Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : LANGKAH PERTAMA HAIFENG
"Aku tidak percaya itu akan berhasil," bisik Sun Li, suaranya nyaris tenggelam di antara suara langkah mereka di atas tanah hutan yang mulai lunak. "Wanita itu punya rencana di balik rencananya, dan rencana di balik itu punya rencana lagi."
Zhao Feng berjalan setengah langkah di belakang Bai Mei yang memimpin rombongan di depan, memastikan jarak cukup jauh sebelum membuka mulut. "Kita ikuti dulu saja. Kalau dia memang mau mengantarkan kita ke Haifeng dan pedangnya, itu sudah cukup."
Ma Chao yang berjalan di antara keduanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan mata yang tidak pernah benar-benar tenang sejak meninggalkan pantai. "Aku pernah lihat dia berbicara dengan seekor serigala di Long Yuan. Serigala itu diam saja, padahal tadi sudah mau menyerang. Kalau dia bisa menjinakkan binatang..."
"Kalau dia bisa jinakkan binatang buas," sambung Sun Li, "maka dia mungkin juga tahu cara menggunakannya."
Ketiganya pun berhenti berjalan selama satu langkah, saling menatap dengan pemahaman yang tidak menyenangkan, kemudian memutuskan bersama bahwa kemungkinan itu terlalu tidak masuk akal untuk dikhawatirkan dan melanjutkan langkah.
Sampai hutan mulai berubah dengan cara yang perlahan dan hampir tidak terasa sampai tiba-tiba semua orang menyadari bahwa langit di atas mereka sudah hampir tidak terlihat lagi di balik kanopi daun yang semakin rapat. Tanah di bawah kaki berubah dari tanah padat menjadi lumpur yang menelan setengah telapak kaki dengan setiap langkah. Suara serangga yang tadi ramai pun berangsur-angsur berhenti, digantikan oleh suara tetesan air dari daun ke daun dan semacam desisan panjang yang sangat rendah, terlalu rendah untuk langsung diidentifikasi sebagai sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Saat itu juga Panglima Qinghan memperlambat langkahnya. "Kita semakin masuk ke dalam."
Bai Mei melirik ke belakang dengan ekspresi yang sangat wajar. "Hampir sampai, Nona Wei. Chen Mo terakhir terlihat di dekat—"
"Di dekat apa?"
Bai Mei membuka mulutnya, menutupnya, lalu berkata bahwa dia tidak ingat persis nama tempatnya. Suaranya sedikit terbata-bata, tapi tangannya menunjuk ke depan dengan keyakinan yang tidak meragukan.
Qinghan menatap arah yang ditunjuk tangan itu. Kemudian menatap Bai Mei.
Perempuan itu sudah berbalik dan melanjutkan langkahnya.
"Apakah itu Chen Mo?"
Kalimat Bai Mei keluar dengan nada yang sangat tepat, campuran antara harapan dan tidak yakin, dan sebelum siapa pun sempat mencari tahu apa yang sedang ditunjuknya, sebuah batu melayang dari tangannya ke arah semak-semak gelap di sisi kiri jalur.
Akan tetapi yang muncul dari semak-semak itu bukan Chen Mo.
Desisan itu datang lebih dulu dari penampakannya. Panjang, dalam, dan sangat dekat. Kemudian kepala itu keluar dari balik dedaunan, sebesar batu gilingan istana, dengan sisik hitam kehijauan yang memantulkan sedikit cahaya yang masih tersisa, dan sepasang mata kuning yang tidak berkedip menatap rombongan itu satu per satu dengan cara seekor predator menilai mangsa mana yang paling mudah dijangkau.
Ular anaconda raksasa itu mengangkat sepertiga tubuhnya dari tanah. Tingginya hampir menyentuh dahan pertama pohon di dekatnya.
Lantas Zhao Feng, Sun Li, dan Ma Chao mundur tiga langkah secara bersamaan dengan suara yang sama persis, campuran antara erangan dan napas yang terhisap tajam.
Sementara Haifeng dan Tianbao mundur ke arah yang berlawanan dan entah bagaimana berakhir dalam posisi saling berpelukan di antara kepanikan yang sama, keduanya menatap makhluk itu dengan mata yang tidak berkedip.
"Itu..." Tianbao tidak menyelesaikan kalimatnya.
"I-iya," kata Haifeng.
Kakek Hua Yuan mengangkat tangannya dengan cepat. "Binatang spiritual tingkat enam. Jangan ada yang bergerak tiba-tiba."
Tapi Qinghan sudah menarik pedangnya.
"Kak, jangan—"
"Semuanya, mundur." Suara Qinghan tidak meninggikan diri, tapi memiliki berat yang membuat kaki bergerak mengikutinya bahkan sebelum pikiran sempat memproses perintah. "Haifeng, mundur."
"Tapi—"
"Mundur."
Lantas Haifeng mundur. Tapi matanya tidak bergerak dari kakaknya yang melangkah maju ke arah makhluk yang ukurannya tiga kali lipat tinggi manusia dewasa itu.
Bai Mei pun ikut mundur ke belakang rombongan dengan langkah yang sangat tenang untuk situasinya, sebelum tangannya bergerak di pinggangnya, jari-jarinya membentuk isyarat kecil yang tidak ada dialognya, hanya gerakan, ke arah Zhao Feng dan Sun Li yang berdiri dua langkah di belakang Haifeng.
Zhao Feng melihat isyarat itu. Matanya bergerak dari Bai Mei ke punggung Haifeng. Ke Pedang Samudera yang tergantung di sana.
Akan tetapi sesuatu dari atas jatuh lebih dulu.
Jatuh seperti sesuatu yang sudah memilih targetnya jauh sebelum bergerak. Ular kedua, sama besarnya, turun dari kanopi pohon dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk sesuatu sebesar itu, kepalanya langsung mengarah ke kelompok paling belakang, dan Ma Chao tidak sempat berlari.
Suaranya hanya sempat keluar satu kali sebelum rahang ular itu menutup, dan sesudah itu hutan itu kembali ke desisannya yang lirih dan dalam, seolah tidak ada yang terjadi.
Zhao Feng dan Sun Li pun mundur sampai membentur batang pohon di belakang mereka, wajah keduanya berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah Haifeng lihat di wajah orang-orang serakah itu sebelumnya.
Kepanikan yang murni.
"Haifeng!"
Panggilan yang tidak selesai dari Qinghan barusan terganggu oleh gerakan ular pertama yang menyapu ke arahnya dengan ekornya yang panjang.
Tapi Haifeng tidak berpikir untuk lari.
Pedang Samudera keluar dari sarungnya dengan suara yang sangat berbeda dari biasanya, bukan gesekan logam di kulit, melainkan sesuatu yang menyerupai suara ombak yang menabrak karang, pendek dan keras, dan Haifeng berlari ke arah ular kedua yang masih ada di tempatnya dengan teriakan yang tidak punya kata-katanya.
Sementara Tianbao menarik lengan Hua Ling ke arah yang berlawanan. "Pak Hua juga harus ikut saya!"
Hua Yuan tidak memprotes.
Sedangkan Bai Mei justru mendecak, menggigit bibirnya, lalu memilih pohon paling besar yang bisa dia temukan dan berdiri di belakangnya.
Ular kedua kini membalikkan tubuhnya ke arah Haifeng.
Bertarung melawan makhluk setingkat enam dengan tubuh yang tidak memiliki qi sama sekali adalah pengalaman yang seharusnya tidak mungkin dilakukan dan tetap hidup. Haifeng tahu itu. Tapi pengetahuan itu tersimpan di bagian pikirannya yang sedang tidak aktif saat ini, digantikan oleh sesuatu yang lebih sederhana dan lebih keras dari logika.
Bilah Pedang Samudera akhirnya bersentuhan dengan sisik ular itu dan terpental, getarannya menjalar sampai ke bahunya. Haifeng mengayunkan lagi dari sudut yang berbeda. Lagi. Ular itu bergerak, kepalanya menyapu ke kiri, dan Haifeng melompat ke kanan.
Lalu sesuatu berubah di dalam pandangannya.
Sangat singkat. Hanya satu kedipan, tapi cukup jelas untuk dibedakan dari dunia yang sedang berdiri di sekelilingnya. Pantai itu lagi. Pantai yang pasirnya berwarna keputihan, dan ombaknya naik lebih tinggi dari ombak biasa, berjalan ke darat dengan kaki-kaki yang seharusnya tidak dimiliki ombak.
Wanita itu berjalan membelakanginya di antara ombak-ombak itu, rambut panjangnya tidak tertiup oleh angin yang jelas ada di sana.
Haifeng membuka mulutnya untuk memanggil, namun ekor ular menyabet dari kiri.
Tubuhnya terlempar ke batang pohon dengan benturan yang cukup keras untuk membuat dunia buyar selama dua detik. Sebelum Sun Li muncul dari sisi kanan dengan tombaknya, menusuk sisi kepala ular itu dengan qi yang tidak besar tapi cukup terarah, dan ular itu berpaling ke arahnya. Tombak itu menyangkut di sisiknya dan Sun Li terpental ikut bersamanya.
Zhao Feng yang melihat itupun segera menarik Sun Li dari tanah. Keduanya menatap Haifeng yang bangkit dari posisi jatuhnya dengan cara yang tidak terlihat seperti orang yang baru dilempar oleh makhluk tingkat enam.
Haifeng berdiri gagah dengan Pedang Samudera masih di tangannya.
Di pantai yang hanya dia yang bisa lihat, wanita itu berhenti berjalan.
Kepalanya berpaling. Wajahnya masih samar, tapi senyumnya terlihat. Satu senyum yang sangat tenang, seperti seseorang yang sudah menunggu lama dan akhirnya melihat yang ditunggunya telah sampai.
Kemudian barulah Haifeng berlari.
Teriakan yang keluar dari mulutnya tidak punya kata-katanya lagi. Ular itu berbalik menghadapinya, kepala terangkat, tapi Haifeng tidak berhenti.
Pedang Samudera terangkat.
Sesuatu bergerak di bilah itu. Riak air muncul dari pangkal ke ujung terus-menerus, mengalir dan mengalir seperti ombak yang menemukan arahnya. Bilah itu terasa berbeda di genggamannya, lebih ringan dari yang seharusnya, atau mungkin tangannya yang lebih kuat dari yang seharusnya, tidak ada cara untuk membedakannya sekarang.
Satu ayunan vertikal tercipta dari kepala sampai ekor.
Suara yang muncul bukan suara logam membelah daging. Lebih seperti suara ombak besar yang menghantam karang dan tidak menemukan perlawanan yang sebanding.
Ular itu tewas dalam dua bagian, menyisakan Qinghan yang berdiri di tempat tewasnya ular pertama dengan napas yang sedikit lebih cepat dari biasanya, matanya menatap adiknya yang berdiri di antara dua bagian ular yang sudah tidak bergerak, rambut hitamnya berantakan, bilah Pedang Samudera masih mengeluarkan riak air yang perlahan-lahan mereda.
Zhao Feng dan Sun Li berdiri dengan lutut yang tidak sepenuhnya bisa diajak kerja sama.
"Bagaimana mungkin..." kata Zhao Feng. "Bukankah dia pendekar tingkat nol?”