Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksperimen di Luar Logika
Setelah insiden pembuangan kopi di kantor, atmosfer di apartemen Arkan malam itu terasa lebih berat dari biasanya. Sia duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya, namun jemarinya hanya diam membeku di atas keyboard. Sementara itu, Arkan mondar-mandir di ruang tengah, sesekali menyesap kopi hitamnya yang pekat—kali ini kopi buatannya sendiri, bukan dari kafe bawah yang sempat memicu kemarahannya siang tadi.
"Pak, kalau Bapak terus jalan bolak-balik begitu, saya nggak bisa konsentrasi," celetuk Sia memecah kesunyian.
Arkan berhenti melangkah. Ia menatap Sia, lalu beralih menatap dua kotak martabak yang sudah tersaji di meja—kompensasi tambahan yang ia janjikan tadi sore. "Saya sedang memikirkan adegan pembuka Bab 18, Sia. Bima baru saja melakukan tindakan impulsif. Dia membuang sesuatu yang diberikan pria lain untuk Raya. Sekarang, dia harus menjelaskan tindakannya tanpa terlihat seperti pria pecundang yang cemburu buta."
Sia mendengus, menutup laptopnya sebentar. "Masalahnya, Pak... di dunia nyata pun, tindakan Bapak tadi siang itu memang terlihat seperti pria cemburu buta. Jadi kalau Bapak tanya gimana cara Bima menjelaskannya... ya, jujur saja. Bilang kalau dia nggak suka."
Arkan mengerutkan kening, duduk di kursi tunggal di seberang Sia. "Tidak semudah itu. Bima adalah pria yang logis. Dia harus punya alasan yang masuk akal. Misalnya, dia bisa bilang kalau dia hanya ingin menjaga kualitas asupan nutrisi Raya, atau dia merasa pemberian itu mengandung motif tersembunyi yang merugikan."
Sia tertawa lepas, tawa yang sedikit sarkastik. "Pak, tolong. Kalau Bapak tulis begitu, pembaca bakal melempar ponsel mereka ke dinding. Nggak ada wanita yang mau dibilangin gitu setelah barang pemberian orang lain dibuang. Bima harus bicara pakai rasa, bukan pakai pasal-pasal kontrak."
Arkan terdiam. Ia meletakkan cangkir kopinya dan mencondongkan tubuh ke depan. "Lalu, menurut kamu, apa yang harus Bima katakan?"
Sia menatap mata Arkan dalam-dalam. "Dia cukup bilang, 'Aku nggak suka lihat kamu menerima sesuatu dari dia'. Sesimpel itu. Kejujuran emosional itu jauh lebih seksi daripada seribu alasan logis."
"Kejujuran emosional..." Arkan menggumamkan kata itu seolah-olah itu adalah istilah asing dari planet lain. "Tapi itu membuat Bima terlihat rentan. Dia mengekspos titik lemahnya bahwa dia bisa terpengaruh oleh kehadiran pria lain."
"Tapi itulah intinya, Pak! Itulah yang bikin karakter Bapak jadi 'hidup'. Bima yang sempurna itu membosankan. Bima yang bisa cemburu dan nggak tahu cara mengungkapkannya dengan benar... itu yang bikin pembaca jatuh cinta."
Arkan tertegun. Ia merasa kata-kata Sia bukan lagi sekadar kritik untuk novelnya, tapi sedang menyentil ego pribadinya. Selama ini, Arkan Dewangga selalu memastikan dirinya tidak memiliki titik lemah. Di bisnis, di pergaulan, bahkan di depan Gibran sekalipun. Namun, hari ini, ia menyadari bahwa ia telah mengekspos titik lemahnya di depan Sia.
"Baiklah," ujar Arkan akhirnya. "Mari kita coba praktikkan untuk drafnya. Kamu jadi Raya, dan saya akan mencoba menyampaikan 'kejujuran emosional' itu."
Sia menarik napas panjang, bersiap masuk ke mode akting. Ia melipat tangannya di dada, memasang wajah cemberut yang cukup meyakinkan. "Kenapa Bapak buang kopi itu? Itu pemberian teman saya, dan saya menghargainya. Bapak nggak punya hak untuk mengatur apa yang boleh saya terima!"
Arkan menelan ludah. Ia menatap Sia, mencoba mencari kata-kata yang tidak ada di dalam kamus CEO-nya. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat, lalu duduk di tepi sofa, tepat di samping Sia.
"Sia... maksud saya, Raya," Arkan mengoreksi diri dengan cepat. "Saya tidak membuangnya karena kopi itu dingin. Saya membuangnya karena saya tidak tahan melihat kamu tersenyum saat membaca catatan dari pria itu."
Sia sedikit tersentak. Suara Arkan kali ini tidak sedang bersandiwara. Nadanya berat, rendah, dan ada getaran kejujuran yang membuat bulu kuduk Sia meremang.
"Kenapa?" tanya Sia, suaranya kini melunak, mengikuti alur.
Arkan meraih tangan Sia—sebuah gerakan impulsif yang bahkan tidak ada dalam rencana riset malam ini. Ia memegang jemari Sia, merasakan betapa kecilnya tangan asistennya itu di dalam genggamannya. "Karena bagi saya, perhatian kamu seharusnya hanya untuk saya. Setidaknya selama kita berada dalam kesepakatan ini. Saya tidak ingin ada gangguan. Saya tidak ingin ada orang lain yang merasa mereka punya hak untuk membuat kamu tersenyum."
Keheningan yang terjadi setelahnya terasa sangat pekat. Sia bisa merasakan panas dari telapak tangan Arkan merambat ke seluruh tubuhnya. Ini bukan lagi sekadar latihan dialog. Ini adalah sebuah pengakuan yang dibungkus dalam label "riset".
"Pak..." bisik Sia. "Itu... deskripsi yang sangat bagus. Sangat posesif."
Arkan tersadar. Ia segera melepaskan tangan Sia dan berdeham kaku, kembali menegakkan punggungnya. "Ya. Saya rasa itu cukup kuat untuk Bab 18. Silakan dicatat intinya."
Sia buru-buru membuka laptopnya kembali, mengetik dengan kecepatan tinggi untuk menutupi kegugupannya. "Siap, Pak. Bagian 'tidak ingin ada orang lain yang membuat kamu tersenyum' itu juara banget. Pasti viral."
Selama satu jam berikutnya, mereka bekerja dalam diam yang intens. Arkan mulai mengetik draf kasarnya, sementara Sia memberikan koreksi pada diksi-diksi yang dirasa terlalu formal. Namun, setiap kali mata mereka tidak sengaja bertemu, ada tegangan listrik yang seolah memicu ingatan tentang sentuhan tadi.
"Sia," Arkan memanggil lagi saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Ya, Pak?"
"Tentang cokelat tadi siang. Apa kamu menyukainya?"
Sia mengangguk mantap. "Suka banget, Pak. Itu cokelat paling enak yang pernah saya makan seumur hidup."
Arkan mengangguk puas, sebuah senyum tipis yang hampir tidak terlihat muncul di wajahnya. "Bagus. Karena mulai sekarang, jika kamu menginginkan sesuatu yang manis, atau kopi, atau apa pun... kamu harus memintanya pada saya. Jangan pada orang lain. Anggap saja itu bagian dari kontrak riset kita. Saya ingin memastikan semua 'stimulus' emosional kamu berasal dari saya, supaya draf novel ini tetap konsisten."
Sia ternganga. Logika macam apa itu? batinnya. Arkan benar-benar sedang memonopoli dirinya dengan alasan profesionalisme yang paling konyol yang pernah ia dengar. Namun, anehnya, Sia tidak merasa keberatan.
"Bapak benar-benar ambisius ya soal novel ini," goda Sia.
"Saya tidak suka melakukan sesuatu dengan setengah hati, Sia. Jika saya harus menjadi penulis spicy terbaik, maka saya akan melakukan apa pun untuk mencapainya. Termasuk memastikan asisten saya tidak terdistraksi oleh hal-hal sepele dari pihak luar."
Arkan berdiri, merapikan meja makannya. "Besok, saya ingin kamu ikut saya lagi ke lokasi proyek. Ada adegan di Bab 19 tentang perjalanan luar kota. Kita butuh referensi tentang bagaimana rasanya berada di ruang terbatas dalam waktu lama bersama seseorang."
"Luar kota? Pak, jadwal Bapak minggu depan kan padat banget!"
"Saya sudah mengatur ulang semuanya. Kita akan pergi ke proyek di Bogor, sekalian menginap satu malam untuk meninjau progres pembangunan hotel di sana. Kamu siapkan keperluan kamu."
Sia terdiam. Menginap? Otaknya langsung berputar membayangkan berbagai skenario yang mungkin terjadi. "Pak, menginap satu malam itu... apa nggak berlebihan buat riset satu bab?"
Arkan menatap Sia dengan tatapan datar andalannya. "Bima dan Raya terjebak hujan di sebuah villa kecil di tengah hutan. Bagaimana saya bisa menuliskan rasa dingin dan keinginan untuk mencari kehangatan jika saya tidak merasakan atmosfernya secara langsung?"
Sia menelan ludah. Logika Arkan benar-benar sudah berada di level yang berbeda. Ia tidak tahu apakah Arkan ini jenius atau memang sedang berusaha mencari jalan untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya tanpa harus mengakui perasaannya.
"Baiklah, Pak Bos. Saya siapkan semuanya. Tapi saya ingatkan ya, kalau di Bogor nanti Bapak mendadak kaku lagi kayak robot, saya nggak akan segan-segan buat kasih kritik pedas di depan mandor bangunan!"
Arkan terkekeh—sebuah tawa yang benar-benar rileks dan tulus. "Saya nantikan kritik kamu, Sia."
Malam itu, saat Sia pulang, Arkan berdiri di balkon apartemennya, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ia membuka ponselnya, melihat draf Bab 18 yang baru saja ia selesaikan. Ia tahu, ia sedang bermain api. Ia tahu bahwa membawa Sia ke luar kota dengan alasan riset adalah sebuah eksperimen yang sangat berbahaya bagi logikanya sendiri.
Namun, saat ia teringat bagaimana ekspresi wajah Sia saat ia memegang tangannya tadi, Arkan merasa bahwa kehilangan logika mungkin bukan hal yang buruk. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO yang kaku itu merasa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih menarik daripada angka-angka di laporan keuangan: yaitu melihat bagaimana ia bisa membuat asistennya itu kehilangan kata-kata.
Garis yang mulai kabur itu kini benar-benar sudah menghilang. Dan Arkan tidak punya niat sedikit pun untuk menggambarnya kembali. Bagi Nightshade, setiap adegan harus terasa nyata. Dan bagi Arkan Dewangga, Sia adalah satu-satunya realita yang ingin ia pelajari lebih dalam, bab demi bab, tanpa akhir.