Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Setelah Maya Prayudha melangkah keluar dari Glass War Room dengan wajah kaku, Isvara tidak membiarkan satu detik pun berlalu untuk meratapi nyeri di dadanya. Ia berdiri, merapikan letak blazer-nya yang tidak berkerut sedikit pun, lalu memberikan isyarat tajam pada Sinta.
"Panggil tim kreatif ke ruang rapat utama. Sekarang!!," perintahnya. Suaranya tidak tinggi, namun memiliki vibrasi yang membuat Sinta segera bergerak tanpa bertanya.
Sepuluh menit kemudian, Isvara sudah berdiri di depan layar proyektor laser raksasa yang menampilkan rendering 3D proyek Grand Prayudha Resort Bali. Di ruangan itu, napas para staf terasa tertahan. Isvara berdiri dengan laser poin di tangan kanan, sementara tangan kirinya tersembunyi di saku celana kainnya meremas botol kecil obat jantungnya sebagai jangkar agar ia tetap tegak.
"Lihat area lobby lounge ini," Isvara memulai, suaranya dingin dan jernih. Mata elangnya menyisir setiap piksel pada layar. "Siapa yang bertanggung jawab atas penempatan lampu ambient di sudut kanan?"
Seorang desainer senior mengangkat tangan dengan ragu. "Saya Bu, Itu sesuai dengan permintaan awal divisi operasional Prayudha—"
"Aku tidak peduli apa yang diminta divisi operasional jika hasilnya menghancurkan estetika," potong Isvara tajam. "Lampu itu menciptakan bayangan yang terlalu keras pada marmer Statutario. Itu membuat material seharga ribuan dolar per meter terlihat seperti keramik murahan. Ganti dengan recessed lighting bersudut 30 derajat. Aku ingin cahaya itu membelai urat marmernya, bukan memukulnya."
Selama dua jam berikutnya Isvara membedah setiap inci proyek milik suaminya. Tidak ada kelemahan yang terlihat. Isvara adalah seorang komandan perang di dunia desain. Ia mengoreksi skema warna, jenis kain untuk sofa di presidential suite, hingga detail sambungan kayu jati pada furnitur lobi. Stafnya bekerja dengan kecepatan penuh, mencatat setiap instruksi seolah itu adalah sabda yang menentukan hidup dan mati karier mereka.
"Ingat," Isvara mematikan proyektor, membuat ruangan mendadak hening. "Adrian Prayudha adalah pria yang perfeksionis dan tidak memiliki belas kasihan pada kegagalan. Dan aku, sebagai desainer utama, tidak akan membiarkan nama firmaku tercoreng karena kecerobohan kalian. Selesaikan revisi ini dalam dua jam. Aku akan membawanya sendiri dokumen ini ke Prayudha Tower siang ini."
Pukul 13.00 tepat, Isvara melangkah keluar dari gedungnya. Sinta dan Rima berjalan di belakangnya seperti pengawal pribadi. Rima membukakan pintu SUV putih, sementara Sinta menyerahkan map kulit berisi dokumen final.
"Ibu yakin ingin pergi sendiri?" tanya Sinta pelan, matanya menyiratkan kecemasan yang hanya dipahami oleh mereka bertiga.
Isvara menatap Sinta dengan mata elangnya. "Aku tidak akan membiarkan Adrian atau Papanya berpikir bahwa aku takut menginjakkan kaki di sana hanya karena drama meja makan tadi pagi. Jaga kantor, Jika ada telepon dari keluargaku, abaikan."
"Baik nona." Jawab Sinta dan Rima kompak.
Isvara langsung masuk kedalam mobilnya dan mobil langsung meniggalkan Vora interior Desing kantor milik Isvara.
Perjalanan menuju Prayudha Tower adalah perjalanan penuh konsentrasi. Di dalam mobil yang kedap suara, Isvara memejamkan mata sesaat. Ia mengatur ritme napasnya, mencoba menenangkan jantungnya yang mulai berulah akibat kafein dan stres. Namun, beberapa saat kemudian mobil memasuki area perkantoran elit Sudirman, Isvara kembali bertransformasi. Ia memulas ulang lipstik merah gelapnya, memastikan tidak ada setitik pun pucat yang terlihat di bibirnya.
Prayudha Tower berdiri angkuh dengan fasad baja dan kaca yang mencerminkan kekuasaan keluarga itu. Saat Isvara melangkah masuk ke lobi utama yang megah, suasana mendadak berubah. Para staf dan sekuriti langsung berdiri tegak. Isvara adalah legenda hidup di gedung ini wanita yang berhasil menaklukkan Adrian Prayudha, namun juga wanita yang kabarnya sedang berada di ujung tanduk kekuasaan keluarga tersebut.
Isvara tidak berhenti di meja resepsionis. Ia berjalan langsung menuju lift VIP berbalut emas. Perjalanannya menuju lantai 50 lantai kekuasaan Adrian diikuti oleh tatapan segan dan bisikan halus para karyawan. Mereka melihat "The Ice Queen" sedang melakukan invasi.
Ting.
Pintu lift terbuka. Isvara melangkah keluar, tumit sepatunya berdentum di atas lantai granit kelabu yang maskulin. Sekretaris Adrian, seorang pria berkacamata bernama Reno, langsung berdiri dengan gugup.
"Selamat siang, Bu Isvara. Pak Adrian sedang dalam pertemuan internal, mungkin Ibu bisa menunggu di—"
"Aku tidak datang untuk menunggu, Reno," Isvara memotong sambil terus berjalan menuju pintu kayu jati besar di ujung lorong. "Beri tahu suamiku, desainer utamanya datang untuk menagih komitmennya atas proyek Bali."
Tanpa mengetuk, Isvara mendorong pintu ganda tersebut.
Di dalam ruangan yang sangat luas dan dingin itu, Adrian sedang berdiri menghadap jendela besar, menatap cakrawala Jakarta. Ia berbalik perlahan, wajahnya yang tampan terlihat kaku dan penuh kebencian yang tertahan saat melihat Isvara masuk.
"Kamu tidak punya sopan santun, Isvara," ucap Adrian rendah, suaranya seperti geraman singa yang terganggu.
Isvara meletakkan map kulitnya di atas meja kerja Adrian yang bersih dari debu.
Ia berdiri tegak, tidak ada tanda-tanda kelemahan atau rasa sakit yang baru saja ia rasakan di mobil. "Sopan santun adalah untuk tamu, Adrian. Aku datang sebagai mitra bisnismu. Maya bilang ibumu ingin merusak estetika hotelmu dengan material murah. Aku datang untuk memastikan kau tidak cukup bodoh untuk menyetujuinya."
Adrian melangkah mendekat, auranya yang mendominasi mencoba menekan Isvara. Namun Isvara tidak bergeming. Ia membalas tatapan Adrian dengan mata elangnya yang tajam. Di ruangan itu, dua kekuatan besar sedang beradu, dan Isvara menunjukkan bahwa meski jantungnya sedang sekarat, ia tetaplah penguasa di bidangnya yang tidak bisa Adrian remehkan begitu saja.
Aku sesak Isvara...