Sisi lain dari Pesantren.
Cinta itu ada di Pesantren, cinta yang tak melulu soal manusia.
Terinspirasi dari kisah seorang santri, saya coba angkat ke dalam novel ini.
Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik.
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Rivianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
merasa di buang
"Entahlah neng, aku ragu."
Bagaikan petir yang menyambar, perkataan A Zam begitu membuatku sakit.
"Kenapa begitu A? Harusnya kita bersuka cita menyambut titipan ini, kenapa Aa begitu?"
Tak habis fikir aku, melihat wajahnya yang sekarang membuatku ragu.
"Entahlah.."
Ih jahat banget, cerita di novel-novel kan biasanya suami akan bahagia kalau istrinya hamil. Ini ko A Zam begini? Apa jangan-jangan karena Farrel tadi?
---------------------------
Aku di perbolehkan pulang esok harinya, setelah semalaman menginap di rumah sakit. Sebenarnya aku ingin memeluk A Zam, ingin duduk disampingnya, tidur di sisinya, namun apa daya A Zam memilih tidur di sofa itu tanpa melihatku atau memandangku.
Sakit, iya sakitnya melebihi sakit di perutku tadi siang.
"Bang Gazani akan menjemputmu."
Eh apa katanya?
"Bang Gazani?"
"Lebih baik kita terpisah dulu."
Apa? Kenapa?
"Aa.."
Aku memelaskan wajahku seperti seekor kucing yang minta makan pada majikannya.
Tapi A Zam tidak peduli, dia berlalu pergi begitu saja. Entahlah aku kini tak bisa menangis mendapat perlakuan seperti itu aku pasrah.
Sampai Bang Gazani menjemput, tak ku dapati A Zam mengantarku.
Aku pasrah, inshaalloh aku kuat demi anak ini. Aku ga boleh sedih, pasti Alloh akan membantuku melewati semua ini.
------------------------------------
Dan kini sampailah aku di rumah orang tuaku. Ayah dan ibuku begitu sumringah memyambutku.
"Aduuh, ibu ga sabar nih bakal nambah cucu dua sekaligus."
Aku hanya tersenyum mendengar celotehan ibu. Beliau tidak bertanya dimana A Zam, sungguh kamu sudah siapkan skenario yang apik A, untuk memulangkanku ke sini.
Di sisi lain aku melihat Mbak Sari yang memang sedang hamil beda dua bulan denganku dengan bahagianya duduk di samping suaminya si abang Gazani.
Dan si abang, uh manisnyaaa belai-belai perut mbak Sari. Hati kecilku sangat iri melihatnya, sebab suamiku ga bahagia dengan kehamilanku dia lebih memilih membuangku ke sini karena alasan yang belum tentu benar.
Aku pasrah.
Malam itu, ku buka jendela kamar karena aku merasa kepanasan. Dari sini terlihat Bang Gazani bersama mbak Sari duduk di teras rumahnya. Mereka mesra banget.
Apalagi abang yang nampak bahagia dengan kehamilan mbak Sari, ga segan-segan dia bersimpuh di depan mbak Sari dan berbicara pada perut mbak Sari.
Melihat itu semua aku tersenyum merasakan bahagia juga, sebab bang Gazani dan mbak Sari sudah sejak lama menantikan kehadiran buah hati.
Jadi wajar saja, bang Gazani bisa sebahagia itu.
Manis banget kamu bang.
Aku hanya bisa mengelus perutku penuh sayang.
Kita pasti bisa nak, pasti.
-------------------------
Sudah dua hari aku di rumah orang tuaku, disini aku sedikit mendapat hiburan hingga fikiranku bisa teralihkan sejenak.
Apalagi saat bang Bagas dan Mbak Ratna berkunjung, tentunya ada Mika dan Deva juga.
"Bibiiiiii..."
Ah itu pasti Deva, dia tuh kebiasaan baru nyampe, kalau tahu ada aku pasti deh teriak belum masuk ke rumah padahal.
Aku segera membuka pintu dan benar, Deva berlari ke arahku dengan satu gerakan di memelukku.
"Deva !! Ga boleh gitu, sekarang kan di perut bibinya ada dedek bayi."
Aihh Mbak Ratna, aku ga apa-apa.
"Biarin mbak, aku kangen berat nih sama Deva. Ayok masuk."
Kami tinggal di lingkungan sunda, tapi jangan heran yaa jika aku memanggil semua kakak iparku mbak. Jawabannya adalah mereka semua hampir memiliki darah Jawa.
Mungkin ketiga abangku janjian kali ya.
Setelah di dalam rumah, seperti biasa aku nempel bersama kedua ponakanku. Bersenda gurau bersama.
Kemudian bang Bagas duduk di dekat tempatku.
"Adek abang ini, gak kerasa udah mau punya anak aja. Tapi bagi abang kamu tetap Dek Nimasnya abang."
Isshh bang Bagas mengusap rambutku, aku pun terharu dibuatnya.
Memang di antara ketiga abangku, bang Bagaslah yang paling dewasa dan lembut hatinya.
Tuh kaan aku jadi muji kamu bang looh.
"Suamimu udah ke sini dek?"
Gak ada pertanyaan lain kah? Tolong ganti dong.
"Ehm, A Zam lagi sibuk."
Aku bohong.
"Kalau gitu telpon gih, abang mau ngomong."
Aku telpon pasti ga diangkat, seperti hati-hari sebelumnya.
Bisa bahaya kalau abang tahu.
"Jam segini lagi ngajar Bang."
Menghindari lebih baik.
"Ngajar apa? Ini kan hari minggu."
Nah loh, "semalam A Zam nelpon katanya ada kegiatan hari ini."
Bohong lagi.
Ternyata benar ungkapan, janganlah berbohong karena jikalau kita sekali berbohong, maka akan ada kebohongan-kebohongan lain setelahnya.
"Yah, tadinya abang mau ngomong. Yaudah deh lain kali."
Maaf bang, aku berbohong.
"Bibi, di dalam sini cowok apa cewek bi?"
Aihh Deva manisnyaa, dia berkata sambil mengelus perutku.
"Belum tahu sayang."
Eh lihat itu sorot mata polos penuh binaran milik Deva. Memandangku penuh kebingungan.
"Caranya untuk tahu gimana?"
Tuh Mika mulai kepo kan.
"Kan bibi hamilnya baru dua bulan sayang, bentuknya baru segumpal darah. Barulah nanti pada umur empat bulan Alloh tiupkan ruh kedalamnya."
tik tik tik
Suara detik jam dinding yang terdengar, di susul gelak tawa Bang Bagas yang tadi mendengarkan dan melihat ekspresi anak-anaknya yang serius mendengarkan.
"Adek kamu tuh lucu, jelasin hal begituan sama anak tujuh sama tiga tahun. Mana mereka ngerti."
Eh iya, mendadak tengkukku gatal dibuatnya.
Tapi kedua anak itu masih diam, mungkin mencerna benda keras di otaknya. Ah maafkan bibi.
Aihh abang sampai kapan mau ketawa, ini kedua anakmu tak bergeming.
---------------------------------
Tak terasa sudah dua minggu aku disini, selama itu pula aku masih berharap A Zam muncul menjemputku, atau setidaknya menelponku untuk tahu bagaimana keadaanku.
Ah itu mimpi, lebih baik aku gak berharap padanya.
Kubaringkan tubuh ini di kasur, sekelebat bayangannya muncul tiba-tiba membuatku tersenyum miris.
Memang dari awal hanya aku yang berusaha mencintai A Zam, memang aku yang duluan mencintainya.
Meskipun pernikahan kami terkesan dadakan, seharusnya aku tidak dengan mudah menerimanya. Seharusnya saat ini aku membencinya. Tapi kenapa aku gak bisa membencinya?
Lamunanku buyar karena mendengar kebisingan di luar rumah.
Suara motor begitu gaduh di luar, aku yang penasaran pun ke luar sekedar melihat ada apa.
Ku lihat bang Gazani menaiki motor dan pergi, aku tergesa-gesa ke rumahnya. Aku takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada mbak Sari.
"Mbak.. mbak."
Mbak Sari pun datang membuka pintu, aku segera masuk ke dalam rumahnya.
"Mbak Sari gak apa-apa kan? Bang Gazani mau kemana?"
Ko mbak Sari senyum sii, garuk-garuk kepala lagi.
"Maaf ya dek, kamu jadi kebangun padahal ini sudah jam sebelas malam."
Iya tapi ada apa?
"Tadi mbak pengen banget jus buah naga, tapi aneh setelah si abang pergi mbak jadi ga pengen. Kasihan abang musti cari tengah malam gini, mana ga bawa hp lagi."
Aku mulai tahu nih alurnya, haha ternyata si abang dikerjain sama calon anaknya.
Rasain!!