Follow IG @rr_maesa
Dilamar pria tampan super tajir, dengan rumah mewah dan perhiasan satu koper, mau? Mau dong! Tapi bagaimana kalau prianya ternyata memiliki gangguan kejiwaan? Masih mau?
Jack Delmar adalah pria tampan kaya raya keturunan bangsawan Perancis, yang mengalami hal buruk di masa kecil yang membuatnya depresi dan terpaksa dirawat di RSJ.
Arasi Mayang, seorang gadis yang menerima lamarannya Jack karena dikejar target menikah tanpa tahu kalau Jack dalam masa pengobatan. Apa yang terjadi ketika Ara baru mengetahui kondisi Jack setelah menikah?
Yuk ikutin kisah cintanya Jack dan Ara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-35 Mengenal Arum
Ara memilihkan baju untuk Jack. Mendandani suaminya dengan semangat, meskipun Jack hanya diam menatapnya.
“Jack aku akan senang kalau suatu saat aku memakaikan bajumu tapi kau sudah sehat. Aku akan melihat senyummu karena kau senang aku dandani,” ucap Ara, sambil menyelesaikan memakaikan baju dan celananya Jack.
Ditatapnya lagi pria itu, diapun tersenyum, suaminya memakai baju apapun terlihat sangat tampan, tapi dalam hatinya merasa sedih melihat kondisi Jack seperti itu.
“Bisakah kau memberikan aku tanda bagaimana caranya supaya kau sembuh? Aku ingin kau sembuh,” ucap Ara. Kedua tangannya mengusap lengannya Jack.
”Sudahlah tidak perlu bersedih-sedih lagi, aku senantiasa harus bersabar dengan keadaanmu ini. Aku harus bisa membuatmu selalu bahagia dan tidak tertekan lagi,” kata Ara, menyemangati dirinya sendiri.
“Aku akan mengambilkan sepatu dan arlojimu, dimana kau menyimpannya? Kau pasti mempunyai banyak sepatu dan arloji kan?” kata Ara, lalu tangannya menarik tangan Jack menuju walk in closet.
Diapun menyusuri bagian ruangan yang banyak dengan lemari lemari pakaian, terus mencari lemari sepatu dan yang lainnya. Ara mengambil sebuah sepatu dan disimpan di dekat kaki Jack.
“Sepatu ini cocok untukmu bersantai,” kata Ara, lalu berjongkok di bawah kaki Jack, menyentuh kaki suaminya itu. Ini pertama kalinya dia menyentuhnya dan memakaikan sepatu.
“Selesai,” ucap Ara, sambil mendongak kearah Jack dan dia terkejut saat pria itu sedang menunduk menatapnya.
“Kau memperhatikanku memakai sepatumu?” tanya Ara, sambil tersenyum.
“Sepatu!” jawab Jack.
“Ya! Sepatu!” seru Ara, tersenyum lebar, dia suka Jack mau bicara walau satu kata.
“Aku senang, kau mau bicara meskipun hanya satu kata, aku yakin kau akan sembuh Jack, aku yakin,” ucap Ara, matanya kembali berkaca-kaca.
“Sekarang kita cari tempat dimana kau menyimpan arlojimu,” ucap Ara, lalu bangun dan menarik tangannya Jack supaya mengikutinya.
Merekapun sampai di lemari aroji. Ara kembali mendudukkan Jack di salah satu kursi.
Ara melihat-lihat lemari itu, dilihatnya dilemari kaca itu ada beberapa laci dibawahnya.
“Yang dilaci itu pasti arloji baru kan?” tanyanya, sambil membuka salah satu laci.
Didalam laci ada banyak arloji yang masih bersegel dan beberapa masih berbandrol harga.
“Arlojinya sangat mahal, Jack!” ucapnya lalu kembali menyimpan arloji yang dipegangnya.
Ara menarik lagi satu buah laci paling bawah, dan dilihatnya isinya ternyata bukan arloji, tapi seuah bingkai foto yang dibalik. Ara keheranan foto siapa itu. Dia baru ingat kalau kamarnya Jack ini tidak ada satu bingkai fotopun yang terpajang. Dia membayangkan pasti foto Jack akan sangat tampan seperi foto model, atau minimal foto masa kecilnya.
Ara mengambil bingkai itu lalu dibaliknya, ternyata benar itu foto Jack masih kecil dengan seorang anak perempuan yang lebih kecil darinya. Mungkin usia mereka 6 atau 7 tahunan.
“Jack, apa ini fotomu?” tanya Ara memperlihatkan foto itu pada Jack yang sedang duduk menunggunya, tapi Jack tidak melihatnya.
Ara berjalan mendekati Jack.
“Jack, apa ini fotomu? Ini siapa?” tanya Ara, memperlihatkan foto itu depan Jack yang terpaksa harus melihatnya.
Jack tampak terdiam menatap foto itu.
“Apa ini Arum?” tanya Ara.
“Ini kau sedang berulang tahun kan? Ada kotak mainan miniatur Jendral dimeja, kau baru mendapat hadiah jendralmu,” ucap Ara, sambil menunjuk bolu ulang tahun dan sebuah kado yang sudah dibuka dan terlihat isinya.
Jack menatap foto itu, raut wajahnya langsung memerah. Tiba-tiba reaksi Jack diluar dugaan, dia menerik bingkai foto itu, lalu disembunyikan dibelakang punggungnya.
Jack bangun dan berdiri, matanya mencari-cari sesuatu seperti ingin menyembunyikan foto itu. Saat dilihatnya laci itu terbuka, Jack buru-buru menuju laci itu dan memasukkan foto itu tapi tangannya tertahan oleh Ara.
“Jangan kau sembunyikan foto itu!” kata Ara, meraih bingkai foto itu dari tangannya Jack.
“Kau tidak boleh bersembunyi dari masa lalu, masa lalu tidak bisa disembunyikan! Masa lalu hanya bisa kau lewati, tidak akan bisa hilang dari sejarah hidupmu, Jack!” ucap Ara.
Jak tampak bingung, wajahnya semakin pucat, diapun menjauh dan mulai memegang kedua telinganya, diapun kembali terduduk dan menggerak-gerakkan badannya kedepan kebelakang.
“Dia Arum kan Jack? Teman masa kecilmu yang terbawa arus laut itu?” kata Ara.
Jack tidak menjawab, dia terus menggerak gerakkan badannya, menundu dan menutup telinganya.
Ara memegang kedua siku Jack.
“Jack, lihat aku! Jack Lihat aku!” teriak Ara, memaksa Jack menatapnya.
“Lihat aku Jack, lihat aku!” pinta Ara, merekapun saling tatap.
“Kau harus menerima kenyataan. Kau tidak bisa menghilangkan Arum dari hidupmu!” kata Ara.
Jack menatap Ara. Tiba-tia dua tangannya menyentuh pipinya Ara.
“Arum!”ucapnya.
Ara memegang tangannya Jack yang ada dipipinya.
“Bukan Jack, aku Ara, aku istrimu, bukan Arum,” ucap Ara, menggelengkan kepalanya.
“Arum,” ulang Jack.
“Ara, Arum sudah meninggal, aku Ara,” ucap Ara.
Jackpun melepaskan kedua tangannya dan kembali menunduk dan bersedih.
“Kau sangat menyayangi Arum?” tanya Ara.
Jack hanya diam.
“Kau tidak perlu menjawabnya, dengan kau menjadi depresipun aku bisa menebak kau sangat menyayangi Arum,” ucap Ara.
Jack masih tidak menjawab, dia tampak seperti kebingunga dan menunduk. Ara melihat foto itu lagi.
“Seandainya Arum masih hidup, siapa yang akan lebih kau sayangi? Aku atau Arum? Apa kau akan mencintai Arum jika dia sudah dewasa?” tanya Ara lagi.
“Arum,” ucap Jack.
“Arum,” ulang Jack.
Ara menoleh pada Jack.
“Sepertinya aku akan cemburu Jack, kau terus memikirkan Arum sekarang,” ucap Ara.
“Baiklah aku akan menyimpan foto ini lagi,” kata Ara, diapun bangun lalu menyimpan bingkai foto itu tapi bukan dilaci, tapi dipasang di etalase yang ada arloji itu.
“Kau tidak perlu menyembunyikannya, biarkan foto itu ada sebagai kenangan. Bukan kenangan yang buruk Jack, ingatlah kenangan yang indah bersama Arum,” ucap Ara.
Tidak ada jawaban dari Jack.
Ara akan menutup laci yang tadi tempat menyimpan foto itu, tapi saat akan ditutupnya ternyata masih ada sesuatu didalamnya, sebuah album foto. Diambilnya album foto yang berukuran besar itu.
“Jack, ada album foto,” kata Ara, meraih album foto itu lalu duduk disamping Jack.
Dibukanya album foto itu dengan perlahan. Ada lembaran pertama. Benar dugaannya Jack kalau difoto akan seperti foto model. Ternyata itu foto-fotonya Jack sejak kecil.
“Kau memang tampan dari kecil, seharusnya kau menjadi model saja,” ucap Ara.
Dibukanya lagi foto yang lainnya, ternyata banyak foto-fotonya Jack menggunakan seragam prajurit-prajurit Perancis.
“Kau sangat senang memakai baju prajurit Jack,” ucap Ara.
“Jendral!” tiba-tiba Jack bicara.
“Ya Jenderal, kau bercita-cita menjadi seorang Jenderal? Kau sangat gagah dengan seragam prajurit itu,” ucap Ara.
“Jendral! Jendral!” ucap Jack.
“Ya Jendral, koleksi Jendralmu sangat banyak,” ucap Ara.
Dia bisa melihat beberapa foto Jack dengan miniatur Jendralnya.
Ara kembali membuka foto lagi, ada beberapa foto Jack dengan anak perempuan tadi lagi, ternyata Jack memang mengenal anak itu sudah lama. Karena beberapa foto ultahnya Jack selalu ada foto anak itu yang bisa Ara tebak pasti itu adalah Arum.
“Kau pasti sangat kehilangannya Jack. Kau terlihat sangat bahagia bersama Arum,” ucap Ara.
“Kata Pak Beni, Arum tidak ditemukan! Bagaimana kalau ternyata ada keajaiban kalau Arum masih hidup? Sedangkan aku sudah menjadi iatrimu, apa kau akan menyayangi Arum sebagai teman atau sebagai kekasih Jack?” tanya Ara, seperti berbicara pada diri sendiri.
Jack tidak menjawab.
Ara melihat foto Jack dan Arum juga keluarga besarnya sedang mengadakan acara entah apa, Ara mengenali sosok wanita yang dekat Arum, dia adalah Nyonya Imelda. Jadi benar anak itu adalah Arum.
“Jack,” tanya Ara sambil menoleh pada Jack yang masih menunduk.
“Jack selama ini kau depresi karena kehilangan ayah dan Arum. Bagaiman jika Arum ternyata masih hidup, apa kau akan sembuh?” tanya Ara.
“Arum,” ucap Jack.
“Iya Arum,” ulang Ara.
“Arum,” ucap Jack, lalu menutup kedua telinganya.
Ara menatap Jack, kenapa dalam benaknya terbersit kalau Jack suatu saat sembuh dan ternyata Arum ditemukan masih hidup, apa yang akan terjadi padanya? Apakah Jack akan meninggalkannya demi Arum? Sudah jelas terlihat Arum adalah seseorang yang sangat berarti buat Jack. Sungguh tidak adil jika semua orang menyalahkannya, karena Jack juga sangat menyayangi Arum.
“Seandainya aku bisa memilih. Jika Arum masih hidup dan bisa membuatmu sembuh, aku memilih Arum masih hidup Jack, aku tidak tega melihat kau seperti ini terkungkung dengan rasa bersalahmu dan tekanan dari oarng-orang disekitarmu, bahkan keluargamu hanya memikirkan kekayaanmu saja. Aku memilih kau sembuh Jack, meskipun bisa saja kau akan meninggalkanku jika Arum masih hidup,” ucap Ara.
Kenapa dia merasa begitu sedih saat mengatakannya?
Kenapa ada rasa khawatir dalam dirinya, jika Arum ternyata masih hidup dan muncul dihadapannya Jack, apakah dia akan tersingkir dari kehidupannya Jack?
Ara kembali membuka-buka album foto itu sampai habis, lalu dia bangun dari duduknya dan menyimpan kembali album foto itu di laci.
Dilihatnya lagi bingkai foto Jack dan Arum itu sekali lagi, lalu mengambil sebuah arloji dan kembali menghampiri Jack.
“Bukankah kita akan ke taman? Ayo kita ke taman!” ajak Ara, sambil memasangkan arloji ke tangan Jack.
Ara melihat sebentar arloji yang sudah terpasang di tangan Jack, lalu tersenyum dan menarik tangan Jack keluar dari ruangan itu.
*************
mana ada cowo gila romantis.. ada d tempat yang sama, sempet sempetnya kirim bunga
ibarat kalau pilih kiri (dikejar pria beristri)
pilih kanan dikejar pria autis (gangguan jiwa)
tp setidaknya jack itu ganteng, kaya raa.. pilih dia aja.. minus ny cuma atu, dia gila raa.. gapapa lah.. ketutup ama ketajiran ny.. anak semata golek kolongmerat..
dr pada pilih laki beristri..
mending setia.. bisa bisa nambah pasukan.. belum lagi anaknya banyak.. di unyeng2 istri tua.. haih...ibarat udah jatoh nyusruk ke selokan comberan itu mah.. dibahagiain kaga.. sengsara udah pasti
seneng bgt 🥰