NovelToon NovelToon
Kebangkitan Meridian Naga

Kebangkitan Meridian Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ichsan Ramadhan

Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.

Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Malam Hujan Lebat Pelukan yang Menenangkan

Hujan kembali turun, namun kali ini bukan lagi sekadar rintik atau gerimis. Langit di atas wilayah utara berubah menjadi hitam pekat, guntur bergema beruntun seolah langit mau runtuh, dan air jatuh menumpah deras bak sungai yang terbalik dari atas. Kabut tebal menyelimuti seluruh pegunungan, membuat pandangan terbatas hanya beberapa meter saja, menciptakan suasana yang suram, dingin, dan sepi.

Namun, di dalam Lembah Sampah, suasana sepi itu kini memiliki arti yang sangat berbeda. Sejak rahasia terbongkar kemarin, tidak ada lagi murid yang berani mendekat, tidak ada lagi guru yang berani memberi perintah. Seluruh penghuni Akademi Bintang Utara tahu, tempat ini kini adalah wilayah kekuasaan mutlak Xue Ying, pewaris Klan Dewa Burung Hong, sosok yang kekuatannya kini disetarakan dengan para legenda kuno.

Di dalam gubuk reyot yang kini terasa luas dan damai itu, Xue Ying duduk di dekat jendela kayu yang rusak. Matanya menatap ke luar, menembus tirai hujan yang lebat, menembus kabut, menembus jarak ribuan li yang memisahkannya dari tempat itu. Di dadanya, Batu Sinyal bersinar sangat terang, begitu panas dan berdenyut kencang hingga terasa seolah ada jantung kedua yang berdetak di sana.

Setelah segala kegaduhan kemarin, setelah ia membongkar identitasnya dan membuat seluruh akademi berlutut dalam ketakutan, setelah ia menyadari betapa dahsyatnya kekuatan yang kini mengalir di urat nadinya... ada satu hal yang jauh lebih besar dari segalanya, satu hal yang membuatnya tidak bisa tenang sedetik pun.

Rasa cemas. Rasa rindu yang membakar. Dan rasa khawatir yang mencekik lehernya setiap kali ia merasakan getaran rasa sakit yang samar namun tajam datang dari ikatan batin itu.

"Ren..." bisiknya pelan, suaranya bergetar menahan tangis. Tangannya menggenggam benda kecil itu sekuat tenaga, seolah dengan cara itu ia bisa menarik kekasihnya mendekat ke sini. "Kau terluka lagi... aku merasakannya. Darahmu... keringatmu... rasa sakitmu... semuanya aku rasakan, seolah itu terjadi di tubuhku sendiri."

Ia ingat kemarin, saat ia berdiri tegak dan angkuh di hadapan ribuan orang, saat ia mengalahkan Pangeran dan menggetarkan seluruh akademi... kekuatan itu datang darinya. Datang dari Ren yang menyalurkan seluruh tenaganya, mempertaruhkan nyawanya sendiri di tengah pertempuran mati-matian hanya untuk memastikan Xue Ying aman dan bisa membuktikan harga dirinya.

"Kau membiarkan dirimu terluka demi aku..." air mata jatuh membasahi pipinya, bercampur dengan uap air yang masuk dari luar. "Kau menanggung semua bahaya itu sendirian... kenapa, Ren? Kenapa kau begitu baik padaku? Kenapa kau begitu gila demi aku?"

Di luar, angin bertiup semakin kencang, mengguncang dinding gubuk tua itu. Guntur bergema sangat dekat, membuat tanah sedikit bergetar. Namun Xue Ying tidak peduli. Ia hanya ingin satu hal sekarang juga: Bertemu. Melihat wajahnya. Memastikan dia masih utuh dan bernapas.

Tiba-tiba...

Di dalam kesadarannya, gelombang energi yang kuat dan hangat meluncur masuk, begitu deras, begitu akrab, dan begitu mendesak hingga membuat jantung Xue Ying berpacu kencang.

Dan kemudian, suara itu. Suara yang paling ia rindukan di seluruh dunia, terdengar berat, sedikit lelah, namun penuh kehangatan dan cinta yang tak terhingga, bergema langsung di dalam kepalanya, terdengar begitu nyata seolah berbisik tepat di telinganya:

"Xue Ying... kekasihku... aku sudah sampai."

Mata Xue Ying membelalak lebar. Napasnya terhenti. Tubuhnya kaku sejenak karena keterkejutan yang luar biasa.

"Ren...?" panggilnya bergetar, hampir tak percaya. "Kau... di mana? Kau sudah di sini?!"

Ia melompat berdiri, berlari secepat kilat menuju pintu gubuk, mendorongnya terbuka lebar hingga engselnya patah.

Di hadapannya, hanya ada hujan lebat, kabut tebal, dan kegelapan malam. Tidak ada siapa-siapa.

Namun, detik berikutnya...

Di tengah tirai air yang turun tak henti itu, kabut di tengah halaman berputar kencang. Cahaya keemasan samar bersinar dari balik dinding air hujan, membelah kegelapan malam. Langkah kaki berat namun mantap terdengar, menembus suara gemuruh alam, mendekat, semakin mendekat.

Dan saat kabut tersingkir...

Sosok itu berdiri di sana.

Berdiri diam di tengah hujan, basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jubahnya yang dulu gagah dan indah kini robek-robek, penuh noda darah kering dan debu perjalanan. Di bahu, di lengan, di pinggang, terlihat sisa-sisa luka yang dalam dan parah, beberapa masih sedikit mengeluarkan darah segar. Wajahnya yang tampan dan gagah terlihat lelah luar biasa, matanya sedikit cekung, namun sinar di manik mata itu... sinar itu masih sama, masih menyala terang penuh cinta saat menatap sosok wanita di depan pintu itu.

"Ren..." suara Xue Ying pecah, kakinya gemetar tak sanggup menahan berat bahagia dan rasa rindu yang meledak-ledak di dadanya.

Pria itu tersenyum. Senyum yang lelah namun sangat manis, senyum yang membuat seluruh dunia Xue Ying terasa lengkap kembali.

"Aku di sini, Ying... aku di sini."

Ren melangkah maju, menembus hujan. Dan Xue Ying pun berlari, berlari sekuat tenaga, tidak peduli lagi pada harga diri, tidak peduli lagi pada wibawa Setingkat Raja yang baru saja ia miliki. Di detik ini, ia bukan pewaris dewa, bukan pendekar hebat, bukan wanita yang ditakuti semua orang.

Ia hanyalah wanita yang rindu setengah mati pada kekasihnya.

DUARRR!!!

Guntur bergema keras sekali lagi, seolah merayakan momen itu.

Dan di tengah hujan lebat itu, di tengah tanah berlumpur dan dingin itu, kedua tubuh itu bertemu dan saling menekap erat.

Pelukan itu bukan sekadar embrace biasa. Itu adalah pertemuan dua jiwa yang telah lama terpisah, dua kekuatan yang terbelah, dua bagian dari satu kesatuan yang kini kembali menyatu.

Ren memeluk pinggang Xue Ying sangat erat, begitu erat seolah takut gadis itu akan menghilang lagi, seolah ingin menyatukan tubuh mereka menjadi satu. Wajahnya dibenamkan di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma yang paling ia rindukan selama ribuan kilometer perjalanan berdarah itu.

Xue Ying melingkarkan kedua tangannya ke leher Ren, mencengkeram kain jubah yang basah itu sekuat tenaga, tangannya gemetar hebat saat ia merasakan tubuh kekasihnya yang penuh luka dan sisa-sisa pertempuran itu. Ia menangis, menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala rasa takut, rasa cemas, rasa rindu, dan rasa bahagia yang selama ini ia pendam sendirian.

"Kau gila... kau benar-benar gila..." isak Xue Ying memukul dada bidang Ren pelan-pelan, namun pukulan itu justru berubah menjadi elusan penuh kasih sayang. "Kenapa kau datang? Kenapa kau memaksakan diri?! Lihat dirimu! Penuh luka! Darahmu... bau darahmu ada di mana-mana! Kau pasti bertarung mati-matian sepanjang jalan demi bisa sampai ke sini!"

Ren tersenyum di sela isakan kekasihnya, ia mengangkat wajahnya, menatap mata indah yang penuh air mata itu dengan tatapan yang begitu lembut dan penuh cinta hingga mampu melelehkan gunung es sekalipun.

"Apa kau lupa apa yang kukatakan padamu, Ying?" suara Ren parau, rendah, namun sangat menenangkan, mengalahkan suara hujan dan guntur di sekitar mereka. "Aku bilang... aku akan datang menjemputmu. Aku bilang... begitu aku selesai membereskan semua sampah yang menghalangi jalanku... aku akan langsung terbang ke sini. Tidak ada jarak yang cukup jauh, tidak ada musuh yang cukup kuat, dan tidak ada luka yang cukup parah... untuk menghentikanku datang kepadamu."

Ren mengangkat tangan kasarnya, penuh kapalan dan bekas senjata, mengusap air mata di pipi Xue Ying, lalu mengusap wajah itu lekat-lekat, menikmati kehangatan kulit itu yang begitu nyata di bawah telapak tangannya.

"Aku merasakan semuanya, Ying. Aku merasakan saat kau dihina, saat kau dicaci, saat kau dianggap sampah... rasanya dadaku seperti dirobek. Aku ingin sekali muncul saat itu juga dan membunuh semua orang yang menyakitimu. Tapi aku tahu... kau butuh jalanmu sendiri. Kau butuh membuktikan kekuatanmu sendiri. Dan saat kau berdiri tegak, saat kau mengalahkan Lan Feng, saat kau membongkar identitasmu... aku sangat bangga. Sangat bangga sampai rasanya aku mau berteriak pada seluruh dunia: Lihatlah! Wanita hebat inilah yang kucintai!"

Xue Ying menggeleng kuat, memeluk leher Ren semakin erat, menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya, mendengarkan detak jantung yang kuat, teratur, dan hidup itu.

"Bagiku... semua gelar itu tidak ada artinya, Ren. Menjadi pewaris dewa, menjadi penguasa, menjadi siapa pun... semuanya tidak ada harganya kalau aku harus jauh darimu. Aku tidak butuh kekuatan kalau aku tidak bisa memegang tanganmu seperti ini."

Xue Ying melepaskan pelukannya sedikit, lalu dengan tangan gemetar ia menyentuh setiap luka di wajah, di bahu, dan di dada Ren. Matanya berkaca-kaca penuh rasa sakit hati.

"Lihat luka-luka ini... semua ini demi aku, kan? Kau bertarung sendirian melawan ribuan orang... kau menanggung semua bahaya itu agar aku aman di sini... Ren... kau ini bodoh sekali... kau tahu betapa sakitnya aku setiap kali merasakan kau terluka? Rasa sakit itu dua kali lipat lebih sakit di hatiku..."

Ren menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, menatap lekat-lekat ke dalam mata indah itu. Di matanya, terbayang kilatan keemasan dan putih yang menyatu, bukti bahwa darah mereka berdua kini berpadu sempurna.

"Dengar aku, Ying," suara Ren berubah menjadi serius, dalam, dan penuh tekad yang tak tergoyahkan. "Luka di tubuh ini akan sembuh. Daging ini akan tumbuh baru. Tulang ini akan menyatu kembali. Tapi kalau sampai ada satu luka kecil saja di tubuhmu... kalau sampai ada satu air mata jatuh dari matamu karena ulah orang lain... itu adalah luka yang tidak akan pernah bisa sembuh di hatiku. Itu adalah kegagalan abadi bagiku sebagai laki-lakimu."

Ren menarik Xue Ying kembali ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah menyembunyikannya dari dunia, melindunginya dari dinginnya hujan dan kejamnya dunia. Ia menempelkan bibirnya di telinga gadis itu, berbisik lembut namun penuh kekuatan yang menenangkan:

"Jangan menangis lagi, kekasihku. Aku sudah di sini. Aku ada di sini bersamamu. Sekarang, tidak ada lagi perpisahan. Tidak ada lagi jarak. Tidak ada lagi orang yang berani menyakitimu atau menghinamu. Selama aku ada di sini... dunia ini akan tunduk padamu. Langit dan bumi akan bergerak sesuai keinginanmu. Dan tidak ada satu pun bahaya yang akan menyentuh ujung jari kelingkingmu."

Hujan terus turun deras, membasahi kedua sosok itu, membuat tanah berlumpur dan dingin. Namun di dalam lingkaran pelukan itu, suhunya terasa hangat luar biasa. Energi putih milik Xue Ying dan energi emas milik Ren berputar otomatis, menyebar keluar, membentuk kubah tak terlihat yang menolak air hujan dan angin dingin. Di dalam kubah itu, hanya ada kedamaian, kehangatan, dan cinta yang murni.

Xue Ying menutup matanya, mendengarkan detak jantung kekasihnya, merasakan hangatnya tubuh itu, dan perlahan rasa cemas, rasa sakit, serta rasa lelah yang ia rasakan selama berbulan-bulan ini perlahan hilang, tergantikan oleh rasa damai yang mendalam. Ia merasa kembali menjadi anak kecil yang aman di pangkuan orang yang paling dicintainya.

"Ren..." gumamnya pelan, suaranya sudah mulai tenang dan damai. "Tadi aku bertanya-tanya... kenapa kita harus sekuat ini? Kenapa kita harus menanggung semua rasa sakit ini? Tapi sekarang... saat kau memelukku seperti ini... aku mengerti."

Xue Ying mengangkat wajahnya, menatap bibir Ren yang hanya berjarak beberapa senti saja darinya.

"Kita menjadi kuat... bukan untuk menguasai dunia. Bukan untuk menjadi raja atau dewa. Kita menjadi kuat... hanya agar tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa memisahkan kita lagi."

Ren tersenyum lembut, senyum yang penuh kemenangan dan kebahagiaan. Ia mengangguk perlahan.

"Benar sekali. Dan mulai malam ini... misi itu selesai. Kita sudah cukup kuat. Sekarang... saatnya kita membuat dunia ini sadar. Bahwa pasangan yang berdiri di tengah hujan ini... adalah pasangan yang tidak tersentuh, tidak terkalahkan, dan tidak terpisahkan sampai kapan pun."

Ren mengangkat tubuh Xue Ying dengan mudah, menggendongnya di dalam pelukannya, lalu berjalan masuk kembali ke dalam gubuk reyot itu. Namun kini, gubuk tua itu bukan lagi tempat pembuangan. Tempat itu kini menjadi tempat paling suci di seluruh gunung itu, tempat di mana dua makhluk terkuat di benua ini beristirahat, bersandar satu sama lain, saling menenangkan segala luka dan rasa rindu.

Di luar, guntur masih bergema dan hujan masih turun lebat, namun tidak lagi terdengar menakutkan. Suara itu kini terdengar seperti irama lagu selamat datang, irama lagu yang menandai berakhirnya masa-masa sulit, dan dimulainya masa kejayaan mereka berdua.

Di dalam pelukan yang hangat itu, Xue Ying tertidur lelap, senyum damai terukir indah di bibirnya. Dan Ren, meski lelah dan penuh luka, tetap terjaga, menatap wajah kekasihnya dengan tatapan tak lepas, memastikan setiap napas gadis itu terasa aman dan nyaman.

Malam hujan lebat itu bukanlah malam yang suram. Itu adalah malam di mana segala kegelisahan berakhir, di mana pelukan menjadi tempat paling aman di dunia, dan di mana cinta mereka kembali ditegaskan sebagai kekuatan terbesar yang pernah ada di alam semesta ini.

1
Jade Meamoure
😍😍😍
Jade Meamoure
novel yg bagus...moga kedepannya anda tetap berkarya
Jade Meamoure
kisah percintaan d balut kultivasi tp aq salut Krn tk ada adegan yg vulgar hanya d novel anda lho Thor 👍👍👍 sukses n sehat selalu
Didit Nur
terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan
Didit Nur
MC nya terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan, biasanya air beriak tanda tak dalam. harusnya seperti laut yg tenang Namum memiliki ombak yg ganas
Cahya Laela Tsaniya
kata keren kayaknya kurang pas 🙏🏾🙏🏾🙏🏾mungkin kata luar biasa sedikit cocok.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭
Cahya Laela Tsaniya
terdengar aneh kata Mbak 🙏🏾🙏🏾,mungkin kata Mbak diganti Nona ,biar enak didengar🤭
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪
Cahya Laela Tsaniya
Kayaknya ada yg terlewat / tidak terbaca ya🤔🤔🤔🤔??? Tingkatan kultivasi apa saja Thor??
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪!!!!
T28J
semangat thor✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!