NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Mikayla kembali bertemu dengan Reno tangan kanan elang. "Katakan kenapa kamu membantuku sampai sejauh ini. ? " Tanya Mikayla.

Reno duduk bersandar lalu meminum kopinya secara perlahan, "aku ingin Elang dan Naura menderita, adikku jatuh cinta padanya dan ya dia merusak adikku yang kini menjadi salah satu penghuni rumah sakit jiwa, kejadian itu sudah lama tepatnya sejak Mereka kuliah bersama.”

Mikayla tersenyum sinis. "Naura adalah belahan jiwanya dan juga hidupnya, jika kamu ingin dia menderita dimulai dari dia, Satu minggu ini aku menemukan tiket perjalanan dua keluarga besar ke Bali”

Semalam diam-diam mikayla mengecek gmail, di HP suaminya dan menemukan tiket perjalanan dua keluarga besar dan invoice pemesanan penyewaan villa selama satu Minggu. Mikayla memotretnya untuk dijadikan barang bukti.

Reno tertegun sejenak mendengar informasi dari Mikayla. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang cukup keras di atas meja kayu. "Bali? Jadi 'proyek di Lombok' itu sebenarnya liburan keluarga besar untuk merayakan kembalinya Naura?"

Mikayla mengangguk pelan, jemarinya mengetuk meja mengikuti irama detak jantungnya yang kini jauh lebih tenang dan teratur. "Tepat sekali. Dua keluarga besar keluargaku dan keluarga Elang berkumpul di sana, mereka bersulang di atas penderitaanku, merayakan kesembuhan wanita yang mereka anggap korban, sementara aku dikurung di rumah ini dengan pil KB di dalam botol vitaminku.”

"Kejam," desis Reno. "Mereka benar-benar menganggapmu tidak ada."

"Itu keuntungan kita, Reno," Mikayla menyandarkan punggungnya, terlihat sangat berwibawa dengan setelan hitamnya. "Selama satu minggu ini, saat mereka sibuk bersenang-senang di villa mewah di Bali, aku akan mengosongkan semua yang menjadi hakku. Aku sudah memotret bukti reservasi dari Gmail Elang, termasuk invoice pembayarannya yang ternyata menggunakan rekening operasional perusahaan yang seharusnya menjadi aset bersama.”

Mikayla mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto layar yang ia ambil semalam.

Reno tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung dendam yang sama besarnya. "Kamu sangat teliti, Mikayla. Perbankan memang membentukmu menjadi ahli strategi yang dingin."

"Jangan lupa satu hal," tambah Mikayla. "Kirimkan foto-foto kemesraan Elang dan Naura di Bali nanti ke kontak pribadiku. Aku butuh bukti perselingkuhan yang nyata untuk memperkuat posisi di pengadilan nanti.”

"Bagaimana dengan adikmu?" tanya Mikayla tiba-tiba, suaranya sedikit melunak.

Reno terdiam, matanya menatap kosong ke arah jalanan. "Dia masih sering memanggil nama Elang. Elang menghancurkan masa depannya, lalu membuangnya seperti sampah saat Naura masuk ke hidupnya. Aku akan melakukan apa pun agar Elang merasakan kehilangan yang sama."

Mikayla mengulurkan tangannya di atas meja, bukan untuk menyentuh, tapi sebagai simbol kesepakatan. "Kita punya musuh yang sama. Naura adalah kelemahan Elang, dan Elang adalah kehancuran Naura. Kita akan pastikan mereka jatuh bersama-sama.”

Setelah Reno pergi, Mikayla kembali menatap layar ponselnya. Ia membuka aplikasi mobile banking. Saldo di rekening rahasianya sudah lebih dari cukup untuk memulai hidup baru. Ia teringat kembali pada hobinya mendesain pakaian anak yang selama ini ia sembunyikan.

"Dulu aku dilarang kuliah seni karena dianggap ingin menyaingi Naura," batinnya sambil mengusap layar yang menampilkan desain baju bertema Kuromi yang ia buat. "Mari kita lihat, siapa yang akan memiliki kerajaan bisnis yang sesungguhnya nanti.”

Mikayla berdiri, mengenakan kacamata hitamnya, dan melangkah keluar kafe. Langkah kakinya mantap. Bagi dunia, Elang sedang berada di Lombok. Bagi keluarganya, Mikayla sedang menangis di rumah. Namun kenyataannya, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai dari tangan seorang wanita yang selama ini mereka remehkan.

Reno baru saja pergi, meninggalkan udara kafe yang kembali terasa normal, tapi tidak dengan pikiran Mikayla. Ada sesuatu yang terus berputar di kepalanya lebih cepat, lebih terstruktur, seperti roda yang akhirnya menemukan jalurnya sendiri.

Ia tidak langsung pulang.

Mikayla tetap duduk di kursinya, menatap layar ponsel yang masih menampilkan data tiket perjalanan itu. Dua keluarga besar berkumpul di satu villa selama satu minggu penuh, Sebuah panggung yang sudah disiapkan dengan sangat rapi dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang sudah membaca seluruh naskahnya.

Jarinya bergerak pelan, menyimpan semua bukti sekali lagi ke dalam folder terenkripsi. Foto invoice, bukti Gmail, hingga detail pembayaran dari rekening operasional perusahaan, semuanya ia rapikan seperti arsip perang.

Setelah itu, ia mengirim satu pesan ke Riko.

“Aku butuh semua akses CCTV di area villa. Termasuk jalur masuk dan keluar.”

Balasan datang cepat. “Sudah disiapkan. Kamu tinggal masuk ke sistemnya malam ini.”

Mikayla menatap pesan itu lama, lalu mematikan layar ponselnya. Ia berdiri, merapikan jasnya, dan melangkah keluar dari kafe tanpa menoleh lagi. Di luar, udara sore Bali yang kini sudah mulai ia bayangkan, terasa seperti awal dari sesuatu yang besar.

Malamnya, di kamar yang sunyi, Mikayla duduk di depan laptop dengan layar gelap yang perlahan menyala. Jarinya bergerak cepat, memasuki sistem yang sudah Riko siapkan. Akses demi akses terbuka tanpa hambatan berarti.

Villa itu muncul di layar.

Indah terlalu indah untuk menjadi tempat yang akan menyimpan kehancuran, Mikayla memperbesar tampilan kamera utama, dari sudut itu, ia bisa melihat area kolam, taman, hingga teras besar tempat acara kemungkinan akan digelar. “Jadi ini…” gumamnya pelan, “tempat kalian merayakan kebohongan kalian.”

Ia membuka folder lain. Jadwal reservasi, daftar tamu, hingga susunan acara mulai terbaca jelas. Nama Elang ada di sana. Nama Naura ada di sana. Bahkan nama kedua keluarga besar itu tersusun rapi seperti daftar kehormatan.

Namun bagi Mikayla, itu bukan daftar kehormatan.

Itu daftar target, Ia menyandarkan tubuhnya sebentar, lalu mengambil napas pelan, tidak ada getaran emosi yang mengganggu lagi, semua sudah digantikan oleh sesuatu yang lebih stabil kendali.

Ponselnya bergetar nama Riko muncul dilayar.

“Hari keberangkatan besok. Aku akan berada di lokasi lebih dulu.”

Mikayla membaca pesan itu, lalu menjawab singkat.

“Aku menyusul sebagai tamu.”

Beberapa detik kemudian, Riko membalas lagi.

“Di sana, kamu bukan tamu. Kamu pemegang akhir cerita.”

Mikayla menatap layar itu cukup lama, lalu untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum kecil, bukan senyum luka. Tapi senyum seseorang yang sudah tahu persis di mana akhir dari semua ini akan jatuh.

___

Sore berikutnya, Mikayla berdiri di depan cermin.

Ia mengenakan pakaian sederhana, elegan, tanpa satu pun jejak keraguan di wajahnya. Rambutnya ditata rapi, matanya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang akan masuk ke tengah keluarga yang sedang merayakan sesuatu yang bukan miliknya.

Ia meraih tas kecilnya, memasukkan ponsel, beberapa dokumen, dan satu flashdisk, Lalu berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri.

“Sekarang giliran kalian,” bisiknya pelan. Ia berbalik, melangkah keluar kamar, dan menutup pintu dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

Di luar sana, pesawat menuju Bali sudah menunggu dan di dalam pikirannya, Mikayla tidak lagi melihat perjalanan.

___

Di sore harinya mikayla memesan pesawat tujuannya adalah ke Bali mengumpulkan lebih banyak bukti. "Maaf nona untuk penerbangan pada jam ini sudah penuh, tapi besok masih ada beberapa slot business class.”

"Ya aku mau itu." Setelah memesan tiket, ia segera menemui pengacaranya untuk membahas perceraian, sedangkan untuk aset berencana mikayla memiliki rencananya sendiri.

Mikayla menutup telepon dengan pihak maskapai setelah mengonfirmasi tiket business class untuk penerbangan besok siang. Ia memilih jadwal yang memberinya cukup waktu untuk menyelesaikan urusan krusial di Jakarta sebelum "berburu" ke Bali.

Segera setelah itu, ia memacu motor listriknya menuju sebuah kantor hukum di kawasan pusat bisnis. Di sana, seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam sudah menunggunya.

"Pak Hendra, terima kasih sudah meluangkan waktu," ucap Mikayla seraya meletakkan map berisi dokumen rekam medis dari Rasya dan foto-foto bukti sabotase vitamin.

Pak Hendra memeriksa dokumen itu dengan saksama. "Ini sangat fatal, Mikayla. Sabotase medis untuk mencegah kehamilan tanpa persetujuan pasien bisa masuk ke ranah pidana, selain memperkuat alasan perceraian di pengadilan agama."

"Saya ingin semuanya berjalan serentak saat mereka pulang," Mikayla menekankan setiap kata. "Namun, untuk aset, saya punya rencana yang lebih... personal.”

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!