"Kau istriku, Laura!"
Sabiel membopong tubuh telanjang Laura. Dan membanting pelan tubuh itu di tempat tidur. Laura berteriak histeris ketika Sabiel mulai mencumbuinya kembali. Air mata sudah tak bisa ia tahan, Sabiel benar-benar membuatnya merasa ketakutan.
"Kau mungkin bisa menyentuh tubuhku Sabiel, tapi kau tidak akan bisa menyentuh hatiku." ucap Laura disela tangisnya yang semakin terdengar pilu.
Gadis itu memejamkan matanya rapat, ketika Sabiel mulai menciumi tubuhnya dengan buas.
Update setiap hari kecuali minggu.
Jangan lupa like, vote dan komen! 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Happy Reading Guys! 😍😍
Selamat Bersuka cita di Selasa yang cerah 😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jakarta.
"Hei, pelankan suaramu bung!" suara bariton lelaki dewasa terdengar memecah kericuhan yang terjadi di sebuah ruangan.
"Kita harus mulai menyusun strategi baru. Pihak perusahaan pasti akan berkelit." ucap seorang wanita dengan raut wajah kusam.
"Maka dari itu kita harus siapkan tenaga advokat, untuk berjaga jika mereka menempuh jalur hukum." lelaki tambun menimpali, sembari menghisap dalam-dalam sigaret yang bertengger di sela jemarinya.
Bimasakti duduk diantara kerumunan anggota ormas yang hingga malam menjelang masih saja berdebat membahas masalah buruh di Ibukota. Tampang-tampang lusuh tak membuat orang-orang di dalam ruangan itu berhenti sejenak dari kemelut pikirannya.
Ini masalah hidup. Masalah masa depan anak cucu kita nanti!. Itu yang akan selalu Bimasakti dengar setiap ada anggota lain yang mencoba menginterupsi acara rapat agar rehat sejenak.
Bimasakti sendiri sudah jengah dengan topik bahasan yang itu-itu saja. Masalah buruh, selalu menjadi masalah berkepanjangan di setiap wilayah bahkan negeri. Sejak zaman revolusi industri di Amerika sana sampai pada kondisi buruh saat ini. Permusuhan antara pihak pekerja dan perusahaan terus bergulir tiada henti.
Bimasakti memandang orang-orang itu dengan tatapan penuh rasa kebosanan. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang ia simpan disana.
Pandangannya berubah terkesiap ketika melihat pesan yang ia kirim pada Laura, menunjukkan tanda telah terkirim. Itu artinya, ponsel Laura sudah dalam keadaan aktif.
Perasaan senang langsung menyergap hatinya. Bibir yang semula datar mulai menunjukkan seringaian hingga berubah menjadi senyuman. Matanya berkilat oleh binar kerinduan tak terperi pada kekasihnya yang jauh disana.
Berhari-hari tersiksa karena tak bisa bertukar kabar, membuat hati Bimasakti terasa kosong tak berpenghuni. Kini tampaknya dewi fortuna sedang berpihak lagi padanya. Bimasakti tak sabar ingin segera menghubungi kekasihnya.
Ditengah perdebatan tak berujung para buruh senior, lelaki itu menyusup ke bagian belakang. Melangkah mundur dengan perlahan dan berbalik badan ketika dirasa sudah aman. Dia hendak keluar dari ruangan itu. Ingin menghubungi kekasihnya sesegera mungkin.
"Kemana gadis itu?" Bimasakti kesal menunggu panggilannya yang tak kunjung di angkat Laura. "Astaga sayang, kenapa tidak kau angkat." ucapnya menahan kesal.
Baru saja hatinya merasa senang karna ponsel Laura sudah bisa ia hubungi. Kini lelaki itu bermuram durja kembali karena beberapa kali ia melakukan panggilan, Laura tak juga mengangkat ponselnya.
"Please, angkat sayang. Ada apa denganmu?" Bimasakti bergumam sendiri ditengah kebisingan ruang rapat yang terdengar hingga keluar. Bola matanya nanar menerwarang gelapnya malam tanpa bintang.
Lelaki tampan itu akhirnya menyerah. Dia melihat pada jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan beranggapan bahwa Laura sudah tertidur hingga ia tak bisa mengangkat panggilannya.
Bimasakti melangkah kembali kedalam gedung. Jauh didalam hatinya, rasa gelisah entah mengapa muncul sejak Laura lost contact dengannya. Andai saja keadaan ormas sedang santai, tidak memiliki banyak agenda dan dokumen yang harus ia pelajari. Tentu saja saat itu juga Bimasakti pasti langsung pergi ke Bandung. Menemui kekasihnya disana. Dan melihat kondisi sebenarnya.
🍁🍁🍁
Malam sudah larut sekali hari itu. Bahkan lebih mendekati pada waktu pagi. Sabiel masih terjaga di tempat tidur, matanya melihat dengan dingin layar ponsel Laura yang menampilkan laporan panggilan tak terjawab dari nomor Bimasakti. Kekasih Laura. Lelaki itu meletakkan dengan tak berperasaan ponsel Laura di dalam laci nakas setelah menonaktifkan ponsel tersebut.
Fokusnya kembali tersita pada seonggok tubuh lunglai yang diam menggoda. Sabiel mengamati wajah cantik istrinya yang begitu pulas sejak habis menangis tadi. Tubuhnya yang meringkuk menghadap Sabiel membuat lelaki itu leluasa memandangi keindahan lekuk tubuh istrinya, gaun malam selutut yang Laura kenakan membuat tungkai-tungkai telanjangnya menjadi terlihat menggairahkan bagi Sabiel. Nafas Laura yang tersenggal membuat Sabiel menjulurkan tangannya, ia mengelus lembut rambut Laura. Mencoba menyalurkan ketenangan lewat belaiannya yang konstan.
Mata Sabiel bergerak merayapi wajah istrinya. Dia berlama-lama menatap lekat pada gundukan bibir mungil yang sedikit terbuka. Otaknya langsung berselancar liar membayangkan bibirnya mencecap sari manis bibir Laura. L*matan yang dalam sepertinya menjadi harga yang harus ia keluarkan untuk meluluh lantahkan keangkuhan bibir Laura dalam menguji nafsunya.
Sabiel menelan ludahnya kasar. Entah apa yang Laura alami dalam mimpinya, hingga ia bergerak dengan tak tahu diri, merapatkan tubuhnya pada dada bidang Sabiel yang berdentum menahan gairah. Dengan lancang, Laura menyusupkan kepalanya dalam disana, seperti mencari kehangatan yang hilang dan sempat mengganggu tidurnya.
Laura kedinginan.
Sabiel menarik selimbut yang berada di kaki tempat tidur itu. Menyelimbuti tubuh Laura dan tubuhnya.
"Bimasakti.... Maafkan ak--u." Sabiel terkejut mendengar igauan lirih dari mulut Laura, lelaki itu merundukkan kepalanya melihat wajah Laura yang bersembunyi dalam dekapannya.
"Kau sedang bermimpi bersama lelaki itu, sayang?" bisiknya lirih. Tak ada reaksi dari Laura. Hanya desahan nafasnya yang tertahanlah yang terdengar oleh telinga Sabiel. Sabiel menghela nafasnya kesal. Dia tak rela Laura bersama lelaki lain, meskipun itu hanya dalam mimpi.
"Baiklah, aku akan rebut kembali dirimu dari lelaki itu, sayang. Jangan berharap kau bisa bersama dengannya, meski itu hanya melalui mimpi." Sabiel merebahkan kepalanya pada bantal, sambil mendekap erat istri mudanya. Lelaki itu memejamkan mata rapat, mencoba kembali untuk tertidur pulas.
Dalam benaknya, Sabiel mengingatkan dirinya sendiri untuk segera menyuruh Laura mengakhiri penantian aktivis itu dengan sebuah kata perpisahan.
🍁🍁🍁
Suara merdu ciapan burung di ranting-ranting pepohonan berhasil mengusik alam bawah sadar sepasang suami istri baru. Keduanya membuka mata perlahan secara bersamaan. Di detik matanya terbuka, di detik itu pula Laura terjingkat kaget melihat Sabiel berada didekatnya. Mereka tidur sambil berpelukkan.
"Bodoh! Sejak kapan kau memeluknya?!" gumam Laura dalam hati. Ia merutuki ketidaksadarannya akan pelukan yang mereka lakukan saat tertidur.
Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya, Sabiel menyeringai menggoda.
"Terima kasih sayang, pelukanmu membuatku hangat sepanjang malam." ucap Sabiel iseng.
Laura memicingkan mata, merasa kesal dengan ucapan terima kasih suaminya. Dia menyibakkan selimbut yang menutupi tubuh mereka dengan kasar.
"Itu bukan keinginanku. Tubuhku kelelahan hingga membuat kesalahan dengan memelukmu." ucapnya mencemooh.
"Kesalahan? Memeluk suami sendiri semalaman bukan kesalahan sayang. Tapi keharusan." timpal Sabiel mulai gemas melihat sikap salah tingkah istrinya.
Sabiel langsung menarik lengan Laura, ketika gadis itu hendak bangkit dari tempatnya.
"Mau kemana?" Sabiel mendekap Laura erat hingga Laura bisa mencium aroma tubuhnya.
"Lepas Sabiel!" Laura kembali meronta. "Aku ingin ke kamar mandi." ucapnya beralasan.
Sabiel merenggangkan pelukannya, dia menunduk dan langsung menatap bola mata coklet kesukaannya.
"Cium aku dulu."
Dengan tidak tahu malunya, lelaki itu memajukan bibirnya. Laura secara sponton langsung memundurkan kepalanya. Enggan menuruti keinginan lelaki yang masih mendekap tubuhnya.
"Tidak!" ucap Laura lugas.
"Maka aku akan terus mendekapmu." ujar Sabiel enteng.
Laura membulatkan matanya kesal. Ini masih terlalu pagi untuk membuat ubun-ubun kepalanya panas menahan marah. Sejak kapan dosen favorit di kampusnya ini bisa bertingkah begitu menyebalkan. Hampir saja Laura mengeluarkan umpatannya pada Sabiel, jika saja pintu kamar tidak terdengar di ketuk.
"Ya?" Sabiel menjawab ketukan itu.
"Tuan, sarapannya ingin dibawa kemana?" tanya Mbok Suti sopan.
"Di bawah"
"Di sini."
Laura dan Sabiel menjawab bersamaan. Sabiel menatap Laura sembari tersenyum, sementara Laura memalingkan wajahnya.
"Apa Tuan? Nyonya?" Mbok Suti merasa bingung mendengar dua jawaban yang berbeda.
"Istriku ingin makan dibawah saja Mbok." Sabiel menjawab sesuai keinginan Laura.
"Baik Tuan." ucap Mbok Suti sebelum ia meninggalkan pintu kamar majikannya.
"Lepaskan!" Laura kembali meronta dalam dekapan Sabiel. Sabiel malah mempererat pelukkannya.
"Aku tidak mau." Sabiel menggelengkan kepala.
"Aku ingin ke kamar mandi, Sabiel." Laura menekankan setiap katanya. Dia jengah dengan tatapan Sabiel yang menggodanya.
"Cium aku dulu." Sabiel pantang menyerah.
"Apa kau sedang mencari keuntungan dariku?" Laura memicingkan mata.
"Bukankah aku sudah mendapatkannya kemarin malam?" Sabiel melempar kembali pertanyaan.
Laura memejamkan matanya rapat, seolah sedang menahan sakit di kepalanya akibat kelakukan Sabiel.
Cup.
Pada akhirnya, ciuman itu mendarat cepat di bibir Sabiel. Melesat cepat hingga hanya seperti sambaran kilat. Sabiel membelalakan matanya, hatinya menghangat mendapat kecupan itu. Namun kecupan kilat persekian detik itu tentu saja tak berhasil membuatnya puas.
Demi Tuhan, semalaman ia harus meredam hasrat karena tak tega melihat Laura tampak kelelahan. Sekarang mana mungkin ia melepaskan Laura begitu saja, hanya karena kecupan singkat. Oh tidak. Sabiel butuh sesuatu yang lebih. Sesuatu yang membuatnya merasa puas dipagi hari yang cerah ini.
"Itu bukan ciuman sayang. Kau melakukannya dengan cara yang salah." ucap Sabiel.
"Apa maksudmu? Bibirku sudah menempel pada bibirmu. Aku rasa itu sudah cukup dikatakan ciuman."
"Ck. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Lebih baik aku tunjukkan sendiri cara ciuman yang benar." Sabiel menyeringai bersemangat.
"Tung..."
Ucapan Laura tak mampu lagi ia keluarkan. Karena bibir keras dan basah itu kini terbenam sempurna dalam pertautan bibir yang tumpang tindih.
Sabiel tak pernah gagal dalam memberikan sensasi asing dalam diri Laura. Lelaki itu menyapu permukaan bibir lembab istrinya. Tangannya yang tadi memeluk tubuh Laura terlepas. Berganti dengan bergerak ke belakang leher istrinya, membuat dua kepala yang memiring dengan berlawanan arah itu, semakin rapat seiring dalamnya ciuman yang disuguhkan Sabiel.
Sabiel tak pernah merasa lebih bahagia dari sekarang. Ketika pagi menjelang, ciuman istrinyalah yang mengawali harinya.
Bibir Laura panas terbakar dalam gejolak hasrat Sabiel yang semakin membara. Tangannya mendorong dada Sabiel dengan lemah, nyaris tak bertenaga. Pikirannya teralihkan pada gerakan bibir Sabiel yang terus menggodanya dengan ciuman-ciuman ringan yang kemudian berubah menjadi ciuman dalam. Sabiel membawa Laura untuk berbaring, di bawahnya. Laura sudah tak sanggup menolak, lelaki itu membuat kepala Laura pening oleh ciumannya yang liar.
Kedua tangan Sabiel merangkup pipi Laura dan membelai wajah cantiknya perlahan. Laura sungguh membuat Sabiel tergila-gila. Lelaki itu tak pernah membayangkan pertemuannya dengan gadis mungil yang kini menjadi istrinya akan menimbulkan satu hasrat yang kuat untuk bisa selalu menyentuhnya hingga pada bagian tubuh terdalam.
Ya Tuhan, betapa Sabiel mencintai Laura dengan segenap jiwanya. Andai Laura tahu itu.
Sabiel belum juga berhenti menciumi Laura, bahkan ciuman itu sudah mulai menjalari bagian-bagian tubuh yang lain. Ia menjadi gila, demi menginginkan keutuhan Laura sekali lagi. Laura merasa tak kuat. Otaknya seperti terhenti seketika, keinginan menolak sepertinya terbang bersama hembusan angin pagi. Tubuhnya lemas ketika Sabiel berusaha melucuti pakaiannya.
Tiba-tiba bayangan Bimasakti datang menyadarkannya dari buaian sentuhan Sabiel. Matanya berpendar awas dalam hitungan detik.
"Sabiel. Tidak!" Laura menutupi area sensitifnya ketika Sabiel baru saja membuka celana dalamnya. "Aku masih merasa sakit, bisakan kau tidak melakukannya hari ini." Laura gugup mengeluarkan alasan yang sesuai dengan kondisinya.
Sabiel terdiam sejenak. Gairahnya sudah hampir sampai di puncak, menunggu saat-saat terlepasnya gelora birahi kelelakiannya pada Laura. Namun apa yang terjadi. Wanita ini. Wanita yang membuat Sabiel gila. Yang dengan santainya, meminta Sabiel untuk menghentikan aksi vulgar di pagi hari.
Oh Tuhaaaan! Ingin rasanya Sabiel memperkosanya kembali. Memaksa Laura untuk menerima lahar panas yang keluar dari dasar nafsunya. Namun Sabiel tak ingin melakukan kesalahan lagi, Laura sudah menjadi istrinya, menjadi miliknya. Masih banyak waktu untuk ia menyetubuhi kembali istrinya.
Dengan berat hati, Sabiel menjauhkan kedua tangannya dari area sensitif Laura. Dia membungkuk, mencium dahi Laura mesra, kemudian hidungnya, dan memberikan ciuman dalam sekali lagi di bibir Laura.
"Aku akan membersihkan diri lebih dulu." ucap Sabiel beranjak dari atas tubuh Laura sembari menyugar rambutnya frustasi. Ia tak menyadari di tempat tidur sana, Laura menghembuskan nafas leganya.
🍁🍁🍁