Aran Abisaka adalah pendekar dari tanah Nusantara. Dari bayi hingga dewasa ia dibesarkan oleh seorang pria tua yang kemudian ia sebut sebagai Master/Guru.
Selain mencari jati dirinya dan menjalankan tugas dari Masternya, ia juga memiliki cita-cita untuk mengelilingi dunia ini dan bisa memiliki banyak teman serta kerabat.
Cerita ini mengisahkan Perjalanannya di Nusantara yang berlanjut menyusuri lautan samudera hingga Kerajaan Malaya dan dataran tengah yang begitu luas.
Aran adalah pendekar yang sangat menjunjung tinggi nilai persahabatan dan kekerabatan.
"Siapapun didunia ini, tidak ada yang boleh menyakiti sahabat dan kerabatku. Selama mereka semua berada di jalan yang benar"
Mohon bijak dalam membaca cerita ini.
Minimal umur pembaca 18thn.
*Ini hanyalah cerita fiksi, tidak ada hubungannya dengan nama tempat dan para pemerannya*
Instagram : @yukishinamt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuki shina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertaruhan
Asap yang menutupi daerah tersebut lambat laun semakin menipis. Setelah asap hilang terlihat Aran dan kelompoknya terlindungi oleh cahaya biru, tidak ada sedikitpun luka bahkan debu pun tidak bisa menyentuh mereka semua.
Di lain pihak, ketua penyamun tersebut terlihat terkejut melihat penampilan Aran dan kelompoknya. Dia sampai mengucek ngucek matanya apakah yang dilihatnya ini benar benar nyata. Karena selama ini belum ada yang berhasil selamat dari serangan tersebut, walau ada beberapa orang yang selamat tetapi biasanya mereka akan mengalami luka yang sangat parah.
"Aku mengakui kehebatanmu anak muda. baru kali ini aku menemukan orang yang berhasil melawan jurus pamungkas ku tanpa terluka sedikit pun. Boleh aku tau siapa namamu?"
Mendengar ucapan ketua penyamun tersebut, Aran hanya tersenyum ramah. Dia pun berkata.
"Hahaha, terima kasih senior atas pujiannya. Saya hanyalah seorang pengelana biasa, bukankah sepertinya jika seseorang menanyakan nama, maka terlebih dahulu dia harus menyebutkan namanya?" ucap Aran kepadanya.
"Hahaha, menarik. Saya menyukai sikapmu anak muda. Di dunia persilatan namaku adalah Lingga Mada, sekarang boleh saya tau nama pendekar muda ini?" Tanya Lingga kepada Aran.
Aran yang melihat kesopanan pendekar Lingga langsung merubah sikapnya. Karena dilihatnya sekarang ini, Lingga nampak ramah dan tidak ada nafsu membunuh seperti di awal pertemuannya.
"Namaku adalah, Aran Abisaka" Ucap Aran kepada Lingga.
"Ooh, namamu sangat bagus, boleh saya tau siapa nama gurumu, yang berhasil memiliki murid berbakat seperti mu?" Tanya Lingga kembali.
Lingga sangat penasaran siapa guru Aran, karena sangat jarang dia mengetahui orang yang bisa menghalau jurus pamungkasnya. Dia tidak ingin menyinggung karakter besar di belakang Aran, karena jika memang dia memiliki pelindung yang kuat. Dia takut seluruh kelompoknya bahkan keluarganya akan terancam.
"Mohon maaf senior, nama guruku tidaklah boleh aku ceritakan kepada siapapun" Jawab aran sambil menangkupkan kedua tangannya kepada Lingga.
"Hahaha baiklah kalau itu kemauanmu, saya tidak akan memaksanya". Dia pun berjalan menghampiri aran perlahan lahan. Aran yang melihat Lingga menghampirinya berusaha terlihat tenang. Walau sebenarnya dia sudah bersiap dengan mengalirkan tenaga dalamnya ke dalam dantiannya dan mengalirkannya keseluruh titik meridian tubuhnya.
"Aran, bagaimana kalau kita bertaruh" Ucap Lingga kepada Aran setelah jarak mereka cukup dekat.
"Boleh saya tau apa yang ingin senior pertaruhkan"
"Hmm, bagaimana jika kita bertarung kembali. Jika kamu bisa bertahan 100 jurus dariku. maka kamu bisa membawa mereka semua pergi" Lingga berkata sambil menunjuk ke kelompok Aran yang sekarang berdiri di belakang Aran.
Dalam hati Aran, dia juga merasakan bahwa senior di depannya ini bukanlah pendekar sembarangan. Tenaga dalam yang di keluarkan sebelumnya bukanlah kekuatan penuhnya. Aran yakin jika dia menggunakan tenaga penuhnya untuk menyerangnya. Pelindung Naga Biru Aran pasti akan hancur.
"Baiklah senior, tapi saya punya satu permintaan tambahan" jawab Aran mencoba menawar kepada Lingga.
"Silahkan katakan" Jawab Lingga.
"Aku ingin selama 5 tahun kedepan senior tidak boleh mengganggu masyarakat kerajaan Mahwapatih. Bagaimana menurutmu?" Ucap Aran kepadanya sambil melihat raut wajah Lingga. Aran sudah bersiap jika ternyata Lingga tidak akan setuju dengan ini semua. Aran mencoba bertaruh dengan semuanya. Karena Aran sangat mengkhawatirkan keselamatan penduduk Mahwapatih terutama keluarga Berliana. Karena itu semua dia berani membuat pertaruhan ini.
"Jaga ucapanmu bocah cilik, kau fikir kau bicara dengan siapa, berani tawar menawar kepada ketua!" teriak seorang pemuda di dekat Lingga. Lingga langsung mengangkat tangannya agar pemuda tersebut tidak ikut campur masalah tersebut. Dia pun tersenyum kepada Aran.
"Hehehe, Menarik. Saya akan menerimanya"
"Ketuaaaa!" Teriak semua bawahan Lingga.
sukses slalu