Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Celono Kolor lan Undangan Lurah
Pagi hari yang cerah di gubuk Arjuna mendadak bising karena suara terompet dan tabuhan kendang dari arah balai desa. Ternyata, Lurah Bagong lagi mengadakan pesta besar-besaran karena merasa menang taruhan judi balap lari di kecamatan sebelah. Semua warga desa diundang, kecuali keluarga Arjuna yang dianggap sampah masyarakat.
Siti Khumairoh sedang mencuci baju di sungai kecil samping gubuk, sedangkan Aminah Az-Zahra lagi asyik menyisir rambut panjangnya. Mereka berdua sebenarnya ingin sekali melihat keramaian itu, tapi mereka sadar diri kalau hanya akan dihina jika datang ke sana.
"Nduk, kowe pengen mangan sate neng nggone Pak Lurah po piye?" (Nduk, kamu ingin makan sate di tempatnya Pak Lurah apa gimana?) tanya Arjuna yang tiba-tiba muncul dari balik pohon pisang hanya memakai celana kolor pendek dan kaos oblong bolong-bolong.
Siti Khumairoh menoleh sambil mengusap keringat di dahinya. "Nyelenah sampean niku, Kang! Sinten sing ajeng ngundang awake dhewe? Pak Lurah wae nek ndelok kene koyo ndelok kotoran." (Nyeleneh Anda itu, Kang! Siapa yang mau mengundang kita? Pak Lurah saja kalau melihat ke sini seperti melihat kotoran.) jawab Siti agak sedih.
Arjuna tertawa terbahak-bahak sampai perutnya yang buncit sedikit bergoyang. "Hahaha! Ora usah nunggu diundang, Nduk. Awake dhewe sing bakal dadi tamu paling istimewa neng kono!" (Hahaha! Tidak usah menunggu diundang, Nduk. Kita yang bakal jadi tamu paling istimewa di sana!) seru Arjuna penuh percaya diri.
Aminah Az-Zahra ikut mendekat dengan wajah bingung. "Kang, sampean niku mboten nggadhah klambi apik. Masak ajeng moro nggone Lurah mung nganggo kolor ngeten?" (Kang, Anda itu tidak punya baju bagus. Masak mau datang ke tempat Lurah cuma pakai kolor begini?) protes Aminah sambil menunjuk celana Arjuna.
Arjuna hanya cengengesan sambil mengambil selembar daun pisang kering. "Klambi apik iku mung bungkus, Nduk. Sing penting isine. Ayo melu aku, ojo lali nggowo ember kosong siji." (Baju bagus itu cuma bungkus, Nduk. Yang penting isinya. Ayo ikut aku, jangan lupa bawa ember kosong satu.) ajak Arjuna sambil melangkah santai menuju balai desa.
Sesampainya di pinggir balai desa, orang-orang mulai berbisik dan tertawa mengejek melihat rombongan Arjuna. Lurah Bagong yang sedang duduk di kursi kehormatan langsung berdiri sambil berkacak pinggang karena merasa pestanya dikotori oleh kedatangan si orang gila.
"Heh, Jun! Wong gendheng kok wani-wanine mrene! Gek ndang bali, selak ambu prengus kabeh tamuku!" (Heh, Jun! Orang gila kok berani-beraninya ke sini! Cepat pulang, keburu bau prengus semua tamuku!) bentak Lurah Bagong dengan nada menghina.
Arjuna tidak marah, ia justru mendekati meja prasmanan yang penuh dengan makanan enak. "Pak Lurah, niki kulo ajeng njaluk sithik sate nggo bojoku. Masak sampean sugih ngeten mboten loman?" (Pak Lurah, ini saya mau minta sedikit sate buat istriku. Masak Anda kaya begini tidak dermawan?) tanya Arjuna dengan wajah bodoh.
Lurah Bagong tertawa jahat lalu mengambil sepiring sate sisa tulang dan membuangnya ke dalam ember kosong yang dibawa Aminah. "Iki! Panganan sing pantes nggo kowe mung sisa-sisa! Gek ndang lungo!" (Ini! Makanan yang pantas buat kamu cuma sisa-sisa! Cepat pergi!) gertak Lurah Bagong di depan tamu-tamu lainnya.
Siti dan Aminah merasa sangat terhina dan ingin menangis, tapi Arjuna justru tersenyum lebar. "Matur nuwun nggih, Pak Lurah. Mugo-mugo sate niki dadi barokah nggo kulo." (Terima kasih ya, Pak Lurah. Semoga sate ini jadi berkah buat saya.) ucap Arjuna tenang.
Begitu Arjuna membalikkan badan untuk pulang, sebuah keajaiban terjadi. Sate sisa tulang di dalam ember itu mendadak berubah menjadi kepingan emas murni yang berkilauan diterpa sinar matahari. Sebaliknya, semua makanan mewah di meja prasmanan Lurah Bagong tiba-tiba berubah menjadi tumpukan ulat dan kotoran ayam yang sangat bau.
"Walah! Iki opo! Kok sateku dadi ulat kabeh?!" (Walah! Ini apa! Kok sateku jadi ulat semua?!) teriak Lurah Bagong panik sambil mencoba membuang piring-piring di depannya.
Para tamu undangan langsung lari berhamburan karena tidak kuat dengan bau busuk yang tiba-tiba memenuhi balai desa. Sementara itu, Arjuna dan kedua istrinya berjalan pulang dengan tenang sambil membawa ember berisi emas.
"Nyelenah temenan sampean, Kang. Wong diwenehi sisa tulang kok malah dadi emas." (Nyeleneh beneran Anda, Kang. Orang dikasih sisa tulang kok malah jadi emas.) bisik Siti Khumairoh dengan hati yang sangat lega.
Arjuna hanya menyiuli kambing-kambingnya dari kejauhan. "Iku jenenge keadilan Gusti, Nduk. Sing sombong bakal nemu bosoke, sing sabar bakal nemu mulyone." (Itu namanya keadilan Tuhan, Nduk. Yang sombong bakal ketemu busuknya, yang sabar bakal ketemu mulianya.)
Sesampainya di rumah, Siti Khumairoh dan Aminah Az-Zahra masih terbelalak melihat isi ember yang tadinya berisi tulang sisa sate malah berubah menjadi kepingan emas murni yang berkilauan. Arjuna santai saja, ia malah duduk selonjoran di bawah pohon pisang sambil kipas-kipas menggunakan caping bambunya yang bolong.
"Kang, ini emas asli atau bukan? Kok bisa begini, ini Gusti Allah kasih rezeki atau cuma sulapan?" tanya Siti Khumairoh sambil mencoba menggigit salah satu kepingan emas tersebut untuk memastikan.
Arjuna tertawa cekikikan melihat tingkah istrinya. "Asli itu, Ning. Tidak usah digigit, keburu gigimu patah. Itu balasannya karena kamu sabar saat disakiti hatinya oleh Pak Lurah tadi," jawab Arjuna sambil mengedipkan matanya.
Aminah Az-Zahra yang biasanya pendiam, sekarang ikut semangat menghitung emas di dalam ember kayu tersebut. "Nyeleneh beneran Anda ini, Kang. Orang serakah jadi busuk, kita yang dihina malah jadi kaya mendadak," celetuk Aminah dengan senyum yang sangat manis.
Arjuna bangkit dari duduknya, lalu mendekati Ning Aminah dan Ning Siti dengan wajah yang sedikit lebih serius. "Dengar ya Ning, emas ini hanya menjadi cobaan. Jangan sampai emas ini membuat hatimu jadi sombong seperti Lurah Bagong tadi. Kalau kalian sombong, emas ini bakal berubah jadi batu lagi," pesan Arjuna dengan nada rendah.
Siti Khumairoh mengangguk mantap tanda setuju. "Tidak bakal, Kang. Saya malah ingin mengajak tetangga yang miskin supaya bisa makan enak semua. Iya kan, Ning Aminah?" tanya Siti kepada madunya.
"Benar sekali, Ning Siti. Kita harus tetap ingat asalnya dari gubuk bambu ini," jawab Aminah dengan rasa syukur yang sangat dalam di hatinya.
Namun, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara orang berteriak-teriak histeris. Ternyata Lurah Bagong datang sambil berlari-lari, bajunya masih tercium bau busuk dan wajahnya pucat pasi seperti mayat. Ia langsung bersujud di depan kaki Arjuna yang saat itu hanya memakai celana kolor.
"Jun! Tolong aku, Jun! Makanan di rumahku jadi ulat semua! Badanku gatal-gatal tidak karuan! Aku tahu kamu itu bukan orang sembarangan!" tangis Lurah Bagong tersungkur di tanah yang becek.
Arjuna hanya tersenyum konyol sambil menggaruk-garuk kepalanya yang berantakan. "Walah Pak Lurah, itu bukan karena saya. Itu karena sate yang Anda buang tadi mengadu kepada Gusti Allah. Kalau Anda ingin sembuh, mandilah di sungai sana pakai air bunga yang sudah layu," ledek Arjuna.
Lurah Bagong tidak berpikir panjang, ia langsung lari menuju sungai sambil melepas bajunya yang mahal itu. Orang-orang desa yang melihat kejadian itu langsung tertawa terbahak-bahak, karena Lurah yang sombong itu sekarang malah terlihat seperti orang gila beneran.
"Nyeleneh beneran nasibnya Pak Lurah, Kang. Sekarang malah jadi tontonan orang sedesa," ucap Ning Siti sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Pak Lurah.
Arjuna mengajak Ning Siti dan Ning Aminah masuk ke dalam rumah kembali. "Sudah, jangan dilihat saja. Ayo emas ini dibagi untuk orang miskin, sisakan sedikit saja buat kita beli tempe dan kopi. Yang penting berkah, Ning," ajak Arjuna sambil tertawa tenang.