NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Melihat kondisi Sari yang begitu rapuh, sang nenek tidak bisa lagi menahan rasa cemasnya.

Aura wibawa kepala keluarga Maheswara langsung memancar, menggantikan ketegasan yang tadi sempat ia tunjukkan.

Ia menoleh tajam ke arah Tante Marta dan Diana yang masih berdiri di ruang tamu dengan wajah penuh harap.

"Marta, Diana, sekarang kalian berdua pulang!" perintah Nenek dengan nada mutlak, tidak menerima bantahan.

Diana yang merasa kursi CEO sudah di depan mata langsung merajuk tidak terima.

"Tapi Nek! Aku kan mau jadi CEO! Klausul warisannya kan jelas kalau Sari—"

"DIAM KAMU!" bentak Nenek, membuat Diana seketika mengatupkan mulutnya rapat-rapat karena ketakutan.

"Pulang sekarang, atau Nenek coret nama kalian dari daftar keluarga besar!"

Tanpa memedulikan Tante Marta dan Diana yang akhirnya melangkah pergi dengan gerutuan kesal, Nenek langsung berjalan menuju tangga.

Langkah kakinya yang mulai renta dipaksakan untuk naik ke lantai atas, lalu mengetuk dan membuka pintu kamar cucu kesayangannya.

Di dalam kamar, Sari sedang duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela.

Nenek mendekat perlahan, duduk di samping Sari lalu mengusap punggungnya.

"Sari, ada apa, Nak? Cerita sama Nenek."

Sari hanya menggelengkan kepalanya pelan, menyembunyikan wajahnya yang kian sembap.

Namun, mata tajam sang nenek menangis saat menangkap sesuatu yang janggal pada jemari cucunya.

Ia meraih jemari tersebut. "Kenapa dengan tangan kamu ini? Kenapa dibalut kasa seperti ini, Sari?"

Pertanyaan lembut itu justru meruntuhkan pertahanan terakhir Sari.

Air matanya kembali luruh. Ia menatap sang nenek dengan pandangan paling rapuh yang pernah ia miliki.

"Nek, apa aku memang tidak ditakdirkan untuk bahagia?" bisik Sari, suaranya bergetar hebat.

Nenek tertegun, hatinya ikut teriris. "Apa maksud kamu, Sari? Apa kamu mempunyai kekasih yang menyakitimu?"

Akhirnya, dengan terisak, Sari menumpahkan seluruh rahasia yang ia pendam selama ini.

Ia menceritakan penyamarannya di rumah kontrakan Arka, bagaimana ia belajar membuat kue subuh, menahan perih di tangannya, hingga puncaknya—tuduhan keji dan pengusiran yang ia terima pagi ini di depan umum.

Nenek menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca mendengar pengorbanan luar biasa cucunya demi seorang pria biasa.

Tanpa berkata-kata lagi, Nenek menarik Sari ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki.

Setelah tangisnya mereda di pelukan sang nenek, Sari perlahan mengurai pelukan tersebut.

Sorot matanya kini berubah, bukan lagi penuh amarah, melainkan sebuah keputusan yang bulat namun hampa.

"Aku mau ke Yogyakarta, Nek. Malam ini juga aku berangkat," ujar Sari datar. Ia butuh menjauh dari hiruk-pikuk ibu kota, dan dari bayang-bayang pria yang telah menghancurkan ketulusannya.

Nenek terkejut, memegangi kedua pundak Sari. "Tapi Sari, kamu sedang kacau seperti ini. Bagaimana bisa kamu pergi sendirian dalam kondisi mental dan fisik yang lelah?"

Sari tersenyum tipis, sebuah senyuman hampa yang dipaksakan.

"Aku tidak apa-apa, Nek. Aku hanya butuh ketenangan."

Sari kemudian meraih ponselnya dan memanggil Nanda, asisten pribadinya yang setia.

Tak butuh waktu lama, Nanda sudah berdiri di dalam kamar dengan wajah penuh kecemasan setelah melihat kondisi fisik bosnya.

Sari mengambil selembar cek yang sudah ia tanda tangani, lalu menyerahkannya kepada Nanda.

"Nanda, bawa uang ini, berikan kepada Arka sebagai ganti rugi atas kekacauan di lapaknya pagi ini," perintah Sari, suaranya kembali dingin dan profesional.

,"Dan satu hal yang paling penting: jangan pernah beritahu dia kalau aku pergi ke Yogyakarta. Jangan biarkan dia tahu keberadaanku."

Nanda menerima cek tersebut dengan tangan bergetar, menatap Sari dengan rasa iba yang mendalam.

"Iya, Bu, baik. Saya mengerti," jawab Nanda patuh, mengetahui bahwa keputusan sang CEO kali ini tidak akan bisa diganggu gugat oleh siapa pun.

Di sisi lain di rumah kontrakannya, Arka berjalan mondar-mandir seperti orang kesetanan.

Kamar tamu yang sebelumnya ditempati Sari kini terasa begitu kosong dan dingin.

Ia meremas rambutnya frustrasi, menatap dinding dengan mata yang memerah akibat rasa bersalah yang terus menggerogoti dadanya.

"Kamu bodoh, Arka. Kamu benar-benar bodoh!" gumam Arka pada dirinya sendiri.

Suaranya serak, sarat akan kutukan atas ego dan kecurigaannya yang tak berdasar.

Ia ingin detik ini juga pergi mencari Sari, bersujud di kaki wanita itu untuk memohon ampun.

Namun, kenyataan pahit langsung menamparnya.

Arka tersadar bahwa selama ini ia tidak tahu apa-apa tentang Sari.

Ia tidak tahu di mana alamat rumah wanita itu, dan ia juga tidak tahu di mana letak kantor perusahaan raksasa milik keluarga Maheswara.

Sari datang ke kehidupannya bagai misteri, dan kini pergi meninggalkan penyesalan yang teramat dalam.

Tepat saat Arka berada di titik terendahnya, sebuah mobil hitam berhenti di depan kontrakan.

Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Nanda yang melangkah turun dengan wajah tegas namun menyimpan kesedihan.

Arka tertegun. Ia langsung mengenali wanita itu—wanita rapi yang beberapa hari lalu datang memesan seratus kotak kuenya atas perintah rahasia dari Sari.

"Pak Arka," sapa Nanda dingin saat melangkah masuk ke teras.

"Ini ada titipan dari Bu Sari."

Nanda menyerahkan sebuah amplop tebal berisi cek dan sejumlah uang tunai.

Arka menerimanya dengan tangan bergetar. Begitu melihat nominalnya, matanya membelalak.

Jumlah uang di dalamnya sangat besar, jauh melebihi total seluruh uang dagangan yang sempat hilang subuh tadi—padahal uang yang hilang itu pun sebenarnya sudah direbut kembali dan dikembalikan oleh Kang Asep.

Sari tidak meminta ganti rugi; wanita itu justru masih memikirkan kelangsungan hidup Arka bahkan setelah diusir dengan keji.

"Di mana Mbak Sari, Mbak? Di mana dia sekarang?!" tanya Arka dengan suara mendesak, mencengkeram amplop itu erat-erat.

Nanda memalingkan wajah, mengingat mandat mutlak dari atasannya.

"Maaf, Pak Arka. Saya tidak bisa mengatakannya. Tugas saya di sini hanya menyampaikan amanat dari Bu Sari."

"Tapi Mbak, saya bersalah! Saya sudah memfitnah dan menyakiti Mbak Sari!" seru Arka, suaranya pecah menahan tangis.

Matanya berkaca-kaca, menatap Nanda dengan pandangan memohon yang teramat sangat.

"Tolong saya, Mbak. Tolong katakan kepada saya di mana Mbak Sari sekarang. Saya harus meminta maaf..."

Nanda diam terpaku. Ia sudah berjanji setia kepada Sari untuk menutup mulut rapat-rapat.

Namun, melihat gumpalan penyesalan yang begitu nyata di mata Arka—melihat bagaimana pria tegap itu kini nyaris bersimpuh di hadapannya demi sebuah kepastian—pertahanan Nanda goyah.

Ia tidak tega melihat ketulusan yang terlambat ini hancur begitu saja.

Nanda menghela napas panjang, menatap Arka dengan tatapan emosional.

"Bu Sari, malam nanti akan pergi ke Yogyakarta menggunakan bus," bisik Nanda akhirnya, melanggar perintah demi hati nuraninya.

"Beliau berangkat dari terminal malam ini."

Arka tersentak, jantungnya berdegup kencang.

"Pak Arka perlu tahu satu hal," lanjut Nanda, matanya mulai berkaca-kaca.

"Ibu Sari itu sangat mencintai Bapak. Sudah sangat lama saya tidak melihat Ibu tersenyum lepas seperti saat ia menceritakan hari-harinya di sini. Dia adalah seorang CEO yang terbiasa hidup di menara gading, tapi dia rela mengotori tangannya, mencuci piring, menahan perih luka, dan tinggal di kontrakan sempit ini hanya demi berada di dekat Bapak. Tapi pagi ini, Bapak menghancurkan hatinya tanpa sisa."

Kata-kata Nanda bagai palu gada yang menghancurkan sisa-sisa keangkuhan Arka.

"Saya pamit, Pak. Keputusan sekarang ada di tangan Bapak," ucap Nanda pelan, lalu berbalik dan melangkah meninggalkan Arka yang masih berdiri mematung di teras.

Arka melirik jam dinding di ruang tengah. Waktu terus berjalan menuju malam.

Pilihan kini ada di tangannya: membiarkan wanita yang mencintainya pergi membawa luka selamanya, atau mengejar bus itu demi menebus kesalahan terbesarnya.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!