Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana Kekaisaran
Setelah turun dari keretanya, Selir Yu melangkah lebih cepat memasuki pintu kecil di belakang istana. "Wahhhh... Ini benar-benar istana! Sangat indah." Dia berlari kecil sembari memperhatikan pemandangan menakjubkan di depannya.
Taman-taman kecil memetak di setiap jalur yang ia lewati. Pepohonan dengan daun-daun berbagai warna ada di sepanjang jalur itu. Obor-obor di tempatkan di beberapa titik tertentu untuk mempertegas jalur. Dengan lentera-lentera tergantung sebagai penerang.
"Yahh... Jika aku kembali nanti. Siapa yang akan percaya jika aku pernah masuk kedunia novel fantasi. Bahkan melihat langsung Kekaisaran yang begitu megah dan luar biasa ini." Wanita itu melihat dengan senyuman yang tidak bisa di lepaskan dari wajahnya. "Guyi, berapa lama aku masuk di istana sebagai selir?"
"Setidaknya sudah satu tahun," saut Pelayan Guyi.
"Satu tahun..." Selir Yu berjalan kearah pohon delima dengan buah yang sudah memenuhi setiap batangnya. Dia mengambil satu buah yang paling bawah agar bisa ia raih dengan mudah.
"Selir Yu, sebaiknya kita segara kembali. Jangan sampai ada pihak lain yang melihat keberadaan anda di sini saat lewat tengah malam." Pelayan Guyi mendesak Selir Yu.
Wanita itu mengangguk mengerti. "Aku lupa jalannya. Kau bisa berjalan lebih dulu."
"Baik." Pelayan Guyi melangkah lebih dulu di ikuti Selir Yu.
Setelah melewati beberapa belokan kecil di jalur taman dan lorong bangunan istana. Mereka akhirnya sampai di halaman kediaman Selir Yu. Bunga lili berwarna-warni memenuhi empat taman di halaman itu.
Krekkkk...
Pintu kamar di buka.
Bau dupa wewangian menyebar kuat memenuhi ruangan.
"Bau wangi ini terlalu menyengat. Apa yang di pikiran wanita itu. Sehingga harus membuat ruangan kamarnya sewangi ini." Selir Yu menutupi hidungnya. Dia mengambil dupa yang masih menyala di atas meja. Kepulan asap tipis membuat bau wangi semakin memabukkan. Selir Yu melangkah kearah jendela yang terbuka. Membuang semua isi di dalam wadah dupa itu. "Wah..." Menjauhkan wajahnya. "Guyi bantu aku membuang semua kantung wewangian. Juga semua minyak wangi yang menyengat di atas meja rias."
Pelayan Guyi menuruti keinginan Selir Yu meskipun dengan heran. "Selir Yu, bukankah tanpa wawangian ini anda tidak akan bisa tidur nyenyak? Kenapa harus membuang semuanya?"
"Setelah kepalaku terbentur dan semua ingatan hilang. Keinginan juga semua hal yang aku sukai telah berubah. Jadi saat ini aku sudah tidak lagi menyukai bau wawangian yang menyengat." Selir Yu menjelaskan.
"Baik." Pelayan Guyi mengangguk mengerti. Meskipun dia merasa ada sesuatu yang janggal. Tapi tetap menuruti setiap perintah yang di berikan.
Setelah beres Selir Yu duduk di kursi memperhatikan setiap detail yang ada di kamar itu. Dia mendongak untuk melihat lebih jelas langit-langit ruangan. Setiap ujung kain merah di ikat pada setiap langit-langit kamar. Dan ujung kain yang jatuh di ikatkan pada setiap tiang penyangga kediaman itu.
"Huhhhh..." Hela napas di keluarkan. Seluruh tubuhnya di lepaskan agar bisa lebih rileks. Kejadian yang terlalu tiba-tiba membuatnya masih harus menyesuaikan diri. Menjadi Selir Yu yang harus mati karena cintanya. Sudah membuat dadanya menjadi sesak.
"Selir Yu, saya akan menyiapkan air hangat untuk anda mandi." Dia berjalan pergi keluar dari dalam kamar.
Dan Selir Yu masih diam melamun melihat kearah langit-langit kamar. "Mungkin dengan aku diam. Tetap menyimpan aib Selir Jing. Segalanya bisa sedikit memiliki perubahan." Kedua kakinya di goyangkan. "Hanya ada lima bab dalam cerita novel aslinya yang baru rilis. Dan satu bab lain yang belum sempat aku baca." Tubuhnya semakin turun dari kursi. "Bagaimana aku bisa menentukan alur cerita selanjutnya. Aku bukan penulis dan tidak bisa menentukan kehendak dari penulis kemana alur cerita akan ia bawa."
Selang tiga puluh menit Pelayan Guyi datang. "Selir Yu, air hangat telah sesuai yang anda suka."
Selir Yu bangkit dengan malas. Dia berjalan menyeret tubuhnya yang terasa cukup berat. Dari pintu samping kanan yang langsung mengarah kekamar mandi. Wanita itu tidak perlu lagi keluar kamar dan berjalan memutar.
Kepulan asap hangat dari dalam bak mandi membumbung memenuhi ruangan itu.
"Kalian bisa pergi," ujar Selir Yu. Dia berniat melepaskan gaun yang ia kenakan.
Namun dua pelayan wanita jauh lebih sigap darinya. Mereka segara melepaskan setiap lapisan gaun yang di kenakan Selir Yu. Membawanya pergi dari harapan wanita itu.
Tinggal satu lapisan tipis yang masih melekat di tubuhnya. "Tidak perlu, aku akan melepaskannya sendiri. Kalian bisa pergi." Selir Yu menutupi buah dadanya yang telah menyembul bebas memperlihatkan bentuk aslinya.
"Baik." Dua pelayan itu segara pergi.
Tapi pelayan Guyi masih di sana menuangkan susu yang masih segar. Satu pelayan lainnya menuangkan rempah juga cairan wawangian. Dan satu lagi pelayan menaburkan kelopak bunga mawar merah dan putih di dalam bak mandi.
Setelah selesai mereka bertiga memberikan hormatnya lalu mundur tiga langkah. Baru berbalik melangkah pergi keluar dari kamar mandi.
Selir Yu kini hanya tinggal seorang diri di dalam kamar mandi. Ia melepaskan kain terakhir yang masih menempel di tubuhnya. Dia menceburkan seluruh tubuhnya. Air dalam bak menggenang sebatas bahu halus yang selalu ia banggakan.
"Sesulit apa pun situasinya. Tetap harus menikmati semua kemewahan yang telah di suguhkan ini. Hahahah..." Tawa terdengar penuh riang. Kedua tangannya memainkan kelopak-kelopak bunga yang ada di atas genangan air yang telah bercampur susu.
"Heuhh..." Menyandarkan tubuhnya di pembatas bak mandi. Di saat air hangat telah sepenuhnya menjadi dingin. Karena suhu udara yang semakin menurun. Selir Yu hanya berendam kurang dari sepuluh menit. Dia segara mengeringkan tubuhnya dengan kain yang telah tersedia. Dan mengambil gaun tidur yang ada di tempat khusus pada bagian kanan ruangan itu.
Dia masuk kembali kedalam kamar utama.
Bruukkk...
Menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Ranjang ini sangat nyaman." Dia menarik selimut dan memejamkan kedua matanya.
Brkakk...
Namun, seseorang masuk melalui pintu jendela yang hanya di tutup tanpa di kunci.
Selir Yu bangkit dari tempat tidurnya. Dia menyibak kelambu yang baru saja ia jatuhkan. Tepat di bagian tengah ruangan. Seorang pria berusaha membawa tubuhnya jauh lebih dalam masuk kedalam kamar.
Bruukk...
Tapi kedua kakinya terlalu lemah untuk melangkah lebih jauh. Dia terkapar di lantai dengan darah terus mengalir di bagian perutnya.
"Situasi apa lagi ini." Dia melompat dari atas ranjangnya. Berjalan menghampiri pria yang terkapar di lantai kamarnya itu. "Hoyyy..." Dia menggoyangkan tubuh pria itu perlahan. Namun tidak ada tanggapan. "Saat ini aku telah menjadi seorang Selir. Jika dia ada di sini dan orang lain mengetahuinya. Bukankah aku akan di berikan hukuman rajam karena di anggap telah berselingkuh."
Wanita itu berlari kearah pintu. Sebagian pintu di buka sebatas wajahnya. Karena takut orang lain akan mengetahui masalahnya. "Guyi, bisa kau masuk. Aku membutuhkan bantuanmu."
"Baik." Pelayan Guyi yang masih berjaga di luar kamar sampai Selir Yu tertidur. Segara masuk kedalam kamar. "Selir Yu, dia?" Menatap terkejut.
"Aku bersumpah, dia yang masuk sendiri kedalam kamarku." Selir Yu menatap panik. Dia bahkan mengangkat kedua tangannya. Untuk meyakinkan pelayannya jika yang ia katakan adalah kebenaran.
Pelayan Guyi mencoba mencari tahu siapa pria yang sudah hampir mati itu. "Yang Mulia." Dia langsung berlutut melihat Kaisar Xiao Chen telah sekarat.
"Dia Kaisar Xiao Chen?"
"Selir Yu, saya akan memanggil tabib." Pelayan Guyi bangkit berniat pergi.
"Tunggu." Selir Yu menahannya. "Jangan sampai orang lain mengetahui hal ini. Dalam keadaaan seperti ini dia justru menemui Selir paling ia benci. Alih-alih pergi ketabib istana ataupun ketempat lain. Dia pasti tidak memiliki tujuan lain untuk ia gunakan sebagai tempat beristirahat." Ludah kecut di telan dalam.
"Guyi, siapkan saja semua obat-obatan yang di perlukan untuk menghentikan pendarahannya. Bukankah keluargamu seorang tabib. Kau saja yang mengambilnya. Ingat, pastikan tidak ada orang lain yang mengetahuinya." Tegas Selir Yu.
"Baik." Pelayan Guyi segara keluar dari kamar. "Kalian semua bisa pergi dari sini. Selir Yu sedang tidak ingin di ganggu."
"Baik," jawab serentak semua pelayan dan prajurit pengawal Kekaisaran yang ada di sana.
Setelah semua pergi, Pelayan Guyi berlari sekuat tenaga. Ia pergi ke tempat pengobatan yang ada di istana. Tentunya tanpa di ketahui orang lain. Dia menyusup mengambil setiap obat yang di perlukan lalu kembali ke halaman istana tempat Selir Yu tinggal.
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana