NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Aturan di Rumah Moretti

Bab 11 — Aturan di Rumah Moretti

Amelia Santoso hampir tidak bisa tidur semalaman.

Kamar tempat ia berada terlalu besar dan mewah dibanding rumah kecilnya di desa. Tempat tidur empuk, lampu kristal, tirai mahal, bahkan kamar mandi di dalamnya terasa seperti sesuatu yang hanya pernah ia lihat di televisi.

Namun semua kemewahan itu tidak membuatnya nyaman.

Justru sebaliknya.

Ia merasa seperti burung kecil yang terjebak di dalam sangkar emas milik monster.

Amelia duduk di tepi ranjang sambil memeluk lututnya sendiri. Pikirannya penuh kekacauan sejak tiba di mansion keluarga Moretti.

Suara tembakan.

Darah.

Mayat.

Dan tatapan dingin Lorenzo terus terbayang di kepalanya.

Ia bahkan masih tidak percaya semua itu benar-benar terjadi.

Tok tok.

Amelia langsung tersentak kaget saat pintu kamarnya diketuk.

“Nona Amelia?”

Suara wanita terdengar lembut dari luar.

Amelia berjalan perlahan lalu membuka pintu sedikit.

Seorang wanita paruh baya berdiri sambil membawa nampan makanan.

“Saya Clara,” katanya ramah. “Tuan Lorenzo meminta saya membantu kebutuhan Anda selama di sini.”

Amelia langsung gugup mendengar nama itu.

Lorenzo Moretti.

Bahkan hanya mendengar namanya saja sudah membuat jantungnya tidak tenang.

“A-aku tidak lapar…”

Clara tersenyum kecil. “Anda belum makan sejak tadi malam.”

Amelia menunduk pelan.

Ia memang lapar.

Namun pikirannya terlalu kacau untuk makan.

Clara akhirnya masuk dan meletakkan makanan di meja kecil dekat jendela.

“Nona tidak perlu takut,” ucapnya pelan.

Amelia langsung mengangkat pandangan.

“Semua orang di sini terlihat menakutkan…”

Clara tertawa kecil.

“Itu memang benar.”

Jawaban jujur itu justru membuat Amelia sedikit bingung.

Wanita itu lalu duduk di kursi dekat meja.

“Keluarga Moretti bukan keluarga biasa.”

Amelia menggenggam ujung bajunya gugup.

“Mereka mafia… bukan?”

Clara terdiam beberapa detik sebelum mengangguk pelan.

“Ya.”

Jawaban itu membuat dada Amelia terasa semakin sesak.

Ia benar-benar berada di rumah mafia Italia sungguhan.

Bukan film.

Bukan cerita.

Tapi nyata.

“Aku harus pergi…” lirih Amelia.

“Kalau saya boleh jujur,” ucap Clara hati-hati, “sekarang justru lebih aman bagi Anda berada di sini.”

“Kenapa?”

“Karena orang-orang yang menjual Anda semalam pasti sedang mencari Anda.”

Amelia langsung terdiam.

Ia memikirkan neneknya di desa.

Bagaimana kalau mereka datang ke sana?

Bagaimana kalau neneknya terluka karena dirinya?

Wajah Amelia langsung pucat.

Clara memperhatikan perubahan ekspresi itu lalu berkata pelan, “Tuan Lorenzo biasanya tidak pernah membawa siapa pun ke mansion ini.”

Amelia mengernyit bingung.

“Maksudnya?”

“Wanita.”

Suasana mendadak sunyi.

“Selama bertahun-tahun saya bekerja di sini…” lanjut Clara pelan, “Anda wanita pertama yang dibawa pulang olehnya.”

Jantung Amelia langsung berdegup aneh.

Namun sebelum ia sempat memikirkan arti ucapan itu—

Brak!

Suara keras terdengar dari bawah.

Amelia langsung tersentak.

Jeritan pria terdengar samar dari lantai bawah mansion.

Tubuh Amelia menegang ketakutan.

“A-apa itu?”

Clara langsung berdiri cepat.

“Jangan keluar kamar.”

“Tapi—”

“Jangan keluar apa pun yang terjadi.”

Wanita itu segera pergi meninggalkan kamar.

Amelia berdiri membeku di tempat.

Namun suara keributan di bawah justru semakin jelas.

Teriakan.

Bentakan.

Dan suara benda pecah.

Rasa penasaran bercampur takut mulai memenuhi dirinya.

Beberapa menit kemudian, Amelia akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar perlahan.

Koridor mansion terlihat sunyi.

Ia berjalan pelan menuju balkon lantai dua dan mengintip ke bawah.

Dan seketika napasnya tercekat.

Seorang pria berlutut di tengah ruang utama mansion dengan wajah penuh darah.

Dua anak buah Moretti menahannya kuat-kuat.

Sementara di depan pria itu…

Lorenzo berdiri sambil menatap dingin.

Aura pria itu terasa jauh lebih menyeramkan dibanding tadi malam.

“Aku sudah memberimu kesempatan,” ucap Lorenzo tenang.

Pria yang berlutut itu langsung gemetar.

“T-Tuan Lorenzo… tolong ampuni saya…”

“Kau menjual informasi keluargaku pada Romano.”

“Aku dipaksa!”

Lorenzo tertawa kecil.

Namun tawanya tidak mengandung kehangatan sedikit pun.

“Semua pengkhianat selalu mengatakan itu.”

Amelia langsung menutup mulutnya.

Tubuhnya mulai gemetar lagi.

Ia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.

Dan benar saja—

Dor!

Suara tembakan menggema di seluruh mansion.

Tubuh pria itu langsung roboh ke lantai.

Amelia membelalak ngeri.

Tangannya gemetar hebat.

Lorenzo baru saja membunuh seseorang di depan banyak orang tanpa ragu sedikit pun.

Beberapa pelayan langsung menunduk ketakutan.

Sementara Lorenzo menyerahkan pistolnya pada Marco De Luca dengan ekspresi datar.

“Bersihkan.”

“Baik, Bos.”

Lorenzo berbalik untuk pergi.

Namun langkahnya tiba-tiba berhenti.

Tatapan abu-abunya perlahan terangkat ke lantai dua.

Dan bertemu langsung dengan Amelia.

Jantung Amelia terasa berhenti.

Tubuhnya langsung membeku ketakutan.

Ia ingin lari.

Namun kakinya tidak bisa bergerak.

Tatapan Lorenzo begitu tajam hingga membuatnya sulit bernapas.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi yang menyesakkan.

Lalu Lorenzo akhirnya bicara.

“Turun.”

Hanya satu kata.

Namun terdengar seperti perintah mutlak.

Amelia langsung panik.

Ia tidak ingin turun.

Tidak ingin mendekati pria mengerikan itu.

Namun semua orang di bawah kini menatap ke arahnya.

Marco bahkan terlihat kasihan padanya.

Dengan langkah gemetar, Amelia akhirnya turun melalui tangga besar mansion.

Semakin dekat ia pada Lorenzo…

semakin besar tekanan yang ia rasakan.

Pria itu benar-benar menakutkan.

Amelia berhenti beberapa langkah di depannya sambil menunduk gugup.

“A-aku minta maaf…”

“Kenapa keluar kamar?”

Suara Lorenzo rendah dan dingin.

“Aku mendengar suara…”

“Kau suka melanggar perintah?”

Amelia langsung menggeleng cepat.

“Tidak…”

Tatapan Lorenzo turun pada wajah pucat gadis itu.

Matanya masih merah karena ketakutan.

Dan tubuh kecilnya jelas gemetar hebat.

“Kau takut padaku?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Amelia membeku.

Karena jawabannya sangat jelas.

Tentu saja ia takut.

Siapa yang tidak takut pada pria yang bisa membunuh orang tanpa berkedip?

Namun Amelia tidak berani menjawab jujur.

“Aku…”

Lorenzo melangkah mendekat satu langkah.

Dan Amelia refleks mundur.

Gerakan kecil itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Marco langsung memejamkan mata pelan.

Sial.

Biasanya orang yang mundur saat Lorenzo mendekat akan berakhir buruk.

Namun anehnya…

Lorenzo justru diam cukup lama.

Tatapannya terus menempel pada Amelia.

Lalu akhirnya ia berkata pelan,

“Mulai hari ini, kau tidak boleh keluar mansion tanpa izinku.”

Mata Amelia langsung membesar.

“Apa?”

“Itu aturan pertamaku.”

“Aku bukan tahanan!”

“Di luar sana banyak orang yang ingin menangkapmu lagi.”

“Aku tetap ingin pulang!”

Tatapan Lorenzo langsung berubah dingin.

“Dan membuat nenekmu ikut dibunuh?”

Kalimat itu seperti petir bagi Amelia.

Wajahnya langsung pucat.

“Tidak…”

“Kalau begitu dengarkan perintahku.”

Suasana kembali sunyi.

Amelia menggigit bibirnya pelan menahan emosi dan takut sekaligus.

Ia membenci situasi ini.

Namun lebih dari itu…

ia sadar Lorenzo benar.

Dan itu yang paling membuatnya frustrasi.

Lorenzo akhirnya berbalik pergi.

Namun sebelum naik tangga, ia berhenti sebentar.

“Marco.”

“Ya, Bos?”

“Tambahkan penjagaan di desa gadis itu.”

Amelia langsung mengangkat kepala kaget.

Lorenzo tidak menoleh saat melanjutkan ucapannya.

“Aku tidak mau ada yang menyentuh neneknya.”

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke mansion itu…

Amelia mulai merasa bingung terhadap pria bernama Lorenzo Moretti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!