Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Sore itu, suasana kamar Kirana dipenuhi tawa kecil yang cerah dan tanpa beban. Di sudut ruangan yang dipenuhi mainan warna-warni, Kirana duduk bersila di atas karpet lembut, matanya berbinar penuh antusias. Di hadapannya, dua ekor anak kucing mungil menjadi pusat dunianya saat ini. Seekor berbulu putih bersih yang ia beri nama Yeti, dan satu lagi berbulu abu-abu lembut bernama Loly.
Kirana tampak begitu serius, seolah sedang melakukan eksperimen penting. Ia meniru apa yang ia lihat di pet shop siang tadi. Dengan suara kecil yang penuh semangat, ia memanggil peliharaannya.
“Yeti… sini,” panggilnya pelan, namun penuh harap.
Anak kucing putih itu mengangkat kepalanya, telinganya bergerak sedikit, lalu berjalan mendekat dengan langkah kecil. Yeti mengendus tangan Kirana, membuat gadis kecil itu langsung terkikik geli.
“Hehehe… geli, Yeti!”
Tak berhenti di situ, Kirana kemudian menoleh ke arah Loly yang sedang bermain dengan pita kecil.
“Loly, sini juga!”
Seolah mengerti, Loly langsung berlari kecil dan melompat ke pangkuan Kirana. Anak kucing itu mengendus pipi Kirana, membuat tawa Kirana semakin lepas.
“Papa! Lihat! Mereka datang kalau dipanggil!” serunya riang, meski belum menyadari bahwa Erlan sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi.
Erlan tersenyum melihat pemandangan itu. Putrinya terlihat begitu bahagia dengan dua makhluk kecil yang baru saja menjadi bagian dari hidup mereka.
“Kirana,” panggil Erlan lembut, melangkah masuk ke dalam kamar. “Makan malam sudah siap. Ayo makan dulu.”
Kirana menoleh, wajahnya masih dipenuhi kebahagiaan, namun perlahan berubah menjadi ragu.
“Tapi Kirana masih mau main, Pa…” ucapnya pelan, sambil memeluk Loly lebih erat.
Erlan menghela napas ringan. Ia sudah menduga ini akan terjadi.
“Kirana,” katanya sedikit lebih tegas, meski tetap lembut. “Kalau tidak mau makan, nanti mama bisa saja mengembalikan kucingnya ke toko.”
Ucapan itu langsung membuat Kirana terdiam. Matanya membesar, wajahnya berubah panik.
“Tidak mau!” serunya cepat. “Kirana mau makan!”
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berdiri sambil menggendong Loly, sementara Yeti berjalan mengikuti di belakangnya. Erlan hanya bisa tersenyum tipis melihat perubahan sikap putrinya yang begitu cepat.
Di dapur, suasana hangat sudah terasa. Aroma makanan memenuhi ruangan, membuat perut siapa pun yang mencium pasti langsung lapar. Linda sedang menata hidangan di meja, sesekali melirik ke arah pintu.
“Kirana, cuci tangan dulu,” kata Linda begitu melihat putrinya datang sambil membawa kucing.
“Iya, Ma,” jawab Kirana cepat, meski matanya masih sesekali melirik ke arah Yeti dan Loly.
Sementara itu, Erlan mengambil dua mangkuk kecil dan mulai menyiapkan makanan khusus untuk anak kucing tersebut.
“Kucingnya juga makan, Pa?” tanya Kirana penasaran.
“Iya, mereka juga harus makan,” jawab Erlan santai.
Kirana tersenyum puas, lalu tiba-tiba berkata, “Kirana mau makan sama Yeti dan Loly.”
Erlan langsung menghentikan gerakannya dan menatap putrinya.
“Tidak boleh,” jawabnya tegas. “Kirana makan di meja makan.”
Wajah Kirana langsung berubah murung.
“Tapi Kirana mau sama mereka…” rengeknya pelan.
Ia menatap Erlan dengan mata memohon, mencoba berharap keputusan itu berubah. Namun Erlan hanya menggeleng.
“Kirana harus makan yang benar. Tidak boleh di lantai atau sambil bermain.”
“Tapi Pa…”
“Kirana,” potong Erlan, kali ini lebih serius. “Mama pasti tidak akan setuju.”
Kirana terdiam. Ia tahu itu benar.
Erlan kemudian menggendongnya, mengangkat tubuh kecil itu dengan mudah.
“Tidak boleh nakal,” lanjut Erlan. “Kalau tidak menurut mama, nanti Kirana tidak boleh main dengan kucingnya lagi.”
Ancaman itu cukup efektif. Kirana langsung mengangguk, meski dengan wajah sedikit cemberut.
“Iya…”
Akhirnya, Kirana duduk di kursi makan. Namun kali ini, ia punya permintaan lain.
“Pa… suapi Kirana ya.”
Erlan mengangkat alisnya.
“Kenapa?”
“Biar cepat. Kirana capek,” jawab Kirana polos.
Linda yang mendengar itu hanya menghela napas kecil.
“Kirana harus belajar makan sendiri,” katanya.
“Tapi kali ini saja, Ma…” pinta Kirana, menatap penuh harap.
Erlan menatap Linda sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Baik, kali ini saja.”
Linda tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
Makan malam pun berlangsung. Erlan menyuapi Kirana dengan sabar, sementara Linda sesekali memperhatikan keduanya. Di bawah meja, Yeti dan Loly sibuk dengan makanan mereka sendiri.
“Ma,” panggil Kirana di sela-sela makan. “Kirana boleh tidur sama Yeti dan Loly?”
Linda langsung berhenti sejenak. Wajahnya menunjukkan keraguan.
“Tidur?” ulangnya. “Di kasur?”
Kirana mengangguk cepat.
“Iya! Kirana mau peluk mereka!”
Linda tampak berpikir. Ia jelas khawatir.
“Nanti mereka mengotori kasur, bagaimana?” katanya.
Sebelum Kirana sempat menjawab, Erlan lebih dulu angkat suara.
“Mereka sudah cukup terlatih,” katanya tenang. “Untuk jaga-jaga, aku bisa letakkan bak pasir di kamar Kirana.”
Linda menatap Erlan, masih ragu.
“Benar tidak akan masalah?”
Erlan mengangguk yakin.
“Aku yang akan pastikan.”
Linda akhirnya menghela napas panjang.
“Baiklah,” katanya. “Tapi ada syarat.”
Kirana langsung berseri-seri.
“Apa, Ma?”
“Kalau Kirana tidur dengan kucing, mama dan papa tidak tidur bersama Kirana malam ini.”
Wajah Kirana langsung berubah bingung.
“Tidak tidur sama mama papa?”
“Iya,” jawab Linda. “Kirana harus tidur sendiri.”
Kirana terdiam cukup lama. Ia terlihat berpikir keras, menimbang pilihannya.
Di satu sisi, ia sudah terbiasa tidur bersama kedua orang tuanya. Namun di sisi lain, keinginannya untuk bersama Yeti dan Loly terasa begitu besar.
“Kalau Kirana bangun malam?” tanyanya pelan.
“Tidak boleh menangis,” jawab Linda. “Kirana harus berani.”
Kirana menggigit bibirnya, lalu akhirnya mengangguk.
“Iya… Kirana janji.”
Setelah makan malam selesai, Kirana langsung berlari ke kamarnya dengan penuh semangat. Erlan mengikuti di belakang, membawa Yeti dan Loly.
Begitu sampai di kamar, kedua anak kucing itu langsung melompat ke atas kasur, menjelajahi tempat baru mereka.
“Kamar Kirana!” seru Kirana senang. “Ini tempat tidur Kirana!”
Ia naik ke kasur dan duduk di tengah, lalu memanggil kedua kucing itu.
“Yeti! Loly! sini!”
Seperti sebelumnya, kedua anak kucing itu langsung mendekat. Yeti naik perlahan, sementara Loly dengan santai langsung mendekat dan meringkuk di dekat Kirana.
Kirana tertawa kecil, memeluk mereka bergantian.
“Lucu sekali…”
Erlan berdiri di dekat pintu, memperhatikan semuanya dengan senyum tipis. Ia belum pergi, menunggu Kirana benar-benar tidur.
Namun waktu berlalu.
Jam menunjukkan pukul delapan malam.
Kirana masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk.
Ia masih aktif, menggendong Loly, lalu meletakkannya kembali. Kadang memanggil Yeti, lalu tertawa sendiri.
“Kirana,” panggil Erlan lembut. “Sudah malam. Tidur ya.”
“Iya, Pa…” jawab Kirana, tapi tubuhnya masih bergerak ke sana kemari.
Beberapa menit berlalu lagi.
Masih sama.
Kirana belum terlelap.
Sepertinya kehadiran dua anak kucing itu justru membuat energinya tidak habis-habis.
Ia kembali tertawa saat Loly menyentuh tangannya.
“Pa, mereka lucu sekali…”
“Iya,” jawab Erlan singkat.
Namun dalam hatinya, ia tahu ini akan jadi malam panjang.
Biasanya, Kirana akan tertidur dengan cepat setelah makan. Tapi kali ini berbeda.
Ia masih terjaga, masih bermain, masih penuh energi.
Erlan menghela napas pelan, lalu duduk di kursi dekat tempat tidur.
“Kirana harus tidur,” katanya lagi, kali ini lebih pelan.
“Iya…”
Namun sekali lagi, tidak ada tanda-tanda ia benar-benar akan tidur.
Yeti kini meringkuk di dekat bantal, sementara Loly masih berada di pelukan Kirana.
Kirana mengusap bulu mereka dengan lembut, matanya masih terbuka lebar.
“Pa…”
“Apa?”
“Kirana senang…”
Erlan menatapnya.
“Karena Yeti dan Loly?”
Kirana mengangguk.
“Iya… Kirana tidak sendirian.”
Erlan terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Iya,” katanya pelan. “Kirana tidak sendirian.”
Namun tetap saja, anak itu belum tidur.
Dan Erlan mulai menyadari satu hal yang sederhana tapi tidak bisa dihindari.
Malam ini, tidur bukan prioritas bagi Kirana.
Kucing-kucing kecil itu sudah mengambil alih segalanya.