"Oke. Dua Cinnamon Pumpkin Chai latte," jawab gue sambil mencatat di kasir. Gue perhatikan dia. "Kalau mau sekalian nambah satu, gue kasih gratis, deh!"
"Lo kira gue butuh belas kasihan lo?" Nada suaranya ... gila, ketus banget.
Gue sempat bengong.
"Bukan gitu. Lo, kan tetangga. Gue juga naruh kupon gratis buat semua toko di jalan ini, ya sekalian aja," jelas gue santai.
"Gue enggak mau minuman gratis. Skip aja!!"
Ya ampun, ribet banget hidup ini cowok?
"Ya udah, bebas," balas gue sambil mengangkat alis, cuek saja. Yang penting niat baik sudah gue keluarkan, terserah dia kalau mau resek. "Mau pakai kupon gratis buat salah satu ini, enggak?"
"Gue bayar dua-duanya!"
Oke, keras kepala.
"Seratus sebelas ribu," sahut gue sambil sodorkan tangan.
Dia malah lempar duit ke meja. Mungkin jijik kalau sampai menyentuh tangan gue.
Masalah dia apa, sih?
────୨ৎ────
Dear, Batari Season IV
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bertarung
...Nauru...
...────୨ৎ────જ⁀➴...
"Sialan. Lo buang-buang bakat cuma buat sparing lawan orang kayak gue, dan lo tahu itu," kata Igon, sementara gue memutari dia, kasih kode biar dia melempar pukulan lagi. "Lo tuh harusnya ada di ring, lawan badut yang kerjaannya nantangin lo, Nauru!"
"Fokus, bro!" sahut gue.
Dia menyerang pakai hook kanan, tapi gampang banget gue hindari. Gue balas dengan beberapa pukulan kecil, sengaja, biar dia terbakar emosinya. Dia sebentar lagi tanding, tapi kelakuannya masih saja santuy.
"Butuh break gue," katanya sambil menunduk, tangan bersandar di lutut, napas terengah-engah.
"Igon, kalau lo enggak mulai serius, lo bakal dibantai di atas ring nanti."
"Gue tahu. Besok aja, ya?" katanya sambil teguk botol air berapa kali terus keluar dari ring, menyebrangi tali.
Gue cuma bisa geleng-geleng. Gue mengerti bagaimana caranya latihan buat tanding, mengerti bagaimana cara menang. Tapi kalau Igon enggak gigih dari sekarang, dia bakal jadi samsak hidup nantinya.
Sisa satu jam, gue habiskan buat memisahkan dua petinju yang lagi berantem, melatih Alexa, terus masuk ke kantor buat bereskan dokumen sebelum menutup hari ini.
Saat gue lihat ke bawah, layar HP menyala, notif menumpuk kayak dosa. Enggak pernah ada kabar bagus kalau notif sudah segila ini.
...📩...
^^^Barrie: Orang ini salah cari musuh. Telpon gue, kita bahas ini.^^^
^^^Lily: Sudah lah, cuekin. Dia cuma mau mancing lo. Lo enggak perlu buktiin apa-apa ke siapa pun.^^^
Adik gue, Lily, paling anti kalau gue jadi petinju. Dia, nenek, sama Mama senang banget pas gue berhenti tanding buat mengurus gym.
^^^Octavia: Kalau lo mutusin buat lawan dia, gue siap nulis artikel biar semua orang dukung lo. Apapun pilihan lo, gue backup.^^^
Istri kakak gue ini reporter olahraga terkenal. Gue tahu, dia sama Barrie bakal selalu pasang badan buat gue.
Grup chat Fight Or Die ramai banget, semua orang kasih komentar.
^^^Hazerrie: Tolong banget, hajar tuh orang ampe kapok.^^^
^^^Mohan: Waktunya lo pakai sarung tinju lagi, bro. Muka lo cakep, jangan sampai penyok. Ayo mulai latihan!^^^
^^^Eros: Orang ini memang tolol level dewa. Apapun keputusan lo, kita tetap di belakang lo.^^^
^^^Hazerrie: Kalau lo males, gue yang turun hajar dia.^^^
^^^Kai: Bakar aja sekalian tuh bocah.^^^
^^^Hazerrie: Gue sudah koordinasi. Eros urus Chumpa. Kita ketemuan di Spunky Bars jam 8 malam. Lo enggak sendirian, Rabbit Boy.^^^
Gue usap muka, tarik napas dalam-dalam. Apa pun yang sedang terjadi, feeling gue enggak enak.
Gue buka sosmed, notifnya ... banjir. Cek direct message, ada video dari Rahardian. Dia berdiri di depan gym, dikelilingi gengnya sambil bawa seekor kucing.
..."Yo, Man ... Gue mau ngenalin peliharaan baru gue. Namanya Nauru. Cocok, kan?"...
Dia tertawa, terus anak-anak gengnya terbahak-bahak kayak bocah. Setelah itu, dia lihat kamera dan koar-koar lagi.
..."Berhenti sembunyi, Nauru. Lo enggak bisa terus-terusan pakai alasan kematian bokap lo. Waktunya rematch. Atau ngaku aja lo pengecut. Gue penasaran, gimana reaksi kakak lo kalau tahu lo sepengecut itu?"...
Dia kedip ke kamera, lalu videonya mati.
918.000 views dalam 4 jam.
Gue cek komen, campur aduk. Ada yang bilang dia brengsek, ada juga yang setuju dan suruh gue muncul.
Tiba-tiba HP gue berbunyi. Nama Barrie muncul.
...☎️...
"Yo, Barrie."
^^^"Lo aman?"^^^
"Aman. Gue baru lihat videonya sekarang. Tadi HP gue tinggal pas latihan."
Barrie buang napas berat.
^^^"Dia enggak bakal berhenti, Ru. Dia lagi cari panggung. Dan sayangnya, dia dapat itu."^^^
"Sorry ya, lo jadi keseret."
^^^"Gue enggak peduli. Yang bikin gue kesal, dia ngelakuin ini buat mancing lo. Dan parahnya, dia berhasil. Gue udah bilang, gue siap pasang badan buat lo. Gue hajar dia kalau perlu."^^^
"Enggak usah. Itu yang dia mau. Drama besar buat naikin pamor dia. Tawaran buat gue tanding juga naik terus. Terakhir ditawar tujuh ratus juta."
^^^"Cuma tujuh ratus? Heloo ... Pemenangnya bakal bawa pulang miliaran. Tapi jangan mikirin duit, Ru. Karena gue selalu ada buat lo."^^^
Barrie memang selalu support gue. Dia bantu kuliah Lily, bahkan pernah menawari gue beli rumah. Tapi gue enggak mau merepotkan. Gym ini punya gue, dan gue tinggal di studio kecil belakangnya. Gue hargai tawaran Barrie, tapi gue ingin jalani semuanya sendiri.
"Gampang ngomongnya kalau lo udah tajir, Bro. Tapi ini duit gede. Bisa ngembangin gym, bantu Mama, Nenek, beli rumah. Sisanya nabung."
^^^"Pertanyaannya, emang lo mau balik tinju lagi, hah??"^^^
Gue usap tengkuk, berpikir.
"Gue kira gue udah kelar sama dunia ini. Tapi ... mungkin satu kali lagi enggak masalah. Duit segede itu, bro. Dalam sehari."
^^^"Lo yakin? Dia aktif terus pas lo vakum. Pengalaman dia udah nambah, dia juga pernah pegang sabuk juara sebelum direbut Jeka. Dia bukan kacangan."^^^
"Gue tahu. Makanya gue butuh waktu beberapa bulan buat nyiapin diri. Tapi ini bakal bikin Mama sama nenek stres. Dan Lily? Wah, bisa ngamuk dia."
^^^"Lupain orang lain. Lo mau apa?"^^^
"Gue enggak mau hidup gue kelar ditonjokin orang."
Gue sandarkan badan ke kursi.
^^^"Sepakat. Gue juga enggak mau lihat lo babak belur."^^^
"Tapi ... buat sekali ini, gue rela. Buat membungkam si brengsek itu. Dan kalau dapat duit segitu? Kenapa enggak? Selama gue bisa keluar ring dengan keadaan masih utuh."
Tiba-tiba suara cewek masuk ke telpon.
^^^"Nauru, ini gue Octa!"^^^
Kayaknya Octavia lagi merebut HP Barrie. Biasa, dia suka nimbrung kalau gue ngobrol sama Barrie.
^^^"Jujur aja, gue enggak suka kalau lo tanding. Tapi kalau ini benaran cuma sekali doang, gue bisa bantu urus liputannya. Kita atur narasinya biar lo enggak kelihatan kayak pengecut, malah kayak pejuang. Dan muka ganteng lo itu, hahhaha, modal besar buat sponsor."^^^
Barrie tertawa.
^^^"Bakat keluarga nih, Sayang?"^^^
Gue ikut tertawa.
"Oke, gue pikirin. Kalau gue mutusin tanding, Kak Octa yang urus beritanya. Thanks, Kak."
^^^"Kita dukung apapun keputusan lo. Tapi jujur, gue pingin banget tonjok tuh orang."^^^
Suara Barrie berat.
^^^"Tenang, Ru, lo aman sama gue."^^^
Gue tutup telepon, membereskan sisa pekerjaan di gym, terus lihat HP yang baru bergetar.
...📩...
^^^Mama: Udah akhir Januari masih hujan. Mama ama nenek mau nonton film sambil minum Chai Latte Labu. Bisa beliin?^^^
Ya Tuhan.
Apa, sih spesialnya minuman sialan itu?
sampe Nauru akhirnya mau minuman gratis di cafe Ailsa 🤭
walau di cerita awal, Caspian itu adiknya tapi disini jd kakaknya, gpplah. mohon lanjutannya Thor 🙏🙏🙏🙏