh, syukurlah. Berarti besok pagi kamu tidak perlu buru-buru. Bisa sarapan bareng Tyas dulu sebelum aku berangkat sore," kata Rani lega. Ia berjalan mendekati tempat tidur, merebahkan tubuhnya yang letih setelah memastikan semua persiapan suaminya selesai.

​Angga tidak menyahut. Ia hanya mengangguk pelan lalu ikut mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang remang-remang. Namun, mengetahui bahwa besok ia memiliki banyak waktu luang di rumah—ditambah dengan kenyataan bahwa Rani akan segera pergi—membuat pikiran Angga kembali berkelana dalam kegelapan malam, membayangkan hari-hari ke depan yang akan ia lewatkan bersama Tyas di bawah satu atap yang sama.

​Suara alarm yang berdering lirih berpadu dengan sayup-sayup azan Subuh membangunkan Rani dari tidurnya. Sebagai wanita yang taat dan terbiasa disiplin, ia segera menyibak selimut, bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudu. Di bawah penerangan lampu kamar yang masih temaram, Rani menggelar sajadah dan melaksanakan ibadah salat Subuh dengan khusyuk, mendoakan kelancaran rumah tangganya serta perjalanan dinasnya nanti sore.

​Setelah melipat mukena, Rani melangkah keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun, saat melewati lorong, ia menyadari pintu kamar tamu masih tertutup rapat. Biasanya, Tyas adalah anak yang rajin bangun pagi sejak di asrama. Rasa penasaran bercampur cemas membuat Rani mengetuk pintu dengan pelan.

​"Tyas? Sudah bangun, Sayang?" panggil Rani lembut.

​Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara erangan kecil dari dalam. Rani perlahan membuka pintu dan mendapati adiknya masih meringkuk di atas ranjang. Tubuh Tyas bergulung erat di dalam selimut tebal, dengan kedua lutut yang ditarik ke arah dada—posisi khas seseorang yang sedang menahan sakit luar biasa. Wajahnya yang polos tampak agak pucat dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.

​Rani segera mendekat dan duduk di tepi kasur, mengusap dahi adiknya penuh perhatian. "Tyas, kamu kenapa? Sakit?"

​Tyas membuka matanya sedikit, meringis sambil memegangi perut bagian bawahnya. "Perut Tyas sakit banget, Mbak... Hari pertama haid. Biasanya memang begini kalau hari pertama, rasanya melilit sampai ke pinggang."

​Rani mengangguk paham. Ia sangat tahu bagaimana siklus bulanan adiknya yang memang sering kali menyiksa di hari-hari awal. "Ya ampun, kasihan sekali. Ya sudah, kamu tidak usah bangun dulu. Meringkuk saja begini biar agak nyaman. Mau Mbak buatkan teh manis hangat atau kompres air hangat?"

​"Teh hangat saja, Mbak... Terima kasih ya," bisik Tyas lemas, menatap kakaknya dengan tatapan manja seorang adik.

​"Iya, sebentar ya. Mbak buatkan dulu. Kamu istirahat saja," kata Rani sambil membenarkan letak selimut Tyas.

​Saat Rani berdiri dan berbalik untuk menuju dapur, ia tidak menyadari bahwa di balik piyama tipis yang bergeser karena posisi meringkuk itu, lekuk tubuh Tyas yang sintal dan padat justru tercetak semakin jelas di balik selimut. Dan di ruang tengah, Angga rupanya sudah terbangun, memperhatikan interaksi kedua kakak beradik itu dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan.

1
Anonim
Kurang ajar banget si angga dan si tyas ini,buat rani tau lebih cepat thor tentang kebangsatan suami dan adik nya
Anonim
Lama bener thor muter nya ,si rani kapan sadar perselingkuhan adik nya sama suami nya jangan kelamaan
Anonim
Si rani kenapa oneng sih g bisa liat sekilas model ade nya kek apaan dah ,cuek apa emang buta dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!