NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7 - Racun dalam susu

Malam itu, langit di luar sana tampak kelam tanpa bintang, seolah turut merasakan kesuraman yang menyelimuti rumah besar keluarga Wijaya. Di dalam kamar tidur utama yang luas dan mewah itu, suasana terasa tenang namun penuh ketegangan yang tak kasat mata. Kiara duduk di tepi ranjang, membiarkan jendela sedikit terbuka, membiarkan angin malam yang sejuk masuk menyapa kulitnya yang terasa panas. Di luar sana, segala sesuatu tampak damai dan biasa saja, namun di dalam hati Kiara, badai besar sedang mengamuk hebat.

Sejak sore tadi setelah ia pulang dari rumah Emily, Kiara berusaha sekuat tenaga menahan segala emosi yang meluap. Ia kembali menjadi istri yang lembut, yang tersenyum manis, yang menyambut suaminya pulang seolah tak ada apa-apa yang terjadi. Ferdi pun bermain peran dengan sangat baik. Ia pulang dengan wajah lelah namun ramah, meminta maaf karena harus pergi seharian mengurus 'temannya yang sakit', memeluk Kiara, dan berbicara manis seolah ia adalah suami paling setia dan perhatian di dunia. Padahal Kiara tahu persis, seharian ini suaminya itu menghabiskan waktunya bermesraan, merencanakan masa depan, dan menyusun strategi kehancuran dirinya bersama wanita yang paling ia percayai.

Namun, yang paling menyakitkan dari semuanya adalah fakta yang ia dengar malam kemarin, selama lima tahun ini, ketidakmampuannya memiliki anak bukanlah takdir Tuhan, melainkan ulah manusia. Ferdi, bersama Emily, telah meracuninya perlahan-lahan, mencegahnya hamil, membuatnya merasa rendah diri dan bersalah, hanya demi ambisi kotor mereka. Dan obat-obatan itu masih terus diberikan hingga hari ini. Kiara menggenggam erat tangannya hingga buku jarinya memutih. Ia harus membuktikannya malam ini. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri sejauh mana kejahatan suaminya itu berani melangkah.

Pintu kamar terbuka perlahan. Ferdi masuk membawa sebuah nampan kecil. Di atasnya terdapat gelas kaca berisi susu hangat yang beruap, dan beberapa butir obat kecil berwarna putih. Senyum Ferdi tampak begitu tulus, begitu perhatian, seolah-olah di tangannya itu bukan racun, melainkan vitamin dan kasih sayang murni.

"Belum tidur juga, Sayang?" sapa Ferdi lembut, berjalan mendekat dan meletakkan nampan itu di atas meja nakas di samping ranjang. Ia duduk di sisi tempat tidur, tepat di sebelah Kiara, lalu mengusap pelan rambut panjang istrinya itu. Sentuhan tangan itu seolah penuh kasih, namun bagi Kiara, sentuhan itu kini terasa menjijikkan dan berbahaya.

Kiara menoleh, membalas tatapan suaminya dengan senyum yang dibuat-buat setulus mungkin. "Belum mengantuk, Mas. Mungkin karena tadi siang tidur sebentar. Kamu sendiri? Sudah selesai urusanmu di ruang kerja?"

"Hampir selesai. Ada sedikit laporan yang harus diperiksa sebentar lagi nanti malam," jawab Ferdi santai. Ia kemudian mengambil gelas susu itu, mengaduknya perlahan dengan sendok kecil, lalu meraih obat-obatan di sampingnya. "Nah, sebelum aku kembali ke ruang kerja, minum dulu ini ya, Sayang. Susu hangat supaya kamu tidurnya nyenyak, dan ini vitamin dari dokter. Ingat kan? Dokter bilang kamu agak banyak pikiran akhir-akhir ini, jadi harus rutin diminum supaya kesehatanmu terjaga."

Jantung Kiara berdegup kencang dan nyeri. Vitamin? batinnya mengejek getir. Dokter bilang? Dokter mana, Ferdi? Dokter yang kamu suap? Atau dokter imajinasimu sendiri? Obat ini bukan vitamin. Ini adalah racun yang membuatku mandul, yang membuatku menderita bertahun-tahun, yang membuatku merasa ada yang salah dengan diriku sendiri padahal aku wanita yang paling sehat dan subur.

Dengan tangan yang bergetar namun ia sembunyikan dengan baik, Kiara menerima gelas susu itu. Aroma susu segar bercampur dengan bau samar obat kimia yang asing tercium masuk ke hidungnya. Ia menatap Ferdi dalam-dalam. Di mata pria itu tidak ada rasa bersalah, tidak ada keraguan, bahkan tidak ada rasa takut sedikit pun. Ferdi sangat percaya diri. Ia percaya bahwa Kiara adalah boneka bodoh yang akan menelan apa pun yang diberikannya, yang akan mempercayai apa pun yang dikatakannya. Ia mengira Kiara sangat mencintainya sehingga ia tidak akan pernah curiga sedikit pun.

"Iya, Mas. Terima kasih. Kamu memang paling perhatian sama aku," ucap Kiara dengan suara lembut, hampir bergetar karena menahan rasa marah yang luar biasa. Ia mengangkat gelas itu mendekat ke bibirnya, berpura-pura hendak meneguk isinya sedikit.

Ferdi tersenyum puas. Ia mengawasi setiap gerakan istrinya, memastikan bahwa cairan berisi zat penghambat pembuahan itu masuk ke dalam tubuh Kiara seperti biasa. Sudah lima tahun ia melakukan ini. Setiap malam, susu hangat dan obat ini adalah ritual wajib yang ia berikan. Dulu, Kiara menerimanya dengan sukacita, menganggapnya bukti cinta dan perhatian suami. Dulu, Kiara sering berterima kasih dan merasa beruntung memiliki suami sebaik Ferdi yang begitu peduli pada kesehatannya. Padahal, setiap tetes yang diminumnya adalah belenggu yang menjauhkannya dari impian menjadi seorang ibu.

"Sama-sama, Sayang. Kesehatanmu adalah yang paling utama buatku. Aku tidak mau kamu sakit, aku tidak mau kamu lelah, aku ingin kamu selalu sehat dan bahagia bersamaku," ucap Ferdi manis, kalimat yang penuh kepalsuan namun terdengar begitu indah.

1
Yeni Astriani
yuuukk lanjut Author
Yeni Astriani
good job Kiara kamu kuat, kamu punya banyak bukti perceraian pasti bakalan terjadi.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi
Yeni Astriani
lanjut Author
Asyura
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!