cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
...
...
Pagi-pagi buta, Porsche hitam Langit sudah terparkir lagi di depan kosan. Langit nggak mau ambil risiko Jelita "menghilang" lagi dengan alasan tugas. Begitu pintu kamar dibuka, Jelita langsung diseret pelan masuk ke mobil.
"Gak ada tapi-tapian, Jee. Lo butuh asupan udara apartemen gue biar otak lo nggak isinya laporan lab mulu," cetus Langit sambil memasangkan sabuk pengaman Jelita dengan gaya posesif.
Begitu sampai di apartemen, pintu baru saja tertutup rapat, Langit langsung memutar tubuh Jelita dan mengurungnya di antara pintu dan kedua lengannya. Aroma maskulin Langit yang khas langsung menyerbu indra penciuman Jelita, bikin tembok pertahanan yang baru dibangunnya semalem mendadak goyah lagi.
"Lang... katanya mau bikin sarapan," bisik Jelita, jantungnya mulai maraton.
"Sarapan bisa nunggu, Jee. Tapi gue? Gue udah mau mati nahan kangen tiga hari ini nggak liat muka lo sedeket ini," suara Langit memberat.
Tangannya mulai nakal, mengusap pinggang Jelita dan menariknya hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Langit menunduk, menciumi leher Jelita dengan intens, membuat Jelita memejamkan mata. Di dalam kepala Jelita, ada konflik batin yang hebat—rasa bersalah karena rahasia Yayan masih menghantui, tapi sentuhan Langit terlalu nyata untuk ditolak.
"Lo tau nggak, hukuman buat murid yang hobi ngilang?" Langit berbisik tepat di telinga Jelita, hembusan napasnya bikin bulu kuduk Jelita meremang.
"Apa...?"
"Hukumannya adalah... lo nggak boleh lepas dari pandangan gue seharian ini." Langit langsung menyambar bibir Jelita dengan ciuman yang menuntut, ciuman yang seolah ingin menghapus semua jarak yang sempat tercipta selama tiga hari kemarin.
Langit bener-bener nggak tahan untuk nggak menyentuh Jelita. Tangannya seolah punya radar sendiri untuk mencari setiap inci titik lemah Jelita. Dia memuja Jelita dengan caranya yang "nakal" tapi penuh perasaan, seolah-olah dia sedang menandai kembali wilayah kekuasaannya.
"Lo punya gue, Jelita. Inget itu," gumam Langit di sela-sela ciumannya yang semakin panas.
Jelita hanya bisa pasrah, tangannya merayap masuk ke rambut Langit, menarik pria itu agar semakin dalam. Di apartemen ini, di bawah dominasi Langit, Jelita sejenak bisa melupakan tatapan penuh rindu dari Yayan di kantin kemarin. Meskipun dia tahu, ini hanya "obat bius" sementara sebelum badai yang sebenernya meledak.
"Tutor... lo sesat banget pagi ini," bisik Jelita terengah-engah.
Langit menyeringai nakal, senyum miring andalannya kembali muncul. "Kan lo yang bilang, muridnya harus pinter. Sekarang, ayo lanjut ke pelajaran berikutnya di sofa."
Langit nggak kasih kendor. Begitu mereka pindah ke sofa besar di ruang tengah, atmosfer apartemen itu mendadak jadi jauh lebih panas dari suhu Jakarta di luar sana. Langit bener-bener kayak singa yang baru lepas dari kandang setelah tiga hari puasa liat pawangnya.
"Lang... beneran deh, lo nggak ada capeknya ya?" Jelita terengah-engah, punggungnya sudah menyentuh sandaran sofa sementara Langit mengurungnya dengan tatapan yang bener-bener haus.
Langit menyeringai, tangan kanannya mengelus pipi Jelita, jempolnya mengusap bibir Jelita yang sedikit bengkak. "Gue capek nahan diri, Jee. Lo tau nggak gimana rasanya cuma bisa liatin foto lo di perpus sambil dengerin Haikel ngorok? Itu siksaan duniawi."
Langit nggak banyak bicara lagi. Dia kembali mencium Jelita, kali ini lebih dalam dan posesif. Tangannya mulai bekerja dengan keahlian "tutor pro", membuka satu per satu kancing kemeja Jelita tanpa melepas tautan bibir mereka. Jelita merasa dunianya seolah meleleh. Di satu sisi, memori Yayan di kantin tempo hari mencoba menyelinap masuk, tapi Langit seolah tahu. Dia menggigit kecil bahu Jelita, seolah ingin menarik paksa seluruh fokus Jelita hanya untuknya.
"Fokus ke gue, Sayang. Cuma ke gue," bisik Langit serak, seolah dia bisa membaca ada "hantu" yang lagi mencoba masuk ke pikiran Jelita.
Malam itu—atau mungkin masih pagi menjelang siang—apartemen Langit jadi saksi bisu gimana Jelita bener-bener "dikuliti" dari semua ketakutannya. Langit memuja setiap inci tubuh Jelita dengan cara yang bikin Jelita lupa cara napas. Ini bukan cuma soal nafsu, tapi Jelita bisa ngerasain kalau Langit bener-bener takut kehilangan dia.
"Lo itu punya gue, Jelita Anna Tasya. Sampai kapan pun, cuma punya Langit," gumam Langit saat mereka akhirnya terkapar berpelukan di atas sofa yang berantakan, tertutup satu selimut besar.
Jelita menyandarkan kepalanya di dada bidang Langit, mendengarkan detak jantung pria itu yang mulai stabil. Dia merasa sangat dicintai, tapi di sudut hatinya yang paling gelap, dia merasa seperti bom waktu.
"Lang..."
"Hmm?" Langit mengecup puncak kepala Jelita, tangannya masih asyik mengelus punggung polos gadis itu.
"Kenapa lo posesif banget sih?"
Langit terdiam sebentar, lalu dia mengeratkan pelukannya. "Gue nggak tahu. Gue cuma ngerasa, kalau gue lepasin lo sedetik aja, semesta bakal coba ambil lo dari gue. Gue nggak bakal biarin itu terjadi, Jee. Siapa pun yang berani deketin lo, dia harus lewat mayat gue dulu."
Jelita merinding denger nada bicara Langit yang mendadak dingin dan serius. Dia jadi ngebayangin gimana kalau Langit tau kalau orang yang "mau ngambil" itu wajah nya mirip sama dia
Setelah "badai" di sofa mereda, Langit nggak membiarkan Jelita menjauh lebih dari sepuluh sentimeter. Pria itu benar-benar menjalankan ancamannya: Jelita tidak boleh lepas dari pandangannya seharian ini. Bahkan saat Langit sedang memesan makanan lewat ponselnya, kakinya tetap mengunci kaki Jelita di bawah selimut.
"Lang, gue mau ke kamar mandi bentar. Lepasin dulu..." keluh Jelita pelan.
"Gak. Tunggu makanan dateng, baru gue izinin berdiri," balas Langit enteng sambil mengecup bahu Jelita yang masih polos di balik selimut.
Jelita mendengus, tapi ada rasa hangat yang menjalar. Posesif Langit kali ini terasa berbeda—seperti seseorang yang sedang ketakutan kehilangan hartanya yang paling berharga. Jelita menatap wajah samping Langit yang sedang fokus menatap layar ponsel. Garis rahang itu, hidung itu... setiap kali Jelita melihatnya, ada rasa syukur sekaligus ngeri.
Gimana kalau Langit tau wajah ini juga yang bikin gue hancur dulu? batin Jelita perih.
"Kenapa liatin gue gitu? Baru sadar ya tutor lo ini emang level dewa?" celetuk Langit tanpa menoleh, tapi senyum miringnya muncul.
"Pede banget lo, Nyet!" Jelita mencubit perut Langit.
Langit tertawa, lalu melempar ponselnya ke ujung sofa dan memutar tubuhnya untuk menindih Jelita kembali. Matanya yang tadi bercanda mendadak berubah intens. "Jee, serius. Jangan pernah ngilang lagi kayak tiga hari kemarin. Gue beneran ngerasa kayak orang gila. Apartemen ini berasa kayak kuburan kalau nggak ada suara lo yang marah-marah pas gue jahilin."
Jelita terdiam, tangannya merayap mengusap rambut berantakan Langit. "Iya, Lang. Gue nggak kemana-mana."
"Janji?"
"Janji."
Langit tersenyum puas, lalu mencium kening jelita
Sisa hari itu mereka habiskan dengan konyol. Langit memaksa Jelita menonton film horor yang sebenernya Langit sendiri takut, ujung-ujungnya malah Langit yang ngumpet di balik leher Jelita. Mereka makan ramen instan di lantai, tertawa sampai tersedak, dan Langit nggak henti-hentinya mencuri ciuman di sela-sela obrolan mereka.
"Besok gue anter ke kampus. Gue bakal nungguin lo di depan kelas sampe lo keluar," ucap Langit saat malam mulai larut dan mereka masih meringkuk di sofa.
Jelita tersentak. "Eh? Nggak usah, Lang. Gue ada kelas pagi banget, lo kan masih harus urus revisi skripsi lo"
"Gak ada alasan. Besok gue jemput. Gue mau pastiin nggak ada 'kucing' atau 'hantu' mana pun yang bikin lo pengen ngurung diri di kosan lagi," tegas Langit dengan nada yang nggak bisa dibantah.
Jelita menelan ludah. "Tutor posesif lo kumat lagi ya?"
"Bukan kumat, Jee. Ini namanya maintenance aset," jawab Langit sambil menyeringai nakal.
Malam itu, Jelita tidur dalam pelukan Langit dengan perasaan campur aduk. Dia tahu, besok di kampus, dia harus bermain peran lebih hebat lagi. Dia harus memastikan radius satu meternya hanya berisi Langit, sementara di suatu tempat di gedung Teknik, ada seseorang yang memiliki wajah yang sama sedang mencarinya dengan sisa-sisa napas kerinduan.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣