Season 1 (tamat)
Farida tak menyangka, keputusan terlalu cepat yang diambilnya ternyata sangat mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Yaitu menikah dengan pria yang sudah menikah sebelumnya dan telah mempunyai anak.
Sifat alpha suami istri yang masing-masing selalu ingin mendominasi juga terkadang menjadi problema. Ditambah lagi dengan usia yang terpaut jauh sehingga mereka harus berhadapan dengan karakter yang berbeda.
Mampukah pernikahan mereka bertahan dengan segala pelik permasalahan di dalamnya?
...
Season 2 (On going)
Segala bentuk keplagiatan bisa dilaporkan ya!
Area dewasa 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia juga berhak atas James
Vano menggeliat, matanya pun mengerjap. Dia merenggangkan otot-otot tubuh yang terasa kaku. Menyender pada sandaran tempat tidur, dia bergumam dalam hati, "sudah berapa lama aku tidur?"
Sinar matahari yang masuk ke sela-sela jendela kamarnya sudah mengarah ke barat. Bisa diperkirakan waktu sekarang ini sudah pukul lima sore, kurang lebih.
Tadi siang, setelah mengakhiri drama anak badungnya, mereka bertiga langsung beristirahat. Masih dengan rengekan yang sama, smartwatch yang hancur. Anak itu masih memintanya agar Vano membelikan yang baru.
Lalu kemana Farida, kenapa Farida tak disampingnya?
"Farida?" Panggil Vano sedikit keras. Tapi rupanya Farida memang tak berada dikamar ini ataupun di kamar mandi. "Apa dia nggak tidur siang?" Gumamnya.
Vano menuruni anak tangga. Bau masakan menyeruak di indra penciuman, sudah bisa ditebak. Pasti istrinya berada di dapur.
"Lagi ngapain?" Tanya Vano saat mendapati istrinya memotong sayur seledri sambil berbincang dengan ART. Di dekatnya ada kompor yang menyala merebus sesuatu.
"Eh Dad, aku lagi masak, kenapa?" Tanya Farida menatap laki-laki dari anak yang tengah dia kandung.
"Mbak tinggalkan kami berdua." Titah Vano kepada ART yang sedang berada didekatnya. Dia termasuk orang yang tertutup, tidak pernah mengumbar kemesraannya didepan orang lain. Farida mengerti itu.
"Baik Pak," jawab keduanya sebelum mereka pergi.
"Kenapa nggak tidur siang?" Tanya Vano.
"Nggak ngantuk,"
"Itu kan bisa dikerjain sama mereka, kenapa kamu yang kerjain?"
"Aku ingin masakin sop daging buat kamu Dad, katanya kamu suka sop buatanku,"
"Tapi aku nggak nyuruh."
"Biarin ajalah Dad, aku juga pengen bergerak." Farida sedang mencicipi sop buatannya yang hampir matang. "Hmm enak, nih kamu mau coba Dad?" Farida mengulurkan mangkuk yang baru saja diisi sop buatannya.
"Itu makan namanya, kalau coba itu sedikit." Jawab Vano. Walaupun menampakkan wajah yang datar, entah dia suka atau tidak, tapi laki-laki itu tetap menerimanya.
Mematikan kompor, mereka berdua berpindah ke ruang makan dan duduk berhadapan.
"Bangun tidur langsung di suruh makan ya, hehe campur sama--"
"Jangan dilanjutin!" Potong Vano cepat.
Vano mengkerut mendapati istrinya sedang menggulir layar ponselnya. "Kamu suruh aku makan malah kamu main hp sendiri."
"Aku nanti aja, habis minum susu. Perutku rasanya penuh."
Farida berdecak. "Kenapa foto-foto pentingku pada hilang?" gerutunya. Dia melirik Vano yang sedang enak menyantap sop buatannya. "Kamu buka-buka hp aku ya Dad? Nggak mungkin Jajam kan, ini pasti ulah kamu," kata Farida dengan setengah cemberut. Masa foto-fotonya dengan teman-teman saat reuni dan masih banyak lagi tiba-tiba hilang? Siapa lagi kalau bukan Vano pelakunya.
"Hanya begitu saja kamu marah. Foto orang lain kamu pelihara, tapi foto suami sendiri satupun nggak ada." Protes Vano.
"Nah kan, ngaku! Iihh kamu itu reseeee!" Ucap Farida sambil menghentakkan kakinya. "Trus gimana coba kalau udah ilang begini. Kenapa sih?"
"Nggak suka! Apa lagi nama kontak suami kamu sendiri kamu namain 'manusia horor." Ujar Vano.
Tulalit, tulalit… ketahuan.
"Habisnya kamu dulu sangat menyebalkan hehehe…" Farida langsung meringis malu. "Tapi ya jangan lebay juga masa nama kontaknya di ganti 'suamiku terganteng di dunia. Daebak!"
Vano hanya diam saja.
Bibir Farida benar-benar mengerucut. Sungguh suami tuanya ini berlebihan sekali. Masa hanya disisakan beberapa foto saja. Terlebih Farida tidak menyimpannya di social media. Kelewatan!
"Aku nggak suka deh, kamu kepo-kepoin hape aku trus hapusin semuanya. Aku marah."
"Kenapa, marah karena foto mantan kamu hilang?"
Farida pergi meninggalkan Vano sendiri.
"Farida!" Panggil Vano, tapi tak di hiraukan olehnya.
Vano terlebih dahulu menghabiskan makanannya sebelum menyusul Farida ke kekamar.
Menutup pintu kamar, Vano mendekati Farida yang sedang fokus menatap layar ponselnya. Ekspresi wajahnya masih seperti tadi, cemberut.
"Hanya karena foto mantan hilang saja kamu sampai seperti itu."
Hening.
Vano sedang kehilangan akal untuk merayunya. Kenapa sih, wanita itu selalu benar dan laki-laki selalu salah? Pikirnya.
"Aku itu ingin membuktikan bahwa aku juga punya mantan, nggak cuma kamu yang punya mantan banyak!" Farida menjeda ucapannya, dia tampak berpikir.
"Eh tunggu, katanya kamu banyak mantan? Emangnya ada ya, yang kuat sama kamu Dad? Kamu itu kan laki-laki yang kaku. Kaku banget malah." Tambah Farida lagi.
Vano menautkan kedua alisnya.
"Aku pikir hanya aku saja yang bisa tahan hidup sama kamu," Farida menatap suaminya intens. "Serius Dad. Kamu itu bener-bener laki-laki yang nggak ada romantis-romantisnya!"
"Perempuan butuh tahan lama, bukan romantis."
"Astaga, jawabannya!" Farida memukul Vano dengan bantal guling. "Bangga, iya? Sudah meniduri banyak cewek?"
"Aku nggak seliar yang kamu bayangkan. Kamu pikir aku bagaimana? Buaya darat, hidung belang, mata keranjang, dan semua perumpamaan laki-laki yang kamu anggap seperti itu?"
"Kan emang bener! Sekarang saja kamu berubah karena takut sama aku. Denger ya Dad, sekali aja kamu lakuin itu ke aku, aku nggak jamin aset kebanggaan kamu bakal baik-baik aja." Ancam Farida dan membuat pria itu melirik tajam.
"Aku dulu melakukan itu hanya sesuai kebutuhan. Itu pun setelah aku mengetahui masing-masing dari kami sehat." Sela Vano. "Sudah jangan bahas itu lagi."
"Aku nggak masalahin masa lalu kamu mau bagaimanapun juga. Tapi ini yang jadi masalah galeri aku hampir kosong!"
"Diam, cerewet sekali." Vano mendekatinya dan mulai menggerayanginya.
"Jangan pegang-pegang, nggak usah dekat-dekat, aku gigit nih!"
"Apa sih, ini kamarku!"
Vano meluncurkan serangan kedua, meciuminya dari samping.
"Oh iya, kalau gitu aku aja yang keluar."
"Bisa nggak? Nggak ngelawan suami. Udah terima aja nggak usah pura-pura."
"Ya kalau kamu nggak dilawan pasti gitu terus, seenaknya sendiriiiii." Perdebatan adu tutuk masih berlangsung sampai malam.
***
Keesokan harinya.
"Hidup itu seperti sungai, pasti ada saja pup yang lewat." Gumam Farida dalam hati saat melihat ibu dari anak tirinya datang. "Awas saja kalau cari gara-gara lagi."
Pagi-pagi buta, Vano sudah dikejutkan dengan kedatangan Mommy James kerumah. Wanita itu berkata ingin membawa James satu hari dengannya. Vano tentu merasa keberatan, bisa saja Woodley membawa James selamanya bukan?
Pikirannya sudah menerka-nerka hal yang paling buruk. Tapi biar bagaimanapun, Woodley juga punya hak atas anaknya.
"Hanya sehari saja Van, tidak lebih. Aku ini ibunya, aku ingin pergi bersama anakku. Dia akan baik-baik saja bersamaku." Ucap Woodley kepada Vano.
Tumben sekali wanita yang terkenal dengan keangkuhan dan kesombongannya itu berbicara melembut. Tubuhnya juga terlihat sedikit kurus dari terakhir kali dia datang.
"Ya sudah, bawa dia!" Ucap Vano singkat setelah terdiam beberapa saat.
"Dad?" Panggil Farida memberi kode.
"Nggak pa-pa." Jawabnya.
James yang sudah teramat senang itu sudah menuntun tangan Mommynya agar segera pergi. Dia sangat bersemangat mandi pagi hari ini setelah mengetahui Woodley mengajaknya.
"Besok dia harus sekolah, jangan bawa dia pulang terlalu malam." Ucap Vano kepada Woodley dan dibalas dengan anggukan.
"Makasih Van, kami pergi dulu." Ucap Woodley sebelum menaiki mobil.
"Bay Daddy, bay Mida!" Pamit James sebelum pergi.
Vano menatap kepergian mobil itu hingga menghilang dari pandangan.
"Dad, kamu yakin?"
Vano hanya mengangguk.
"Kita bisa pergi berdua seharian ini. Terserah kamu mau minta kemana." Ucap Vano sebelum masuk ke rumah.
"Bener?"
"Iya sana cepat siap-siap sebelum aku berubah pikiran."
"Yess!"
Farida menang!
***
...To be continued....
...@ana_miauw...