Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Lamanya perjalanan kini mereka telah sampai di rumah. Hafshah menyambut kedatangan anaknya dengan senyuman yang merekah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi. Sehat nak?"
"Alhamdulillah Umma kami sehat. Kalau gitu saya permisi dulu umma, Al. Assalamu'alaikum." pamit Amar.
"Wa'alaikumussalam."
"Hayuk masuk nak. Istirahat dulu gih pasti capek 'kan perjalanan jauh."
"Iyah umma, Abah kemana?"
"Abah lagi pergi ke Magelang, besok sudah pulang kok."
Fatih mengangguk. "Yasudah umma, saya masuk dulu."
"Iyah nak."
Sementara itu di kantor Fatih banyak yang membicarakan bos nya yang akan dijodohkan.
"Lo tau darimana kalau Pak Al mau dijodohin?"
"Gue denger sendiri, waktu dia lagi sholat di mushola."
Flashback
Fatih masih duduk bersimpuh berdoa dengan khusyuk selayaknya seorang hamba memohon pada Tuhan nya.
"Ya Allah jika memang perjodohan ini baik untukku maka yakinkanlah aku untuk menerimanya dengan rasa bahagia, nyaman, ikhlas."
Seseorang yang tak sengaja sedang melewati mushola pun mendengar lirihan doa bos nya itu. Membuat ia syok. Bagaimana bisa di zaman yang sudah secanggih ini masih ada perjodohan, heran nya.
Flashback off
Seseorang dari jauh mendengar percakapan mereka dengan rasa kesal dan mungkin rasa cemburu. Aurora gadis cantik yang telah lama menyimpan rasa pada Fatih.
"Jadi, dia dijodohin. Siapa perempuan beruntung itu? Dan perasaan gue, gimana? Gue udah nunggu lama buat dapetin hatinya. Bahkan gue rela pakai hijab kayak gini demi dia. Tapi apa yang gue dapet? Kenyataan pahit yang nampar gue dengan keras. Lo harus jadi milik gue Al apapun caranya."
Aurora tersenyum smirk seolah sedang menyusun rencana untuk sesuatu yang menyenangkan baginya.
Di rumah keluarga Alie tengah kedatangan sahabat khaulah dari Jakarta. Yasmine namanya. Baru saja ia sampai di Yogyakarta.
"Terimakasih nak, sudah mau datang ke sini."
Yasmine tersenyum. "Injih Tante, sama-sama. Aku seneng kok ke sini, justru aku yang bilang makasih sama tante dan om, karena sudah memberi kabar terkait kondisi Salma."
"Aku sempat khawatir karena Salma menghilang gitu aja, nggak ada kabar sama sekali."
"Terimakasih nak sudah khawatir." ucap fatemah. "Oh ya, nak Yasmine mau jalan-jalan ndak? Liat pemandangan, mumpung di sini. Kalau mau nanti biar pergi sama Salma injih?"
Yasmine tersenyum kikuk. "I-ya tante, tadi pas perjalanan juga lihat indah sekali. Kalau ingin lihat lagi kasihan Salma belum sembuh total, takutnya kenapa-napa lagi."
"Gak papa nduk, wong deket kok. Dokter juga sudah mengizinkan jika Salma boleh jalan-jalan supaya metabolisme tubuh nya cepat berkembang karena bahagia."
"Sudah tidak apa apa nak. Nanti kalian di temani Nisa." imbuh Alie ikut meyakinkan Yasmine.
"Hmm, Yasmine paling gak bisa nih kalau udah di paksa gini."
Alie dan fatemah terkekeh mendengar penuturan Yasmine. "Umi bantu Salma dulu yah kamu tunggu sini saja temani Abi."
"Injih tante."
"Abi ke depan dulu yah nak sebentar."
"Iyah om." ucapnya sambil mengangguk kecil. "Jadi ditinggal sendirian gue. Nanti kalau di jalan ketemu keluarga bunda gimana?"
Yasmine meremas gamis yang dipakainya menyalurkan rasa gelisah nya takut jika nanti takdir mempertemukan nya dengan keluarga dari ibunya. Tak lama Alie kembali dari luar di ikuti santriwatinya di belakangnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Nak Yasmine kenalkan ini Nisa, santriwati di sini. Nisa yang akan menemani kamu sama Salma keliling desa."
"Salam kenal Nisa." Yasmine mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Salma.
"Salam kenal mba Yasmine."
Fatemah datang dengan khaulah disampingnya. Senyum keduanya merekah saat melihat kehadiran Nisa di sana.
"Wah, Nisa udah sampai."
Nisa berjalan mendekat pada fatemah dan menyalami nya. "Injih umi, Ning sudah sembuh?"
"Alhamdulillah 'ala kulli hal. Sudah Nisa, kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik Ning."
"Yasudah lebih baik kalian jalan sekarang nanti ke buru sore."
"Na'am umi, kami pamit yah."
Khaulah menyalami fatemah juga Alie. Sedangkan Yasmine dan Nisa hanya menyalami fatemah.
"Assalamu'alaikum."