NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Lapar

"Lalu siapa? Ah, aku jadi teringat ucapanmu saat kita masih di Akademi Luminara dulu. Kau pernah bilang jangan terlalu mencintai seseorang karena nanti kau bisa sakit hati. Sepertinya kau sedang memakan ucapanmu sendiri, Kaelen," sindir Jonah sembari tersenyum penuh arti.

Ia teringat masa lalu di mana dia dan kedua saudara kembarnya juga sempat ditolak mentah-mentah oleh Elisa sebelum akhirnya takdir menyatukan mereka dalam ikatan reverse harem.

Kaelen memilih bungkam, menyembunyikan rasa tidak nyaman yang mulai mengusik hatinya akibat kepungan pertanyaan para sepupunya.

"Sudahlah, Jonah. Jangan terus memojokkannya," lerai Elisa lembut. Ia menurunkan Joy, anak perempuan dari gendongannya, lalu menyerahkannya pada Jonas.

Elisa sama sekali tidak tahu bahwa mate yang sedang diperjuangkan oleh Kaelen mati-matian adalah sahabat lamanya sendiri, Evelyn.

Di sisi lain, Kaelen memang belum siap lahir dan batin untuk berterus terang. Ia sangat takut jika kenyataan bahwa Evelyn adalah mate-nya terungkap, para sepupunya akan mengungkit pertarungan besar melawan Ghost Hunter beberapa bulan lalu yang melibatkan mendiang ayah Evelyn.

Meskipun keluarga besarnya telah memaafkan masa lalu kelam itu, Kaelen tetap tidak yakin mereka akan setuju jika ia mendampingi gadis manusia tersebut.

"Kaelen, aku melihat kau sepertinya sedang terburu-buru. Ada urusan apa sampai datang kemari?" tanya Elisa mengalihkan pembicaraan.

"Aku hanya ingin menyampaikan pesan penting pada Kakek William. Apa beliau ada di dalam?" tanya Kaelen.

"Oh, Kakek, ya?" Scarlett, gadis berambut putih perak, tiba-tiba menyahut dari ambang pintu teras. "Beliau ada di dalam. Kebetulan sebentar lagi beliau berniat pergi ke suatu tempat."

"Begitukah? Kalau begitu titip pesan ini untuk beliau, Scar," ucap Kaelen serius. "Tadi salah satu utusan Elf Cahaya dari Alfheimr mendatangi tempatku. Mereka mengatakan sedang sangat membutuhkan pertolongan Archmage William. Katakan pada beliau, para Elf Cahaya sedang menunggu kedatangannya di Alfheimr."

"Hm, begitu ya? Memangnya ada urusan genting apa sampai mereka memanggil kakekku?" tanya Scarlett, sepasang mata ungunya memancarkan kilat kecemasan.

"Kalau hal itu, aku pun tidak tahu. Baiklah, aku masih punya banyak urusan yang harus diselesaikan. Sampai jumpa lagi, semuanya," ucap Kaelen pamit. Sebelum sepupu-sepupunya kembali menghujani dengan pertanyaan interogatif, tubuh Kaelen melesat pergi secepat kilat.

Edgard menatap lurus ke arah kepergian Kaelen dengan kening berkerut dalam. "Apa kau merasa ada yang aneh dengan Kaelen?" tanyanya pada Jonas. Sebagai sahabat dekat sekaligus sepupu, Edgard paham betul bahwa sikap Kaelen hari ini terasa jauh lebih defensif dari biasanya.

"Sepertinya dia memang sedang menyembunyikan sesuatu yang besar dari kita," timpal Jonas penuh selidik, menyipitkan mata hitamnya.

"Kau pun sama dengannya, Edgard," ucap Scarlett tiba-tiba dengan nada dingin dan menusuk.

Setelah melemparkan kalimat itu, ia langsung melengos masuk kembali ke dalam mansion untuk memberi tahu sang kakek sebelum William berangkat ke Moon Island.

Kalimat Scarlett seketika bagai hantaman gada berat yang membuat Edgard bungkam seribu bahasa. Keringat dingin kembali mengancam akan keluar dari pelipisnya. Sinyal bahaya berbunyi nyaring di dalam kepalanya, sementara para sepupunya yang lain kini menatapnya dengan raut wajah penuh rasa penasaran yang pekat.

"Maksud perkataan Scarlett barusan itu apa, Ed?" tanya Jonas, mengalihkan seluruh atensinya pada Edgard.

"Tidak penting. Dia hanya sedang mengada-ada karena kesal denganku tadi," ucap Edgard dengan nada datar yang dipaksakan seanggun mungkin.

Demi menghindari interogasi maut yang bisa membongkar aib brutalnya dengan sang Siren semalam, Edgard langsung bertingkah heboh. Ia mengangkat tubuh Jacelyn tinggi-tinggi, mengayunkannya pelan hingga bayi perempuan itu tertawa geli, lalu mulai mengajak keponakannya itu bercanda gurau dengan suara keras.

Di balik tawa palsu yang ia pamerkan kepada sepupunya, batin Edgard menjerit panik. Ia tahu waktu kedamaiannya tidak banyak. Begitu kembali ke Luminara, ia harus bergerak secepat kilat untuk membungkam takdir sebelum segalanya hancur berantakan.

****

"Bosan sekali," gumam Elara sembari mengembuskan napas gusar.

Ia menutup buku tebal berisi resep-resep makanan milik Cedric dengan suara debuman pelan. Gadis itu sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca lembar demi lembar buku yang berjejer di rak. Beruntung, saat kedua orang tuanya masih hidup dulu, mereka sempat mengajarinya cara membaca aksara daratan. Jika tidak, ia pasti sudah mati gaya di dalam rumah asing ini.

Kruuukkk...

Perut Elara berbunyi nyaring, menginterupsi kesunyian. Ia melirik jam dinding magis di ruang tengah. Ini sudah memasuki waktu makan siang, namun Cedric belum juga menunjukkan tanda-tanda akan kembali.

"Aku sudah sangat kelaparan. Coba saja aku bisa memasak makanan daratan sendiri," keluhnya seraya memegangi perutnya yang keroncongan.

Pandangannya mendadak tertuju kembali pada buku resep yang baru saja ia tutup. Sebuah ide melintas di kepalanya. "Apa aku coba saja, ya?"

Elara bangkit berdiri, mengembalikan buku tebal itu ke dalam rak di ruang tengah, lalu melangkah mantap menuju dapur. Namun, setibanya di sana, langkahnya mendadak terhenti. Sepasang mata biru jernihnya mengedar bingung ke sekeliling ruangan yang bersih dan rapi tersebut.

"Bahan makanannya ada di mana? Aku bahkan tidak tahu harus memasak apa," ucapnya bimbang.

Di atas meja makan, hanya ada sebuah keranjang berisi buah-buahan segar yang ranum. Elara sama sekali tidak tahu bahwa seluruh stok daging dan sayuran segar disimpan rapat di dalam sebuah lemari besi besar beruap dingin yang disebut kulkas.

Sebagai makhluk yang seumur hidupnya tinggal di kedalaman samudra, ia mana tahu benda teknologi daratan seperti itu.

Karena rasa lapar yang semakin tidak tertahankan, Elara akhirnya meraih sebutir apel merah dan menggigitnya dengan enggan. Begitu daging buah itu terkunyah di mulut, ia langsung mengernyitkan dahi dan melepehnya.

"Ini sama sekali tidak enak," gerutu Elara, melempar sisa apel itu kembali ke meja. "Aku butuh ikan segar, atau setidaknya daging hewan buruan untuk dimakan."

Jika saja saat ini ada seekor ikan mentah yang menggelepar di lantai dapur, Elara pasti akan langsung melahapnya detik itu juga tanpa perlu repot-repot dimasak terlebih dahulu. Sebelum dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang dingin belasan tahun lalu, Elara memang sering ikut berburu bersama klan Siren lainnya di lautan luas.

Mereka terbiasa memburu mangsa hidup-hidup, bahkan menenggelamkan para pelaut malang yang melintasi wilayah mereka untuk dijadikan santapan segar demi memuaskan insting predator mereka.

Karena didorong oleh rasa penasaran yang besar, Elara akhirnya menarik salah satu kursi kayu dan duduk di depan meja makan. Sepasang matanya yang biru jernih menatap penuh selidik ke arah berbagai bentuk buah-buahan asing yang berjejer di dalam keranjang rajutan itu.

Gadis Siren itu mulai mencoba buah-buahan tersebut satu per satu. Ia mencicipi beberapa butir anggur, lalu beralih menggigit buah plum yang manis, disusul buah persik yang berair. Rasa manis dan tekstur lembut buah-buahan itu sebenarnya tidak terlalu buruk untuk lidah predatornya.

Terakhir, pandangan Elara tertuju pada sebutir buah jeruk berwarna oranye segar. Karena ini adalah pengalaman pertamanya memakan buah-buahan daratan seumur hidup, ia tidak tahu bahwa ada bagian yang harus dikupas terlebih dahulu.

Tanpa ragu, Elara langsung memasukkan buah jeruk itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya bulat-bulat beserta kulit-kulitnya.

"Hweee... kenapa yang ini rasanya pahit sekali!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!