NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 5

Ternyata, takdir tidak membiarkan Andi beristirahat terlalu lama. Di dunia yang ia tinggalkan, kekosongan kekuasaan (power vacuum) adalah sebuah undangan bagi kekacauan yang lebih besar.

Tiga bulan setelah Rian mulai belajar di bengkel, sebuah insiden terjadi. Bukan di pelabuhan, bukan di gudang tua, melainkan di depan gerbang sekolah. Sebuah bus sekolah yang biasa menjemput anak-anak marjinal dicegat oleh sekelompok pria bermotor yang mengenakan jaket seragam baru: The Vipers.

Mereka tidak merampok. Mereka hanya meninggalkan sebuah pesan di kaca bus yang pecah, ditulis dengan cat semprot merah: "Cobra berutang nyawa, Viper menagih bunga."

Kebangkitan Sang Murid

Andi berdiri di depan bus itu, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Di sampingnya, Rian menatap dengan mata menyala.

"Pak Andi, mereka menyentuh anak-anak. Kita tidak bisa diam saja," desis Rian. "Biarkan aku yang pergi. Aku tahu di mana mereka berkumpul."

Andi menoleh ke arah Rian. Ia melihat api yang sama yang dulu membakar dirinya. "Jika kau pergi sekarang, kau akan menjadi seperti aku sepuluh tahun lalu, Rian. Kau tidak akan bisa kembali."

"Tapi jika kita diam, mereka akan terus datang!" teriak Rian frustrasi.

Tiba-tiba, Andin muncul dari dalam sekolah. Wajahnya tenang, namun ada ketegasan yang belum pernah Andi lihat. "Andi, kali ini aku tidak akan memintamu untuk tetap di sini. Jika mereka mulai mengancam anak-anak, itu bukan lagi tentang masa lalumu. Itu tentang masa depan mereka."

Andin menyerahkan sebuah kunci kecil kepada Andi. Kunci loker tua di stasiun kereta yang selama ini Andi simpan "untuk berjaga-jaga".

Strategi Terakhir: Perang Informasi

Andi tidak langsung menyerang markas The Vipers. Ia tahu Bara mengendalikan mereka dari penjara melalui instruksi tersembunyi. Andi memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Cobra sebelumnya: Menghancurkan reputasi, bukan nyawa.

Ia menemui Komisaris Wijaya di sebuah kedai kopi pinggiran.

"Mereka kembali, Pak Kompol. Dan mereka menggunakan anak-anak sebagai tameng," ucap Andi.

Wijaya menghela napas panjang. "Aku sudah menduganya. Bara punya akses ke dana gelap yang tidak bisa kami lacak. Tapi ada satu titik lemah: Logistik."

Wijaya menyerahkan sebuah berkas. "The Vipers mencoba mengambil alih jalur distribusi farmasi ilegal. Jika kau bisa membuktikan mereka terlibat dalam peredaran obat palsu yang meracuni warga sipil, aku punya alasan hukum untuk menyapu bersih mereka sampai ke akar-akarnya—termasuk memindahkan Bara ke penjara keamanan maksimum yang tidak punya akses komunikasi."

Operasi "Ganti Kulit"

Malam itu, Andi tidak bergerak sendirian. Ia melatih Rian bukan untuk bertarung, melainkan untuk menjadi "mata dan telinga". Dengan menggunakan keahlian teknis Rian dalam hal elektronik, mereka memasang kamera mikroskopis di gudang farmasi yang dicurigai.

Andi kembali mengenakan jaket kulit hitamnya untuk terakhir kalinya. Bukan untuk memimpin, tapi untuk menjadi umpan.

Ia berjalan sendirian ke wilayah kekuasaan The Vipers di Jakarta Utara. Puluhan motor mengepungnya di bawah lampu jalan yang remang.

"Cobra! Berani-beraninya kau menginjakkan kaki di sini!" teriak salah satu anggota Viper.

"Aku datang untuk bicara dengan Bara," ucap Andi tenang, sambil sengaja membelakangi mereka—memberi waktu bagi Rian untuk meretas server komunikasi mereka dari jarak jauh.

"Bara bilang kau sudah mati! Dan malam ini, kami akan memastikannya!"

Para Viper menerjang. Andi bertarung dengan gaya yang berbeda. Ia tidak lagi mengincar titik mematikan. Ia bergerak dengan presisi defensif, menjatuhkan senjata mereka dan mengunci gerakan lawan tanpa mematahkan tulang. Ia adalah "Dinding" yang tak tergoyahkan.

Di saat yang sama, Rian berhasil menyedot seluruh data transaksi digital The Vipers dan mengirimkannya langsung ke tablet Komisaris Wijaya yang sudah menunggu di ujung jalan.

Skakmat

Tiba-tiba, sirine polisi meraung dari segala penjuru. Helikopter kepolisian menyalakan lampu sorot tepat di tengah kerumunan.

"Operasi selesai!" teriak Wijaya melalui pengeras suara.

Para anggota The Vipers kocar-kacir, namun mereka sudah terkepung. Di saat yang sama, di dalam selnya, Bara baru saja akan mengirim pesan instruksi baru ketika layar ponsel selundupannya mendadak menampilkan wajah Andi.

"Permainan berakhir, Bara," ucap Andi melalui rekaman video live. "Kau ingin aku menjadi monster lagi agar kau merasa menang. Tapi kau lupa satu hal: Ular yang paling berbahaya adalah ular yang tahu kapan harus berhenti mematuk dan mulai menggunakan otaknya."

Sipir bersenjata lengkap masuk ke sel Bara, menyita ponselnya, dan menyeretnya keluar. Kali ini, Bara benar-benar akan dikirim ke lokasi yang tak terjangkau oleh siapa pun.

Warisan yang Sebenarnya

Fajar menyingsing di Jakarta Utara. Andi berdiri di atas jembatan, menatap matahari terbit. Rian berdiri di sampingnya, terlihat lemas namun bangga.

"Kita melakukannya tanpa harus membunuh siapa pun, kan Pak?" tanya Rian.

Andi tersenyum, lalu melepas jaket kulit hitamnya. Ia melemparkan jaket legendaris itu ke sungai di bawah mereka. Jaket itu tenggelam, terbawa arus menuju laut.

"Ya, Rian. Itu bedanya antara seorang bos mafia dan seorang manusia," sahut Andi.

Mereka berjalan pulang menuju sekolah. Di sana, Andin sudah menunggu dengan sarapan hangat. Sekolah itu kini benar-benar aman. Bukan karena ditakuti, tapi karena dilindungi oleh kebenaran yang lebih kuat dari rasa takut.

Andi "Cobra" tidak lagi ada. Yang tersisa hanyalah Andi, pria yang akhirnya bisa tidur nyenyak karena tahu bahwa di tangannya kini tidak ada darah, melainkan harapan bagi generasi setelahnya.

Ketenangan yang Andi rasakan ternyata hanya seumur jagung. Di sebuah kota sebesar Jakarta, penguasa lama yang tumbang selalu digantikan oleh "predator" baru yang lebih lapar. Kali ini, ancaman tidak datang dari masa lalu Andi, melainkan dari sebuah kekuatan korporasi yang jauh lebih dingin dan sistematis.

Ancaman Formal: Proyek "Glodok Baru"

Satu bulan setelah penangkapan massal The Vipers, sebuah surat pengosongan lahan tiba di sekolah marjinal. Surat itu tidak datang dari preman, melainkan dari PT. Delta Nusantara, sebuah pengembang raksasa yang didukung oleh modal asing. Mereka berencana meratakan seluruh kawasan pinggiran itu untuk membangun pusat logistik otomasi terbesar di Asia Tenggara.

"Sertifikat tanah kita asli, Andi," ucap Andin dengan tangan gemetar memegang dokumen. "Tapi mereka menggunakan celah 'Kepentingan Umum'. Pemerintah kota sudah menandatanganinya."

Andi menatap alat berat yang sudah terparkir hanya seratus meter dari gerbang sekolah. Di sana berdiri seorang pria bersetelan jas mahal dengan pengawal pribadi yang mengenakan seragam taktis.

"Cobra," panggil pria itu. Namanya Adrian, mantan perwira intelijen yang kini menjadi kepala keamanan PT. Delta. "Aku tahu sejarahmu. Tapi zaman sudah berubah. Kau tidak bisa melawan buldoser dengan kepalan tangan."

Andi melangkah maju, berdiri tepat di depan moncong buldoser. "Sekolah ini bukan sekadar tanah. Ini adalah harapan bagi anak-anak yang kau sebut 'kepentingan umum' itu."

Adrian tersenyum tipis. "Besok pagi, tempat ini akan rata dengan tanah. Jika kau melawan, kau akan masuk penjara bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai penghambat pembangunan negara. Pikirkan Andin, Andi."

Perlawanan Tanpa Kekerasan

Malam itu, markas sekolah menjadi pusat komando. Rian dan anak-anak didik lainnya ingin menyerang kamp para pekerja konstruksi, namun Andi mencegahnya.

"Jika kita menggunakan kekerasan, kita kalah sebelum bertarung," tegas Andi. "Mereka ingin kita terlihat seperti preman agar mereka punya alasan legal untuk mengusir kita."

Andi kemudian menghubungi Ratih, pengacara yang dulu membantunya. "Ratih, aku butuh lebih dari sekadar hukum. Aku butuh sorotan."

Andi dan Rian mulai bekerja sepanjang malam. Mereka tidak merakit bom, melainkan memasang puluhan kamera live streaming di seluruh sudut sekolah. Rian, dengan keahlian digitalnya, meretas jaringan iklan digital di pusat kota Jakarta.

Pagi yang Menentukan

Saat fajar menyingsing, buldoser mulai menderu. Adrian berdiri dengan angkuh, memberi aba-aba untuk bergerak. Namun, saat alat berat itu mulai maju, ribuan orang tiba-tiba muncul dari gang-gang sempit Jakarta Utara.

Mereka bukan preman. Mereka adalah orang tua murid, mantan buruh pelabuhan yang pernah dibantu Andi, dan warga sipil yang muak dengan penggusuran paksa. Mereka duduk bersila di depan gerbang, membentuk barisan manusia yang tak terputus.

Di saat yang sama, layar raksasa di Bundaran HI dan seluruh videotron di Jakarta menampilkan siaran langsung dari sekolah marjinal tersebut. Suara Andin terdengar di seluruh penjuru kota, menceritakan kisah anak-anak yang akan kehilangan satu-satunya tempat belajar mereka.

"Lihat ke kamera, Adrian," bisik Andi yang berdiri di barisan paling depan. "Seluruh dunia sedang menonton. Jika kau menabrak satu orang saja di sini, PT. Delta akan hancur sebelum sempat membangun apa pun."

Adrian panik. Ia melihat ke arah ponselnya yang terus berdering dari atasannya. Citra perusahaan jatuh dalam hitungan menit. Saham PT. Delta anjlok karena protes publik yang masif di media sosial.

Kemenangan Rakyat

Pukul 10 pagi, perintah penundaan penggusuran turun dari kantor gubernur. Tekanan publik terlalu besar untuk diabaikan. Adrian terpaksa memerintahkan buldoser untuk mundur.

Warga bersorak. Rian memeluk Andi dengan haru. "Kita menang, Pak!"

Namun, di tengah sorak-sorai itu, Andi melihat Adrian menatapnya dengan penuh kebencian sebelum masuk ke mobilnya. "Ini belum selesai, Andi. Kau mungkin memenangkan opini publik, tapi kau baru saja menjadikan dirimu musuh dari orang-orang yang jauh lebih kuat dari sekadar mafia pelabuhan."

Sebuah Rahasia Baru

Malam harinya, saat suasana mulai tenang, Andi menemukan sebuah amplop terselip di bawah pintu bengkelnya. Di dalamnya bukan ancaman, melainkan sebuah arsip data digital tua milik ayahnya yang sudah lama meninggal—seorang mantan buruh pelabuhan yang dulu tewas dalam sebuah "kecelakaan" kerja.

Di dalam arsip itu, terungkap bahwa lahan sekolah tersebut sebenarnya adalah milik sah sebuah yayasan pendidikan yang didirikan oleh ayahnya dan beberapa buruh lainnya, namun dokumennya dicuri oleh pendiri PT. Delta puluhan tahun lalu.

Andi menyadari bahwa pertarungannya dengan PT. Delta bukan sekadar tentang penggusuran, melainkan tentang keadilan bagi ayahnya.

"Andin," panggil Andi sambil menatap dokumen itu. "Sepertinya perjalananku untuk menjadi orang biasa masih harus menempuh satu tikungan lagi."

Andin menggenggam tangan Andi. "Ke mana pun tikungan itu membawamu, aku akan tetap di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!