NovelToon NovelToon
KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.

Dan ketika ia membuka matanya kembali…

Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bumi dan Hunter

Truk lapis baja yang dipenuhi bekas cakaran monster itu melaju kencang melintasi jalan raya kota.

Langit di atas kota Beijing hari ini berwarna biru jernih, sangat cerah dan indah, membentang tanpa batas. Namun, keindahan langit itu terbelah oleh sebuah struktur bangunan yang mengintimidasi. Sebuah pilar hitam raksasa, terbuat dari material yang menyerap cahaya, menjulang menembus awan dan seolah mencengkeram atmosfer.

Itu adalah Tower.

Di seluruh daratan Tiongkok yang luas, hanya ada dua struktur kosmik semacam ini yang turun dari langit lima belas tahun lalu. Satu berdiri tegak di pusat kota Beijing, menjadikannya ibu kota Hunter nomor satu di Tiongkok, pusat dari segala kekuatan, kekayaan, dan pertumpahan darah. Satu lagi tertancap jauh di wilayah selatan, di atas pegunungan berkabut Yunnan.

Keberadaan dua Tower ini telah mengubah sejarah. Di bawah langit biru yang damai ini, tersembunyi sebuah tatanan dunia baru yang kejam. Dunia Gate dan Dungeon, tempat di mana hukum konstitusi dibakar dan digantikan oleh hukum rimba.

Di bagian belakang truk lapis baja yang gelap dan dingin, tergeletak sebuah kotak logam penahan suhu ekstrem. Di dalamnya, Wu Xuan masih tidak sadarkan diri, membeku dan dibalut oleh kristal es yang sangat bening.

Para hunter dari guild kecil itu duduk mengelilingi kotak tersebut dalam keheningan. Mereka sesekali melirik ke arah kotak logam yang berembun es itu dengan tatapan ngeri sekaligus penuh harap. Mereka sedang membawa hasil tangkapan ini menuju fasilitas penelitian Aliansi Beijing untuk dijual.

Wu Xuan sama sekali tidak menyadari ironi luar biasa yang sedang terjadi di sekelilingnya.

Dalam persepsinya, sebelum ia terputus dari Kesadaran Tertinggi-nya, ia dengan sengaja menekan kekuatannya, menciptakan wujud yang fana. Ia melakukan itu karena perhitungan strategis: bumi adalah tempat yang rapuh. Jika ia datang dengan setitik saja kekuatan surgawinya, alam dunia kecil ini akan hancur menjadi debu. Ia harus menjadi fana untuk bernegosiasi dengan karma masa lalunya.

Namun, bumi yang "rapuh" itu tidak lagi ada.

Sejak pesan global pertama bergema dari Tower belasan tahun lalu, umat manusia mengalami evolusi paksa. Para Awakening bangkit—mereka yang secara tiba-tiba membuka batas genetik dan terhubung langsung dengan Tower. Awakening alami ini diberkati oleh fitur Sistem yang ajaib: layar antarmuka, ruang dimensi, hingga kemampuan analisis. Era baru telah dimulai.

Namun, karena Awakening alami sangatlah langka dan jumlah Gate terus bertambah, para ilmuwan bumi menciptakan jalan pintas yang radikal. Mereka menyaring ekstrak darah monster tingkat tinggi, menciptakan serum untuk memaksa manusia biasa menjadi Awakening buatan.

Butong dan timnya adalah hasil dari rekayasa itu.

Awakening buatan jauh lebih lemah. Mereka cacat. Sistem mereka hanyalah layar yang hanya menampilkan angka level, kekuatan, kelincahan, dan ketahanan, tanpa fitur sihir atau keajaiban apa pun. Mereka diciptakan hanya untuk menjadi barisan pertahanan terdepan di dalam Dungeon.

Di sinilah ironinya. Wu Xuan merobek kekuatannya untuk menjadi manusia fana yang bisa diterima bumi, namun bumi kini justru dikuasai oleh monster dan manusia berkekuatan super. Terlebih lagi, karena terlalu lama menciptakan pertahanan es secara pasif, wujud Wu Xuan mulai mengalami penurunan drastis. Sel-selnya kelaparan. Jika ia tidak segera mendapatkan sumber energi, wujud fana ini akan benar-benar menjadi fana sempurna sebelum kesadarannya benar-benar mengambil alih.

Truk lapis baja itu akhirnya berhenti. Pintu belakang terbuka, memperlihatkan lorong garasi bawah tanah dengan lampu neon putih yang menyilaukan mata dari Fasilitas Penelitian Sentral Aliansi Beijing.

"Turunkan perlahan! Jangan sampai kotak pelindungnya retak!" teriak Butong, suaranya menggema tegas.

Di dalam ruang observasi berlapis kaca anti-ledakan, Butong dan timnya berdiri dengan napas tertahan, sementara derek mekanik perlahan mengangkat balok es yang berisi Wu Xuan ke atas meja pemindai.

Pintu otomatis berdesis terbuka. Seorang pria paruh baya mengenakan jas laboratorium putih bersih melangkah masuk. Wajahnya tirus, kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, dan matanya memancarkan arogansi intelektual yang dingin.

Prof. Zhu Liang. Kepala divisi riset anomali Beijing, sekaligus seorang Awakening alami bertipe detektor.

"Kalian bilang menemukan artefak biologis di Dungeon peringkat E zona es," ucap Prof. Zhu Liang, suaranya sedatar mesin. "Kuharap guild kecil seperti kalian tidak membuang waktuku dengan membawa bangkai monster rendahan."

"Ini bukan monster, Profesor," Butong melangkah maju, menundukkan kepalanya sedikit. Di bawah bayang-bayang Tower, manusia buatan harus tahu diri saat berhadapan dengan elit alami. "Ini... sesuatu yang aneh."

Zhu Liang mendengus pelan. Ia menekan pelipisnya, mengaktifkan kemampuan deteksi alaminya. Matanya seketika memancarkan pendar cahaya keemasan. Ia menatap balok es di atas meja observasi.

Detik berikutnya, napas Prof. Zhu Liang tercekat hebat. Kakinya secara refleks mundur satu langkah, menabrak meja di belakangnya hingga tabung-tabung reaksi berjatuhan.

"Mustahil..." bisik Zhu Liang. Keringat dingin seketika membasahi keningnya.

Bukan sosok pemuda berwajah tenang di dalam es itu yang membuatnya ketakutan setengah mati, melainkan es itu sendiri. Di mata detektornya, es yang menyelimuti pemuda itu bukanlah air yang membeku. Itu adalah materialisasi dari energi murni yang kepadatannya melampaui segala logika sains dan sihir yang pernah dicatat oleh Aliansi.

Aura energinya bergulung-gulung bagaikan semesta yang dipaksa masuk ke dalam kotak kaca. Jika es ini dilebur, itu bisa menjadi sumber tenaga untuk senjata baru kita!

Zhu Liang dengan cepat menelan ludahnya yang terasa kering, lalu mengalihkan pandangannya pada tubuh pemuda di dalamnya, mencoba memindai kekuatan aslinya.

Ia mengerutkan kening. Nol.

Sama sekali tidak ada fluktuasi mana dari tubuh pria itu. Di mata Zhu Liang, pemuda berambut hitam itu hanyalah manusia biasa, tanpa setetes pun bakat Awakening. Jantungnya mulai berdetak sangat lambat karena sel-selnya kelaparan nutrisi.

Otak ilmuwan Zhu Liang bekerja cepat. Pria ini bukan ancaman, simpulnya secara logis. Dia hanyalah manusia biasa yang, entah karena kebetulan yang konyol, tertelan pusaka berwujud es ini dan tubuhnya terawetkan. Darahnya... jika aku meneliti darah manusia fana yang bisa menahan energi sepadat ini tanpa meledak, aku bisa menciptakan serum Awakening buatan tanpa batas.

"Berapa banyak yang kalian inginkan untuk... bongkahan ini?" tanya Prof. Zhu Liang. Ia menekan kegembiraan liarnya di balik nada suara yang kembali dingin dan merendahkan, menatap Butong.

Butong menelan ludah. "Kami mempertaruhkan nyawa untuk menariknya keluar dari kawah berdarah Serigala Es. Kami... berharap mendapatkan lima ratus ribu yuan."

Prof. Zhu Liang menghela napas panjang, seolah sedang menatap seekor serangga yang meminta belas kasihan. Ia tahu cara memanipulasi psikologi kelas bawah.

"Dengar," ucap Zhu Liang menunjuk ke arah meja. "Tubuh di dalam es ini sedang sekarat. Secara biologis, dia akan membusuk menjadi mayat dalam hitungan jam jika tidak kutangani. Yang bernilai di sini hanyalah es pelindungnya untuk riset materialku."

Zhu Liang memperbaiki letak kacamatanya. "Aku akan memberi kalian tiga juta yuan. Tidak kurang, tidak lebih. Putuskan sekarang atau bawa kembali mayat ini ke jalanan."

Keheningan seketika meledak di dalam ruangan itu. Anggota tim Butong saling berpandangan dengan rahang yang nyaris jatuh. Tiga juta yuan. Itu adalah angka mustahil bagi guild kecil yang sering kesulitan bertahan hidup di dalam gate.

Napas Butong memburu. Tinjunya mengepal erat hingga zirah besinya berderit. "Profesor... apa Anda yakin, membayar kami dengan..." suaranya serak, berat, dan tegas. "Tiga juta yuan."

Prof. Zhu Liang tersenyum miring. Ia menjentikkan jarinya. Beberapa bawahan berseragam hazmat segera masuk, mendorong meja observasi beserta balok es Wu Xuan menuju ruang bedah paling dalam di fasilitas tersebut, menjauh dari jangkauan pandangan.

"Aku bukan tipe orang licik yang suka memainkan harga barang. Dana telah masuk ke akun guild kalian. Keluarlah. Jangan mengotori lantai lobiku," usir Zhu Liang tanpa menoleh.

Di luar fasilitas, langit biru Beijing masih memancarkan cahaya cerah yang kontras dengan kehidupan keras di bawahnya.

Di sebuah sudut sepi, di belakang tembok fasilitas penelitian, Butong berdiri bersandar. Ia mengangkat pergelangan tangannya. Di layar ponsel miliknya, angka tiga juta yuan bersinar menyilaukan.

Tubuh raksasa yang biasa berdiri tegak menerima hantaman cakar monster itu, perlahan merosot. Punggungnya bergesekan dengan dinding beton hingga ia jatuh terduduk di atas tanah berdebu. Kedua tangan Butong yang kasar menutupi wajahnya.

Di bawah bayang-bayang langit biru dan Tower raksasa itu, sang ketua guild kecil itu menangis.

Isakannya tertahan di tenggorokan, bahunya bergetar hebat. Air mata yang hangat mengalir, bercampur dengan kotoran dan noda darah di wajahnya. Itu bukan tangisan kelemahan, melainkan ledakan dari seorang ayah yang selama bertahun-tahun menahan napasnya di ambang keputusasaan.

Ia tidak pernah peduli pada peringkat Hunter atau kejayaan di dalam Dungeon. Butong menyuntikkan serum buatan yang merusak organnya sendiri, menelan rasa sakit setiap malam, hanya demi satu tujuan: memperpanjang detak jantung putrinya.

Putrinya, seorang gadis kecil berusia tujuh tahun, terbaring rapuh di sebuah bangsal rumah sakit kumuh. Ia mengidap penyakit terburuk dari era ini: Penyakit Gate.

Kondisi medis yang sangat ironis. Jantung gadis kecil itu cacat sejak lahir, terlalu lemah untuk memompa darah dengan normal. Namun, tubuhnya secara genetis memproduksi mana murni dalam jumlah yang sangat berlimpah. Karena jantungnya gagal mendistribusikan darah, mana itu mengambil alih, mengalir dengan brutal menuju otaknya.

Setiap kali lonjakan mana itu terjadi, putrinya akan menjerit hingga pita suaranya berdarah. Rasanya seperti kepalanya dibelah dan diisi dengan logam cair panas.

Satu-satunya penawar adalah mesin "Pompa Mana" di rumah sakit, sebuah alat medis yang membuang kelebihan energi itu dari aliran darahnya secara manual. Biaya operasional mesin itu, ditambah obat bius militer agar putrinya tidak tewas karena syok saraf, memakan biaya gila-gilaan. Membuang mana dari tubuh seorang anak yang belum Awakening ibarat mencabut paksa akar saraf hidup-hidup.

Butong selalu dihantui oleh bisikan putrinya setiap malam, "Ayah sakit... badanku sakit sekali. Apa aku boleh tidur saja?"

Namun hari ini, dengan tiga juta yuan di tangannya, siksaan itu akan berakhir. Ia bisa memindahkan putrinya ke Fasilitas Medis Elite. Ia bisa membeli serum penstabil sirkulasi. Ia bisa memberikan kehidupan, bukan lagi sekadar menunda kematian.

Butong mengusap air matanya dengan punggung tangannya yang gemetar. Ia bangkit, berdiri tegap menghadap tembok beton tebal dari fasilitas riset tempat pemuda beku itu dibawa masuk.

Dengan gerakan lambat namun penuh wibawa, pria raksasa itu mengepalkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas dada kiri. Sebuah gestur sumpah darah tertinggi dari seorang hunter.

"Aku tidak tahu siapa kau," bisik Butong ke arah tembok, suaranya bergetar oleh emosi namun dipenuhi sumpah yang abadi. "Aku tidak tahu apakah kau hanya mayat tak bernama atau monster. Tapi... hari ini, kau telah menyelamatkan duniaku."

Mata Butong menajam, menatap langit biru di atasnya. "Jika keajaiban membuatmu membuka mata suatu hari nanti... jika kau membutuhkan sesuatu... nyawaku, darahku, dan senjataku, adalah milikmu."

Sementara itu, di lantai terdalam fasilitas penelitian, di dalam Ruang Bedah Tingkat S yang kedap suara dan radiasi.

Bongkahan es Wu Xuan diletakkan di tengah ruangan, dikelilingi oleh empat lengan robotika mekanis raksasa. Ujung lengan robot itu dilengkapi dengan bor laser plasma bersuhu ribuan derajat, alat mutakhir yang dirancang untuk membelah material terkeras di bumi.

Bersambung...

1
Fajar Fathur rizky
thor itu nanti pas wuxuan pulih kembali apakah dunia itu sanggup menanggung tingkatkan kultivasi wuxuan thor tolong di jawab thor
EGGY ARIYA WINANDA: Kalau kekuatan Wu Xuan (Dao Surgawi) gak sanggup, makanya di chapter satu ia mengirim wadah fisik yang lemah. 🥸👍
total 1 replies
Novi Prihartono
lanjuuuuuuuuut
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡🫡🫡🫡🫡
total 1 replies
Novi Prihartono
up lagiiiiiiiiiiiiiii
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡👍👍👍👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Bantu like dan komentar untuk mendukung cerita ini agar terus berlanjut 🫡🫡
Fajar Fathur rizky
thor ini wuxuan jika nunjukin ranah kultivasi apakah dunia bakal hancur thor
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor novel satunya bab 393 dan bab 394 thor
Zzzz
jejak dulu 👣👣
Zzzz
semoga dapat retensi ya/Determined//Determined/semangattt 🔥🔥🔥
Zzzz
/Slight/
Zzzz
/Hunger/
Zzzz
/Proud/
Zzzz
semangat 🔛🔥
Zzzz
/CoolGuy/
Zzzz
🤧bisa dong
Fajar Fathur rizky
cepat naikin level wuxuan
ABSOLUTE [2]
aaaaaaaaahhhhhhhh, lagi seru-seru nya baca malah abis
EGGY ARIYA WINANDA: Teknik marketing 🤭🤭
total 1 replies
Zzzz
👣
Zzzz
/Grimace/
Zzzz
/Slight//Proud/
Zzzz
/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!