“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Pernikahan yang Terlupakan
Malam semakin larut. Seroja akhirnya masuk ke kamarnya. Sedangkan Ryu dan Jordi duduk di ruang tamu bersama para warga yang melekan.
Bu Dhe bersama beberapa ibu-ibu membawa nampan berisi camilan, kopi, dan teh hangat.
Pak Nurdin yang juga hadir di sana menatap Ryu dan Jordi bergantian, lalu beralih pada Bu Dhe.
"Dua anak muda ini siapa, Bu Dhe?" tanyanya, karena sejak tadi siang bertemu dua pemuda itu, ia belum sempat bertanya.
"Oh," sahut Bu Dhe ringan. "Yang pakai kemeja lengan panjang digulung ini Ryuhan, suaminya Seroja. Dan yang pakai kemeja lengan pendek namanya Jordi, asistennya Ryuhan."
Refleks, Jordi berhenti menyuapkan kue apem ke mulutnya. "Bos," bisiknya pada majikannya. "Kapan Bos nikah? Kok aku gak tahu?"
Tapi Ryu cuma diam. Wajah CEO muda itu tetap datar macam papan catur. Namun dalam hati,
"Aku saja gak tahu kapan aku nikah."
Tanpa sepengetahuan siapa pun, di kamarnya, Seroja ternyata belum tidur. Ia ikut mendengarkan percakapan di ruang tamu yang luas itu. Dinding yang terbuat dari papan kayu membuat apa pun yang dibicarakan orang-orang di luar kamarnya terdengar jelas.
"Suami?" gumamnya lirih. "Kapan aku nikah?" Ia menghela napas pelan.
"Bu Dhe sama Nenek ini sama aja. Ngadi-ngadi." Ia melipat tangannya di bawah kepala, memandang langit-langit.
Sedangkan di luar kamarnya,
"Woalah... jadi ini toh suaminya Seroja," sahut seorang bapak yang duduk di sudut ruangan.
"Ganteng banget ternyata," sahut yang lain. "Pantas saja nenek Winarsih selalu menolak kalau ada yang lamar Seroja."
"Iya," sahut bapak-bapak berperut buncit yang tadi siang menunjukkan jalan. "Nenek Winarsih selalu bilang, Seroja sudah punya suami di kota. Dan nanti bakal dijemput."
"Jadi Nak Ryu ini mau jemput Seroja?" tanya seorang ibu-ibu yang baru selesai meletakkan cangkir kopi di meja.
Bu Dhe mengangguk. "Seharusnya memang begitu." Ia menoleh ke arah Ryu. "Benar 'kan, Nak Ryuhan?"
"Benar, Bu," sahut Ryu masih dengan ekspresi datarnya.
"Hah?!"
Seroja cepat-cepat menutup mulutnya sendiri. Hampir saja suaranya keluar keras.
"Dia beneran mau jemput aku?" gumam Seroja dalam hati tak percaya.
Lalu seorang pemuda menyeletuk. "Dari tadi semua orang bilang dia suaminya Seroja. Tapi setahu saya, Seroja belum pernah menikah."
Dari nada suaranya terdengar jelas ia tak suka. Tatapan matanya pada Ryu jelas tak bersahabat.
Seroja di dalam kamar tersenyum samar. Ia tahu siapa yang baru saja bicara.
Agus.
Pemuda yang selama ini selalu berusaha mendekatinya. Tapi hanya ia anggap teman biasa karena memang tak ada rasa.
Jordi mengikut lengan Ryu. "Bos, kayaknya saingan nih," bisiknya pelan. "Lokal. Tapi bening juga, Bos. Badannya juga kekar."
Ryu meliriknya tajam.
Jordi langsung nyengir, lalu mengatupkan jari telunjuk dan jempolnya. Ia mendekatkannya di sudut bibirnya dan menariknya ke sudut bibir lainnya seperti menarik resleting.
"Ada yang panas, nih," gumamnya nyaris tak terdengar seraya memalingkan wajahnya.
"Sebenarnya..." Suara Bu Dhe kembali terdengar. "Mereka memang sudah menikah."
"Kapan?" tanya Agus cepat, spontan. "Bu Dhe jangan bohong."
Suaranya tanpa sadar naik, hingga membuat semua orang menoleh ke arahnya. Namun anak kepala desa itu seolah tak peduli.
Sudut bibir Bu Dhe terangkat tipis. "Mereka benar-benar sudah menikah."
Semua perhatian langsung beralih ke arah Bu Dhe.
Ryu menatap wanita itu lurus, mencoba mencari kebohongan di mata abu itu. Tapi baik dari sorot mata maupun ekspresinya tak menunjukkan wanita itu mengada-ada.
Jordi makin penasaran. Mulutnya masih mengunyah kue lapis, tapi matanya tak lepas dari Bu Dhe.
Seroja di dalam kamarnya perlahan duduk. Ia mengenal Bu Dhe sejak kecil. Dan ia tahu, wanita itu tidak suka berbohong.
Bu Dhe duduk perlahan di salah satu kursi jati. "Dulu, waktu masih kecil, Seroja dan Ryu selalu bermain bersama."
Ia terdiam sejenak, seolah membuka lembar demi lembar usang di kepalanya.
"Ryu sangat menyukai Seroja kecil," lanjut Bu Dhe. "Bahkan tak membiarkan anak laki-laki mendekat, apalagi menyentuhnya."
Semua orang mendengarkan, tak ada yang menyela. Dari sorot mata mereka, jelas orang-orang itu penasaran.
"Sampai suatu hari," kata Bu Dhe. “ada warga yang menikah. Ryu bertanya, ‘Apa kalau seorang gadis sudah dinikahi berarti gak boleh nikah lagi?’ Kami membenarkan.”
Ia tertawa kecil mengingat masa lalu. "Dan saat itu juga, dia minta dinikahkan dengan Seroja. Orang tuanya sempat membujuk, nanti saja kalau sudah dewasa. Tapi Ryu menangis, dan mengancam gak mau makan."
Bibir wanita paruh baya itu melengkung tipis. “Kami tahu Ryu keras kepala. Jadi terpaksa minta pak penghulu menikahkan mereka.”
"Apa itu benar?" batin Seroja di balik dinding. "Aku gak ingat apa-apa soal itu."
Ia berusaha mengingat, tapi memori tentang pernikahan itu tak ada dalam kepalanya.
Ryu terdiam. Ia mengalami kecelakaan bersama orang tuanya saat berusia sembilan tahun. Kecelakaan yang mengakibatkan kedua orang tuanya meninggal.
Dan sejak saat itu, ia divonis mengalami amnesia retrograde. Kehilangan ingatan masa lalu.
"Apa benar aku sudah menikah?" pikir Ryu.
Mendadak kepalanya berdenyut hebat. Ia memegang kepalanya dengan mata terpejam. Napasnya sedikit tak teratur.
"Bos--"
Jordi yang hendak bertanya, tiba-tiba matanya sedikit membesar saat melihat Ryu tampak kesakitan.
"Bos, kenapa?" tanyanya khawatir.
"Tak apa," sahut Ryu meski jelas menahan sakit. Ia berusaha mengatur napasnya.
"Apa buktinya kalau mereka sudah menikah?" tanya Agus yang masih belum menerima penjelasan itu.
"Iya, masa gak ada bukti," sahut pria berperut buncit.
"Kalau gak ada bukti, maka ini hanya akan dianggap cerita," sambung Pak Nurdin.
Semua orang, termasuk Ryu dan Jordi, menunggu jawaban dari Bu Dhe.
Seroja di kamarnya juga menantikan jawaban itu.
"Ada," kata Bu Dhe mantap.
...🔸🔸🔸...
...“Kadang takdir sudah mengikat dua orang sejak kecil, hanya saja waktu membuat mereka saling lupa.”...
...“Yang paling menyakitkan bukan kehilangan masa lalu, melainkan mengetahui ada seseorang yang pernah begitu berarti… tapi tak lagi mampu diingat.”...
...“Ryu lupa pernah menikahi Seroja. Seroja lupa pernah dinikahi Ryu. Tapi takdir tak pernah lupa pada keduanya.”...
...“Ada janji yang dibuat saat masih kecil, lalu tumbuh diam-diam menjadi takdir.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Bagus Seroja... Lanjutkan lah lagi kuliahmu itu! Sayang loh, kslau nggk di lanjutkan!:😂😂😂