Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 — Jejak Racun di Tanah Hitam
Pagi itu, aroma sup ikan gurih buatan Yana masih membumbung hangat di udara, membawa ketenangan singkat setelah kepanikan semalam.
Warga suku yang baru selesai bergotong-royong merapikan benteng tampak menikmati sarapan mereka.
Namun, ketenangan itu mendadak pecah saat jeritan dari atas menara pengawas menggema keras di seluruh pemukiman.
"Kepala Suku! Ada rombongan asing mendekati gerbang utama!" teriak penjaga dari atas menara. "Mereka berjalan pincang! Banyak yang terluka!"
Aron yang sedang memeriksa pasokan kayu bakar segera berdiri. Tangan besarnya meraba gagang kapak besi di pinggangnya.
"Yana, Bimo, ikut aku!" panggil Aron tegas.
.
Kriet...
Gerbang kayu ek raksasa berdecit berat saat dibuka perlahan.
Di luar benteng, tampak sekitar lima belas orang bergerak lambat menembus padang salju. Pakaian mereka terbuat dari kulit beruang hitam bertanduk—pakaian khas yang sangat dikenal oleh suku-suku di wilayah utara.
"Itu... warga Suku Beruang Hitam!" bisik Paman Bimo ragu-ragu. "Tapi kenapa mereka terlihat seburuk itu?"
Rombongan itu tidak membawa senjata sama sekali. Tubuh mereka kurus kering, kulit mereka pucat pasi dengan bercak-bercak kehitaman di sekitar leher. Beberapa wanita memeluk anak-anak mereka yang terus terbatuk lemah.
Begitu melihat Aron melangkah keluar gerbang, pria paruh baya yang memimpin rombongan itu langsung jatuh berlutut di atas salju dingin.
Bruk!
"Kepala Suku Aron... Tolong kami..." ratap pria itu dengan suara parau. Matanya merah dan cekung, memancarkan keputusasaan yang amat mendalam.
"Kepala Suku Boris?" Aron terkejut mengenali pria di depannya. Ia segera membungkuk dan membantunya berdiri. "Apa yang terjadi pada Suku Beruang Hitam? Mengapa kalian sampai meninggalkan pemukiman kalian yang kuat?"
Boris menggelengkan kepala dengan tubuh gemetar hebat. Air mata menetes membasahi jenggot tebalnya yang beruban.
"Pemukiman kami... sudah tidak bisa ditinggali lagi, Aron," bisik Boris memilukan. "Tanah kami mati. Air kami beracun. Suku kami akan punah jika terus bertahan di sana!"
Aron mengernyitkan kening tebalnya. Tanpa berpikir panjang, ia melambaikan tangan memberi isyarat kepada warga suku.
"Bawa mereka masuk! Berikan air hangat dan makanan!" perintah Aron nyaring.
Para wanita Suku Serigala segera bergerak cepat. Mereka membimbing warga Suku Beruang Hitam menuju aula utama, membawakan mangkuk-mangkuk sup ikan hangat dan selimut bulu tebal.
Anak-anak Suku Beruang Hitam melahap makanan itu dengan sangat kelaparan, seolah-olah mereka belum pernah menyentuh makanan selama berhari-hari.
Yana berdiri di sudut aula, meneliti rombongan tamu tersebut dengan mata cokelatnya yang tajam.
"Ciri-ciri ini..." gumam Yana pelan.
Ia memperhatikan kulit wajah warga Suku Beruang Hitam yang mengelupas dan bercak hitam berbau busuk di leher mereka. Tanda-tanda itu persis seperti racun keras yang menyerang organ dalam secara perlahan.
.
Setelah menyantap makanan dan mendapatkan sedikit tenaga, Boris duduk di hadapan Aron, Yana, dan Paman Bimo.
"Bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Boris?" tanya Aron serius. "Suku Beruang Hitam terkenal memiliki tanah perburuan paling subur di wilayah utara. Bagaimana mungkin tanah kalian mati?"
Boris menarik napas panjang yang terdengar berat dan menyiksa.
"Semuanya bermula sekitar dua minggu yang lalu," tutur Boris dengan pandangan kosong menatap ke lantai kayu. "Awalnya, pohon-pohon cemara di hutan utara mendadak mengering. Daun-daunnya membusuk dan menghitam hanya dalam semalam."
"Mengering dalam semalam?" sela Paman Bimo terkejut. "Tapi ini musim dingin! Pohon-pohon itu seharusnya dilindungi es!"
"Bukan karena dingin, Bimo," jawab Boris penuh amarah dan keputusasaan. "Tanahnya yang terbakar dari dalam! Tak lama setelah pohon-pohon itu mati, sumber air sungai di wilayah kami berubah warna menjadi kehitaman dan berbau menyengat seperti bangkai."
Yana melangkah mendekat ke meja. "Lalu bagaimana dengan hewan-hewan buruan di sana?"
Boris menatap Yana dengan mata bergetar.
"Hewan-hewan itu gila," bisik Boris horor. "Rusa, serigala, hingga beruang... mereka meminum air hitam itu dan mendadak mengamuk saling membantai! Daging mereka membusuk saat masih hidup, dan darah mereka berwarna hitam pekat!"
Seluruh aula mendadak hening.
Para pemburu Suku Serigala yang mendengar cerita itu menelan ludah berulang kali. Hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka kini berubah menjadi neraka bertanah busuk.
"Kami kehilangan lebih dari separuh warga suku karena mengonsumsi air dan daging beracun itu," lanjut Boris memegang dadanya yang sesak. "Tanaman tidak bisa tumbuh, hewan menjadi monster, dan udara terasa membakar dada. Kami tidak punya pilihan lain selain melarikan diri ke selatan untuk meminta bantuan kalian."
Aron mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas meja kayu.
"Kerusakan skala besar seperti ini tidak mungkin terjadi secara alami," ucap Aron tegas. "Ada yang sengaja merusak keseimbangan alam dan mencemari aliran air di hutan."
"Benar," sahut Yana pelan. "Penjelasannya sama seperti mimpi dari Dewa Binatang. Jika tanah dibiarkan rusak dan beracun, seluruh suku di hutan ini akan binasa tanpa perlu perang."
"Boris," panggil Yana lagi, menatap sang Kepala Suku Beruang Hitam. "Apakah kamu sempat mencari tahu dari mana sumber aliran air hitam yang mencemari sungai kalian itu berasal?"
Boris terdiam sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat kembali perjalanan melarikan diri mereka yang penuh penderitaan.
"Sebelum kami mengungsi, aku menyuruh dua pemburu terbaikku untuk menyusuri hulu sungai," kata Boris dengan suara pelan. "Mereka mengikuti jejak bau busuk itu melintasi celah bukit batu di batas timur."
"Dan apa yang mereka temukan?" tanya Paman Bimo penasaran.
Boris mengusap wajahnya yang kasar, tatapan matanya berubah sangat ketakutan.
"Satu pemburuku tewas dihantam panah beracun saat mengintai dari atas bukit. Tapi pemburu yang selamat memberitahuku..." Boris menggantungkan kalimatnya, napasnya memburu cepat.
"Katakan, Boris! Di mana tempat itu?!" desak Aron tak sabar.
Boris menatap mata Aron dan Bimo bergantian dengan raut wajah pucat pasi.
"Pusat pencemaran itu... kabut asap hitam dan cairan racun yang merusak seluruh hutan..." bisik Boris gemetar. "Semua racun itu keluar dari dalam gua penelitian rahasia yang baru dibagun... di tengah-tengah wilayah Suku Rubah!"