Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Lampu gantung kristal yang melingkar megah di langit-langit ruang makan privat Hotel St. Regis Manhattan memantulkan cahaya keemasan yang hangat, namun atmosfer di sekeliling meja panjang berbahan kayu mahoni itu terasa sedingin es sisa badai semalam.
Aroma hidangan fine dining prancis— dengan reduksi beri dan wagyu berbaur dengan wangi parfum kelas atas yang memabukkan udara.
Di meja ini, dua dinasti besar New York duduk bersama, merayakan sebuah persatuan yang di mata publik adalah dongeng modern, namun di balik layar adalah sebuah tragedi yang dirancang dengan sangat rapi.
Adiba Abbey duduk di sisi kanan Raynazh Leon Osborn. Gaun sutra merah menyala yang dikenakannya malam ini melekat sempurna pada tubuhnya yang ramping, memberikan kesan berani, elegan, dan sangat dominan.
Potongan leher gaun itu sedikit rendah, sengaja mengekspos tulang selangka Adiba yang indah.
Dan di sanalah tanda itu berada.
Sebuah bercak kemerahan kecil, sedikit keunguan di bagian tepinya, tercetak jelas di atas kulit bahu Adiba yang putih pias.
Tanda itu tidak bisa disembunyikan oleh sapuan foundation tipis yang sengaja Adiba baurkan dengan asal-asalan. Itu adalah jejak kepemilikan yang ditinggalkan secara brutal dan penuh gairah di dalam kamar remang.
Raynazh yang duduk di sampingnya seketika mengetatkan rahangnya hingga urat-urat di lehernya menegang.
Sepasang matanya menatap nanar ke arah tanda kemerahan tersebut. Di bawah meja, tangan Raynazh mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar menahan amarah, rasa malu, serta kehancuran ego yang teramat dalam.
Setiap kali dia melihat tanda itu, bayangan adiknya yang berdiri tanpa busana di sisi ranjang pengantinnya kembali berputar seperti kaset rusak di dalam kepalanya, merobek-robek harga dirinya sebagai seorang suami dan seorang pria.
Di seberang meja, Louis Enver Osborn duduk dengan menyandarkan punggungnya secara urakan pada kursi berukir emas.
Mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka tanpa dasi—sangat kontras dengan Raynazh yang mengenakan setelan tuksedo tiga potong yang sempurna—Louis tampak seperti anomali di tengah formalitas yang mencekik ini.
Mata elang abu-abu milik Louis tidak sengaja menangkap bias cahaya yang jatuh di bahu Adiba. Detik itu juga, gerakan tangannya yang sedang memutar-mutar gelas wiski terhenti.
Tatapannya terpaku pada tanda kemerahan itu. Dada Louis sedikit terusik; ada letupan emosi asing yang bergejolak di dalam dirinya.
Dia tahu betul siapa yang membuat tanda itu. Dia ingat bagaimana jemarinya mencengkeram bahu itu semalam, bagaimana kulit Adiba terasa begitu hangat di bawah kendalinya.
Ada rasa bersalah yang kembali mencuat, namun bercampur dengan ketegangan aneh yang membuat napasnya mendadak terasa berat.
Louis dengan cepat mengalihkan pandangannya keluar jendela, menatap lampu-lampu Manhattan untuk mengusir kegilaan yang mulai merayap kembali ke otaknya.
Namun, ketegangan yang merayap di antara ketiga anak muda itu sama sekali tidak disadari oleh orang tua mereka.
"Lihatlah mereka, Arthur. Putriku tampak begitu bersinar malam ini," ucap kakek atau ayah Adiba, Richard Abbey, dengan senyuman yang teramat hangat menghiasi wajah paruh bayanya.
Beliau menatap Adiba dengan binar kebanggaan yang tak terbendung. "Aku tahu Raynazh adalah pria yang tepat untuk menjaganya."
Ibu Adiba ikut mengangguk setuju, menggenggam tangan suaminya dengan penuh kebahagiaan. "Benar. Sejak mendarat di New York dari Paris minggu lalu, aku tidak melihat Adiba berhenti tersenyum. Pernikahan ini benar-benar membawa kebahagiaan yang luar biasa untuknya."
Mendengar pujian itu, Adiba perlahan menoleh ke arah orang tuanya.
Bibirnya melengkung, membentuk sebuah senyuman yang teramat manis, hangat, dan tampak begitu tulus di mata siapa pun yang melihatnya.
Dia tersenyum terus-menerus sepanjang acara, mengangguk anggun menerima setiap ucapan selamat, mengonfirmasi kepada dunia bahwa dia adalah pengantin baru yang paling bahagia di seluruh penjuru kota New York.
Namun, jika ada yang berani menatap lebih dalam ke sepasang manik mata hitam milik Adiba, mereka hanya akan menemukan kekosongan yang mematikan. Senyuman itu adalah topeng terbaik yang pernah dia ciptakan.
Di balik bibir yang tersenyum manis itu, Adiba sedang menikmati setiap detik penderitaan Raynazh yang duduk membeku di sampingnya, menghirup aroma ketakutan suaminya yang berbaur dengan sampanye mahal.
Di kepala meja, Arthur Osborn mengetuk gelas kristalnya dengan sendok perak, menarik perhatian semua orang. "Ini adalah awal dari era baru bagi Osborn Group dan Abbey Enterprises. Aliansi ini tidak boleh terguncang oleh apa pun. Saham kita naik lima persen sejak siaran pers pernikahan kalian kemarin sore," ucap Arthur dengan suara beratnya yang penuh otoritas, matanya melirik tajam ke arah Louis, memberikan peringatan terselubung agar anak bungsunya itu tidak membuat kekacauan.
Di sela-sela obrolan bisnis yang mulai mengalir berat antara Arthur dan Richard, Louis merasa atmosfer di dalam ruangan itu semakin mencekik lehernya. Dia tidak bisa berada di sana lebih lama lagi tanpa meledak.
Louis mendorong kursinya ke belakang dengan bunyi derit pelan yang sempat memutus pembicaraan sejenak.
"Aku izin ke balkon luar sebentar. Ingin merokok," ucap Louis datar tanpa menunggu persetujuan dari ayahnya.
Dia berbalik dan melangkah lebar menuju pintu kaca besar yang menghubungkan ruang makan privat dengan balkon terbuka yang menghadap langsung ke arah gemerlap Fifth Avenue yang tertutup salju.
Arthur hanya mendengus melihat kelakuan putranya yang dianggap tidak sopan, sementara Raynazh hanya bisa diam, berpura-pura memotong daging di piringnya dengan tangan yang masih gemetar.
Adiba memperhatikan setiap jengkal pergerakan Louis. Detak jantungnya yang semula teratur di balik topeng ketenangannya, mendadak berdegup dengan ritme yang liar begitu sosok maskulin itu menghilang di balik tirai balkon. Ini waktunya, batin Adiba.
Dengan gerakan yang sangat anggun, Adiba meletakkan serbet sutranya di atas meja.
Dia menoleh ke arah Raynazh, lalu berbisik dengan suara yang cukup keras agar bisa didengar oleh orang tuanya yang berada di seberang meja. "Ray, aku ke kamar mandi sebentar untuk merapikan riasan wajahku."
Raynazh hanya mengangguk kaku, tidak berani menatap mata istrinya. "Jangan lama-lama, Sayang," jawab Raynazh dengan suara yang dipaksakan terdengar mesra di depan mertuanya.
Adiba berdiri, memberikan senyuman hangat terakhir kepada ayah dan ibunya sebelum melangkah pergi. Namun, alih-alih berjalan menuju toilet di koridor dalam, langkah kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi beludru hitam itu justru berbelok dengan pasti menuju pintu kaca balkon luar.
...****************...
Hawa sedingin es langsung menusuk kulit bahu Adiba yang terbuka begitu dia mendorong pintu kaca dan melangkah ke area balkon. Angin malam Manhattan berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya yang panjang.
Di ujung balkon, bersandar pada pagar pembatas besi hitam, Louis berdiri membelakangi pintu. Setitik api merah menyala di ujung rokok yang dijepit di antara jemarinya, mengepulkan asap putih tipis yang langsung buyar disapu angin malam New York.
Mendengar suara ketukan sepatu hak tinggi di atas lantai marmer yang licin karena sisa salju, Louis tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa yang datang. Wangi parfum mawar yang memabukkan itu sudah cukup untuk memberi tahu indra penciumannya.
"Untuk apa kau ke sini? Kamar mandi bukan di arah sini, Kakak Ipar," ucap Louis, suaranya terdengar sangat dingin dan serak, sengaja menekankan kata 'Kakak Ipar' sebagai tamparan untuk dirinya sendiri dan wanita di belakangnya.
Adiba melangkah perlahan hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah. Dia berdiri di samping Louis, membiarkan angin dingin Manhattan membekukan permukaan kulitnya, namun di dalam dadanya... sebuah badai yang jauh lebih panas sedang mengamuk.
Melihat profil samping wajah Louis dari jarak sedekat ini—rahang tegasnya yang ditumbuhi rambut-rambut halus tipis, hidung mancungnya, dan sepasang mata elang abu-abu yang selalu menatap dunia dengan sinis—membuat jantung Adiba berdebar-debar begitu hebat.
Dada wanita itu naik turun dengan tidak teratur. Denyut nadinya berpacu liar, mengirimkan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh aliran darahnya.
Ini adalah pria yang dia puja selama bertahun-tahun. Ini adalah pria yang semalam telah menyatukan jiwa dan tubuh dengannya.
Berada sedekat ini dengan Louis selalu membuat seluruh kewarasan Adiba yang tersisa menguap tak berbekas.
Namun, Adiba adalah seorang aktris yang teramat ulung dalam panggung sandiwara ini. Dia menekan kuat-kuat debaran gila di dalam dadanya, menggantinya dengan kilat mata yang memancarkan kebencian mendalam yang dibuat-buat dengan sangat sempurna.
"Kau pikir aku sudi berada di dekatmu, Louis?" Adiba bersuara, nadanya bergetar oleh amarah yang dikondisikan. Dia menatap Louis dengan pandangan mematikan. "Aku ke sini hanya untuk memastikan satu hal. Aku ingin kau tahu betapa aku sangat membencimu. Menjijikkan sekali melihatmu duduk di meja yang sama dengan keluargaku setelah apa yang kau lakukan padaku semalam."
Louis membuang napasnya kasar, menghirup dalam-dalam asap rokoknya sebelum membuangnya ke udara bebas.
Dia berbalik, menyandarkan pinggulnya pada pagar besi, menatap Adiba dari atas ke bawah dengan tatapan elangnya yang mengintimidasi. Matanya kembali terpaku pada tanda kemerahan di bahu Adiba yang kini bergetar karena dingin dan emosi.
"Kalau kau begitu membenciku, mengapa kau tidak melaporkanku ke polisi semalam, Adiba?" tanya Louis dengan nada meremehkan, meskipun di dalam hatinya ada rasa penasaran yang teramat besar yang terus mengusik ketenangannya sejak siang tadi.
"Kau punya semua kartu untuk menghancurkanku. Kau bisa membuatku membusuk di penjara Manhattan. Tapi kau justru memilih untuk menunda perceraian dan membiarkan kakakku memohon di kakimu. Permainan apa yang sedang kau mainkan?"
Adiba maju selangkah, membuat jarak di antara mereka terkikis hingga Louis bisa mencium wangi napas wanita itu yang beraroma beri.
Di dalam hati Adiba, debaran itu kian menggila, seolah-olah jantungnya ingin melompat keluar dari rongga dadanya karena kedekatan fisik ini. Namun, wajah Adiba tetap mengeras, menampilkan ekspresi kemarahan seorang korban yang terluka.
"Melaporkanmu ke polisi? Itu terlalu mudah untuk binatang sepertimu, Louis," desis Adiba, suaranya rendah namun tajam menembus bisingnya angin New York.
"Jika aku melaporkanmu sekarang, nama baik keluargaku akan ikut hancur di tangan media. Aku tidak akan membiarkan kebejatanmu keluargamu merusak apa yang telah dibangun oleh orang tuaku!"
Adiba menunjuk tepat ke dada Louis dengan jari telunjuknya yang gemetar—gemetar karena menahan gejolak cinta gila yang membakar batinnya.
"Aku ingin kau merangkak di Brooklyn seperti anjing yang diasingkan. Dan untuk kakakmu yang pengecut itu... aku akan memastikan hidupnya bersama denganku selama enam bulan ke depan akan menjadi neraka yang paling jahanam. Aku membenci setiap jengkal dari dinasti Osborn, dan aku akan melihat kalian berdua hancur berkeping-keping dengan tanganku sendiri!"
Louis menatap mata Adiba dengan lekat. Ada sesuatu yang janggal yang dia tangkap dari balik untaian kata-kata penuh kebencian wanita itu.
Sorot mata Adiba... terlalu intens. Terlalu pekat. Itu bukan sekadar tatapan seorang wanita yang dendam karena telah dilecehkan.
Ada sebuah kegelapan yang jauh lebih dalam, sebuah rahasia yang tersembunyi di balik dinding kebencian yang dibangun wanita ini.
Louis meraih pergelangan tangan Adiba yang sedang menunjuk dadanya. Cengkeramannya kuat namun tidak menyakiti.
Detik itu juga, Adiba merasa seluruh tubuhnya seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Debaran di dadanya kian tak terkendali, membuat napasnya tertahan di tenggorokan.
"Kau membenciku, tapi matamu tidak bisa berbohong, Adiba Abbey," bisik Louis, wajahnya mendekat ke telinga Adiba, membuat embusan napas hangatnya menerpa kulit leher Adiba yang meremang.
"Ada sesuatu yang kau sembunyikan di balik semua kemarahan ini. Dan aku bersumpah, selama enam bulan pengasinganku di Brooklyn... aku akan mencari tahu apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan terhadap keluargaku."
Adiba menarik tangannya dengan sentakan kasar, memutus kontak fisik yang hampir membuat pertahanannya runtuh ke dalam pelukan pria itu. Dia mundur selangkah, menata kembali topeng kebenciannya yang sempat retak selama beberapa detik.
"Cari tahu saja sesukamu, Louis," ucap Adiba dengan senyuman sinis yang kembali terukir di bibirnya. "Tapi ingat satu hal... saat kau berhasil menemukan jawabannya, semuanya sudah terlambat. Neraka untuk kalian berdua sudah resmi dimulai malam ini."
Adiba berbalik dengan anggun, membiarkan gaun merahnya mengayun tertiup angin malam saat dia melangkah kembali menuju pintu kaca, meninggalkan Louis yang masih terpaku di bawah guyuran salju tipis Manhattan dengan sejuta pertanyaan yang mulai menggerogoti pikirannya.