Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 - Apartemen Jihan
Perjalanan keluar dari rumah sakit terasa seperti langkah pertama menuju kehidupan yang sama sekali berbeda. Naomi menggendong Davin dengan hati-hati, sementara Jihan berjalan di sampingnya sambil membawa tas-tas yang tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk memulai hidup baru.
Begitu sampai di parkiran, Jihan langsung membuka pintu mobilnya. “Masuk. Pelan-pelan. Jangan sok kuat lagi,” katanya sambil membantu Naomi duduk.
Naomi hanya mengangguk pelan. Begitu pintu tertutup dan mesin mobil menyala, suasana hening sejenak. Hanya suara AC dan deru kendaraan di luar yang terdengar.
Jihan melirik sekilas ke arah Naomi. “Jadi...” katanya membuka percakapan. “Rencana kamu sekarang apa?”
Naomi tidak langsung menjawab. Ia menatap Davin yang tertidur di pelukannya, wajah kecil itu tampak damai meski dunia di sekitarnya tidak.
“Aku mau fokus ke Davin,” jawab Naomi akhirnya, suaranya tenang tapi dalam.
Jihan mengangguk pelan. “Ya, itu pasti,” katanya. “Maksudku... selain itu.”
Naomi terdiam lagi. Tangannya refleks menggenggam tas kecil di sampingnya. Di dalam tas itu ada amplop dari Zayn. Amplop yang sempat ingin dia buang. Namun pada akhirnya dia tetap membawanya. Bukan karena ia menginginkannya. Tapi karena Naomi membutuhkannya.
“Aku akan pakai uang ini untuk Davin,” katanya pelan, seolah menjelaskan isi pikirannya. “Aku anggap ini tanggung jawab Zayn sebagai ayahnya.”
Jihan melirik ke arah tas itu, lalu mendengus kecil. “Bagus,” katanya. “Memang harus begitu. Itu bukan belas kasihan, itu kewajiban.”
Naomi mengangguk. Ia tidak ingin bergantung. Tapi dia juga tidak bisa menyangkal kenyataan. Davin butuh biaya, dan itu tidak sedikit.
Jihan kembali fokus menyetir, lalu berkata lagi, “Terus... kamu nggak kepikiran lanjut lagi?”
Naomi mengernyit. “Lanjut apa?”
“Residensi kamu.”
Kalimat itu membuat Naomi terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum tipis, tapi ada luka di sana.
Kebetulan Naomi sebenarnya adalah dokter. Ya, seharusnya begitu jika dia tidak berhenti saat masih menjalani masa residennya. Naomi dahulu memilih berhenti demi menikah dengan Zayn. Dia melakukannya demi fokus pada rumah tangganya. Tapi dirinya tak menyangka semuanya berakhir seperti ini.
“Itu sudah lama, Ji...” lirih Naomi.
“Justru itu!” potong Jihan cepat. “Kamu berhenti bukan karena nggak mampu, tapi karena kamu menikah sama si dokter songong itu!”
Naomi menghela napas. “Jangan mulai lagi, Ji...”
“Aku serius!” Jihan meliriknya cepat. “Kamu tahu nggak sih, dulu kamu itu salah satu residen paling pintar. Bahkan dosen-dosen sering bandingin kamu sama... ya, sama Zayn itu.”
Naomi tidak menjawab. Namun matanya sedikit berubah.
“Dan jujur aja ya,” lanjut Jihan dengan nada khasnya yang mulai julid, “aku tuh curiga banget.”
Naomi menoleh. “Curiga apa?”
Jihan menyeringai tipis. “Jangan-jangan dia sengaja menikahimu, bikin kau jatuh cinta, biar kau bisa berhenti jadi dokter."
Naomi langsung menggeleng. “Nggak mungkin.”
“Kenapa nggak mungkin?” balas Jihan cepat. “Cowok kayak gitu, gengsinya tinggi. Apalagi kalau tahu istrinya lebih pintar.”
Naomi menghela napas lagi, kali ini sedikit lebih panjang. “Kamu kebanyakan hipotesis, Ji.”
“Enggak, aku realistis,” sahut Jihan santai. “Bayangin aja, kamu lebih jenius, lebih cepat nangkap, bahkan waktu itu kamu sempat dipuji habis-habisan sama profesor. Terus tiba-tiba kamu berhenti? Aneh nggak sih?”
Naomi menatap ke luar jendela. Pemandangan kota berlalu begitu saja.
“Aku berhenti karena aku memilih,” katanya pelan. “Aku pikir... waktu itu... aku bisa punya semuanya.”
Jihan terdiam.
Nada suara Naomi cukup untuk membuatnya tidak melanjutkan ejekan. “Ternyata aku salah,” lanjut Naomi, lebih lirih.
Hening kembali memenuhi mobil. Beberapa detik berlalu sebelum Jihan akhirnya menghela napas.
“Kalau kamu mau lanjut lagi...” katanya lebih lembut, “aku dukung.”
Naomi tersenyum kecil. “Terima kasih, Ji.”
“Tapi?” tanya Jihan, sudah tahu akan ada lanjutannya.
Naomi menunduk. “Aku nggak punya biaya.”
Kalimat itu sederhana. Tapi berat.
“Residensi itu mahal. Belum lagi aku harus urus Davin. Perawatannya saja sudah pasti besar,” lanjut Naomi. “Aku harus realistis.”
Jihan menggigit bibirnya. Untuk sekali ini dia tidak langsung punya jawaban.
“Ya...” ujarnya. “Masuk akal.”
Namun matanya masih menyimpan sesuatu. Seolah belum benar-benar menyerah pada ide itu. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Jihan masuk ke area apartemen.
Bangunannya modern, tidak terlalu mewah, tapi nyaman dan rapi.
“Welcome to my humble palace!” kata Jihan dramatis sambil mematikan mesin.
Naomi tersenyum tipis. “Kamu nggak berubah ya,” katanya.
“Kalau berubah nanti kamu kaget,” balas Jihan santai. Ia keluar duluan, lalu membantu Naomi turun dengan hati-hati.
“Pelan-pelan. Ingat, kamu habis melahirkan, bukan habis photoshoot,” komentarnya lagi.
Naomi hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Mereka masuk ke dalam apartemen. Begitu pintu terbuka, suasana hangat langsung terasa. Tidak besar tapi bersih.
“Masuk!" ujar Jihan sambil menyalakan lampu. “Ini rumah kita sekarang.”
Naomi melangkah masuk perlahan. Matanya berkeliling. Ada sofa kecil, meja kaca, beberapa tanaman hias, dan foto-foto Jihan di dinding. Sederhana tapi terasa aman.
“Kamarnya ada dua,” lanjut Jihan sambil menunjuk ke arah lorong kecil. “Yang ini punyaku, yang sebelah buat kamu.”
Naomi terdiam sejenak. “Ji...” panggilnya pelan.
Jihan menoleh.
“Makasih.”
Jihan mengangkat alis.
“Udah, nggak usah drama,” katanya ringan. “Kalau kamu nangis lagi, aku ikutan nangis, terus kita jadi duet sinetron di sini.”
Naomi tertawa kecil.
“Sekarang kamu istirahat,” lanjut Jihan sambil membuka pintu kamar kedua. “Aku sudah bersihin kemarin, kebetulan kepikiran aja. Ternyata kepakai juga.”
Naomi masuk ke dalam kamar. Ruangannya sederhana. Tempat tidur, lemari, meja kecil.
Lebih dari cukup untuk memulai ulang.
“Taruh Davin di sini dulu,” kata Jihan sambil membantu menyiapkan tempat tidur kecil darurat dari bantal.
Naomi mengangguk. Ia meletakkan Davin dengan sangat hati-hati. Bayi itu masih tertidur lelap. Naomi duduk di tepi tempat tidur. Tubuhnya terasa lelah. Namun hatinya sedikit lebih ringan.
Jihan berdiri di ambang pintu, memperhatikan sahabatnya itu. “Kamu tidur dulu,” katanya pelan. “Aku di luar. Kalau butuh apa-apa, panggil.”
Naomi mengangguk.
“Ji...”
“Hm?”
Naomi menatapnya.
“Aku nggak tahu harus mulai dari mana... tapi aku mau coba.”
Jihan tersenyum.
“Itu sudah cukup,” jawabnya. “Nggak usah langsung sempurna. Yang penting jalan dulu.”
Naomi menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan. Kini dia merasa punya tempat untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah. Tapi untuk mengumpulkan kekuatan. Ia menatap Davin yang tertidur. Tangannya menyentuh pipi kecil itu.
“Kita mulai dari sini ya, Nak...” bisiknya. Di dalam kamar kecil itu, sebuah awal baru akhirnya benar-benar dimulai.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘