NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: MALAM TERAKHIR DI KAMAR LANTAI DUA

Aku tidak tahu bagaimana caranya kedua kakiku yang gemetar bisa membimbingku kembali ke dapur tanpa menjatuhkan nampan di tangan. Kududukkan tubuhku yang mendadak mati rasa di atas kursi kayu dekat meja potong sayur. Air mataku sudah berhenti mengalir, bukan karena rasa sedihku telah menguap, melainkan karena rasa sakit yang teramat sangat telah membekukan seluruh saraf di dadaku.

Kutatap telapak tanganku yang kasar dan mengelupas karena sabun deterjen penyejuk pakaian milik Ambar dan Bagus. Empat bulan. Empat bulan penuh penderitaan fisik dan batin kuhabiskan di rumah ini, merendahkan harga diriku hingga ke titik nadir demi sebuah pengabdian yang kukira suci. Ternyata, di mata mereka, aku hanyalah pembantu tanpa upah yang sah secara hukum, sebuah keset sementara penahan badai sebelum Mas Rendra terpaksa melangkah ke pelaminan bersama Mbak Sari besok pagi.

Yang paling menghancurkan hatiku adalah kenyataan tentang Mas Rendra. Pria yang selama ini menjadi tempatku berteduh, pria yang kutangisi kepasifannya, ternyata adalah seorang pengecut besar. Dia terlalu malu menikahi wanita yang lima tahun lebih tua dan berwajah biasa saja, lalu melarikan diri dengan cara mengancam akan mengakhiri hidupnya, hingga akhirnya mengorbankan aku—gadis desa miskin yang bisa dibeli dengan hantaran murah—sebagai tameng pelindung bisnis keluarganya.

"Yuni? Kamu di dalam?"

Suara langkah kaki Mas Rendra terdengar mendekati dapur. Aku buru-buru menyeka sisa kebasahan di pipiku, berdiri membelakanginya, dan berpura-pura mencuci kembali piring-piring yang sebenarnya sudah bersih.

Mas Rendra melangkah masuk. Wajahnya tampak sangat kusut, matanya sembap dan merah. Dia berjalan mendekat, lalu dari belakang, dia memeluk pinggangku hangat—pelukan yang biasanya membuat seluruh rasa lelahku hilang dalam sekejap. Namun malam ini, sentuhannya terasa seperti sulur es yang membekukan darahku.

"Kamu belum istirahat, Yun? Sudah malam. Ayo naik ke kamar," bisiknya dengan suara serak, menyandarkan dagunya di pundakku.

Aku memejamkan mata, meremas kain lap di tanganku sekuat tenaga untuk menahan getaran hebat di tubuhku. Bagaimana bisa seorang pria memeluk istrinya sekencang ini, sementara dia tahu bahwa besok pagi dia akan bersanding di pelaminan bersama wanita lain? Rasa muak yang teramat sangat naik hingga ke tenggorokanku.

"Nggih, Mas. Sebentar lagi saya naik," sahutku, mencoba menjaga agar suaraku tetap datar dan patuh seperti biasa.

Mas Rendra melepaskan pelukannya perlahan, menatapku dengan tatapan yang penuh dengan kilat rasa bersalah yang kini bisa kubaca dengan sangat jelas. "Jangan terlalu lelah, ya. Malam ini... tidurlah yang nyenyak," ucapnya lirih sebelum berbalik dan berjalan gontai menaiki tangga menuju lantai dua.

Setelah bayangannya menghilang, aku perlahan menurunkan pandanganku ke arah perutku yang terlindung di balik celemek kusam. Kusentuh bagian yang sedikit membuncah itu dengan jemariku yang bergetar.

Anakku, bisikku dalam hati, ayahmu telah membuang kita demi selembar kertas denda dan toko grosir keluarganya. Dia mencintai kita, tapi dia jauh lebih mencintai harga diri dan hartanya.

Malam itu, di dalam kamar lantai dua yang sunyi, aku berbaring di samping Mas Rendra yang tertidur gelisah. Dia beberapa kali mengigau, membalikkan badannya, dan mencoba meraih tanganku. Aku membiarkannya, menatap wajah tampannya di bawah temaram lampu tidur untuk yang terakhir kali. Rasa cinta yang empat bulan ini kupupuk dengan air mata kini telah mati, menyisakan ruang kosong yang dingin dan tekad yang bulat.

Tepat pukul dua dini hari, saat seluruh isi rumah telah tenggelam dalam tidur yang lelap, aku perlahan bangkit dari ranjang tanpa menimbulkan suara. Aku melangkah ke arah lemari pakaian, mengeluarkan tas kain kecil yang kubawa dari desa dulu. Aku tidak mengambil satu pun baju baru atau perhiasan perak yang pernah dibelikan Mas Rendra. Aku hanya mengambil dua pasang baju kurung lamaku yang sudah mulai sempit, slip kwitansi bertuliskan nama Sari yang kusimpan di saku, dan yang paling penting: alat tes kehamilan bergaris dua yang kusembunyikan di balik lipatan kain.

Aku berjalan menuruni anak tangga marmer satu per satu dengan langkah seringan kapas. Rumah besar ini terasa sangat asing dan menyeramkan di bawah kegelapan malam. Saat melewati ruang tengah, mataku menangkap tumpukan kotak seserahan baru yang dibungkus kain tile emas, berjejer rapi di dekat meja jati. Pemandangan itu membuatku tersenyum getir. Besok tempat ini akan berubah menjadi pesta pora yang meriah, namun aku tidak akan ada di sini untuk menjadi tontonan dan menerima uang pesangon penghinaan dari Ibu Retno.

Aku membuka selot pintu belakang dengan sangat hati-hati, menyelinap keluar menembus udara malam Maret yang dingin dan sisa-sisa gerimis yang masih jatuh di atas paving blok. Di luar gerbang tinggi rumah keluarga Wijaya, aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, menatap jendela kamar lantai dua yang gelap.

"Selamat tinggal, Mas Rendra. Selamat atas pernikahan besarmu dengan Mbak Sari," bisikku lirih pada angin malam.

Aku berbalik dan melangkah cepat membelah kegelapan jalanan kota Semarang. Ibu Retno mengira aku akan tunduk dan menerima nasib diceraikan setelah pesta besok selesai. Mereka mengira anak desa miskin seperti Sri Wahyuni tidak akan berani melawan. Mereka salah. Aku pergi bukan karena kalah, melainkan karena aku menolak menjadi bagian dari sandiwara busuk mereka. Aku membawa pergi darah daging keluarga Wijaya di dalam rahimku, dan suatu hari nanti, sisa pembukuan dan rahasia denda yang kubawa malam ini akan menjadi bom waktu yang siap menghancurkan takhta marmer mereka dari kejauhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!