NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pagi Sidang

Hari H Sidang Dinkes.

Tepat pukul tujuh, alarm ponsel Alvian berbunyi. Dia bangun mengumpulkan nyawa sebelum duduk di tepi kasur. Melangkahkan kakinya ke kamar mandi, keluar hendak membuat sarapan tetapi perhatiannya tertuju pada Jas Hugo Boss yang menggantung di bagian luar pintu kamarnya.

Sudah disetrika, lembut dan harum. Beraroma istri.

"..."

Meski hanya setelan jas tapi senyum Alvian sudah mengembang.

Di meja makan, terlihat sticky note kuning tulisan tangan Clarissa. " Protokol pra-sidang. Jangan telat."

Alvian melihat jam tangannya, masih jam tujuh lima menit. Dia mandi sangat kilat, pakai jas, menyisir rambut, tak lupa menyemprot minyak wangi biar istri tidak malu.

Meninggalkan meja makan, Alvian berdiri menghadap tangga, menatap anak tangga ke-7, di mana sejak dua bulan lalu diberikan lakban hitam sebagai batas tempat yang tidak boleh didatangi.

Udah agak kusam, tapi menempel cukup kuat.

"Seharusnya dia sudah berangkat, kan?" gumam Alvian.

Jika itu hari biasa Clarissa di jam seperti ini pasti masih di kamarnya. Namun karena harus menjadi saksi ahli dia perlu pergi ke Dinas Kesehatan untuk menyiapkan beberapa hal.

Alvian tahu istrinya itu pasti telah melewatkan sarapan, jadi dia pergi ke dapur untuk memasak, menyiapkan bekal dan mengantarnya sekaligus dirinya pergi ke Dinas Kesehatan.

"..."

Jam 08.00, Alvian keluar dari rumah, masih dengan motor beat karbu kesayangannya. Dia mampir ke klinik, yang kebetulan satu arah, sekadar memasang tanda tutup agar tidak ada yang menunggu di depan pintu.

Sambil menyetir, memutar musik dangdut 90-an dengan keras menggunakan ponselnya. Seleranya jadul, tak bisa dipungkiri. Bahkan sopir bajaj pun mengejek Alvian karena selera musiknya ketika mereka berhenti di lampu merah.

Alvian hanya mengangguk, tersenyum seperti orang bodoh meninggalkan sopir bajaj yang bingung sendiri.

"Dasar aneh," ujar sopir bajaj.

Jam setengah sembilan, Alvian sudah berada di persimpangan terakhir menuju Kantor Dinas Kesehatan. Dia harusnya sudah menyebrang ke jalur lain tetapi motor beat karbu miliknya terpaksa harus menepi ketika bapak-bapak di pinggir jalan berteriak mencari dokter.

"Tolong! Tolong! Apa ada dokter di sini? Ada yang pingsan!"

Meski setengah jam lagi harus mengikuti sidang, Alvian tidak bisa mengabaikan begitu saja pasien yang membutuhkan pertolongan. Dia langsung mencabut kunci motornya, kemudian menghampiri bapak-bapak yang teriak di pinggir jalan.

"Saya dokter, siapa yang pingsan?"

"Itu, di sana!"

Mendapati pasien yang tergeletak, Alvian buru-buru menghampirinya. Seorang wanita berusia 70-an, mengenakan kebaya biru, kalung emas, sanggul setengah lepas. Tas-nya di samping terbuka, isinya berserakan termasuk dompet, HP jadul, dan kotak obat yang habis.

Alvian berjongkok, menyentuh tangan untuk menecek nadi wanita paruh baya itu. Ada, tapi itu lemah dan tidak teratur. Sekitar 40x per menit, itu jelas terlalu lambat. Bahkan pada saat ini bibirnya sudah membiru, dan keringat dingin yang keluar di keningnya sebesar biji jagung.

"Pak, Bu, tolong beri ruang," kata Alvian ke orang-orang di sekitar. Nada suaranya datar, tapi ada bobot perintah yang membuat siapapun tidak mungkin mengabaikannya.

"Tolong carikan AED. Seharusnya di restoran, atau hotel sekitar sini memilikinya."

Beberapa orang langsung berpencar mencari alat yang dimaksud. Sementara Alvian membuka kancing kebaya atas ibu itu supaya jalan napasnya lebih luas. Di leher, kalung emasnya terlihat memiliki liontin dengan nama "Hj. Lastri". Sementara di kantong kebayanya ada blister obat ISDN 5mg.

Alvian angkat kelopak mata Hj. Lastri. Pupil isokor, normal, tidak ada masalah pada saraf mata. Dia lalu menempelkan telinga ke dada kiri. Bunyi jantungnya... ireguler. Kemungkinan besar adalah klasik infark miokard inferior, ditambah bradikardi.

Tak lama AED sudah sampai. Seorang bapak meminjamnya dari hotel yang ada di seberang jalan. Dia memberikannya pada Alvian karena tidak tahu bagaimana kerja alat itu. Sementara Alvian, dia langsung mengambil alih dan melakukan tindakan dengan sempurna. Tangannya bergerak cepat, presisi tanpa celah.

"Awas, jangan sentuh pasien."

Kerumunan yang penasaran kembali mundur lebih jauh.

Saat itu Hj. Lastri kejang, dan Alvian langsung mengecek nadi sekali lagi.

Begitu tidak merasakan apapun, dia segera melakukan "CPR."

1, 2, 3... hitungannya stabil. Mencapai 100-120x per menit. Tekniknya tingkat dewa, hingga tidak ada tulang iga yang patah setelahnya.

Uhuk!!

Satu menit Hj. Lastri batuk lemah. Nadinya kembali, sekitar 50x per menit. Bertahap nafasnya kembali teratur.

Melihat perkembangan ini Alvian menghentikan kompresi dan menahan kepala Hj. Lastri menggunakan tas ibu itu. Dia mengambil HP yang tergeletak, menelpon nomor "Anak - Doni" yang tertera di sana.

"Pak Doni? Ibu Hj. Lastri kolaps di jalan xxxxx. Suspek serangan jantung. Saya sudah kasih kejut dan juga CPR. Sekarang Ibu sudah sadar tapi kondisinya masih lemah."

"... Baik. Pak Doni bisa langsung ke sini."

Alvian baru saja ingin meminta agar pria itu langsung ke rumah sakit lantaran ambulans sebentar lagi akan sampai. Namun karena posisi tidak jauh dari TKP, pria itu memaksa datang untuk melihat keadaan ibunya.

"..."

Alvian tidak bisa langsung pergi setelah melakukan pertolongan pertama. Bukan karena ingin mengambil kesempatan, tapi untuk memberikan laporan.

Lima menit kemudian, suara sirene ambulans terdengar dari kejauhan. Hj. Lastri membuka mata, dia tersenyum lemah pada Alvian karena mengetahui jika pria muda itu yang telah menyelamatkan nyawanya. "Nak... Terima kasih ..."

Alvian hanya mengangguk sambil menepuk punggung tangan ibu itu 2x. Ketika paramedis turun dengan membawa brankar, Alvian memberikan laporan singkat dan menjelaskan situasi yang terjadi.

Hj. Lastri sudah ada di ambulans. Ketika pintu ambulans akan tertutup dan sopir kembali ke kursi kemudi, seorang pria berusia 50-an turun dari mobil dan berlari terengah-engah menahan pintu ambulans.

"Ma!!"

Itu adalah Pak Doni. Dia bertukar beberapa kata dengan paramedis sebelum berbalik menghampiri Alvian.

"Kamu tadi yang menelpon, kan? Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa Mama saya." Pak Doni mengeluarkan kartu identitasnya, dan memberikannya kepada Alvian. "Tolong hubungi saya, saya pasti akan berterima kasih dengan baik."

Setelah itu Pak Doni pergi, menyusul ambulans dengan mengendarai mobilnya.

"..."

Alvian menatap kartu identitas itu sambil mengerutkan kening. Dia belum sempat melihat dengan lebih jelas sampai ponsel jadul di sakunya berdering cukup keras.

"Istri-Dokter Galak Tapi Cantik."

Melihat itu kontak istrinya, raut wajah Alvian menjadi panik. Dia melirik jam tangan yang telah menunjukkan waktu 08.55, matanya langsung berkedut.

"Sial!"

Dia hampir lupa tentang sidang. Saat ini hanya ada waktu lima menit sebelum sidang dimulai. Jika sampai datang terlambat, bukankah orang-orang kolot di IDI itu akan punya lebih banyak alasan untuk mencari masalah dengannya?

Tanpa basa-basi lagi Alvian berkari ke motornya, dan mengendari motor beat karbu itu ke kantor Dinkes.

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!