Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratri dan Wulan
"Dengan mempertimbangkan segala sesuatu dan cara terbaik untuk semuanya, aku memutuskan.
Pangeran Mapanji Wijaya akan dinikahkan dengan Putri Nararya Candrawulan dari Kalingga..!! "
Semua orang terkejut sejenak mendengar apa yang dititahkan oleh Maharani Sri Isyana Tunggawijaya. Ada yang kemudian tersenyum penuh kemenangan tetapi wajah Pangeran Mapanji Wijaya langsung ditekuk.
"Tunggu dulu, Bunda Ratu... ", sergah Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Sri Isyana Tunggawijaya menoleh ke arahnya.
" Bunda Ratu tahu sendiri, aku tidak bisa beladiri. Tidak punya bakat dalam ilmu pemerintahan. Semua guru besar tidak ada yang mau menerima ku sebagai murid.
Apa Bunda Ratu kira Putri Nararya Candrawulan akan mau dijodohkan dengan ku? Terlebih lagi ya, aku tidak bisa ilmu beladiri, kalau dia tidak senang dengan ku, aku bisa dihajar olehnya. Tidak, aku tidak mau menikah dengan perempuan seperti itu ", lanjut Pangeran Mapanji Wijaya kemudian.
" Ini.... ", Maharani Sri Isyana Tunggawijaya terlihat ragu.
Menyadari bahwa sang penguasa Kerajaan Medang sedang meragukan keputusan nya, Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana segera menghormat.
" Mohon ampun Gusti Pangeran...
Omongan Gusti Pangeran sama sekali tidak tepat. Seburuk apapun citra Gusti Pangeran Mapanji Wijaya, bagaimanapun juga Gusti Pangeran adalah putra Gusti Ratu Sri Isyana Tunggawijaya. Sehebat apapun Nararya Candrawulan, dia hanya seorang putri dari negeri bawahan. Dia tidak akan berani menindas Gusti Pangeran seenaknya. Jadi alasan Gusti Pangeran Mapanji Wijaya sama sekali tidak tepat", ujar Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana segera.
"Kau.... "
"Apa yang dikatakan oleh Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana ada benarnya juga.
Jika Nararya Candrawulan berani bersikap kurang ajar pada Pangeran Mapanji Wijaya, kita bisa meminta pertanggungjawaban dari Rakryan Kalingga Mpu Adikara. Jadi keputusan Gusti Ratu Sri Isyana Tunggawijaya sudah tepat ", sahut Sang Pamgat Danghyang Resi Bismaka, pejabat urusan keagamaan Siwa.
" Eh kalian... "
Para pejabat yang lain pun juga turut memberikan dukungan untuk Pangeran Mapanji Wijaya menikah dengan Nararya Candrawulan. Mendengar suara dari para pejabat istana, Ratu Sri Isyana Tunggawijaya menghela nafas panjang.
"Baiklah..
Setelah ini, Juru Pinutur Gupala dan Mantri Pangreh Mpu Rajekwesi untuk menata barang lamaran sekaligus penetapan hari pernikahan ke Kalingga. Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana ditugaskan untuk mengawasi kinerja mereka berdua, jangan membuat malu keluarga istana Watugaluh.
Wijaya, siapkan dirimu untuk berangkat ke Kalingga. Jaga diri mu, jangan mempermalukan Istana Watugaluh ", titah Sri Isyana Tunggawijaya yang membuat semua pejabat negara langsung menghormat.
" Sendiko dawuh Gusti Ratu... "
Setelah pembahasan masalah ini, pisowanan dilanjutkan dengan membahas hal lain yang sedang terjadi di Kerajaan Medang.
Usai pisowanan rutin, Mapanji Wijaya yang sedang tidak enak hati memutuskan untuk berjalan keluar dari Istana Watugaluh. Warak dan Ludaka, pengawal pribadi nya turut serta mengikuti sang pangeran yang sedang gundah gulana.
Tiba-tiba...
"Minggir! Cepat minggir..!! ", teriak beberapa orang yang berhamburan menepi. Dua orang berkuda kencang melintasi jalan yang ramai.
Melihat itu, Warak dan Ludaka bergegas melesat maju. Keduanya langsung melayangkan tinju nya ke rahang dua hewan tunggangan ini sekuat tenaga. Akibatnya kuda kuda ini langsung jatuh sementara dua penunggang nya dengan gerakan cepat melenting tinggi ke udara dan mendarat tak jauh dari tempat kuda mereka dijatuhkan.
Dua orang perempuan cantik dengan pakaian mirip seorang pendekar berjalan mendekat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya, Ludaka dan Warak.
"Apa salah kuda kami hingga kalian menjatuhkan nya heh?! Mau cari gara-gara dengan kami? ", hardik perempuan cantik berkemben hitam dengan marah.
" Di kotaraja Watugaluh, selain dalam keadaan darurat, dilarang berkuda dengan kecepatan tinggi. Ini sudah menjadi ketentuan dari Yang Mulia Gusti Ratu Sri Isyana Tunggawijaya. Yang melanggar aturan bisa langsung dipenjara.
Apa kalian tidak tahu hal ini hah?! ", balas Ludaka tak kalah garang.
" Ka-kami tidak tahu...
Kami bukan penduduk Kotaraja Watugaluh ini. Kami datang dari jauh ", jawab si gadis berkemben hitam sedikit gugup.
" Huhh....
Pantas saja seenaknya saja seperti ini. Aku akan melaporkan tindakan kalian ke... ", belum selesai Ludaka bicara, Mapanji Wijaya langsung menyela.
" Eh sama perempuan itu tidak boleh main kasar, Lu.
Nisanak berdua pasti orang dari luar Kotaraja Watugaluh bukan? Kalau boleh tahu ada kepentingan apa kesini? ", tanya Mapanji Wijaya sambil tersenyum.
" Kami ingin menemui Gusti Sri Lokapala. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan tentang perjodohan antara Putri Nararya Candrawulan dan Pangeran Mapanji Wijaya ", jawab jujur perempuan berkemben hitam itu segera.
Jawaban itu sontak membuat Pangeran Mapanji Wijaya, Ludaka dan Warak saling pandang.
" Itu masalah pelik Nisanak..
Sebaiknya kita bicara di tempat lain saja. Tidak baik jika membicarakan nya di jalan seperti ini. Mari ikuti saya... ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya sembari melangkah diikuti oleh Ludaka dan Warak. Dua perempuan cantik itu saling pandang tetapi setelah perempuan berkemben kuning tua itu menganggukan kepala nya, keduanya mengikuti langkah Pangeran Mapanji Wijaya.
Di sebuah warung makan, ketiga nya duduk mengitari meja. Sementara Ludaka dan Warak berdiri di belakang majikannya.
Dua orang perempuan cantik yang mengaku sebagai Wulan dan Ratri itu pun segera menceritakan tentang tujuan mereka mencari Sri Lokapala ke Watugaluh. Pangeran Mapanji Wijaya pun manggut-manggut mendengar penjelasan mereka berdua.
"Karena itu, kami berharap bisa menemui Sri Lokapala untuk menyampaikan pesan dari Gusti Putri Nararya Candrawulan. Mohon Kisanak sekalian bisa membantu", ucap si gadis berkemben hitam yang bernama Ratri ini penuh harap.
" Itu tergantung nasib kalian..
Gusti Lokapala jarang keluar istana. Jika kami kebetulan melihat nya keluar, pasti akan kami beritahu. Oh iya dimana nisanak berdua ini tinggal sementara?", tanya Mapanji Wijaya kemudian.
Belum sempat Ratri dan Wulan menjawab pertanyaan ini, tiba-tiba...
Brruuuuuaaaaakkkkk!!!
Pintu masuk warung makan hancur akibat tendangan dari luar. Beberapa orang berbadan gempal masuk mengikuti seorang lelaki muda berpakaian mewah. Sekilas saja ia adalah anak dari seseorang yang kaya raya. Salah seorang dari orang orang ini langsung menunjuk ke arah Ratri dan Wulan.
"Itu dia orang nya, Ndoro...! "
Lelaki muda dengan tahi lalat besar di pipi kanannya itu dengan mimik wajah aneh inipun segera berjalan mendekat.
"Kau yang menabrak barang dagangan ayah ku?
Hemmppphh, cukup cantik juga. Sekarang ikut aku menghadap pada ayah ku, kalau tidak jangan salahkan aku berbuat kasar pada kalian", ucap lelaki muda itu segera.
" Kurang ajar!
Berani sekali mengganggu tamu majikan kami. Apa sudah bosan hidup hah?!! ", hardik Warak segera.
" Oh ada yang marah rupanya...
Memangnya siapa di Kotaraja Watugaluh ini yang berani menyinggung ku, Kartamarma, putra orang terkaya Kartawangsa di Hujung Galuh yang juga adik ipar Mapatih Mpu Garung hah?! ", teriak Kartamarma penuh kesombongan.
"Oh jadi kau mengandalkan status mu sebagai adik ipar Mapatih Mpu Garung untuk menindas orang ya? ", Mapanji Wijaya melangkah maju.
" Tentu saja..
Kakak ipar ku adalah tangan kanan Gusti Ratu Sri Isyana Tunggawijaya. Macam macam dengan ku, siap-siap saja menderita disini ", ujar Kartamarma penuh percaya diri.
" Peduli setan..!!!! ", maki Pangeran Mapanji Wijaya sembari melayangkan tendangan ke arah perut Kartamarma.
Dhhiiiiieeessssss....
Aaaauuuuuuugggghhhhh!!!
Kartamarma menjerit keras. Tubuh nya terpental ke belakang dan menimpa meja makan warung makan yang ada di belakangnya. Meja makan itupun hancur berantakan.
"Bangsat!!! Kau berani memukul ku?!!
Kalian semua jangan diam saja! Hajar orang itu untuk ku!!! ", teriak Kartamarma sambil meringis menahan rasa sakit di perut nya.
Sepuluh orang centeng Kartamarma segera mencabut golok mereka masing-masing dan bergerak maju. Belum sempat mereka bergerak dua langkah, Warak dan Ludaka, melesat cepat bagaikan kilat memapak pergerakan para centeng Kartamarma.
Whhuuuuggggg!
Pllaaaaakkkk pllaaaaakkkk dhhiiiiieeessssss..!!!
Sepuluh orang centeng Kartamarma tersungkur ke lantai warung makan sambil mengerang kesakitan. Kemampuan beladiri kedua murid Padepokan Jurug Bening pimpinan Resi Kumbayana memang diatas rata-rata pendekar biasa. Seperti halnya Resi Kumbayana, keduanya menguasai ilmu meringankan tubuh yang bernama Ajian Langkah Kilat meskipun tidak sesempurna milik sang guru tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang pengawal pribadi seorang pangeran.
Wajah Kartamarma pucat pasi melihat kesepuluh anak buahnya dijatuhkan hanya dengan sekali gebrakan. Sedangkan Ratri dan Wulan yang sudah melihat kekuatan mereka, hanya sedikit heran saja.
Melihat Pangeran Mapanji Wijaya berjalan mendekat, Kartamarma berusaha menjauh dengan ngesot di lantai warung makan.
"J-jangan mendekat...
Aku a-aku ini adik ipar Mapatih Mpu Garung. Kau akan celaka jika berani menyakiti ku. Sana menjauh..!! ", ujar Kartamarma dengan penuh ketakutan.
" Sudah terpojok masih bisa mengancam juga rupanya...
Hemmpppp, dasar bajingan! Kau minta di hajar..!!! "
Setelah berkata demikian, Pangeran Mapanji Wijaya melompat ke atas tubuh Kartamarma dan memukulinya tanpa ampun.
Pllaaaaakkkk pllaaaaakkkk..
Bhhaaaaagggg bhhuuuuuuggg!!!!
"Ampun! Jangan pukul lagi! Aku menyerah! Aku kapok..!! Ampun! Ampuni aku...!!! "
Tak ada yang berani menyela tindakan Pangeran Mapanji Wijaya. Dia belum juga berhenti meskipun nafasnya ngos-ngosan. Sedangkan wajah Kartamarma sudah penuh lebam dan benjolan di sana-sini. Hidungnya mengeluarkan darah dan dua gigi nya rompal.
Warak dan Ludaka yang khawatir Pangeran Mapanji Wijaya membunuh Kartamarma, segera mencekal kedua lengan majikan mereka.
"Gusti Pangeran Mapanji Wijaya, mohon jangan di teruskan. Orang ini bisa mati.. ", ucap Warak yang membuat Ratri dan Wulan langsung saling pandang dan tanpa sadar mereka berteriak,
" Gusti Pangeran Mapanji Wijaya?!! "