TAHAP REVISI
MASIH BANYAK TYPO DAN SALAH EYD, MOHON DIMAAPKEN🥲
Bagaimana jika ternyata selama ini kalian diawasi secara diam-diam. Bahkan saat tidur ternyata seseorang juga datang menemanimu tidur.
Seorang pria misterius yang selama ini ternyata memperhatikan seorang wanita bernama Valerie. Apa yang selanjutnya akan terjadi?
ayo, baca dan tambahkan dalam list favorit kalian.
Bye 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Akhirnya Sean Update.
Tekan tombol likenya dulu dong.
Jangan lupa Vote cerita ini kalau kalian suka, untuk mendukung Author menjadi seorang penulis yang lebih baik lagi.
~Selamat membaca~
***
Valerie termenung dengan bolpoin yang ia mainkan di tangan kanannya. Memencet bolpoin itu berulang kali dengan pandangan kosong. Dia sudah tidak fokus lagi untuk bekerja semenjak kejadian ini menimpanya.
Termenung dan terdiam dengan pandangan kosong lah kegiatan di ruangan kerjanya ini.
Cklek..
"Vale." Valerie menatap tak minat ke arah pintu, di mana Melanie datang dengan senyum lebarnya.
"Sudah jam makan siang. Ayo makan siang!" ajak Melanie sambil berjalan mendekatinya.
Valerie menggeleng tak minat dan kembali termenung dengan pandangan kosong.
"Ck, Valerie hentikan kebodohanmu ini! Kau tampak sangat konyol saat ini." ucap Melanie kesal. Vale menatap Melan sekejab dan kembali memainkan bolpoinnya.
"Huhhh... Aku akan membawakan makan siangmu ke sini." ucap Melanie setelah membuang nafas kasarnya. Setelah itu beranjak ke luar dari ruangannya.
Beberapa menit setelah kepergian Melanie, bunyi ponselnya kini mengganggu kegiatan termenungnya. Di tatapnya layar ponselnya yang menunjukkan nama 'Kak Jovan'.
Valerie mengangkatnya. "Halo kak."
"Vale, kau tidak akan makan siang? Kenapa termenung seperti itu? Kau juga harus tetap menjaga kesehatanmu." Valerie mendesah. Ini pasti ulah Melanie.
"Melanie sudah membawakan makan siangku kak." jawab Vale.
"Kenapa tidak turun ke kantin bersamanya?" tanya Jovan lagi.
"Aku tidak ingin muncul di depan banyak orang." jawab Vale. Jovan terdiam di seberang sana dan akhirnya mendengus pelan.
"Baiklah. Kakak akan menjemputmu nanti." ucap Jovan.
"Aku bawa mobil." jawab Vale.
"Kakak yang bawa. Aku akan pergi dengan taksi." jawab Jovan.
"Baiklah."
"Jangan lupakan makan siangmu Vale!" titah Jovan tegas.
"Iya kak."
"Baguslah. Kakak tutup!"
"Hmmm." dehem Vale dan akhirnya sambungan telepon mereka berakhir.
Vale membuang nafasnya pelan sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
Di letakkan kepalanya di lipatan tangannya dengan posisi tidur dia atas meja. Pikirannya melayang memikirkan Sean yang belum juga menghubunginya.
Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia sama menyedihkannya seperti aku? Apa yang akan dia lakukan? Kenapa belum menghubungiku? Pertanyaan itu selalu terngiang di kepalanya.
Sean adalah satu-satunya penyelamat untuk membersihkan nama baiknya. Kepala Vale sampai pusing hanya karena memikirkan ini semua. Rasanya dia ingin tidur siang saat ini untuk melupakan semua permasalahan hidupnya.
Dia rindu tidur di ruangan pribadi Sean yang nyaman. Dia rindu sikap perhatian pria itu padanya. Dia rindu Sean.
Valerie lagi-lagi membuang nafasnya gusar. Di angkat kepalanya perlahan dari atas meja. Tangan terulur membuka laci mejanya dan mengambil sesuatu benda berwarna emas yang kecil dan panjang.
Bolpoin. Ya, itu adalah bolpoin bertuliskan nama Sean Matthew Aliano yang pernah pria itu berikan di hari pertama mereka bertemu.
Senyum Vale terbit seketika. Kenangan-kenangan itu kembali. Di mana dia berdiri takut di depan meja Presdir karena tidak membawa alat tulis.
Di mana pria itu yang tiba-tiba menciumnya seenaknya di awal pertemuan mereka. Bossy dan Otoriter, di tambah Overprotektif, benar-benar membuat Vale rak bisa melupakan semuanya tentang pria itu.
Valerie termenung dengan tatapan lekat pada bolpoin emas itu. Dia tidak mengerti kapan perasaan ini muncul. Pria itu yang datang tiba-tiba dan mengusik hidupnya kini berhasil mengusik hatinya. Sampai rasanya sakit tak tertahan.
Cklek..
Valerie buru-buru menyimpan bolpoin tersebut ke dalam laci dan menutupnya cepat.
Melanie masuk dengan senampan makan siang untuknya dan untuk Vale.
Di letakkan nampan tersebut di atas meja Vale.
"Makan! Sebentar lagi habis jam makan siang." ujar Melan. Vale mengangguk pasrah dan memakan makanannya dengan tak niat.
Bersambung....
Hay.. Hay.. Hay
Vote dan like serta komen.
Bye... 😘💕
jgn jgn yg bikin merah leher kamu jg pk direktur nih