Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.
Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.
Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.
Terimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Ternyata Rencana Oma.
Emir tadi pulang sebentar ke rumah, ada dokumen yang harus diambil dan tidak memerintahkan Sekretarisnya untuk melakukan hal itu karena Emir masih memiliki sedikit perasaan mengingat bahwa istrinya juga kurang sehat karena kecelakaan yang dia timbulkan.
Ketika mengambil dokumen tersebut Emir melangkah memasuki rumah, tetapi tiba-tiba matanya salah fokus ketika melihat salah satu penjaga kebun yang saat ini membersihkan kebun.
"Bukankah pria itu?" Emir mengerutkan dahi mengingat sesuatu hal membuatnya langsung menghampiri pria tersebut.
"Ehemmm..." pria itu dengan cepat membalikkan tubuh ketika terlalu fokus pada pekerjaannya.
"Tuan!" sapanya dengan menundukkan kepala.
"Kamu siapa?" tanya Emir.
"Hmmm, saya penjaga kebun baru di rumah ini. Oma yang memperkerjakan saya dan sebelumnya saya yang mengurus Villa di Bogor," jawab pria tersebut.
"Lalu kamu juga tinggal di desa Tasika?" tanya Emir.
Wajah pria tersebut mendadak panik. Emir mengingat bahwa laki-laki itu adalah pria yang menyuruhnya masuk ke dalam rumah dan mengatakan bahwa Kakek Ayana sudah pulang. Emir berpikir jika pria itu tak lain adalah warga desa Tasika.
Pria itu seketika menunduk, wajahnya takut dan juga terlihat panik.
"Saya ingin bicara empat mata dengan kamu dan saya tidak suka ada kebohongan. Jika saya menyadari kebohongan kamu, maka kamu akan berurusan dengan saya!" tegas Emir dengan suara berat terdengar begitu menakutkan.
Pria itu menggangguk pelan, wajahnya semakin pucat, ketakutan terlihat jelas di wajahnya.
*****
Oma berada di ruang tamu terlihat membaca buku. Orang tua itu memang selalu menghabiskan waktunya dengan membaca buku.
Merasa seperti ada yang memandanginya membuat Oma mengangkat kepala dan ternyata benar entah sejak Emir sudah berdiri di hadapannya.
"Emir, kamu belum kembali ke kantor?" Yahya Oma.
"Jadi semua ini rencana Oma?" tanya Emir.
"Rencana? Rencana apa maksud kamu?" tanya Oma.
"Hah!" Emir mendengus tersenyum mendengar pernyataan Oma yang terkesan pura-pura.
"Oma ternyata kurang pintar menyusun rencana, sampai-sampai tidak punya ide lain untuk menggantikan tukang kebun yang lama dengan orang yang mengurus Villa," ucap Emir.
Oma menghela nafas, perasaannya mulai tidak enak dan seperti sudah mengerti dan paham apa yang dimaksud Emir.
"Laki-laki yang ada di depan sana bernama Tono. Pria yang ada di desa, menyuruh saya masuk ke dalam rumah Nenek Ayana dan Ayana ada di dalam rumah itu, lalu pria itu juga memanggil warga dengan memprovokasi kasih warga, terjadi perbuatan yang tidak terpuji di dalam rumah itu sehingga orang warga tiba-tiba saja muncul secara cepat dan menggerebek apa yang terjadi? Jadi pernikahan yang terjadi antara aku dan Ayana tak lain adalah rencana Oma?" ucap Emir.
Oma menghela nafas dengan kesulitan menelan ludah dan berusaha untuk tenang saat dicecar kemarahan oleh cucunya itu.
"Ya.... jika pada akhirnya kamu mengetahuinya. Oma tidak bisa mengelak lagi, memang Oma sedikit ceroboh mempekerjakannya di rumah ini dan tidak menyadari bahwa kamu ternyata mengenal pria itu," sahut Oma.
"Semudah itu Oma mengatakan hal itu, Oma tidak merasa bersalah setelah membuat kekacauan dan membuatku menikah dengan Ayana!" teriak Emir.
"Ya, Oma memang melakukannya dan menginginkan kalian berdua untuk menikah, bukankah awalnya Oma sudah meminta kamu untuk menikah dengan Ayana karena Oma yakin gadis itu adalah gadis yang terbaik, tetapi kamu tetap saja menolak dan jika tidak dengan cara seperti ini, maka pernikahan ini tidak akan terjadi!" tegas Oma.
"Jadi ini yang membuat Oma tidak mempertanyakan mengapa kami menikah?" tanya Emir sejak awal memang curiga Omanya tidak terlalu kepo tentang pernikahan mereka yang tiba-tiba saja terjadi.
"Ya, begitulah," sahut Oma dengan santai tidak merasa bersalah sama sekali.
"Benar-benar keterlaluan. Oma sungguh keterlaluan, bisa-bisanya Oma bertindak seperti ini. Apa jangan-jangan Oma juga yang menyuruh ayah tiri Ayana untuk melecehkannya agar dia bisa ikut bersamaku?" tanya Emir.
"Apa maksud kamu?" tanya Oma dengan dahi mengkerut.
"Aku juga pada akhirnya tahu bahwa Oma bekerjasama dengan ibu Ayana untuk meminta mereka berdua menikah. Ibu Ayana menerima bayaran dari Oma dengan jumlah yang fantastis agar ibunya membiarkan semua rencana Oma berjalan dengan lancar. Karena Oma tahu. Ayana tidak diizinkan menikah dan apalagi keluar dari rumah itu!" tegas Emir.
Dia saja tidak percaya jika Oma melakukan rencana sebesar itu, pernikahan yang terjadi bukanlah karena insiden yang tidak terduga tetapi memang sudah direncanakan dan terlebih lagi Oma bekerjasama dengan Dewi dengan memberi bayaran kepada Dewi agar merelakan putrinya meninggalkan rumah.
Mengingat Dewi memang tidak ingin Ayana lepas darinya karena takut tidak mendapatkan uang dari Ayana.
"Tidak Emir. Oma tidak tahu tentang apa yang terjadi dan seperti apa yang kamu katakan pelecehan yang terjadi pada Ayana. Sungguh Oma tidak tahu jika hal itu terjadi," sahut Oma.
"Sudah cukup! Aku bahkan saat ini tidak bisa membedakan mana kebenaran dan tidak. Bagiku apa yang terjadi sangat keterlaluan, Oma bisa-bisanya melakukan semua ini ada yang terlebih lagi ibunya juga keterlaluan menjual putrinya sendiri!" tegas Emir.
Oma terdiam mungkin menyadari jika rencananya sedikit berlebihan karena seperti terjadi jual beli.
Emir geleng-geleng kepala, tidak tahu harus melakukan apa dan memilih untuk pergi.
"Emir tidak semuanya rencana Oma, Oma tidak tahu jika Ayana mendapatkan insiden seperti itu," Oma teriak-teriak memanggil Emir yang tidak dia pedulikan sama sekali.
*****
Emir kembali ke kantor dengan duduk di kursinya bersandar pada kursi itu dengan memijat kepala dan mata terpejam. Emir tidak tidur dan hanya frustasi dengan apa yang terjadi, tidak pernah dia duga sama sekali.
Jika pernikahan itu benar-benar terjadi. Menurutnya Oma sungguh keterlaluan, merencanakan suatu hal yang sangat buruk dan bahkan hampir saja Ayana kehilangan kehormatannya.
Pintu ruangannya terbuka membuat matanya perlahan terbuka, gadis yang dia pikirkan Ayana saat ini berjalan menghampirinya.
"Ini pak, kontrak yang sudah saya siapkan dengan tuan Andhika. Bapak bisa periksa terlebih dahulu," ucap Ayana meletakkan dokumen tersebut.
Emir menghela nafas dan menegakkan posisi duduknya dengan melihat kontrak tersebut.
"Hmmmm, saya tadi tidak sempat membuat bekal jadi tidak ada makan siang dari rumah. Bapak mau dipesankan makanan apa makan di luar, karena tidak ada meeting bersama dengan klien di jam makan siang," ucap Ayana.
"Kalau begitu kamu pesankan saja," sahut Emir.
"Mau ayam bakar madu?" tanya Ayana menawarkan pada atasannya itu.
"Boleh," jawab Emir.
"Baik. Pak, kalau begitu Saya akan pesankan terlebih dahulu," ucap Ayana. Emir menganggukkan kepala dan memeriksa kembali dokumen tersebut.
Bersambung.....