Perawan Tua, begitulah orang-orang memanggilnya. Di usia yang ke 30 tahun Safira dituntut untuk segera menikah dan membangun rumah tangga seperti kedua Kakaknya. Namun, di usia yang sudah terbilang tidak muda lagi rintangan Safira untuk mendapatkan sang imam justru diuji berkali-kali oleh Sang Pencipta.
Dia harus mendapatkan penolakan dari laki-laki yang tidak dia cintai dan dia harus bersabar dari orang-orang yang memandang rendah kesepiannya. Diantara semua ujian itu dia sangat tahu bahwa jauh di dalam hati ada seseorang yang terus di langitkan namanya.
Dia Muhammad Ali Althalib, pemuda tampan lulusan pondok pesantren dengan segala kelebihannya. Ali panggilannya, pengisi hati sang pemilik gelar "PERAWAN TUA" yang selalu merendahkan diri karena perbedaan usia yang jauh.
Selisih 6 tahun, jarak yang selalu menghantui Safira.
Untuk Ali, dia ingin menjadi seperti Khadijah RA istri Rasulullah Saw yang menyatakan cintanya langsung kepada sang kekasih. Namun, hatinya takut karena mungkin Ali tidak mau menjadi Muhammad kedua untuknya.
Jika tidak bisa mengikuti jejak Khadijah RA, maka Safira akan mengikuti jejak Fatimah putri Rasulullah Saw untuknya. Merayu Sang Pencipta di sepertiga malam agar mau menjadikan Muhammad Ali Althalib sebagai Ali-nya selayaknya perjalanan kisah cinta Ali dan Fatimah putri Rasulullah Saw yang mengguncang seluruh penghuni langit.
Namun, akankah Allah mau mendengar doa-doa yang dia langitkan sang pengikut Fatimah putri Rasulullah Saw?
Jawabannya ada di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.1
...وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ...
..."Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."...
...(QS. Ar-Rum 30: Ayat 21)...
...🍚🍚🍚...
Akad jatuh 3 hari lagi, dan hari ini semua orang sibuk melakukan persiapan untuk acara akad besok. Dari keluarga dekat sampai keluarga jauh datang berkumpul di rumah untuk membantu membuat persiapan. Mereka sangat menyambut baik hari bahagia ini karena akhirnya Safira melepaskan masa lajang.
Beberapa keluarga yang sempat merendahkan Safira sebelumnya cukup malu untuk menyampaikan ucapan selamat atau semacamnya kepada Safira, terlebih lagi mereka tidak menyangka jika sang calon suami adalah tetangga dekat mereka.
Siapa yang tidak kenal Ali, pemuda tampan ini sudah lama mencuri perhatian mereka semenjak pulang dari pondok pesantren. Bahkan namanya semakin santer disebut ketika Ali resmi menjabat sebagai CEO perusahaan Ayahnya yang memutuskan untuk pensiun dini untuk menikmati hari tua bersama keluarganya.
Dulu, mereka berlomba-lomba menjodohkan Ali dengan putri masing-masing. Bergegas merawat dan mempercantik putri masing-masing untuk menarik perhatian Ali. Awalnya, semangat mereka menurun tatkala tersiar kabar kedekatan Kayana dan Ali. Di tambah lagi kabar ini semakin diperkuat ketika melihat Kayana sering berkunjung ke rumah Ali di blok A. Padahal itu hanyalah rumor yang dibesar-besarkan dan sengaja dilebih-lebihkan untuk memadamkan ambisi mereka.
Namun sekarang ceritanya terbalik 360 derajat jauh dari perkiraan semua orang. Mereka tidak pernah menduga bila orang yang akan bersanding dengan Ali adalah Safira. Wanita dewasa yang tidak suka menonjol dan terkesan dingin ini tidak pernah memperlihatkan ketertarikannya dengan laki-laki lain apalagi sampai mendekati Ali.
Sampai-sampai mereka menyimpulkan bila Safira adalah wanita penggila kerja dan akan tetap melajang selama seumur hidupnya. Seiring waktu panggilan perawan tua untuk Safira tiba-tiba muncul entah siapa yang memulai. Tahu-tahu panggilan ini sudah menjadi gelar resmi untuk Safira, sejujurnya ini terkesan kasar tapi mereka yang suka berbicara tidak terlalu memikirkannya karena Safira sendiri tidak perduli dengan gelarnya.
Qadarullah, Allah kuasa atas segalanya. Berkali-kali menahan sesak setiap kali mendengar suara-suara merendahkan dari mulut mereka, Allah tanpa disangka-sangka mengabulkan doa Safira dengan kejutan yang tidak terduga. Ali jawabannya, laki-laki yang selama ini menghantui pikirannya kini Allah takdirkan menjadi imamnya.
Sungguh, janji Allah itu pasti dan siapapun tidak akan pernah kecewa bersandar kepada-Nya.
"Gaun pengantinnya kenapa diliatin terus, udah dicoba belum?" Suara lembut Annisa membubarkan lamunan Safira.
Dia segera menoleh ke samping dan menemukan Annisa sudah duduk di sampingnya.
"Alhamdulillah, aku udah coba, Kak. Kainnya lembut dan halus walaupun agak sedikit berat." Jawab Safira menilai.
Tangannya menyentuh kain gaun pengantin itu, mengusapnya ringan sekali lagi memastikan penilaiannya.
"Hampir semua gaun pengantin berat, dek. Kakak dulu ketika menikah dengan Mas Gio gaunnya berat banget, sampai-sampai Kakak gak kuat berdiri lebih dari 1 jam sewaktu walimahan. Tapi gaun pengantinnya nyaman'kan, dek, buat acara lama? Soalnya kan besok kamu langsung walimahan setelah akad jadi cukup memakan waktu." Tanya Annisa memastikan.
Untuk acara yang memakan waktu lama disarankan menggunakan yang nyaman agar ketika acara dimulai Safira tidak terganggu dan semua kegiatan bisa berjalan lancar.
"In shaa Allah, nyaman kok, Kak. Kainnya lembut dan halus jadi Safira besok bisa santai."
Annisa mengangguk, melihat waktu sebentar lagi sore dia lalu berdiri untuk menyiapkan hena yang akan digunakan Safira nanti malam.
"Alhamdulillah, Kakak bisa tenang kalau gitu." Mengusap kepala Safira sayang, "Kakak ke Umi dulu ya, dek. Katanya nanti malam kamu udah pakai hena jadi sore ini warnanya harus sudah siap."
Pipi Safira sontak merona,"Warnanya siapa yang milih, Kak?"
Annisa menggelengkan kepalanya geli.
"Yang milih Ali dong, dek. Dia milih warna yang cantik, dek. Kamu pasti langsung suka sama pilihan warnanya."
Safira belum tahu warna yang Ali pilih karena memang tidak ada yang mau memberitahunya ketika dia bertanya. Mereka bilang Safira akan tahu ketika waktunya nanti.
"Um, Safira pasti suka." Gumam Safira malu.
Annisa tertawa kecil, mencubit pipi adiknya gemas. Usia Safira memang sudah dewasa tapi wajah cantiknya mengkhianati hal tersebut. Safira malah tidak jauh berbeda dengan gadis-gadis diluar sana apabila dia menggunakan pakaian gadis-gadis sekarang yang trendi dan kekinian.
Tapi sayangnya Safira tidak terlalu suka menonjol sehingga kecantikannya tersembunyi sangat dalam.
"Allah sayang banget sama kamu, dek." Ucap Annisa lembut sebelum keluar dari kamar Safira.
"Allah menyayangi kita semua, Kak." Bisik Safira penuh syukur.
Dia tersenyum lebar, berjalan ke jendela kamarnya untuk menghirup udara sore yang menyegarkan. Diam menatap hamparan langit, hati kecilnya bertanya-tanya apa yang sedang Ali lakukan diujung sana.
Apakah dia merindukannya?
Apakah dia memikirkannya?
Atau..
Apakah Ali sudah tidak sabar bertemu dengannya?
Safira tidak tahu karena dia tidak bisa menghubungi Ali sejak malam itu-lebih tepatnya Safira masih belum tahu kontak Ali sampai sekarang dan Ali pun tidak berinisiatif sama sekali untuk menghubunginya.
Namun, Umi dan saudara-saudaranya bilang Ali sering menghubungi mereka untuk menanyakan kabar atau hal-hal yang dibutuhkan pihak Safira.
Mereka sering bertukar kabar sementara Safira hanya bisa diam di dalam kabar menunggu setiap kabar yang datang.
"Qadarullah, inilah jawaban atas doa-doa ku. Tanpa disangka-sangka Allah mau menjabah doa yang aku layangkan ke pintu-Nya. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ...Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung. Terimakasih karena Engkau mau menyatukan kami dan aku berharap semoga ikatan ini adalah ikatan yang sudah Kau tulis di Lauhul Mahfudz, tidak akan pernah terputus sekalipun kami di Jannah-Mu." Bisik Safira penuh akan rasa syukur dan penghambaan.
Dia sangat bahagia karena selama ini Allah tidak meninggalkannya, menjawab doa-doanya untuk menyatukannya bersama Ali, pemuda luar biasa yang sudah lama mengisi hatinya.
Safira berharap dia dan Ali adalah pasangan yang sudah Allah takdirkan, ditulis di dalam Lauhul Mahfudz sebagai jodoh yang tidak akan pernah berpisah.
Sebab, segala sesuatu di dunia ini sudah Allah atur sebelumnya termasuk perihal jodoh. Dan dia berharap ikatannya dengan Ali menjadi salah satu pasangan yang Allah ridhoi, karena..
...كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ...
"Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim)
Bersambung..
Bisa aja bikin alasan karena tidak mau melaporkan malah dapat hukuman 🤦♂️🤦♂️🤦♂️