Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
“Yaudah, kalau gak ada yang mau di omongin lagi. Aku pamit, mau pulang. Mau shopping sama Bintang.“Ucapku sambil menatap Mas Afif dan Laras bergantian. Tak lupa aku tersenyum lembut ke arah mereka dengan menyembunyikan rasa getir dan kecewa di hati.
Kakiku terasa berat melewati mereka pun dengan hati yang terasa nyeri. Bahkan Mas Afif tidak mendebatku, apalagi Laras yang kelihatannya setuju dengan usulanku tadi, cih.. aku tersenyum getir sambil mengusap air mataku kasar. Aku istri pertama tapi rasa istri simpanan..hahaha lucu sekali bukan?
Baiklah, akan ku biarkan air mata ini menetes kali ini, dan ini untuk yang terakhir kalinya aku menangis dan cengeng bagaikan bayi. Besok-besok tidak akan lagi, lihat saja! Aku, Nadia akan berubah menjadi perempuan pemberani yang tidak akan menangisi kisah pernikahanku yang tragis.
“Ayo sayang, kita pulang.“Ucapku sambil memaksa bibirku untuk tersenyum dan menarik tangan Bintang, Anakku. Anakku terlihat menggeleng dan tatapan matanya jelas memohon kepadaku, sepertinya Bintang masih ingin bermain dengan Salsa__anak tiri suamiku. Jika Salsa bukan anak Laras dan kini menjadi penyebab retaknya rumah tanggaku, mungkin aku akan membiarkan. Akan tetapi karena Salsa menjadi salah satu penyebab retaknya mahligai rumah tanggaku, rasanya tak sudi walau hanya melihat wajah polosnya sambil tersenyum. Mungkin aku jahat, tapi ibu Salsa dan papa tirinya yang lebih tega kepadaku.
Bintang menangis bahkan terlihat mau melompat turun dari gendonganku, tapi aku tak peduli. Aku terus menggendong paksa Bintang dan menurunkannya di jok depan mobilku, tak lupa memasang seat belt dan memutar lalu duduk di jok kemudi__sebelum aku benar-benar pergi, ku sempatkan untuk melirik ke arah mereka. Mereka masih tampak tak terlihat, masih di dalam kelas, sedang anak mereka duduk sendirian di taman kecil itu dengan tatapannya lurus dengan wajah sendunya__ah sial, sebetulnya aku kasihan pada Salsa. Akan tetapi rasa kecewa dan sakit hatiku pada Mas Afif dan Laras lebih besar hingga aku memilih tega membiarkan anak itu sendirian di sana.
“Mama mau sama Salsa, hiks hiks..“Ucap Anakku dengan sebelah tangannya terulur ke arah pintu mobil dan hendak membukanya, akan tetapi aku sudah duluan menguncinya. Di takutkan anakku akan nekat membukanya dan benar saja. Cihhh andai kamu tahu Bin, kalau dia. Anak itu adalah seseorang yang membuat papamu semakin 'gila' kamu pasti akan tidak suka dengannya juga.
Aku memilih bungkam dan tak tidak mengatakan apapun. Karena percuma saja memberitahukan Bintang yang sejujurnya, toh anak itu pun masih kecil dan aku takut andaji aku jujur. Malah merusak psikisnya, aku tidak mau Bintang tumbuh dengan rasa dendam kepada papanya sendiri__sebagai seorang ibu yang berusaha bijak dan memikirkan psikis Bintang. Aku mau anakku tumbuh dengan cinta kasih yang besar, membuat hatinya lembut.
“Mama jahatt, Bintang cuman mau main aja.“
“Mamaaa huahhhhhaaaaa hiks hiks hiks..“
“Mama Bintang janji gak akan nakal, tapi biarin Bintang main sama Salsa, ya? Ya? Ya?.“
Aku tak menggubrisnya dan pura-pura menulikan telinga saja, berusaha tenang dan tetap fokus walau hatiku ikut tersayat nyeri tatkala Bintang yang tak berhenti menangisi anak itu.
Aku hanya berharap, semoga secepatnya kemacetan ini segera berakhir dan aku segera sampai ke rumah dengan Bintang yang sudah berhenti dengan tangisan sialannya.
*****
Kedua mataku terbuka dan aku langsung mengambil posisi duduk dengan bibir meringis nyeri dengan satu tangan yang kini menyentuh kepalaku yang terasa nyeri sekali__ini jelas di kamarku, tapi kenapa bisa berakhir di sini? Setahuku dan seingatku, aku berada di dalam mobil bersama Bintang.
Lalu tatapanku pun teralih pada segelas air putih yang ada di atas nakas juga dengan semangkuk bubur yang masih mengepulkan asapnya, tanda bubur itu belum lama di taruh oleh seseorang di sana. Tapi oleh siapa? Mia? Atau Melati?
“Nyonya sudah sadar?.“Tanya perempuan berambut pirang yang kini datang dengan wajah cemasnya, dia adalah Mia ART di rumah ini yang masih sepupu Melati. Dia sekitar beberapa tahun di bawahku dan anaknya sangat rajin, baik dan juga jago masak__hari itu Melati curhat kepadaku soal sepupunya yang belum mendapatkan pekerjaan dan berencana untuk menjadi TKW ke luar negeri, Melati pun sangat cemas sekali, apa lagi Mia hanya lulusan SMA Kala itu dan tidak punya pengalaman apa-apa. Melati tidak mau adik sepupunya itu berakhir seperti nasib-nasib para TKW yang berakhir mengenaskan di kamboja sana, makanya Melati pun membujukku dan mengatakan kalau Mia orangnya baik, rajin, bisa di percaya dan sangat sopan. Aku yang iba dan kasihan pun akhirnya mau memperkerjakan Mia di sini, dengan catatan: Mia tidak boleh sampai membawa lawan jenis ke rumah ini dan kalau pun ingin keluar serta jalan-jalan bersama siapapun, wajib melaporkannya kepadaku. Sama seperti Melati, aku memperlakukan peraturan seperti itu, tentu bukan karena aku yang terlampau posesif, melainkan hanya berjaga-jaga saja, di takutkan terjadi sesuatu, apalagi Mia yang umurnya masihlah di bawahku dan kala itu masih labil. Apalagi di tambah lingkungan tempatku tinggal masihlah di pedesaan, tahu sendiri bagaimana lingkungan pedesaan yang bisa di bilang lebih care daripada di kota.
“Sudah, kamu yang masak bubur itu, Mi?.“Tanyaku seraya menunjuk bubur di mangkuk. Mia mengangguk kecil.
“Iya nya.“
“Kenapa saya bisa di sini, ya?.“Tanyaku mulai bangkit dan berusaha untuk segera berdiri dan ke kamar mandi, rasanya aku ingin membilas wajahku dan menggosok gigiku. Namun baru dua langkah saja, aku pun meringis nyeri tatkala kepala ini terasa sakit, dengan sigap. Mia pun membantuku dengan hati-hati dan kembali baring ke tempat tidur.
“Nyonya sebaiknya istirahat dulu ya? Oh ya, semalam nyonya pingsan.“
“Pingsan?.“Ulangku dengan kedua mata membulat sempurna, Mia yang ada di hadapanku mengangguk, tapi ada yang aneh darinya. Raut wajahnya seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
“Ada apa Mi? Apa ada sesuatu? Katakan aja!.“
Mia menghela nafasnya sejenak, tatapannya menunduk dan kedua tangannya terjalin erat di bawah sana.
Entah kenapa tapi aku merasakan kalau yang akan di katakan Mia...
“Nyonya hamil dan usianya delapan minggu.“Ucapnya lembut nyaris berbisik, namun masih bisa ku dengar jelas lewat kedua telingaku. Harusnya aku senang dan segera bangkit lalu memeluk Mia dan mengucap penuh syukur pada Tuhan yang membuatku kembali mengandung__harusnya begitu sebagai pelampiasan rasa bahagia dan senang karena akhirnya aku kembali mengandung setelah kosong empat tahun.
Tapi yang ada malah sebaliknya. Tubuhku kaku, tatapan mataku berubah kosong dan bibirku terlipat ke dalam.
Satu yang ada di benakku, kenapa harus hamil sekarang? Kenapa? Pelan aku melirik ke bawah, tepatnya ke perutku yang masih terlihat rata, namun aku sudah mulai merasakan keanehan di sana. Seperti agak sedikit kembung dan tak nyaman, namun selama ini aku mengira kalau lambungku tengah kambuh saking stres memikirkan suamiku yang sudah memiliki istri baru__tapi bukan karena itu ternyata, melainkan karena ada janin di dalam sana yang sedang berkembang, anakku dan Mas Afif.
Tetesen bening itu begitu saja turun daei kedua pelupuk mataku tanpa bisa ku tahan, bahuku bergetar hebat dengan bibirku yang ku gigit supaya bisa meredam tangisanku, tapi percuma saja. Toh lama-lama suara tangisanku terdengar cukup nyaring, tapi aku tak peduli__hati ini dan raga ini sakit sekali, aku tidak bisa melaluinya, apalagi dengan calon anakku yang ada di dalam sana.
Kasihan sekali kamu, kamu hadir ketika aku sendiri pun merasa jatuh dan merasa tak sanggup melaluinya.
“Nyonya..“Ucap Mia yang merengkuh tubuhku pelan lalu mengusap-ngusap punggungku seolah menyemangatiku. Yang padahal aku ingin menyerah saja, aku capek, kecewa, marah dan sedih. Semuanya bercampur menjadi satu. Kenapa harus sekarang? Satu pertanyaan yang ku tanyakan sambil mendongak ke atas dan berharap supaya Tuhan mau menjawabnya?
Suamiku menikah lagi tanpa sepengetahuanku, anaknya bersekolah di sekolah anakku dan aku yang akan selamanya menyembunyikan siapa suamiku dari teman-teman Bintang dan guru-gurunya. Lalu aku mendadak mengandung, anak Mas Afif, tentu saja siapa lagi? Tapi bukan itu poinnya. Aku hanya merasa tidak terima, sebab di saat diriku jatuh dan sedang goyah, anak ini malah seakan menambah beban hidupku saja.
Duh, aku tahu janin ini tak bersalah dan bahkan kalau pun dia tahu orang tuanya adalah aku dan Mas Afif, mungkin dia juga tidak mau di lahirkan dari orang tua macam kami, kasihan sekali. Tapi...
“Nyonya yang kuat ya? Ada saya dan juga Melati. Nona gak sendirian.“Bisik Mia di telingaku dengan suara seraknya dan sku yakin sekali. Bukan hanya aku yang menangis, tapi Mia pun sama. Harusnya aku sedang bersuka cita menyambut “kedatangannya” bersama Mas Afif__hal ini yang dulu Mas Afif selalu minta dariku. Akan tetapi kala itu, entah kenapa aku tak kunjung mengandung juga. Padahal aku dan Mas Afif bisa di sebut sering melakukan hubungan suami istri__tapi, justru dia datang di saat hubunganku dan Mas Afif berantakan begini.
Kalau begini aku jadi bingung. Apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku jujur pada Mas Afif? Tapi aku sudah tidak kuat, aku ingin bercerai, tentu setelah rencanaku berjalan lancar. Yaitu mengambil semua hakku dan pergi meninggalkan semua luka di pedesaan ini bersama Bintang saja.
“Nya, saya mohon. Nyonya harus kuat, ya? Kasihan dia Nya, dia gak salah apa-apa, dia calon adek den Bintang. Dia yang selama ini selalu nyonya tunggu, kan?.“Ujar Mia yang malah membuatku kembali menangis tersedu di pelukannya.