Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.
Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.
Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.
Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.
Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?
Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pagi-pagi sekali, bahkan matahari pun belum menampakkan sinarnya. Dua orang lelaki yang memancing tadi malam sudah terbangun dari tidurnya.
"Arghhh!!!" mereka berdua tersentak kaget melihat ada mayat yang terbujur kaku di tengah-tengah mereka berdua.
"Jadi kita udah tidur sama mayat semalaman ini?!" ucap Bondan dengan rasa sedikit takut.
"Kamu benar, Dan. Ayo kita kabari warga lainnya buat nguburin mayat ini."
"Iya-iya. Lagian sih, mayat itu dikubur bukan dibuang sembarangan kayak begini." protesnya.
Pak RT dan warga lainnya mengenali mayat siapa itu. Venny Cornelia orang terkenal. Mudah bagi mereka untuk mengabari keluarganya.
Sekarang, semua orang sudah berkumpul di area pemakaman untuk menyaksikan kembali proses pemakaman ulang mayat Venny.
Banyak warga berkasak-kusuk mengenai mayat yang tiba-tiba hanyut di sungai itu. Bukankah sebelumnya sudah dikubur? Lalu kenapa bisa tiba-tiba hanyut di sungai?
Saat tanah sudah digali, mereka menemukan harta karun. Ah, maksudnya anting berlian. Namun hanya sebelah saja.
"Wah, anting siapa itu?" ucap ibu-ibu yang sedang berkasak-kusuk di belakang.
Kimberly menerima anting berlian yang diberikan oleh tukang gali kubur tersebut. Dia mengamati anting itu dengan saksama.
'Apa anting ini ada kaitannya dengan penculikan mayat bunda?' batinnya.
Dia merasa tidak asing dengan anting itu. Namun dia juga lupa kapan ia pernah melihat anting itu sebelumnya.
"Kamu kenapa, sayang? Apa kamu tau siapa pemilik anting itu?"
"Iya, sepertinya aku pernah lihat anting ini sebelumnya. Aku rasa aku benar-benar tidak asing lagi dengan anting ini. Tapi aku tidak tau ini punya siapa."
"Tapi untuk apa orang itu menculik mayat bundamu? Apalagi saat ditemukan organ tubuhnya sudah tidak lengkap lagi." ucap Edward penasaran.
...----------------...
Dua hari kemudian,
Edward sengaja ingin membuat kejutan untuk Kimberly pada malam ini. Dia sudah mengatur semuanya dengan baik.
Hari ini Kimberly ulangtahun. Dia sengaja memberi kejutan untuk istrinya itu agar ia tidak terlalu bersedih lagi dengan kematian bundanya.
Tak terasa malam pun sudah tiba. Lelaki itu menutup mata istrinya dengan kedua telapak tangannya. Serta menuntun istrinya tersebut untuk berjalan sesuai dengan instruksi darinya.
Sesampainya di lokasi, ia memperbolehkan Kim untuk membuka matanya. Perempuan itu terkejut dan merasa terharu dengan surprise dari suami tercintanya.
"Sayang, kamu baik sekali sudah melakukan ini untuk aku." ucapnya terharu.
"Terimakasih sayang. Kamu memang pantas mendapatkannya. Kamu kan istri aku." dia mengecup kening istrinya tersebut.
Taman di belakang rumah mereka itu sudah dihiasi seindah mungkin. Dengan banyak terdapat lentera di sana. Juga lampu kelap-kelip berwarna-warni.
Di sana juga sudah disiapkan meja makan untuk mereka berdua. Di atasnya sudah terdapat kue ulang tahun dan hidangan lainnya.
Kimberly berdoa terlebih dahulu dan kemudian barulah ia meniup kue ulang tahun tersebut. Mereka makan malam bersama.
Setelah sekitar satu jam, handphone Edward berdering. Ada seseorang meneleponnya. Dia berpamitan kepada istrinya itu untuk mengangkat telepon terlebih dahulu.
"Sayang, aku akan mengangkat telepon terlebih dahulu. Kamu aku tinggal dulu enggak apa-apa, kan?"
"Iya, jangan lama-lama ya."
Edward berjalan menjauh dari Kimberly untuk mengangkat teleponnya. Kini ia sudah berada cukup jauh dari istrinya.
Dia mengangkat teleponnya itu. Telepon itu berasal dari nomor yang tak dikenalnya.
"Halo"
Seketika mata lelaki itu membulat sempurna saat teleponnya kini telah tersambung dengan si penelepon. Dia juga tinggal terdiam.
Beberapa menit berlalu namun lelaki itu tak kunjung kembali.
Bahkan Kimberly melihat ke langit bahwa sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Angin juga berhembus sangat kencang. Membuat perempuan itu merasa dingin jika lama-lama berada di sana. Apalagi sendirian.
Dia mencoba untuk berdiri dan berjalan-jalan di sekitaran taman yang sudah dihiasi sedemikian rupa itu. Dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9.40 malam.
Seketika dirinya mendengar seperti ada bunyi seseorang menginjak ranting kayu. Kimberly celingukan mencari sumber suara itu.
Tiba-tiba muncul sosok berjubah hitam dan bertopeng yang sangat menyeramkan berdiri di hadapannya. Entah pria atau wanita.
Pandangan mata Kimberly jatuh tertuju ke arah pisau yang sangat tajam dengan ujungnya yang sangat runcing sedang dipegang oleh sosok itu.
Dia merasa sangat ngeri membayangkan benda tajam itu. Apalagi yang di hadapannya itu bukanlah sosok yang dia kenal.
"S-siapa kau?!" mulai muncul ekspresi ketakutan dari wajah dan gerak-gerik perempuan itu.
Sementara sosok misterius itu enggan menjawab. Dia berjalan maju dan langkahnya semakin mendekati Kimberly.
Perempuan itu berjalan mundur tanpa berbalik ke arah belakang. Dia terus melangkahkan kakinya ke belakang hingga akhirnya kakinya tersandung oleh batu dan dia pun terjatuh.
"Aww!!" dia merintih kesakitan. Kakinya tampak memerah.
Sekarang Kim sudah tidak bisa mengelak lagi. Sosok itu mengangkat pisau dengan ujung yang sangat runcing itu ke atas. Kemudian melayangkannya ke perut perempuan di hadapannya itu dengan sangat kuat.
Croooosssss!!!!
Dengan sekali tebasan, darah langsung muncrat dari perut Kimberly. Bahkan darah itu mengenai topeng, jubah dan semua perlengkapan sosok misterius itu. Isi perut Kim termasuk usus dan yang lainnya sudah kelihatan.
Tubuhnya benar-benar sudah hancur. Mata perempuan itu melotot sebentar sebelum akhirnya tertutup untuk selama-lamanya.
Sosok misterius itu meninggalkan mayat Kimberly begitu saja. Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan cukup deras.
Edward telah kembali ke taman. Dia tak melihat ada Kim di meja makan. Yang benar saja inikan hujan, pikirnya.
Dirinya mencium aroma tak sedap berasal dari arah ujung taman itu. Walau hujan, namun masih tetap bisa tercium.
Dia menerobos hujan untuk mencari sumber aroma tak sedap itu. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan istrinya terbujur kaku dengan keadaan perut yang sangat mengenaskan.
Perut perempuan itu sudah benar-benar hancur lebur dan bersimbah darah. Lelaki itu tak sanggup menyaksikan pemandangan di hadapannya ini.
Dia merasa seperti ingin pingsan. Tubuhnya menjadi lemah begitu saja. Bahkan dia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Dadanya terasa seperti ditusuk-tusuk dengan anak panah.
Dia terjatuh di dekat mayat istrinya yang meninggal dengan cara yang sangat tragis itu. Air matanya bercucuran seiring dengan turunnya air hujan. Muncul juga rasa bersalah atas dirinya sendiri.
Keesokan harinya, lokasi di sekitaran rumah Edward mulai diamankan oleh petugas polisi. Mereka sedang dalam melakukan proses penyelidikan.
Edward kini sedang dimintai keterangan oleh pihak polisi. Mereka tidak mendapatkan barang bukti apapun di lokasi kejadian.
Termasuk CCTV di belakang rumah juga mati pada saat malam itu. Sepertinya pelaku memang sengaja menyusun rencana tersebut dengan sangat baik.
Banyak orang-orang di sana curiga dengan orang terdekat. Mereka merasa mungkin ada mata-mata di dalam rumah itu.
Tidak mungkin jika pelakunya orang luar dapat dengan mudah masuk ke dalam rumah sebesar itu dan mematikan CCTV sehingga khusus malam itu CCTV tidak berfungsi.
Frans merasa sangat terpukul dengan kabar kematian putrinya tersebut. Selepas kematian istrinya yang belum lama, namun sekarang putri semata wayangnya juga dikabarkan meninggal.
Mayat Kimberly dibawa ke rumah sakit untuk di autopsi dan diselidiki. Bahkan Edward dilarang tinggal di rumahnya tersebut sampai kasus ini benar-benar selesai.
Karena untuk menghindari resiko kemungkinan ia nanti juga akan menjadi korban berikutnya. Siapa tahu dari rekan bisnis mereka sendiri yang mungkin iri.
Michelle telah mendapat kabar kematian Kim di internet. Semua orang yang berada di sekitarnya mulai tampak berkasak-kusuk.
"Wah, siapa jadinya pewaris Cornelia Group ini nantinya? Pak Frans kan udah tua pasti juga bentar lagi akan meninggal."
"Kok nona Kim meninggalnya belum lama dari bundanya sendiri ya? Fiks, ini dibunuh sih. Mungkin ada seseorang yang iri dengan keluarga mereka. Habis meninggalnya enggak wajar sih." timpal yang lainnya.
"Eh, sudah-sudah. Cukup kalian semua bicaranya. Mending sekarang kita lanjut kerja lagi." ucap seorang pria yang merupakan fotografer tersebut.
Kali ini adalah bagian pemotretan Michelle. Gadis itu sudah menyiapkan pose yang tepat untuk berfoto. Dan fotografer itu juga sudah siap dengan kameranya.
Dia melihat ke kameranya. Dia merasa seperti ada yang aneh. Kemudian dia melihat ke arah Michelle kembali.
Begitulah terus ia lakukan. Jantungnya berasa mulai berdetak lebih cepat. Tangannya juga sudah mulai berkeringat panas dingin.
"Kenapa lama sekali?" ucap temannya yang juga merupakan seorang fotografer.
"Kenapa wajah Michelle berubah menjadi serem banget kayak gitu ya? Ihh, aku merinding. Kayak nenek-nenek, bro." sahutnya.
Temannya itu melirik ke Michelle sekilas. Dia sama sekali tak melihat keanehan ataupun perubahan sedikitpun dari wajah cantik milik gadis itu.
"Apaan sih, kamu jangan ngaco deh. Orang muka Michelle itu cantik paripurna banget. Mata kamu kali yang udah eror."
"Oh iya juga ya. Aku kan enggak tidur semalaman tadi karna nonton film horor. Mungkin aku terbawa film sama rasa kantuk yang menghantui."
"Nah tu tau. Yaudah, sana kerja lagi yang benar."