Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 tirai sutra yang menyelimuti dunia dan riak di danau bintang
Angin musim semi yang biasanya berhembus lembut melintasi ibukota Jinling mendadak berubah menjadi pusaran udara yang membawa tekanan gravitasi luar biasa pekat. Langit pagi yang cerah perlahan tertutup oleh bayangan raksasa. Rakyat jelata yang sedang sibuk berdagang di pasar, para bangsawan yang tengah menikmati teh di paviliun, hingga para penjaga bersenjata di atas tembok kota, serentak menghentikan aktivitas mereka. Semua kepala mendongak ke atas, menatap kanvas surga yang kini dipenuhi oleh pemandangan dari luar batas nalar manusia fana.
Dua ratus kapal terbang raksasa melesat menembus awan putih. Formasi armada tersebut bergerak dengan presisi yang sangat rapi, menyerupai barisan naga kayu yang berenang di lautan angkasa. Di bagian paling depan, bahtera *Fatamorgana Emas* memancarkan cahaya silau yang mengalahkan sinar matahari pagi. Lambang naga hitam yang melingkari tumpukan koin emas berkibar gagah di setiap layar kapal, sebuah proklamasi absolut bahwa sang Dewa Kekayaan telah kembali membawa kemenangan dari benua para dewa.
Tidak ada sorak-sorai sorai peperangan. Kemenangan ini terlalu masif untuk sekadar dirayakan dengan teriakan. Keheningan yang menyelimuti ibukota Jinling adalah bentuk penghormatan tertinggi yang bercampur dengan teror murni. Semua orang tahu, armada itu baru saja berangkat kurang dari sebulan yang lalu. Kini mereka pulang membawa muatan yang membuat lambung setiap kapal merosot beberapa inci lebih rendah akibat beban yang luar biasa berat.
Di atas haluan *Fatamorgana Emas*, Cang Qixuan berdiri dengan kedua tangan bertaut di belakang punggung. Jubah sutra hitam legamnya yang bersulam benang perak berdesir ditiup angin ketinggian. Sepasang mata amber-emasnya memandang hamparan ibukota yang kini sepenuhnya berada di bawah telapak kakinya. Di dalam Dantiannya, entitas *Jiwa Baru Kegelapan (Dark Nascent Soul)* berdenyut tenang, mengalirkan kekuatan yang membuat ruang di sekitarnya sedikit terdistorsi.
"Tuanku, kita telah tiba di wilayah udara Jinling," Shen Feiyan melangkah mendekat dengan langkah anggun. Pemilik armada raksasa itu kini tidak lebih dari seorang bendahara setia yang telah menyerahkan seluruh ego dagangnya di bawah telapak kaki Qixuan. "Pangkalan udara di sektor barat telah disiapkan untuk proses pendaratan dan bongkar muat. Ribuan kuli angkut spiritual dari Kamar Dagang Katak Emas sudah bersiaga sejak semalam."
Qixuan mengangguk pelan. "Bawa kapal bendera ini langsung menuju puncak Menara Teratai Emas. Biarkan sisa armada mendarat di pangkalan barat. Leng Yue, pastikan seluruh prajurit Naga Hitam mendapatkan jatah istirahat dan bonus batu spiritual yang telah kujanjikan. Mereka tidak bertarung, melainkan mereka menjadi saksi dari runtuhnya sebuah era. Hal itu saja sudah cukup menguras mental mereka."
"Sesuai perintah Anda, Panglima!" Wakil Jenderal Leng Yue membungkuk dalam, segera membalikkan badannya untuk mengoordinasikan manuver pendaratan melalui formasi komunikasi.
Bahtera utama berpisah dari barisan, melayang turun dengan keanggunan seekor elang raksasa, lalu berlabuh tepat di pelataran udara yang sengaja dibangun menyatu dengan lantai puncak Menara Teratai Emas.
Begitu ujung sepatu bot zamrud Qixuan menyentuh lantai pualam menaranya, sosok Putri Yan Ling sudah menanti dengan postur berlutut sempurna. Sang Wali Penguasa Kekaisaran—wanita yang kata-katanya kini menjadi hukum bagi jutaan rakyat—menundukkan kepalanya dalam-dalam menyambut kedatangan sang majikan sejati.
"Selamat datang kembali, Tuanku," suara Yan Ling terdengar sangat jernih dan penuh kepatuhan. "Ibukota berada dalam kondisi stabil sempurna selama kepergian Anda. Kas perbendaharaan surplus, dan tidak ada satu pun menteri yang berani mempertanyakan keabsahan titah dari Jaring Bayangan."
"Berdirilah, Yan Ling. Kau melakukan tugasmu dengan baik," Qixuan berjalan melewatinya, melangkah masuk ke dalam aula utama puncak menara yang telah disulap menjadi ruang takhta pribadinya.
Ruangan itu tidak dihiasi oleh ornamen naga murahan seperti Istana Naga Langit. Sebaliknya, dekorasinya sangat minimalis namun memancarkan kemewahan yang tak terbayangkan. Lantainya terbuat dari Batu Giok Penghisap Bintang yang mampu menetralkan racun apa pun, dindingnya dilapisi panel kayu spiritual yang mengunci suara dan kebocoran qi, serta di tengah ruangan terdapat sebuah meja raksasa yang dipahat dari satu bongkahan utuh meteorit es.
Qixuan duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan tubuh dengan santai. Mo Chen muncul dari dalam bayangan pilar, berdiri diam di sudut ruangan seperti patung malaikat maut. Hong Lian menyusul masuk sambil memanggul palu raksasanya, wajahnya dipenuhi senyum lebar yang menandakan kepuasan seorang seniman yang baru saja menyelesaikan mahakaryanya.
"Waktunya mencerna hasil panen," Qixuan mengibaskan kipas gioknya, menatap ketiga bawahan terpentingnya: Shen Feiyan, Yan Ling, dan Hong Lian. "Feiyan, berikan laporan singkat mengenai total aset yang berhasil kita pindahkan dari Benua Atas."
Shen Feiyan maju satu langkah, mengeluarkan sebuah gulungan giok penyimpan data. Saat ia mengalirkan sedikit qi ke dalamnya, puluhan deret angka bercahaya melayang di udara.
"Menghitung seluruh perbendaharaan bawah tanah dari Istana Pedang Guntur Suci dan sisa-sisa harta dari reruntuhan Sekte Teratai Darah, kita berhasil mengamankan total lima ratus juta batu spiritual tingkat atas," Feiyan membacakan angka tersebut dengan suara yang sedikit bergetar karena takjub. "Selain itu, terdapat tiga puluh ribu senjata pusaka kelas Bumi, dua ratus artefak kelas Surga, lima gudang penuh bahan tempa spiritual langka, serta berbagai gulungan teknik rahasia."
Yan Ling yang mendengarkan angka tersebut merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Total kas Kekaisaran Yan selama seratus tahun bahkan tidak menyentuh angka satu juta batu spiritual tingkat atas. Kekayaan yang dibawa pulang oleh pemuda di depannya ini cukup untuk membeli Benua Timur ratusan kali lipat.
"Jumlah yang cukup lumayan untuk biaya operasional awal," komentar Qixuan santai, sama sekali tidak terkejut. Baginya, angka hanyalah deretan nol yang belum diubah menjadi kekuatan nyata. Ia merogoh ruang dimensinya, lalu meletakkan sebuah benda di atas meja meteorit es tersebut.
Benda itu adalah sebuah wadah giok raksasa yang transparan. Di dalamnya, bergejolak cairan merah pekat yang memancarkan energi kehidupan yang luar biasa buas dan primitif. Itulah Kolam Darah Suci, fondasi kultivasi dari Sekte Teratai Darah yang berhasil dikuras habis oleh Leng Yue sebelum mereka meninggalkan reruntuhan sekte tersebut.
"Darah ini mengandung vitalitas murni dari ribuan monster spiritual dan ahli bela diri yang telah dimurnikan selama berabad-abad," Qixuan menatap cairan merah itu. "Hanya saja, energi di dalamnya terlalu kotor dan dipenuhi oleh kehendak membunuh yang kacau. Jika prajurit biasa meminumnya, mereka akan meledak atau berubah menjadi monster gila."
"Lalu, apa rencana Anda dengan benda kotor itu, Tuanku?" tanya Hong Lian penasaran. Sang pandai besi tahu betul betapa berbahayanya material organik yang terkontaminasi.
Qixuan tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya. Di atas telapak tangannya, melayang perlahan sebuah koin kuno berwarna hitam pekat dengan lambang timbangan di satu sisi dan galaksi di sisi lainnya. *Koin Timbangan Surga*. Pusaka kelas mitologi yang ia temukan di perbendaharaan Guntur Suci.
"Kotoran hanyalah materi yang berada di tempat yang salah. Dengan hukum yang tepat, bahkan racun paling mematikan pun bisa diubah menjadi obat keabadian," Qixuan mengalirkan energi *Inti Emas Kegelapannya* ke dalam koin tersebut.
Koin Timbangan Surga mulai berputar cepat di udara. Cahaya keemasan yang membawa tekanan hukum Dao absolut menyinari wadah giok raksasa tersebut. Qixuan memusatkan niatnya, memanggil konsep *Pertukaran Setara*. Ia mengorbankan sebagian besar kehendak membunuh dan aura negatif di dalam darah itu, membiarkannya menguap dan dihancurkan oleh hukum langit. Sebagai gantinya, esensi vitalitas kehidupan ditekan dan dimurnikan secara paksa hingga mencapai titik absolut.
Pemandangan menakjubkan terjadi di depan mata para bawahannya. Cairan darah yang awalnya merah pekat dan bergejolak liar itu perlahan-lahan mulai berubah warna. Merah gelap memudar menjadi merah muda, lalu berubah menjadi putih susu, dan akhirnya mengkristal menjadi ribuan butiran pil bercahaya keemasan yang memancarkan keharuman bunga lotus surgawi.
Proses alkimia tingkat dewa itu diselesaikan dalam waktu kurang dari lima menit, murni menggunakan manipulasi hukum pertukaran tanpa memerlukan tungku api atau resep alkemis.
Shen Feiyan nyaris jatuh terduduk melihat keajaiban tersebut. "Pil Vitalitas Murni tingkat Surga... ribuan butir diciptakan dalam sekejap mata..."
Qixuan mengambil salah satu pil yang melayang, mencium aromanya sekilas, lalu melemparkannya ke arah wadah itu kembali.
"Yan Ling," perintah Qixuan. "Bagikan pil-pil ini kepada seluruh perwira menengah dan kapten Pasukan Naga Hitam. Pil ini tidak akan meningkatkan kultivasi mereka secara langsung, melainkan akan memperkuat fondasi fisik dan tulang mereka hingga sekeras baja spiritual. Aku ingin setiap prajuritku memiliki tubuh yang sanggup menahan beban saat menembakkan *Meriam Kiamat* generasi berikutnya."
"Sesuai perintah, Tuanku!" Yan Ling melangkah maju, menerima wadah giok itu dengan penuh kehati-hatian.
Pemuda itu kemudian menoleh ke arah bayangan di sudut ruangan. "Mo Chen. Melangkahlah kemari."
Sang pengawal berpakaian hitam itu muncul, berlutut dengan satu kaki di hadapan tuannya. Loyalitas Mo Chen telah teruji melampaui batas hidup dan mati. Ia adalah pedang pertama yang melindungi Qixuan saat dunia masih menganggapnya sebagai sampah, dan ia tetap menjadi bayangan paling setia saat tuannya telah menjadi kaisar dunia bawah.
Qixuan merogoh cincin penyimpanannya sekali lagi. Kali ini, ia mengeluarkan sebuah kristal berwarna hitam legam yang terus-menerus memancarkan asap kelabu. Udara di sekitar kristal itu terasa sangat dingin dan seakan menyerap segala bentuk cahaya yang ada. Benda itu adalah Inti Jiwa Kegelapan murni yang Qixuan ekstraksi dari salah satu pembunuh bayaran sekte atas, yang kemudian ia saring menggunakan Koin Timbangan Surga untuk menghilangkan kesadaran aslinya.
"Kultivasimu telah tertahan di ambang batas Inti Emas terlalu lama, Mo Chen," Qixuan menjatuhkan kristal tersebut ke telapak tangan pengawalnya. "Jalan pedang bayangan yang kau tempuh membutuhkan pemahaman tentang ketiadaan. Serap kristal ini. Benda ini akan membuka paksa gerbang menuju ranah Jiwa Baru untukmu. Aku tidak ingin pedang pribadiku tertinggal saat kita menghadapi musuh yang sebenarnya nanti."
Tangan Mo Chen sedikit bergetar saat menerima pusaka berharga tersebut. Di Benua Timur, tidak ada seorang pun yang pernah menyentuh ranah Jiwa Baru secara alami. Kini, jalan itu diberikan padanya semudah memberikan hadiah koin perak.
"Hamba akan menggunakan nyawa ini untuk mempertajam pedang Anda, Tuanku," ucap Mo Chen dengan nada sumpah yang tak bisa diganggu gugat. Pengawal itu segera melesat pergi menuju ruang meditasi tertutup untuk memulai proses penyerapannya.
Qixuan menyandarkan tubuhnya kembali. Ia menatap Hong Lian dan Shen Feiyan secara bergantian.
"Hong Lian, kau memiliki kebebasan penuh atas material di gudang. Bangun generasi ketiga dari meriam kita, dan mulailah merancang zirah terbang untuk pasukan infanteri. Shen Feiyan, perkuat jaringan perdagangan bawah tanah kita. Aku ingin Kamar Dagang Katak Emas memonopoli seluruh jalur distribusi pil dan logam di sisa wilayah Benua Atas. Biarkan sekte-sekte kecil yang tersisa bergantung pada kita untuk bisa bernapas."
Kedua wanita itu membungkuk dalam-dalam. "Keinginan Anda adalah hukum bagi kami, Tuanku!"
Setelah ruangan itu kosong, Qixuan akhirnya bisa menghembuskan napas panjang. Ia menutup matanya, membiarkan tubuhnya rileks sepenuhnya. Inti Emas Kegelapannya berputar dengan lambat, mencerna seluruh energi dan kelelahan yang terkumpul selama ekspedisi berdarah tersebut. Meskipun ia memiliki kekuatan setara dewa, beban manipulasi hukum dan perhitungan strategi tetap memberikan beban mental yang luar biasa.
Rencana awalnya telah sukses besar. Ia telah mengamankan wilayah, membangkrutkan musuh, dan mengumpulkan aset tanpa batas. Fondasi kekuasaannya kini mengakar kuat melebihi pilar penyangga langit itu sendiri.
Sudah saatnya ia memenuhi sebuah janji sederhana yang telah lama tertunda.
Keesokan paginya, suasana di sekitar Danau Bintang yang terletak di pinggiran barat Jinling terasa sangat damai.
Danau ini merupakan properti pribadi milik keluarga kekaisaran yang kini telah diambil alih sepenuhnya oleh Qixuan. Permukaan airnya setenang kaca, memantulkan cahaya matahari pagi yang cerah. Pohon-pohon dedalu (*willow*) yang berjejer di sepanjang tepian danau melambai lembut tertiup angin sepoi-sepoi. Jauh dari hiruk-pikuk intrik politik, dentingan logam pandai besi, maupun bau darah peperangan, tempat ini adalah perwujudan dari ketenangan surgawi.
Di sebuah dermaga kayu yang menjorok ke tengah danau, tiga sosok sedang duduk dengan santai menikmati pagi. Tidak ada ratusan pengawal berzirah, tidak ada pelayan yang berbaris. Area dalam radius lima kilometer telah dikosongkan secara absolut oleh formasi gaib.
Cang Qixuan mengenakan pakaian yang sangat sederhana, jubah linen berwarna biru muda yang biasa dipakai oleh pelajar fana. Tidak ada sulaman naga emas, tidak ada mahkota giok. Ia duduk memegang sebuah joran pancing kayu, pandangannya fokus pada pelampung gabus yang mengapung di permukaan air.
Di sebelah kanannya, Jenderal Besar Cang Baotian sedang menyesap teh hijau hangat dari sebuah teko tanah liat. Kakek tua itu mengenakan pakaian kasual tanpa satu pun elemen zirah di tubuhnya. Tubuhnya bugar dan penuh vitalitas. Ia tidak memegang joran pancing, melainkan sibuk mengupas kacang kenari dan melemparkannya ke mulut dengan gaya santai seorang pensiunan.
Di sisi kiri Qixuan, Nyonya Besar Yue Xinyi sedang merajut sebuah jubah sutra yang hangat. Wajah cantiknya memancarkan kedamaian yang mendalam, senyum lembut tak pernah lepas dari bibirnya setiap kali ia melirik ke arah putra tunggalnya.
"Pancingmu tidak bergerak sama sekali sejak setengah jam yang lalu, Xuan'er," tegur Cang Baotian sambil terkekeh, melempar kulit kenari ke dalam keranjang kecil. "Apakah sang Panglima yang menaklukkan langit tidak memiliki cukup kesabaran untuk menipu seekor ikan karper?"
Qixuan menarik napas panjang, tidak mengalihkan pandangannya dari air. "Menipu ikan jauh lebih sulit daripada menipu menteri istana, Kakek. Menteri bergerak karena keserakahan yang bisa diprediksi. Ikan bergerak berdasarkan insting murni. Aku sudah menaburkan umpan terbaik yang dicampur serbuk spiritual, sebaliknya ikan-ikan ini tampaknya sedang melakukan aksi protes mogok makan."
Nyonya Yue Xinyi tertawa pelan, tawanya merdu bagai denting lonceng perak. "Kau terlalu memancarkan aura mengintimidasi, Sayang. Binatang sangat peka terhadap hawa keberadaan seseorang. Kendurkan pundakmu. Berhentilah berpikir tentang rencana dan perhitungan untuk sesaat. Nikmatilah anginnya."
Mendengar nasihat ibunya, Qixuan tersenyum tipis. Ia menutup matanya, dengan sengaja memutus sirkulasi kelima pusaran energi di dalam Dantiannya, menekan auranya hingga mencapai titik nol absolut. Saat ini, ia tidak lebih dari sekadar pemuda biasa yang sedang menikmati hari libur.
Tirai sutra arogansi dan kekejaman yang selalu ia kenakan untuk menutupi kelemahan keluarganya kini telah diturunkan. Di sini, di hadapan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, ia tidak perlu menjadi Dewa Kekayaan atau Penguasa Bayangan.
"Kau telah memikul beban yang terlalu berat di usiamu yang masih sangat muda, Xuan'er," suara Cang Baotian berubah menjadi sedikit lebih serius, meskipun wajahnya tetap tenang. Pria tua itu menatap lurus ke arah permukaan danau. "Keluarga Cang selalu mengabdi pada negara menggunakan pedang dan darah. Ratusan leluhur kita mati di medan perang dengan keyakinan bahwa kesetiaan akan membuahkan kedamaian. Kau membuktikan bahwa cara pandang kami semua salah."
Sang Jenderal Besar menoleh, menatap cucunya dengan rasa bangga yang tak terhingga. "Kau tidak menggunakan pedang untuk membela raja; kau menggunakan akal dan kekayaan untuk menghancurkan konsep raja itu sendiri. Kau melindungi klan ini dengan cara memonopoli dunia. Kakek tidak pernah bisa membayangkan bahwa tirai kebohongan sebagai pemuda pemboros yang kau rajut selama lima tahun itu akan menjadi jaring yang menangkap surga."
Qixuan tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada pancingnya.
"Kesetiaan buta adalah mata uang yang nilainya terus menyusut karena inflasi keegoisan para penguasa, Kakek," ucap Qixuan lembut. "Aku tidak ingin keluarga kita mengandalkan belas kasihan orang lain untuk hidup. Satu-satunya cara agar kita bisa memancing dengan tenang di danau ini tanpa takut ada panah beracun yang mengincar punggung kita... adalah dengan memastikan bahwa si pembuat panah, si pemegang busur, dan si pemberi perintah sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Atau, kau sudah membeli seluruh pabrik panah tersebut," sambung Baotian sambil tertawa terbahak-bahak, menghancurkan suasana sentimental sesaat itu.
Nyonya Yue menggelengkan kepala melihat tingkah dua pria dari beda generasi itu. Ia meletakkan rajutannya, lalu mengusap puncak kepala Qixuan dengan penuh kasih.
"Ibu tidak peduli apakah kau menjadi kaisar dunia atau sekadar pedagang kain, Xuan'er. Ibu hanya ingin kau tetap menjadi manusia. Kekuatan mutlak sering kali membuat seseorang kehilangan kemampuannya untuk berempati. Jangan biarkan hatimu membeku sepenuhnya."
Qixuan menyandarkan kepalanya pada sentuhan ibunya. Sebuah perasaan hangat mengalir di dadanya, perasaan yang tidak bisa dibeli dengan jutaan batu spiritual tingkat atas.
"Selama Ibu dan Kakek masih berada di sisiku, hatiku tidak akan pernah membeku," gumam Qixuan tulus.
Tiba-tiba, pelampung gabus di atas air bergerak menyentak dengan keras. Joran kayu di tangan Qixuan melengkung tajam.
"Aha! Kena kau, pencuri umpan!" seru Qixuan dengan semangat yang jauh lebih kekanak-kanakan daripada saat ia menghancurkan sebuah sekte raksasa. Ia menarik jorannya dengan sigap, mengangkat seekor ikan karper emas yang cukup besar ke udara.
Pagi itu di Danau Bintang berlalu dengan canda tawa, percikan air, dan obrolan ringan. Sebuah fragmen kedamaian murni yang mengukuhkan alasan mengapa Tuan Muda Cang rela membakar dunia demi menjaga keutuhan tirai sutranya.
Jauh melampaui Lautan Kabut, melintasi ribuan pulau melayang di Benua Atas, terdapat sebuah samudra yang tidak terbuat dari air, melainkan dari awan spiritual padat yang berkilauan layaknya bubuk galaksi. Di seberang samudra awan tersebut, berdirilah wilayah yang menjadi pusat dari segala pusat peradaban kultivasi: Benua Tengah.
Ini adalah tempat di mana ranah Jiwa Baru hanyalah prajurit rendahan, dan ranah *Kaisar Langit (Heavenly Emperor)* benar-benar mendikte perputaran galaksi lokal. Pegunungan di sini terbuat dari batu giok murni, dan burung-burung yang berterbangan adalah wujud fisik dari energi hukum Dao.
Di Puncak Naga Emas, puncak tertinggi dari *Sekte Titah Langit (Heavenly Mandate Sect)*—sekte supremasi yang bertindak sebagai penjaga keseimbangan seluruh benua di bawahnya—berdiri sebuah paviliun yang menembus batas atmosfer luar.
Di pelataran paviliun tersebut, Patriark Yun Canghai dari Sekte Langit Berkabut sedang berlutut hingga dahinya mencium lantai kristal. Pakaiannya kotor, auranya melemah drastis setelah memaksakan diri menggunakan Kapal Bahtera Penembus Batas. Ia datang sebagai seorang pelarian yang putus asa.
Di hadapannya, duduk seorang pria paruh baya mengenakan jubah emas yang memancarkan cahaya menyilaukan. Matanya memancarkan kesombongan yang lahir dari kekuatan absolut ranah *Domain Bumi tahap puncak*. Ia adalah Huangpu Zhen, Tetua Agung dari Sekte Titah Langit.
"Jadi, Patriark Yun," suara Huangpu Zhen menggema layaknya dentuman lonceng raksasa yang langsung menghantam jiwa. "Kau meninggalkan sekte warisanmu, mengorbankan ribuan muridmu, berlari sejauh jutaan li melintasi lautan awan, hanya untuk memberitahuku bahwa seorang pemuda fana berusia dua puluhan tahun telah meratakan Benua Atas menggunakan meriam dan uang?"
"H-Hamba bersumpah atas nama surga, Yang Mulia Tetua Agung!" ratap Yun Canghai, suaranya bergetar hebat. "Bocah itu bernama Cang Qixuan! Dia memiliki kekayaan yang melanggar akal sehat dan mengendalikan armada kapal yang dilengkapi artileri kiamat! Istana Guntur Suci dan Teratai Darah telah musnah tanpa sisa! Jika Sekte Titah Langit tidak turun tangan, pemuda iblis itu pasti akan mengincar Benua Tengah sebagai target penjarahan berikutnya!"
Huangpu Zhen mendengus meremehkan. Ia mengangkat cangkir tehnya dengan anggun. "Pemuda yang beruntung menemukan warisan dewa purba yang kebetulan berwujud kekayaan. Sangat klise. Dia mengira dengan membunuh beberapa tikus di Benua Atas, dia berhak menatap langit yang sesungguhnya. Kesombongan katak di dalam sumur."
Yun Canghai buru-buru mengeluarkan cincin penyimpanannya yang terakhir. Ia menuangkan isinya ke atas lantai kristal. Ratusan pusaka kelas Surga, teknik ilusi kuno, dan inti jiwa monster legendaris berhamburan sebagai bentuk suap mutlak demi mendapatkan keadilan semu.
"Mohon Yang Mulia Tetua menerima sisa-sisa harta klan kami yang hina ini. Hamba memohon keadilan dari Surga Tengah!" mohon Yun Canghai dengan suara serak.
Mata Huangpu Zhen sedikit menyipit melihat kualitas pusaka yang diserahkan. Senyum serakah terukir tipis di balik janggutnya yang rapi.
"Kau sangat memahami etika meminta tolong, Patriark Yun," Huangpu Zhen menyapu seluruh harta itu ke dalam ruang dimensinya dalam sekejap. Ia kemudian berdiri, mengibaskan lengan jubah emasnya dengan penuh keangkuhan.
"Seorang pedagang jalanan yang bermain-main dengan kekayaan dewa harus diajari tentang hierarki kepemilikan yang sah," Huangpu Zhen berbicara dengan nada datar yang sarat akan arogansi absolut. "Uang dan artefak yang ada di tangannya adalah milik Benua Tengah. Kami hanya membiarkannya menyimpannya untuk sementara waktu."
Tetua Agung itu menoleh ke arah seorang pemuda berwajah sangat dingin yang berdiri di belakang singgasananya. Pemuda itu memanggul sebuah tombak raksasa berwarna keemasan dan memancarkan fluktuasi qi ranah *Domain Bumi tahap awal*.
"Jenderal Huangpu Ye. Bawa Seribu Pasukan Bintang Jatuh (Vanguard of the Heavenly Court). Turunlah ke Benua Atas. Hancurkan armada pedagang itu, sita setiap keping batu spiritual yang ada di kantong pemuda tersebut, lalu bawa kepalanya menyeberangi lautan awan sebagai hiasan gerbang kita."
Pemuda bernama Huangpu Ye itu menunduk hormat, matanya memancarkan rasa bosan layaknya disuruh membersihkan kandang anjing. "Hamba laksanakan, Guru. Menyingkirkan serangga yang sok kaya tidak akan memakan waktu lebih dari setengah hari."
Badai baru bersiap menerjang dari langit tertinggi. Kali ini, musuh yang datang tidak lagi meremehkan Qixuan secara taktis; mereka datang untuk menyita kekayaannya atas nama keserakahan yang dilegalkan oleh status "dewa" ortodoks. Dan bagi seorang Cang Qixuan, tidak ada kejahatan yang lebih tak terampuni di alam semesta ini selain mencoba merampok isi dompetnya. Pertemuan antara arogansi dewa kuno dan kapitalisme brutal sang kaisar bayangan tidak akan terelakkan lagi.