(🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️)
"Aku tidak mau menceraikan Alexa Ma!" pekik Stevan, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu.
"Mama tidak meminta kamu untuk menceraikan Alexa! Tapi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan, Stevan! Karena saat ini, Emily tengah mengandung anak kamu!"
Duar!
Perkataan Nyonya Eta Raven, ibu kandung Stevan sekaligus ibu mertua Alexa bagaikan petir yang menyambar Alexa di pagi hari. Alexa mematung di tempat menatap pertengkaran mereka tanpa mengeluarkan suara. Jantungnya terus berdetak kencang tanpa henti, membuat Alexa tiba-tiba merasakan sesak nafas. Pandangannya pun perlahan kabur dan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon medusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~05.
...🔥🔥🔥🔥...
...(Keesokan harinya)...
...Malam harinya di dalam kamar, Alexa duduk di depan meja rias menatap pantulan dirinya tersenyum miris. Dulu ia selalu berdandan cantik untuk menyambut kepulangan Stevan dari perjalanan bisnis, tapi kali ini berbeda....
"Nasih sudah menjadi bubur, aku harus siap menghadapinya."
...Alexa bangkit, memperbaiki dress seksi berwarna merah yang disiapkan oleh Stevan, lalu berbalik berjalan pergi menuju pintu kamar....
Ceklek.
"Sayang, kamu dan dia tidak akan melakukan apa-apa 'kan sama dia?"
"Iya, cup."
"Cih, menjijikan."
...Alexa membuang wajah ke arah lain saat Stevan mendaratkan ciuman mesra di kening Emily. Ia begitu muak melihat sandiwara mereka yang semakin hari, semakin menjadi-jadi....
"Sayang, hentikan. Ada Alexa disini, aku takut, nanti dia marah," bisik Emily mendorong pelang dada bidang Stevan menjauh.
"Ehem, kau sudah siap?" tanya Stevan menatap Alexa.
"Sudah dari tadi," balas Alexa cuek.
"Tuh 'kan dia marah, sayang." Emily dengan sengaja memeluk Stevan dengan wajah ketakutan.
"Kau-"
"Sudah," potong Stevan menghentikan Alexa yang ingin protes."Kita harus pergi sekarang."
"Huh!"
...Alexa mendengus kesal berjalan pergi melalui mereka menuju anak tangga begitu saja. Dalam hati ia terus mengutuk tanpa henti demi melepaskan kekesalannya, sambil menuruni anak tangga menuju lantai dasar....
"Lakukan tugasmu," bisik Nyonya Eta, diam-diam memantau Alexa yang sedang berjalan menuruni anak tangga."Pastikan malam ini wanita mandul itu tidak akan pulang untuk selamanya," lanjutnya lagi disertai seringai licik.
"Tentu saja Nyonya," sahut seorang pria dari seberang ponsel.
"Bagus." Nyonya Eta pun mengakhiri panggilan.
*
*
*
...(Di klub' malam)...
...Saat pintu klub malam terbuka lebar, Alexa segera menutup hidung dan telinga. Bagaimana tidak? Bau alkohol dan musik yang keras langsung menusuk telinga dan hidungnya. Kini ia baru tau penampakan klub malam yang sering dibicarakan oleh temannya, kalau ini adalah surga....
"Surga apaan? Bau dan ribut begini," gerutu Alexa dalam hati menatap orang-orang yang tengah asik berjoget di bawa lampu disko dengan tatapan nyeri.
"Ayo," ucap Stevan meraih lengan Alexa, membawanya berjalan masuk menuju anak tangga yang terhubung ke lantai atas, dimana para tamu spesial seperti para pebisnis berada.
...Sepanjang perjalanan, Alexa beberapa kali disentuh oleh pria mabuk, membuat Alexa menjadi takut tanpa sadar meremas lengan Stevan. Tapi Stevan mengabaikannya dan terus menariknya pergi dengan kasar....
Ceklek.
"Selamat datang kawan!"
"Ayo silahkan bergabung."
...Para rekan Stevan bahagia menyambut mereka, sambil menuangkan minuman keras di dua gelas yang kosong. Stevan mengangguk kecil menarik Alexa masuk menuju ke arah seorang pria tua berperut buncit yang sedang di kelilingi oleh beberapa wanita penghibur....
"Ini pesanan mu."
Swos.
Bruk.
...Stevan melempar Alexa ke arah pria tua itu seolah Alexa hanyalah barang dagangan di matanya. Dengan sigap, pria itu itu segera menangkap Alexa masuk ke dalam pelukannya sambil tertawa girang....
"Bagus, sangat bagus sekali. Aku suka hadiah yang kamu beri Tuan Stevan," kata pria tua itu membelai pipi Alexa.
"Tidak perlu berterima kasih. Kesenangan Anda, adalah tanggung jawabku," kata Stevan dingin, ia berbalik melangkah pergi duduk di sofa lain, dan mulai menikmati minuman keras yang disajikan oleh temannya.
"Tu-Tuan, bisakah saya duduk di sofa kosong itu?" pinta Alexa gugup bercampur takut, ia nampak tak berlama-lama berada di pangkuan pria tua itu.
"Boleh saja cantik. Asalkan kamu minum ini dulu," ujar pria tua itu meraih gelas berisi minuman keras, menyodornya ke arah Alexa.
...Melihat gelas berisi minuman keras itu, Alexa menelan ludah dengan kasar, akan tetapi memikirkan perkataan dan perlakukan Stevan, minuman keras ini tidak terlalu menakutkan lagi, bagi Alexa....
"Baik." Alexa mengangguk kecil, meraih gelas itu dengan tangan gemetar, kemudian meneguknya hingga kandas."Su-sudah Tuan," ucap Alexa, kedua pipinya mulai memerah merona akibat efek minuman keras itu.
"Bagus, aku suka wanita yang patuh seperti kamu manis," bisik pria tua itu mengambil gelas yang sudah kosong dari tangan Alexa, lalu menyimpannya diatas meja.
"Ka-kalau begitu-"
"Tunggu Manis, kenapa buru-buru?" potong pria tua itu menggeserkan rambut Alexa yang terurai ke samping, lalu mendekatkan bibirnya ke arah leher Alexa, membuat jantung Alexa serasa mau copot dari tempat akibat takut."Aroma mu sangat menakjubkan manis, membuatku ingin sekali melemparmu ke ranjang saat ini juga, lalu melahap mu hingga pagi," bisik pria tua itu hendak mencium leher Alexa.
"Tunggu, aku duduk disini dulu." Cepat-cepat Alexa berpindah tempat duduk, sambil mencoba menenangkan jantungnya yang tak henti berdetak kencang.
"Hahahaha! Setelah dia selesai giliranku ya? Soalnya wanita yang kau bawa ini sangat cantik dan seksi." Rekan kerja Stevan menatap Alexa dari kaki hingga kepala sambil menjilati ujung bibirnya.
"Aku juga." Rekan kerja Stevan yang lain tak mau kalah.
"Santai, malam ini, kalian semua akan mendapatkan bagian."
...Stevan meneguk minuman keras itu dengan santai, mengabaikan Alexa yang hampir menangis akibat terus di sentuh dan di raba oleh pria tua itu....
...(Bersambung)...