Novel juara 3 Cerita Seram by Noveltoon.
⛔PLAGIAT pergi jauh, ya.⛔
Kemiskinan membuat Ningsih menjual jiwanya kepada iblis dengan tumbal orang-orang terdekat. Kini, Ningsih sudah tujuh kali menjanda. Berawal dari pertemuan secara nyata dengan Bima-Iblis yang menjeratnya, Ningsih mulai jatuh cinta.
Mampukah Ningsih lepas dari JERAT IBLIS? Ataukah semua pria yang menjadi suami Ningsih akan menjadi tumbal begitu saja?
Baca selengkapnya di sini^^
***
Sudah terbit cetak versi Novel by Noveltoon x AT Press. Bagi yang minat chat saja.
***
WAJIB baca Kekasihku Iblis setelah selesai baca ini^^ nanti anak-anak Bima ada kelanjutannya juga di sana. Thanks.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Malam harinya, semua keperluan untuk ritual sudah siap. PakLek Darjo segera memulai ruwat agar Reno terbebas dari aura negatif itu.
"Le, nurut PakLek ya. Nanti ibumu juga PakLek usahakan bantu," ucap PakLek sambil mengusap wajah Reno dengan air bunga tujuh rupa.
"Iya, PakLek. Reno nurut saja. Reno kapok PakLek. Reno nggak mau begituan lagi sebelum nikah." Reno ketakutan karena tahu nyawanya terancam.
"Sudah nggak usah nangis. Reno pasti bisa melewati ini." Santi menyemangati adiknya.
"Iya kak, terima kasih. Maafin aku ya kak, Mah." Reno menatap kedua wanita terbaik di hidupnya.
Ratih tersenyum menatap anak lelakinya. Lalu masuk ke rumah bersama Santi dan BuLek Darjo ketika PakLek memberi aba-aba untuk pergi.
"PakLek, aku akan selamat kan?" tanya Reno dengan ragu.
"Berdoa Reno, Allah pasti memberi bantuan pada umatNya yang mau bertaubat." PakLek memulai ruwat dengan menyiramkan air ke sekujur tubuh Reno.
Ruwatan dimulai. PakLek merapalkan beberapa doa yang tak dimengerti oleh Reno. Seketika Reno mengejang. Matanya berubah menjadi merah.
"SEDANG APA KAU TUA BANGKA! MENGAPA IKUT CAMPUR URUSANKU!"
Suara menggelegar itu sepertinya bukan milik Reno. Ya, Bima masuk ke tubuh Reno. Reno dengan mata yang menyala menepis tangan PakLek yang menyiram air ke tubuhnya.
"Iblis laknat! Jangan ganggu ponakanku! Aku sudah tahu maksud burukmu! Keluar dari tubuh Reno dan hadapi aku!" PakLek tak menyerah begitu saja.
Tasbih dikeluarkan dari sakunya. Lekas dipasangkan pada leher Reno. Reno menggelepar.
"AARRRRGHHH! AKU TAK BISA BERMAIN DENGANMU TUA BANGKA. ADA HAL LEBIH PENTING HARUS KUSELESAIKAN. AMBIL SAJA PONAKANMU INI."
Bima pun pergi dari tubuh Reno. Reno lemas dan terjatuh. PakLek bergegas menangkap tubuhnya. Menyiraminya lagi dengan air bunga lalu menggendongnya masuk ke rumah.
"Bu, lekas beri Reno pakaian. Ratih jangan sentuh anakmu terlebih dahulu. Puasalah tiga hari, kamu perlu diruwat!" tegas PakLek.
BuLek bergegas mengusap tubuh Reno dengan handuk lalu mengenakan pakaian padanya. "Semoga Allah melepaskanmu dari ikatan Iblis itu Le." (Le \= Tole \= sebutan untuk anak lelaki di Jawa)
Ratih kembali ke kamar, terlihat sedih. "Bu, sudah jangan sedih." Santi mencoba menghibur Ibunya.
"Bagaimana tidak sedih melihat kondisi Reno seperti itu? Semua salah Ibu. Maafkan Ibu ya."
Santi paham semua hal itu. Dia pun memeluk tubuh Ratih. "Semua akan baik-baik saja kan Bu?"
Ratih diam seribu bahasa. Seakan menutupi ketakutannya. Bersekutu dengan iblis dan menukar nyawa orang untuk harta, tentu semua ada balasan setimpal. Ratih merasakan hal itu, seakan maut mendekat padanya.
"Bu, kenapa Ibu diam? PakLek bisa membantu Ibu kan?" Santi kembali bertanya dan memandang wajah Ratih.
Terlihat kecemasan di wajah wanita yang mengasuh Santi selama ini. Santi pun paham akan ketakutan Ratih karena pernah bersekutu dengan Iblis.
"Ibu istirahat saja. Aku mau menengok Reno. Semoga semua baik-baik saja Bu."
Santi meninggalkan Ratih. Menuju ke kamar adiknya yang masih lemas tak sadarkan diri.
"BuLek, dimana PakLek? Bagaimana kondisi Reno?" tanya Santi sambil duduk di samping BuLek.
"PakLekmu di belakang. Habis sholat lanjut berdzikir. Santi bantu doa juga. Allah pasti membantu kita melewati ini semua." ucap BuLek dengan lembut.
"BuLek tahukah apa yang terjadi? PakLek bilang apa? Gimana selanjutnya langkah PakLek?" Santi berharap BuLek memberi jawaban atas kegelisahannya.
"Sabar dulu ya, Nduk. Semoga Allah membantu kita melewati ini semua. PakLek sudah berusaha yang terbaik." BuLek mencoba menenangkan Santi.
"Iya, BuLek."
Santi tahu ini bukan hal yang mudah. Mungkin menyelamatkan Reno terdengar lebih mudah daripada ibunya. Ya, kemungkinan terburuk yang terjadi adalah ketakutan Santi.
"BuLek, apakah ini semua karena Ibu? BuLek tahu kan apa yang Ibuku perbuat? Apakah itu yang membuat Bapak meninggal?" Santi mulai meneteskan air mata.
"Sudah Nduk, jangan berpikir seperti itu ya. Semua takdir Allah. Hidup dan mati manusia ditentukan oleh Allah." BuLek mencoba menghibur Santi.
Santi menangis dalam pelukkan BuLek. Semua pertanyaan yang tak terjawab itu seakan benar adanya. Meskipun Santi berharap semua akan baik-baik saja, ternyata kenyataan berkata lain.
***
Keesokan paginya, PakLek muntah darah. Beliau mencoba melawan takdir untk menyelamatkan Ratih dari cengkraman Iblis. Namun, apadaya raga tua PakLek tak bisa menahan kekuatan gaib itu.
Ratih meninggal diambil oleh Bima. Ya, Bima memerlukan tumbal untuk mengembalikan kekuatannya. Di sana, Bima melawan Satria yang ternyata bukan orang sembarangan.
"Ikhlaskan ya Nduk Le. Biar Ibu kalian beristirahat dengan tenang." BuLek mengusap tubuh kedua ponakannya yang tak berhenti menangis.
"Mama kenapa pergi lagi? Reno salah apa sampai seperti ini? Maafin Reno." Reno histeris tak kuasa menahan kesedihannya yang kedua kali.
Saat Ratih pergi dan dikabarkan meninggal, Reno sangat terpukul. Dia mulai membaik dengan adanya kehangatan keluarga Ningsih serta Santi dan Wahyu. Namun kali ini, Reno histeris dan tak mampu mengontrol kesedihannya.
"Sabar Reno. Ibu sudah tenang di sana." Santi menahan tangis dan memeluk adiknya.
Warga mulai berdatangan untuk melayat dan membantu pemakaman. PakLek dibawa ke rumah sakit terdekat oleh warga karena kondisinya muntah darah dan hampir tak sadarkan diri.
Reno memang lolos dari cengkraman Iblis, karena pengaruhnya belum terlalu dalam. Sedangkan Ratih sudah bersekutu terlalu jauh. PakLek tak mampu menyelamatkannya.
Warga pun segera memakamkan jasad Ratih. Mereka mengira Ratih sakit keras sebelum meninggal karena ada darah mengalir keluar dari mulutnya. BuLek, Santi dan Reno menutupi semua kejadian itu agar jenasah bisa pergi dengan tenang.
"Ikhlaskan ya Reno. Ibumu sudah tenang di sana." BuLek memeluk Reno seusai pemakaman.
Reno terdiam, merasa sangat terpukul. Sedangkan Santi harus bergegas ke rumah sakit memastikan PakLek baik-baik saja. Santi tahu ini semua ada kaitannya dengan Tante Ningsih.
Sesampainya di rumah sakit, dokter berkata, "Kondisi Pak Darjo sudah membaik. Bisa rawat jalan dengan obat yang diminum rutin serta jangan lupa istirahat yang cukup ya."
Santi mengiyakan hal itu. Membayar semua administrasi dan menebus obat.
"Ibu sudah dimakamkan, PakLek." kata Santi dalam perjalanan ke mobil.
"Iya, PakLek tahu. Sabar ya. Maafkan PakLekmu ini tak bisa menolong."
"Jangan berkata begitu PakLek. PakLek sudah sangat membantu. Ibu memang tersesat dan aku tahu ini semua akan terjadi." Santi terlihat bersedih membahas hal itu.
"Hlo Nduk, sejak kapan kamu tahu?" PakLek menyelidik.
"Sudah lama PakLek. Aku yakin Bapakku meninggal karena ulah Ibu yang bersekutu dengan Iblis, bukan? Aku juga tahu ini semua ada kaitannya dengan Tante Ningsih, sahabat Ibu. Aku ini sudah merasakan sejak lama hanya tak berani berkata apa-apa."
Santi terlihat menyesali ketidak berdayaannya. PakLek mengelus pundak Santi.
"Semua takdir Allah, Nduk. Jangan mendendam atau bersedih lagi. Soal Tantemu itu, PakLek tidak bisa ikut campur. Tenaga PakLek terkuras habis kemarin. Kita bantu dengan doa saja."
PakLek dan Santi masuk dalam mobil dan melaju ke rumah. BuLek dan Reno menunggu mereka.
Bersambung ....