Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Sisa-sisa badai semalam menyisakan keheningan yang teramat pekat di dalam kamar utama penthouse Brooklyn.
Ketika semburat cahaya fajar musim dingin yang pucat mulai menembus celah-celah tirai jendela besar, ruangan itu masih diselimuti oleh aroma parfum mawar yang bercampur dengan kehangatan keringat dari penyatuan gila yang terjadi sepanjang malam.
Di atas ranjang king size yang berantakan, Louis Enver Osborn perlahan membuka matanya. Sepasang mata elang abu-abunya menatap kosong ke arah langit-langit beton yang dingin.
Rasa hambar, lelah, dan kilasan kenyataan mendadak menghantam kesadarannya bagai hantaman gada yang berat.
Dia menoleh ke samping. Di sana, Adiba Abbey masih tertidur pulas dengan posisi menyamping, memunggungi dirinya.
Gaun sutra hijau zamrudnya telah robek di beberapa bagian, tersingkap hingga menampilkan punggung mulus dan lekuk pinggangnya yang indah.
Dan di sana, di atas kulit putih pucat itu, bertebaran tanda kemerahan pekat yang dia cetak dengan gila semalam—mulai dari tengkuk, turun ke tulang selangka, hingga ke batas perutnya.
Louis bangkit, duduk di tepi ranjang sembari meremas rambut urakannya dengan kedua tangan. Dadanya berdenyut nyeri. Setiap jengkal kenikmatan yang dia rasakan semalam kini berubah menjadi racun yang membakar tenggorokannya.
Dia istri kakakmu, Louis. Dia milik Raynazh, batin Louis berbisik kejam, mengingatkan dirinya pada posisi yang paling hina.
Louis menoleh kembali, menatap Adiba yang mulai menggeliat kecil karena terusik oleh hawa dingin pagi. Amarah, rasa bersalah pada Christine, dan luka batin akibat kata-kata Adiba tentang statusnya sebagai "catur cadangan" mendadak bergolak menjadi satu, menciptakan sebuah dorongan psikologis yang menyimpang di dalam otaknya yang lelah.
"Bangun, Kakak Ipar," ucap Louis, suaranya terdengar teramat rendah, serak, dan sedingin es yang membeku di luar jendela.
Mendengar suara parau yang sangat dia puja, Adiba perlahan membuka sepasang manik mata hitamnya.
Dia tidak tampak terkejut atau ketakutan lagi mendapati dirinya berada di ranjang pria lain.
Sebaliknya, sebuah senyuman manis yang sarat akan kepuasan tak bertepi langsung terukir di bibirnya yang sedikit bengkak. Dia membalikkan tubuhnya, menatap Louis dengan binar mata yang penuh dengan obsesi gila.
"Kau sudah bangun, Louis-ku?" bisik Adiba lembut, mengulurkan tangannya hendak menyentuh rahang tegas Louis.
Namun, Louis dengan cepat menepis tangan itu. Dia berdiri, berdiri tegak di samping ranjang dengan hanya mengenakan celana kain hitamnya yang longgar, membiarkan dada bidangnya yang penuh tato terekspos di bawah pendar fajar.
"Jangan menyentuhku seolah kau adalah milikku, Adiba," desis Louis, matanya menggelap tajam. "Ingat posisimu. Kau adalah istri dari kakakku. Kau adalah wanita yang dinikahi Raynazh di depan seluruh elit New York. Dan aku? Aku hanya cadangan ayahku, bukan? Anggota keluarga cadangan yang bertugas membersihkan sampah yang ditinggalkan oleh pewaris utama."
Adiba tidak marah mendengar nada bicara Louis yang ketus. Dia justru mendudukkan tubuhnya, membiarkan selimut sutra abu-abu melorot hingga menampilkan tanda-tanda kepemilikan Louis di dadanya.
"Jika kau tahu kau hanya cadangan, mengapa kau menyentuhku begitu dalam semalam, Louis?"
"Karena seorang cadangan harus melakukan tugasnya dengan sempurna, Kakak Ipar," ucap Louis, sengaja menekankan sebutan 'Kakak Ipar' dengan nada mengejek yang getir, sebuah tamparan bagi moralitasnya sendiri yang telah runtuh.
"Jika tubuhmu harus dibagikan, maka biarkan cadangan ini yang menguasaimu hingga kau tidak bisa melupakan bagaimana rasanya merangkak di bawah kungkunganku."
Louis berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan, mengambil ponsel hitamnya. Pikirannya saat ini telah melompat ke ambang kegilaan yang tak masuk akal.
Tiga minggu terakhir, dia tersiksa setengah mati karena terus-menerus memuaskan dirinya sendiri hanya dengan membayangkan kehangatan Adiba.
Dia menolak untuk menjadi pria lemah yang merana karena merindukan istri orang lain lagi. Jika dia harus terjatuh ke dalam neraka, maka dia akan membawa serta bukti nyata dari dosa mereka.
"Ikut aku ke kamar mandi, Kakak Ipar," perintah Louis, matanya menatap Adiba dengan kilat liar yang tak terbaca.
Adiba mengernyitkan alisnya kecil, namun rasa penasarannya dikalahkan oleh kepatuhan mutlaknya pada pria itu.
Dia berdiri, membiarkan gaun sutranya yang berantakan menjuntai, lalu melangkah anggun mengikuti Louis masuk ke dalam kamar mandi utama yang luas dan mewah.
Kamar mandi itu berdinding marmer hitam dengan sebuah cermin raksasa yang membentang di depan wastafel ganda, serta sebuah bathtub jacuzzi besar di sudutnya. Cahaya pagi masuk melalui celah ventilasi atas, memberikan pendar remang yang dramatis.
Louis berdiri di depan cermin raksasa itu, menyalakan kamera ponselnya, lalu mengarahkannya ke arah cermin. Dia berjalan mundur, menempelkan tubuh tegapnya di belakang Adiba, melingkarkan satu tangan kokohnya di pinggang ramping wanita itu, memaksa Adiba untuk menatap pantulan mereka berdua di dalam cermin.
"Aku tidak ingin merindukanmu lagi seperti pria bodoh, Kakak Ipar," bisik Louis tepat di ceruk leher Adiba, napas panasnya membuat tubuh Adiba meremang.
"Aku ingin merekam ini. Aku ingin mengambil video kita bersama di dalam kamar mandi ini, mengabadikan bagaimana menjijikkannya hubungan kita. Jadi, saat kau kembali ke Manhattan dan tidur di samping kakakku, aku bisa melihat video ini di Brooklyn sembari menertawakan betapa murahnya istri dari sang pewaris utama Osborn."
Itu adalah sebuah tindakan yang gila. Sebuah bentuk pelampiasan ego dari seorang pria yang jiwanya telah cacat akibat kenyataan penolakan keluarganya. Louis mengira tindakannya ini akan membuat Adiba ketakutan, menangis, atau memohon agar dia menghentikannya.
Namun, Louis salah besar. Dia tidak pernah tahu seberapa dalam kegilaan yang bersarang di dalam otak Adiba Abbey.
Mendengar permintaan Louis, mata Adiba justru berkilat penuh dengan binar kebahagiaan yang luar biasa.
Sebuah tawa kecil yang teramat manis dan terdengar sangat gila lolos dari bibirnya. Dia tidak menolak; dia justru menyandarkan punggungnya dengan pasrah di dada bidang Louis, menatap langsung ke arah lensa kamera ponsel yang dipegang pria itu dengan pandangan yang sarat akan gairah.
"Gila... Kau benar-benar gila, Louis," gumam Adiba dengan nada suara yang terdengar seperti desahan manja.
Dia mengulurkan tangannya, mengusap layar ponsel Louis seolah sedang menyentuh wajah pria itu. "Tapi aku menyukainya. Ambil videonya. Rekam setiap jengkal dari tubuhku yang telah kau tandai ini. Biarkan seluruh dunia tahu bahwa aku adalah milikmu, bahkan jika kita harus terbakar di dalam neraka bersama."
Adiba dengan senang hati memposisikan dirinya.
Di depan kamera yang merekam, dia sengaja menurunkan kerah gaunnya yang robek, memperlihatkan tanda kemerahan pekat di dada dan sela selangkanya hasil karya Louis semalam.
Dia membiarkan Louis mencium lehernya dari belakang sembari tangannya bergerak mengusap perut ratanya di dalam rekaman tersebut.
Di dalam benak gila Adiba, video ini bukan sekadar pemuas rindu untuk Louis di Brooklyn.
Ini adalah senjata nuklir baru yang jatuh langsung ke dalam tangannya secara sukarela. Kehamilannya yang baru berusia beberapa minggu—yang merupakan darah daging Louis—adalah rahasia yang harus dia jaga dari Louis untuk saat ini.
Dan video ini... akan menjadi alat pemeras yang paling sempurna untuk membungkam mulut Raynazh di Manhattan.
Jika Raynazh berani menolak untuk mengakui anak di rahimku ini sebagai anaknya, atau jika dia berani membocorkan tentang kehamilanku ini pada Louis sebelum waktunya... aku hanya perlu mengirimkan potongan video ini ke mejanya, batin Adiba bersorak kegirangan dalam hati.
Raynazh yang penakut itu pasti akan langsung berlutut dan menutup mulutnya rapat-rapat demi menjaga takhta CEO-nya dari kehancuran.
"Sudah cukup, Louis?" tanya Adiba dengan suara serak yang seksi, mendongak menatap wajah tampan Louis dari pantulan cermin setelah beberapa menit video itu merekam kemesraan terlarang mereka.
Louis mematikan rekaman video tersebut, napasnya memburu berantakan. Dia menatap layar ponselnya yang kini menyimpan durasi dosa mereka, lalu menatap Adiba yang masih tersenyum manis di depannya. Ada rasa ngeri yang tiba-tiba merayap di dinding hati Louis melihat betapa tenangnya wanita ini setelah melakukan Kegilaan kedua kali dalam hidupnya.
"Kau benar-benar wanita paling gila yang pernah kutemui, Kakak Ipar," ucap Louis, suaranya bergetar tipis oleh gejolak emosi yang tak menentu.
"Aku gila hanya karenamu, Louis," jawab Adiba sembari berbalik, mengalungkan kedua lengannya di leher Louis, tidak memedulikan sebutan 'Kakak Ipar' yang terus diucapkan pria itu sebagai pembatas semu.
"Simpan video itu dengan baik. Lihatlah setiap kali kau merindukanku di Brooklyn... karena cepat atau lambat, takdir akan membawa kita untuk terus bersama, dan cadangan ini... akan menjadi satu-satunya pemenang di atas puing-puing kehancuran Osborn."
Di bawah pendar pagi New York yang kian terang, Adiba mengecup bibir Louis sekali lagi sebelum melangkah keluar dari kamar mandi untuk merapikan dirinya, meninggalkan Louis yang berdiri terpaku dengan ponsel di tangan, kian terjerat dalam jaring-jaring obsesi pekat yang dirancang oleh sang wanita iblis dengan begitu sempurna.