NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

D-Day

Jakarta di bawah langit bulan Juni terasa lebih pengap. Namun tidak bagi Lelaki beraroma uang bernama Axel Steel. Baginya, langit Jakarta berwarna biru muda dan sangat indah dipandang.

​Kepulangan sang CEO tidak dirayakan dengan Pesta sambutan yang meriah, lelaki itu tidak butuh semua pujian kosong dari orang-orang bermuka dua dibelakangnya. Apapun yang dikatakan orang lain tentangnya, ia masa bodoh.

Lelaki itu menghabiskan tiga hari pertamanya di Jakarta dalam penthouse mewah yang baru dibelinya itu. ia benar-benar tidak keluar selangkah pun dari sana. Makanannya bahkan di pesan via g*of*od.

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar bagi karyawan di kantor pusat Steel Group di Sudirman. Sebab mereka sudah sangat siap akan di kunjungi sang CEO. Para karyawati lajang sangat menantikan nya, apalagi yang tidak pernah bertemu CEO tampa itu. Tetapi sampai tiga hari setelah tiba di Jakarta, batang hidung Axel Steel tidak nampak sedikitpun. Gelombang kekecewaan begitu kentara di wajah-wajah para karyawan.

CEO STEEL Group memilih mendekam dalam penthouse mewahnya. Duduk dalam kegelapan ruang kerjanya dan hanya diterangi oleh pendar layar monitor dan kerlap-kerlip lampu kota di luar jendela.

Axel sudah mengentikan semua operasi Shadow Guard. Lelaki itu sudah tidak membutuhkan laporan dari pihak ketiganya lagi. Ia memilih akan turun tangan langsung.

Saat ini, Lelaki itu sedang menikmati waktu berharganya untuk mengamati gadisnya melalui lensa teleskop mahal miliknya. Mengamati semua aktivitas sang gadis terasa sangat menyenangkan. Ia melihat gadis yang kelelahan itu pulang dari rumah sakit. Melihat bagaimana gadis itu melepaskan jas putihnya, duduk di meja belajar dengan bahu yang terlihat tegang. Semuanya tidak luput dari pandangan.

Setiap gerakan gadis itu adalah hal berharga yang harus dimilikinya. Bahkan Axel mencatat waktu gadis itu mematikan lampu kamar, beberapa kali ia mengusap wajahnya yang lelah dan bagaimana ekspresi gadis itu saat menatap keluar jendela, seolah instingnya sebagai mangsa sedang memperingatkannya bahwa predator itu telah kembali.

​"Tiga hari lagi, Si," bisik Axel pada kesunyian ruangan. "Kau akan menyadari bahwa kebebasan yang kau banggakan itu hanyalah ruang tunggu untuk kepemilikanku."

​Di seberang jalan, Sesilia sedang berjuang melawan kegelisahan yang tidak rasional yang mendadak muncul. Perasaan diawasi itu kembali, kali ini terasa lebih intens dan lebih dingin dari empat tahun lalu. Ia merasa seolah-olah ada mata pisau tajam yang menembus dinding apartemennya, melucuti pertahanannya lapis demi lapis.

​"Itu mungkin hanya kelelahan biasa, Sesi. Tarik napas lalu hembuskan perlahan," gumamnya pada diri sendiri di depan cermin kamar mandi.

​Ia memercikkan air dingin ke wajahnya, berharap tetesan air itu bisa mengembalikan keberaniannya. Gadis itu bertekad untuk tidur nyenyak malam ini. Besok adalah pesta ulang tahun Uni. Sebuah acara sosial besar yang harus ia hadiri bukan hanya sebagai sahabat, tetapi sebagai "Ratu Kampus" yang harus menjaga martabatnya.

Ia telah memilih gaun emerald green yang dipesan khusus. Warna itu dipilih karena melambangkan kekuatannya yang baru. Hijau zamrud yang berani, tajam, dan elegan.

​Namun, saat ia menyentuh kain sutra gaun itu, ia teringat pada coretan di buku lamanya. Coretan itu berbunyi Property of Steel. Sebuah peringatan yang ia pikir sudah kadaluwarsa, namun kini terasa seperti tato yang berdenyut di bawah kulitnya.

​Sesilia tidak tahu bahwa di saat yang sama, Axel sedang meninjau daftar tamu pada pesta Uni. Tangannya memegang sebuah pena emas, mencoret beberapa nama pria yang dianggapnya "hama" yang masih berani mencoba mengirimkan bunga ke apartemen Sesilia minggu lalu.

​"Han," Axel memanggil melalui interkom. "Pastikan semua media utama hadir di Hotel Diamond. Aku ingin klaim ini terekam dalam resolusi tertinggi. Tidak boleh ada satu pun sudut ruangan yang luput dari kamera."

​"Baik, Tuan Axel. Bagaimana dengan Nona Sesilia? Apakah kita perlu mengirimkan mobil?"

​"Tidak," Axel menyeringai, sebuah ekspresi yang lebih menyerupai ancaman daripada senyuman. "Biarkan dia datang dengan pilihannya sendiri. Aku ingin dia merasa bebas untuk terakhir kalinya sebelum aku menutup pintu sangkarnya."

.....

​Malam pesta itu tiba dengan kemegahan yang menyesakkan. Grand Ballroom Hotel Diamond berubah menjadi lautan emas dan kristal. Udara dipenuhi oleh aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan bisik-bisik politik bisnis yang tak pernah usai.

​Sesilia tiba bersama Uni. Begitu ia melangkah masuk, atmosfer ruangan seolah bergeser. Gaun emerald green yang ia kenakan memeluk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan bahwa ia adalah permata paling indah di ruangan itu. Gadis itu berjalan dengan dagu terangkat, membalas sapaan para senior dan kolega dokter dengan keanggunan yang telah ia latih selama empat tahun terakhir.

​Sesilia Kira adalah pusat perhatian. Namun, di tengah kerumunan itu, samar-samar sang gadis merasakan sebuah keanehan, semacam perasaan takut dan diawasi oleh sosok yang tidak nampak.

​Di sudut ruangan yang paling gelap, seorang pria berdiri dengan segelas whiskey di tangan. Lelaki itu tidak bergabung dalam percakapan. Juga tidak mencoba mencari perhatian. Ia hanya berdiri di sana, seperti badai yang sedang menunggu waktu untuk meledak.

​Axel Steel.

​Waktu seolah melambat saat mata mereka bertemu melintasi ruangan yang penuh sesak. Sesilia merasakan jantungnya berhenti berdetak selama satu detik yang menyakitkan. Mata gadis itu bertubrukan tanpa sengaja dengan mata orang yang berusaha ia hindari seumur hidupnya.

Axel tidak berubah, namun auranya kini jauh lebih kelam dan menakutkan. Pria itu menatapnya bukan sebagai seorang predator, kepada mangsa kesayangannya.

​Axel kemudian meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan denting yang bagi Sesilia terdengar seperti lonceng kematian untuk kebebasannya. Dengan langkah yang tenang dan penuh otoritas, Axel mulai berjalan membelah kerumunan. Orang-orang secara naluriah membuka jalan baginya, seolah-olah takut tersengat oleh energi dingin yang dipancarkannya.

​Sesilia ingin lari. Instingnya berteriak untuk bersembunyi di balik buku-bukunya lagi. Namun, kakinya terpaku. Ratu di dalam dirinya berteriak memberikan suntikan keberanian dan kekuatan. Memaksanya mencoba untuk tetap berdiri tegak, meski tangannya mulai gemetar di balik lipatan gaunnya.

​Axel berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga gadis itu bisa mencium aroma sandalwood yang dulu menghantuinya dalam mimpi paling buruk.

​"Kau tumbuh dengan sangat cantik, sayangku," suara Axel rendah, masuk ke dalam pendengaran sang gadis seperti baja panas yang menyentuh es. "Tapi hijau bukan warnamu. Kau seharusnya memakai warna Steel."

​Sebelum Sesilia bisa membalas, Axel mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan kuat menyentuh rahang Sesilia dengan tingkat keposesifan yang brutal. Di sekeliling mereka, lampu blitz kamera mulai menyala, mengabadikan momen yang akan mengubah hidup Sesilia selamanya.

​"Permainan petak umpetmu sudah berakhir," bisik Axel, matanya yang kelabu berkilat dengan kegilaan yang terkontrol. "Selamat datang di rumah, Tikus Kecil."

​Malam itu, di bawah ribuan cahaya kristal, Sesilia menyadari satu hal bahwa Waktu memang penempa yang kejam, tetapi Axel Steel adalah pemilik palunya. Dan klaim itu baru saja dimulai.

1
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!