NovelToon NovelToon
Sekte Aliran Abadi

Sekte Aliran Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dan budidaya abadi / Sistem
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
​Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
​Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5 tarian maut di tepj jurang

​Udara di halaman Sekte Aliran Abadi seolah membeku, bukan karena salju, melainkan karena niat membunuh yang memancar dari tubuh Tetua Ma. Sebagai praktisi Qi Condensation Tingkat 3, Tetua Ma memiliki jumlah Qi yang tiga kali lebih banyak dan jauh lebih padat daripada Su Lang. Tekanan mental yang ia lepaskan membuat Li Yun yang mengintip dari balik pintu dapur jatuh terduduk, napasnya tersengal seolah ada batu besar yang menindih dadanya.

​Su Lang berdiri diam. Jantungnya berdegup kencang, namun pikirannya sangat jernih. Dia tahu bahwa dalam dunia kultivasi, setiap tingkat perbedaan dalam ranah Qi Condensation adalah perbedaan kekuatan fisik dan kecepatan yang signifikan. Menghadapi Tingkat 3 secara frontal adalah tindakan bunuh diri.

​"Serahkan teknik gerak itu, dan aku akan memberikanmu kematian yang cepat," Tetua Ma berkata dengan suara rendah, kipasnya kini terselip di pinggang. Matanya yang sipit berkilat penuh keserakahan.

​Su Lang tidak menjawab. Dia hanya mengatur napasnya, mengalirkan benang Qi yang tipis ke kakinya.

​"Sombong!"

​Tetua Ma melesat maju. Gerakannya kasar namun sangat bertenaga. Dia menggunakan teknik "Telapak Besi Penghancur"—salah satu teknik andalan Sekte Besi Hitam. Tangannya berubah warna menjadi abu-abu kusam, sekeras logam, dan menghantam ke arah dada Su Lang.

​Langkah Bayangan Awan!

​Su Lang berputar di tumitnya. Tubuhnya miring ke kiri secara tidak alami, membuat telapak tangan Tetua Ma meleset hanya beberapa inci dari jubahnya. Angin dari serangan itu cukup kuat untuk merobek kain jubah Su Lang yang memang sudah lapuk.

​"Hah?" Tetua Ma terkejut untuk kedua kalinya. "Bocah tingkat satu sepertimu bisa membaca gerakanku?"

​Tetua Ma tidak tahu bahwa Su Lang tidak hanya mengandalkan mata. Dengan bantuan sistem, Su Lang bisa melihat "garis aliran energi" yang samar saat musuhnya mengumpulkan Qi. Itulah keuntungan dari memiliki sistem yang terikat pada jiwa—persepsinya melampaui tingkat kultivasinya.

​Tetua Ma menggeram, serangannya menjadi lebih cepat. Dia mengirimkan serangkaian pukulan beruntun. Setiap pukulan menghancurkan udara, menimbulkan suara ledakan kecil.

​Brak! Brak! Brak!

​Su Lang terus menghindar. Dia tampak seperti daun kering yang tertiup angin kencang; selalu berada di tepi kehancuran, namun entah bagaimana selalu berhasil lolos. Namun, Su Lang tahu ini tidak akan bertahan lama. Setiap kali dia menggunakan Langkah Bayangan Awan, cadangan Qi di Dantian-nya terkuras cepat.

​"Sistem! Tingkatkan Langkah Bayangan Awan menggunakan Poin Dedikasi!" Su Lang berteriak dalam hati.

​[Peringatan: Mengonsumsi 10 Poin Dedikasi untuk meningkatkan pemahaman teknik.]

[Langkah Bayangan Awan: 15/100 -> 45/100 (Menengah)]

​Seketika, rasa sakit menusuk otak Su Lang. Ribuan memori tentang bagaimana otot kaki harus berkontraksi dan bagaimana Qi harus meledak di titik-titik meridian tertentu membanjiri benaknya. Proses asimilasi ini terjadi dalam sekejap mata di tengah pertarungan.

​Tetua Ma melihat celah. Su Lang tampak membeku sesaat karena beban informasi dari sistem.

​"Mati kau!" Tetua Ma menghantamkan kedua tangannya ke arah bahu Su Lang.

​Kali ini, Su Lang tidak hanya menghindar ke samping. Dia menendang tanah, tubuhnya meluncur ke bawah, menyelinap di antara kaki Tetua Ma yang lebar, lalu muncul di belakang punggung musuhnya.

​"Apa?!" Tetua Ma berbalik dengan cepat, namun Su Lang sudah menyiapkan serangan balik.

​Su Lang tidak menggunakan tangan kosong. Dia mengambil sekop kayu yang tadi ia letakkan di dekat pintu. Meskipun gagangnya retak, ujung besinya masih tajam. Dia mengalirkan seluruh sisa Qi-nya ke ujung sekop itu.

​Zing!

​Sekop itu menebas udara, mengincar leher Tetua Ma.

​Tetua Ma mendengus. Dia mengangkat lengannya yang sekeras besi untuk menangkis. Bagi dia, senjata kayu biasa tidak akan bisa melukai kulitnya yang sudah ditempa Qi Tingkat 3.

​Crak!

​Sekop kayu itu hancur berkeping-keping saat menghantam lengan Tetua Ma. Namun, ujung besi yang tajam berhasil menyayat kulit pria tua itu sebelum patah. Darah segar menetes ke atas salju.

​"Kau... kau melukaiku?" Tetua Ma menatap lengan bajunya yang robek dan luka sayatan kecil di lengannya. Wajahnya berubah dari serakah menjadi kemarahan yang murni. "Seekor semut... berani melukai harimau!"

​Aura Tetua Ma meledak. Dia tidak lagi menahan diri. Qi abu-abunya menyelimuti seluruh tubuhnya, membuat debu dan salju di sekitarnya berputar liar.

​Su Lang terengah-engah. Tangannya gemetar. Dia sudah kehabisan Qi. Dia hanya memiliki kekuatan fisik manusia biasa sekarang, sementara musuhnya baru saja memulai dengan serius.

​"Zhao Hu! Serang anak-anak di dapur itu!" teriak Tetua Ma dengan kejam. "Biarkan bocah ini melihat bagaimana orang-orang yang dia lindungi mati satu per satu!"

​Zhao Hu, yang sejak tadi menonton dengan ketakutan, menyeringai jahat. Dia mencabut belati dengan tangan kirinya yang sehat dan mulai berjalan menuju dapur.

​"Tidak!" Su Lang mencoba mengejar, tetapi Tetua Ma menghalanginya.

​"Lawanmu adalah aku, Nak!" Tetua Ma memukul wajah Su Lang.

​Su Lang mencoba menangkis, tetapi tanpa Qi, dia terlempar jauh, menghantam dinding aula hingga kayu-kayunya retak. Dia jatuh ke tanah, darah mengalir dari sudut mulutnya.

​"Sistem... berikan aku sesuatu... apa saja!" Su Lang merayap, matanya menatap Zhao Hu yang hampir sampai di pintu dapur.

​[Peringatan: Poin Dedikasi tidak mencukupi untuk pembelian instan.]

[Opsi Darurat: Pinjaman Poin Masa Depan. Syarat: Misi 'Pembersihan Hama' harus diselesaikan dalam 1 jam, atau basis kultivasi akan hancur.]

​"Setuju! Lakukan!" Su Lang berteriak secara mental.

​[Menerima Pinjaman: 20 Poin Dedikasi.]

[Membuka Teknik Rahasia Sekte Aliran Abadi: Jari Aliran Es (Satu Kali Penggunaan).]

​Tiba-tiba, rasa dingin yang ekstrem—jauh lebih dingin daripada badai salju di luar—terkonsentrasi di ujung telunjuk kanan Su Lang. Rasanya seolah jari itu membeku menjadi kristal.

​Tetua Ma sudah berada di atasnya, siap menginjak kepala Su Lang. "Ucapkan selamat tinggal pada kepalamu!"

​Su Lang mendongak. Matanya berkilat dingin. "Ucapkan selamat tinggal pada hidupmu."

​Su Lang menusukkan telunjuknya ke arah lutut Tetua Ma yang sedang bergerak turun.

​Jleb.

​Tidak ada ledakan besar. Hanya suara halus seperti es yang retak.

​Seketika, es biru mulai merambat dari titik sentuhan di lutut Tetua Ma. Dalam hitungan detik, seluruh kaki kanan Tetua Ma membeku menjadi es padat. Rasa sakit yang mengerikan membuat Tetua Ma melolong seperti serigala yang terjepit.

​"Apa ini?! Kekuatan apa ini?!" Tetua Ma mencoba memukul es itu, tetapi rasa dinginnya merambat ke tangannya, membekukan aliran Qi-nya.

​Su Lang tidak membuang waktu. Dengan sisa tenaga fisiknya, dia memungut belati milik si kurus yang terjatuh semalam di dekat pilar. Dia tidak menyerang Tetua Ma yang sedang melumpuh, melainkan melemparkan belati itu ke arah Zhao Hu.

​Syuuuut!

​Belati itu tertanam tepat di betis Zhao Hu.

​"ARGH!" Zhao Hu jatuh tersungkur tepat sebelum mencapai pintu dapur.

​Su Lang bangkit dengan goyah. Dia berjalan menuju Tetua Ma yang kini terduduk di tanah, mencoba mematahkan es di kakinya dengan panik. Wajah pria tua itu kini penuh dengan ketakutan yang mendalam. Dia melihat Su Lang bukan lagi sebagai sampah, melainkan sebagai monster yang menyembunyikan kekuatan rahasia.

​"Si-siapa kau sebenarnya? Sekte Aliran Abadi tidak mungkin punya teknik seperti ini!"

​Su Lang berdiri di depan Tetua Ma. Dia mengambil belati yang tertancap di tanah—milik musuhnya sendiri.

​"Aku adalah Ketua Sekte Aliran Abadi," suara Su Lang datar, tanpa emosi. "Dan di gunungku, kau hanyalah hama."

​Tanpa ragu, Su Lang mengayunkan belati itu.

​Darah menyembur, mewarnai salju menjadi merah pekat. Tetua Ma, seorang praktisi Tingkat 3 yang kuat, tewas dengan mata terbelalak di tangan seorang pemuda Tingkat 1.

​Zhao Hu, melihat tuannya tewas, mencoba merangkak pergi dengan kaki yang terluka, namun Su Lang menatapnya dengan pandangan yang membuat Zhao Hu pingsan karena takut.

​Su Lang tidak membunuh Zhao Hu. Dia butuh seseorang untuk mengirim pesan.

​Dia berjalan ke arah Zhao Hu, mencengkeram kerah bajunya, dan menyeretnya ke gerbang sekte. Dia melempar preman itu ke bawah tangga salju.

​"Bawa mayat tuanmu," kata Su Lang dingin. "Katakan pada Sekte Besi Hitam... jika mereka ingin tanah ini, mereka harus mengirimkan ketua sekte mereka sendiri. Dan pastikan dia membawa peti matinya sendiri."

​Setelah Zhao Hu menyeret mayat Tetua Ma dengan gemetar dan menghilang ke dalam kabut, Su Lang akhirnya jatuh terduduk.

​Keheningan kembali menyelimuti Puncak Qingyun.

​Li Yun dan Xiao Me keluar dari dapur dengan ragu-ragu. Mereka melihat Su Lang yang berlumuran darah, namun berdiri tegak seperti tugu peringatan.

​Li Yun segera berlari dan berlutut di depan Su Lang. "Guru! Anda terluka!"

​Su Lang menggeleng pelan. Dia menatap tangannya yang tadi digunakan untuk teknik Jari Aliran Es. Jari itu kini menghitam, terkena frostbite (luka beku) yang parah akibat kekuatan yang terlalu besar untuk tubuhnya.

​[Misi Selesai: Pembersihan Hama.]

[Pinjaman dilunasi.]

[Hadiah Tambahan: Ramuan Pemulih Sumsum, 5 Poin Dedikasi.]

​Su Lang menghela napas panjang. Dia menatap kedua muridnya.

​"Li Yun," panggil Su Lang serak.

​"Ya, Guru?"

​"Bersihkan halaman ini. Jangan biarkan noda darah ini mengotori sekte kita lebih lama lagi."

​"Baik, Guru!" Li Yun menjawab dengan semangat yang membara. Di matanya, Su Lang bukan lagi sekadar penyelamat, tapi dewa perang yang tak terkalahkan.

​Su Lang masuk ke dalam aula. Dia duduk di bantal meditasinya, meminum Ramuan Pemulih Sumsum yang diberikan sistem. Rasa hangat mulai memperbaiki kerusakan di dalam tubuhnya.

​Dia memejamkan mata. Pertarungan tadi memberinya pelajaran berharga. Dunia ini tidak akan memberinya waktu untuk tumbuh perlahan. Musuh akan datang lebih cepat dari yang dia duga.

​"Aku butuh lebih banyak kekuatan," bisik Su Lang pada kegelapan. "Dan aku butuh sekte ini menjadi benteng yang tak tertembus."

​Malam itu, di bawah cahaya bulan yang dingin, Su Lang mulai merencanakan pembangunan kembali Sekte Aliran Abadi. Bukan lagi sebagai bangunan kayu yang lapuk, tapi sebagai awal dari legenda yang akan mengguncang seluruh Pegunungan Utara.

​Dan jauh di bawah sana, di Sekte Besi Hitam, berita kematian Tetua Ma mulai menyebar, memicu kemarahan yang akan membawa badai yang jauh lebih besar menuju Puncak Qingyun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!