"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simponi Jam Mati
Museum Antik "Kala" berdiri kaku di sudut kota yang terlupakan. Arsitekturnya yang bergaya kolonial tampak seperti rahang raksasa yang siap menelan siapa pun yang berani melintasi ambang pintunya. Tepat pukul delapan malam, Kiara, Reyhan, dan Rendy melangkah masuk.
Suasana di dalam museum itu menyesakkan. Ribuan jam dinding kuno yang memenuhi aula utama berdetak secara acak, menciptakan simfoni detak jantung yang saling berkejaran. Baunya ganjil—campuran antara kayu lapuk, debu tebal, dan aroma amis yang sangat segar.
"Baunya... berasal dari sana," bisik Kiara. Matanya yang menyala biru redup menunjuk ke arah sebuah peti kaca di tengah aula yang tertutup kain beludru hitam.
Rendy melangkah maju, membiarkan kameranya menggantung tak terpakai. Tangannya gemetar saat menyentak kain itu hingga terjatuh ke lantai. Di dalam peti kaca itu, tidak ada emas atau artefak kuno. Hanya ada satu gulungan besar benang merah yang berdenyut.
Benang itu tidak transparan. Ia nyata, setebal urat nadi manusia, dan permukaannya basah oleh cairan merah kental yang terus merembes keluar.
"Ini dia..." suara Rendy tercekat. Ia memberanikan diri menyentuh permukaan kaca peti itu. Seketika, matanya memutih. "Aku melihatnya... Benang ini bukan ditenun dari sutra. Ini ditenun dari sumpah darah seorang pengkhianat ribuan tahun lalu. Ini adalah Induk dari Segala Kematian."
"Rey, menjauh!" teriak Kiara tiba-tiba.
KLAK!
Secara serentak, ribuan jam di dinding museum berhenti berdetak. Keheningan yang tercipta begitu pekak hingga telinga mereka berdenging. Dari kegelapan langit-langit museum yang tinggi, sesosok bayangan turun dengan perlahan, bergantung pada untaian benang merah yang menjuntai dari atap seperti usus yang terburai.
Sang Penenun. Kali ini, wujudnya jauh lebih besar. Ia mengenakan jubah koyak yang terbuat dari ribuan helai rambut manusia. Di tangan kanannya, ia memegang sepasang gunting karat raksasa yang panjangnya hampir menyentuh lantai. Bunyi logam yang bergesekan saat ia membuka gunting itu terdengar seperti jeritan wanita yang tersiksa.
"Benang... asli... butuh... pemilik... baru..." geram Penenun itu.
Gunting itu terayun cepat ke arah Reyhan. Wussh! Reyhan berguling di lantai, nyaris kehilangan kepalanya. Kiara mencoba melemparkan api biru dari tangannya, namun ia terhuyung. Penglihatannya mulai kabur; terlalu banyak kematian yang ia saksikan malam ini menguras sisa tenaganya.
Penenun itu kembali mengarahkan gunting raksasanya ke dada Reyhan yang masih terpojok di dekat rak keramik kuno. Saat mata gunting itu mulai mengatup, Reyhan tidak menutup mata. Ia mencengkeram pergelangan tangannya sendiri yang terasa seolah sedang dibakar api suci.
BLARR!
Cahaya putih menyilaukan meledak dari telapak tangan Reyhan. Garis putih di kulitnya kini bersinar terang, membentuk simbol pelindung yang menghantam bilah gunting karat tersebut. Logam tua itu seketika retak, berubah menjadi abu putih di bawah tekanan tangan Reyhan.
Penenun itu terlempar mundur, mengeluarkan suara lengkingan kemarahan. Namun, ia tidak berhenti. Matanya yang hitam total menatap Kiara dengan sisa tawa yang mengerikan.
"Potong satu... seribu lagi tumbuh..." bisiknya parau. "Benang Merah Asli... sudah menemukan rumahnya."
Kiara merasakan pergelangan tangannya mendadak panas membara. Ia menunduk dan terpekik horor. Benang merah di pergelangannya tidak lagi meneteskan darah ke lantai, melainkan merambat masuk ke bawah kulitnya, tersambung langsung dengan gulungan benang di dalam peti kaca itu melalui udara.
"Rey..." suara Kiara bergetar hebat. "Benang ini... dia masuk ke dalam tubuhku."
Di balik peti kaca, benang merah purba itu mulai berdenyut semakin kencang, seirama dengan detak jantung Kiara yang kini dipenuhi rasa sakit yang tak terbayangkan. Kiara bukan lagi hanya penonton; dia telah terpilih menjadi bagian dari anyaman maut itu.