Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Orang-Orang Ini Pantas Mati
Gadis itu memiliki siluet tubuh yang sangat anggun. Wajahnya yang tampak polos namun menggoda seketika menyulut gairah bejat Adrian yang sedang mabuk. Tatapannya seolah terpaku, tidak bisa lepas dari sosok Tania.
Ini benar-benar... kecantikan tingkat atas! Gadis ini jauh lebih memikat dibanding wanita mana pun yang pernah Adrian temui di tempat mana pun. Ia bahkan mulai menghitung-hitung dalam kepala, berapa harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kecantikan seperti ini.
Dalam pandangannya, wanita cantik mana pun yang muncul di tempat seperti ini hanyalah masalah harga.
"Wah, cewek ini beneran panas!"
Adrian tertawa aneh dan mendorong wanita di rangkulannya tadi tanpa rasa kasihan sedikit pun. Wanita itu terhuyung beberapa langkah dan hampir terjatuh, namun ia tidak berani protes, hanya bisa menatap Tania dengan penuh kebencian.
Tatapannya yang keruh menatap Tania dengan serakah. Adrian menjilat bibirnya yang tebal dan berjalan sempoyongan menghampiri. Beberapa rekan di belakangnya juga menyadari keberadaan Tania; mereka bersiul semakin keras dengan mata berkilat mesum, sementara kata-kata kotor mulai terdengar bersahut-sapa.
"Cantik, sendirian aja? Kesepian ya? Mau ditemenin abang-abang di sini biar seru?"
Adrian mencondongkan tubuhnya, dan napas yang berbau alkohol tajam bercampur parfum murah langsung menyembur ke wajah Tania. Tatapan berminyaknya menyapu lekuk tubuh Tania tanpa sopan santun, seolah sedang menelanjangi gadis itu lapis demi lapis.
Tania merasa mual luar biasa. Menekan rasa jijiknya, ia secara refleks mundur dua langkah untuk memberi jarak dan berkata dingin, "Minggir."
"Oh, galak juga ya!"
Melihat Tania menghindar, Adrian justru semakin bersemangat. Seringai mesum memenuhi wajahnya saat telapak tangannya yang kasar tiba-tiba menyambar dan mencengkeram pergelangan tangan Tania dengan kuat.
"Mau lari ke mana? Cantik, ayo ikut minum sama abang, dijamin kamu bakal puas!"
"Bener, Dik, jangan malu-malu! Kita bakal servis kamu dengan baik!"
"Kalau kamu ikut Bos Adrian, kamu bisa jalan tegak di Jakarta tanpa rasa takut! Apapun yang kamu mau, pasti dikasih!"
Pria-pria lain ikut mengerumuni, menutup jalan keluar Tania. Kata-kata kotor yang keluar dari mulut mereka sangat memuakkan, dan keserakahan di mata mereka seolah begitu nyata hingga terasa lengket di kulit.
Tania merasakan pergelangan tangannya sakit akibat cengkeraman tangan berminyak itu. Tekanannya begitu kuat hingga wajahnya seketika pucat. Ia meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan tangan itu, suaranya gemetar karena rasa jijik yang mendalam: "Lepaskan! Singkirkan tangan kotormu dariku!"
"Lepas? Cantik, kalau sudah masuk ke tanganku, kamu masih pikir bisa lari?"
Adrian menyeringai mengerikan, kekuatannya justru semakin bertambah. Ia mencengkeram lebih erat, kuku-kukunya yang kasar hampir melukai kulit halus Tania, meninggalkan bekas penghinaan yang nyata.
Rasa sakit dan perasaan terhina yang tak terlukiskan membanjiri hati Tania. Matanya memerah, air mata tertahan di kelopak matanya, namun ia memaksanya kembali, menolak untuk membiarkannya jatuh. Ia tahu menunjukkan kelemahan di depan orang-orang seperti ini hanya akan membuat mereka semakin jumawa.
Tepat saat itu, sebuah suara sedingin es membelah kebisingan seperti pedang tajam: "Lepaskan dia!"
Ketika Hans tiba, pemandangan itulah yang ia lihat. Tania-nya, gadis yang ia jaga sepenuh hati karena takut terluka dan ia manjakan dengan segala cara, kini sedang dikerumuni oleh sekelompok pria hidung belang.
Pergelangan tangannya yang seputih salju dicengkeram erat oleh tangan kotor yang berlemak, dan matanya yang bening, yang biasanya penuh senyum, kini digenangi air mata ketakutan yang hampir tumpah.
Kemarahan yang dahsyat meledak dari lubuk hati Hans, seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Tekanan udara di sekelilingnya merosot tajam, tatapannya begitu dingin hingga seolah membeku, dan udara di sekitarnya terasa mengeras.
Ia bergerak secepat kilat. Tanpa memberi waktu bagi pria itu untuk bereaksi, sebuah tinju yang membawa amarah besar menghantam keras wajah Adrian!
"Bugh!" Suara hantaman tumpul terdengar, diikuti bunyi gemertak tulang yang bergeser.
Adrian menjerit kesakitan, tubuh tambunnya terpental ke belakang seperti karung beras yang robek, menghantam lantai dengan keras. Darah segar langsung mengucur dari hidungnya, menodai lantai di bawahnya menjadi merah.
Sambil memegangi hidungnya yang berdenyut, Adrian merasa bintang-bintang menari di depan matanya; ia tidak bisa langsung berdiri.
Hans bahkan tidak melirik orang di lantai itu. Ia melangkah maju, menarik Tania yang gemetar ke dalam pelukannya, dan dengan lembut namun protektif menekan kepala gadis itu ke dadanya yang bidang dan hangat. Ia bisa merasakan dengan jelas betapa tubuh kecil dalam dekapannya itu bergetar hebat.
"Nia, tenang... jangan takut, ada aku di sini."
Suaranya rendah dan serak, membawa kendali emosi yang luar biasa dan rasa sakit di hati melihat gadisnya diperlakukan seperti itu. Ia dengan hati-hati mengangkat pergelangan tangan Tania, dan saat melihat bekas merah yang mencolok di sana, hawa dingin di matanya semakin pekat; niat membunuh hampir meluap dari dirinya.
Adrian, yang terkapar di lantai, mengerang kesakitan. Dengan bantuan rekan-rekannya, ia berhasil merangkak bangun sambil terhuyung. Rasa sakit yang hebat membuatnya cukup sadar, tapi yang ia rasakan lebih besar adalah rasa malu karena dipukul jatuh dengan sekali tinju di depan umum.
Ia meludahkan sisa darah dari mulutnya yang berisi gigi patah, lalu menunjuk ke arah Hans sambil memaki keras: "Bajingan! Berani-beraninya kamu pukul saya! Kamu tahu saya siapa? Kamu nggak mau hidup tenang lagi di Jakarta, hah?!"
Hans bertindak seolah tidak mendengar, ia terus fokus mengelus punggung Tania dengan lembut, menenangkannya perlahan: "Nggak apa-apa, sudah aman, aku di sini."
Tania bersembunyi dalam pelukan Hans yang akrab, menghirup aroma maskulin yang segar dari pria itu, dan sarafnya yang tegang tiba-tiba mengendur. Rasa sedih dan ketakutan yang sejak tadi ia tekan akhirnya meluap. Dengan suara serak karena menahan tangis, ia berbisik pelan: "Hans..."
Panggilan yang gemetar itu menghantam hati Hans seperti palu kecil, membuatnya sesak napas karena pedih.
Orang-orang ini... mereka semua pantas mati! Tak ada satu pun dari mereka yang boleh lolos!
Hampir secara bersamaan, suara langkah kaki yang seragam dan cepat terdengar dari segala arah. Belasan pengawal berjas hitam, dengan ekspresi dingin dan tubuh tegap, muncul dari setiap sudut seperti bayangan.
Dalam sekejap mata, mereka mengepung Adrian dan rekan-rekannya yang masih berteriak sombong. Gerakan mereka cepat dan terkoordinasi dengan baik. Sebelum para preman berjas itu sempat bereaksi, setiap pengawal sudah mencengkeram satu orang, memiting lengan mereka ke belakang, dan menggunakan lutut untuk menekan mereka kuat-kuat ke lantai yang dingin hingga tak bisa bergerak.
Pria-pria yang tadi berlagak sombong dan mengeluarkan kata kotor kini seperti bebek yang dicengkeram lehernya. Wajah mereka pucat pasi, rasa mabuk mereka hilang seketika, menyisakan ketakutan yang meresap hingga ke tulang. Baru saat itulah mereka menyadari bahwa mereka sepertinya telah memprovokasi seseorang yang benar-benar tidak boleh disinggung.
Hans melepaskan pelukannya pada Tania dengan lembut, namun tetap menggunakan lengannya untuk melindungi gadis itu di belakangnya, agar ia tidak perlu melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia berbalik perlahan. Tatapannya yang sedingin es mendarat tepat pada wajah Adrian yang kini ditekan kuat oleh pengawal dengan pipi menempel di lantai yang kotor. Tatapan itu tidak memiliki kehangatan sedikit pun, seolah-olah sedang menatap benda mati, atau seperti sedang memeriksa seonggok sampah yang akan segera dihancurkan sepenuhnya.