Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Matahari siang ini amat panas menyengat, posisinya langsung di atas kepala.
Langkah kaki seorang gadis yang baru pulang dari kampusnya, mengenakan kemeja kotak-kotak biru tanpa di kancing, celana jeans, dan tas ransel coklat di pundaknya.
Kaki Melina melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Ganendra, setelah bersapaan dengan satpam.
Kakinya melepas sepatu saat kakinya menginjakan lantai marmer yang dingin.
Suasana yang biasanya menyejukkan di rumah ini, meski siang hari yang panas----tapi suasana nampak lebih seperti di neraka.
Baru saja Melina meletakkan kakinya di ruang tengah, matanya menatap sosok yang menyambutnya.
Seorang wanita yang menjadi majikannya.
Nyonya Adisti dengan wajah khasnya berdiri menatap dengan tajam.
Penampilan Adisti siang ini nampak elegan seperti biasanya, dengan mengenakan gaun berwarna salem, rambutnya yang coklat di biarkan tergerai sampai bahu menyisakan ikal di bawahnya.
"Pakai sepatunya!" titahnya.
Melina menghela napas, dirinya mengenakan sepatunya kembali---wajahnya pucat.
"Mampus gua, di omelin dah," ucap Melina dalam hatinya.
Wajahnya yang lelah dengan bercampur keringat karena panas matahari, mendadak menjadi pucat.
Langkah Adisti mendekat, ekspresinya wajahnya sangat asam, dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Matanya menatap Melina dengan tatapan tajam.
"Jam berapa ini, Melina?" tanya Adisti.
Suara bariton itu seketika memecah keheningan, Melina dengan susah payah menelan salivanya.
"Ma-Maaf Nyonya...ta-tad-tadi ada kelas dan dosennya lama menjelaskan di tambah macet," jawab Melina lirih dengan terbata-bata.
Kedua jemarinya meremas tali tas ranselnya dengan gugup.
"Saya tidak mau tahu urusan kampusmu, kamu di sini dibayar untuk bekerja!" bentak Adisti.
Wanita berusia baya itu melangkah mendekat, sepatu hak tingginya beradu di atas lantai marmer membuat kesan suara nyaring.
"Rumah berantakan sejak pagi, Bi Nisa sibuk di belakang!" marahnya.
Mulut Melina hanya terus mengucapkan kata maaf, karena takut jika di pecat dirinya tak bisa menabung---dan tak bisa mencari kos.
Melina merasakan wajahnya memanas, di kampus dirinya terkenal sebagai mahasiswa yang cerdas juga baik hati.
Tak heran jika teman-temannya menaruh rasa hormat padanya, bahkan Alvaro pun juga memujanya.
"Kamu nggak usah bekerja hari ini," ucapnya.
Seketika kepala Melina menengadah dan menatap majikannya.
"Nyonya tolong jangan pecat saya," mohon Melina dengan mata berkaca-kaca.
"Ikut saya," perintahnya dengan nada tegas.
Melina menunduk dan mengikuti langkah kaki Adisti ke ruang pribadinya.
Ruang pribadi.
Ruang pribadi itu adalah kamarnya Adisti, nampak mewah seperti dua ruangan kamar di panti asuhan.
Ada ranjang, dan sofa ruang tamu pribadi.
Selain itu ada kamar mandi pribadi, nampak seperti kamar putri di negeri dongeng.
Melina duduk di lantai sementara Nyonya Adisti duduk di sofa.
"Nyonya tolong jangan pecat saya...saya butuh pekerjaan ini," ucap Melina.
Melina sebentar lagi akan berusia 20 tahun dan lulus kuliah, jika sudah lulus dirinya harus siap keluar dari panti asuhan dan harus memulai hidup baru.
"Saya nggak akan pecat kamu, asalkan kamu mau menikah dengan anak saya."
Sontak pernyataan Adisti membuat Melina membulatkan mata, dirinya belum siap menanggung beban untuk memikul tanggung jawab berumah tangga.
Di usia yang baru sembilan belas tahun, dirinya hanya ingin fokus kuliah----tidak ada pemikiran untuk menikah.
Jika dirinya menikah maka konsekuensi harus di tanggung, yakni beasiswanya di cabut.
Melina menggelengkan kepalanya, matanya berkaca-kaca.
"Nyo-nyonya saya---belum siap untuk berumah tangga," ujar Melina dengan terbata-bata.
Nyonya Adisti hanya terkekeh karena sudah tahu akan jawaban Melina, dirinya sudah mempersiapkan sebuah ancaman untuk gadis muda ini.
"Silahkan saja kamu tolak, tapi kamu saya pecat. Kamu tahu akan sangat sulit jika kamu saya pecat mencari pekerjaan lagi."
Adisti hanya memiringkan kakinya, dan menatap pembantunya yang masih muda.
"Muda dan cantik, aku mau cucu sesegera mungkin," batin Adisti menatap gadis ini.
Adisti bisa memprediksi jika Livia yang menjadi menantunya, pasti wanita itu akan menunda memiliki anak.
Namun, jika Melina---gadis ini tak memiliki kuasa dan penghasilan, biaya kuliah pasti sudah di tanggung olehnya.
Dengan ini sudah di pastikan gadis ini tak bisa berontak.
"Tapi nyonya saya masih kuliah dan saya memiliki beasiswa, jika saya menikah secara otomatis beasiswa saya akan di cabut," jelas Melina.
"Nggak usah khawatir, biaya kuliah kamu di tanggung Ishan. Termasuk nafkah batin," jawab Adisti.
Nafkah batin---sebuah kiasan atau kode yang di lontarkan Adisti karena keinginannya memiliki cucu secepat mungkin.
"Nyonya saya anak yatim piatu, dan nanti untuk wali bagaimana?" tanya Melina berusaha menolak pernikahan ini.
"Saya pakai wali hakim!" tegas Adisti.
Melina memejamkan matanya, kepalanya berdenyut nyeri.
Lantai yang dingin mulai terasa, dirinya tak bisa berfikir jernih saat ini.
Menikah di usia sembilan belas tahun, adalah keputusan yang berani---menikah sekali seumur hidup itulah prinsipnya.
"Tolong berikan saya waktu Nyonya," pinta Melina kepada Adisti.
"Saya akan berikan kamu waktu seminggu."
"Pernikahan ini hanya untuk memiliki keturunan, setelah itu kamu bisa bebas memilih hidup kamu dengan rumah yang saya kasih, jika kamu menolak maka kamu akan saya pecat," lanjut Adisti duduk melipat tangannya di atas sofa.
Melina yang mendengar itu hatinya amat sakit, dari kecil hidup di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya.
Saat besar hidupnya bagai seonggok sampah, seorang hanya ingin membeli rahimnya dan harga dirinya untuk beberapa tahun.
"Nyonya...Den Ishan sudah punya pacar...kenapa tid---"
Ucapan Melina terpotong, saat Adisti menghentikannya dengan mengangkat tangan di hadapan wajahnya.
"Kamu tak perlu tahu soal itu, sekarang kamu bisa kembali bekerja!" titahnya.
Melina hanya menganggukkan kepala, dirinya hanya bisa menuruti keinginan majikannya.
Hari ini adalah sebuah tragedi, tiba-tiba ada sebuah lamaran yang datang padanya.
Bukan di sebut lamaran, tapi bisa disebut jual beli budak---hanya untuk melahirkan dan ingin keturunan.
Melina menghela napas, gadis malang ini tak bisa berbuat apapun----jika dirinya di pecat dan menolak lamaran itu, tentu saja Adisti akan menyebarkan rumor menjijikan tentangnya.
Tentu hal itu akan menyulitkannya mencari pekerjaan lagi.
Dengan derai air mata gadis malang itu mulai bekerja, sungguh sebuah takdir yang bisa disebut malang.
*
*
*
*
*
*