NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Lorong menuju ruang Kepala Sekolah sore itu terasa seperti jalur pendakian Gunung Everest. Panjang, sunyi, menyiksa, dan rasanya menyedot seluruh persediaan oksigen di paru-paru Almeera.

AC sentral sekolah menyemburkan udara dingin, namun telapak tangan Almeera basah oleh keringat dingin. Ia mencoba menarik tangannya, tapi jemari Akram justru mengunci genggamannya semakin erat. Langkah cowok itu mantap, seolah mereka hanya sedang berjalan menuju kantin, bukan menuju tiang gantungan.

"Kram," bisik Almeera pelan, suaranya bergetar. "Gimana kalau Heera beneran lapor ke Pak Haris? Gimana kalau dia ngasih tahu soal pernikahan kita? Sumpah, gue mending disuruh push up seratus kali di lapangan daripada dipanggil orang tua ke sini."

Akram tidak menoleh, tapi ibu jarinya mengusap punggung tangan Almeera dengan ritme yang menenangkan. "Napas, Al. Jangan panik sebelum kita tahu apa masalahnya. Kalau lo kelihatan takut, lo malah ngasih celah buat dicurigai. Masuk ke sana, dagu lo harus tetap naik. Paham?"

Kalimat itu diucapkan dengan tenang, namun efeknya luar biasa. Almeera menelan ludah, memaksakan diri menarik napas panjang. Ia mengangguk kaku, menguatkan egonya yang nyaris runtuh.

Mereka berhenti di depan pintu kayu berpelitur gelap dengan papan nama bertuliskan 'Drs. Haris Kusuma, M.Pd - Kepala Sekolah'.

Akram mengetuk pintu tiga kali.

"Masuk."

Suara bariton berat dari dalam membuat Almeera memejamkan mata sesaat. Akram mendorong pintu itu hingga terbuka. Keduanya melangkah masuk. Tangan mereka akhirnya terlepas, menyisakan sensasi dingin yang tiba-tiba membuat Almeera merasa kehilangan perlindungan.

Ruang Kepala Sekolah itu luas, dipenuhi aroma kertas tua dan pengharum ruangan beraroma pinus. Pak Haris duduk di balik meja kayu jatinya yang besar. Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat serius. Kacamata bacanya bertengger di pangkal hidung.

Dan yang membuat jantung Almeera anjlok adalah benda yang tergeletak di atas meja Pak Haris: Selembar foto hasil cetakan mading pagi tadi yang menampilkan wajah mereka berdua di panggung.

"Duduk," perintah Pak Haris singkat tanpa basa-basi.

Akram menarik kursi untuk Almeera, membiarkan cewek itu duduk lebih dulu, sebelum ia sendiri duduk di sebelahnya. Sikap tenang Akram yang seolah tak tersentuh membuat Pak Haris menyipitkan matanya.

"Bapak rasa kalian berdua tahu kenapa Bapak memanggil kalian lewat speaker sekolah sore-sore begini," Pak Haris memulai dengan nada berat. Ia mengetuk foto di atas mejanya dengan jari telunjuk. "Baru setengah hari Bapak dinas luar, grup guru sudah heboh dengan berita mading ini. Akram Pradana. Jelaskan ini."

Akram duduk dengan punggung tegak. "Itu foto saya sedang minum matcha latte milik Almeera di panggung gladi bersih, Pak. Tidak ada aturan sekolah yang melarang siswa berbagi minuman."

Pak Haris mendengus kasar. "Jangan bermain kata dengan Bapak, Akram. Kamu tahu bukan minumannya yang jadi masalah. Tapi beritanya. Klarifikasi yang kamu lakukan di kantin siang tadi. Apa benar kamu dan Almeera menjalin hubungan asmara?"

Almeera meremas rok abunya kuat-kuat. Bibirnya kelu. Ia menunggu Akram menyangkal. Ia berharap Akram mengeluarkan alibi masterpiece-nya untuk mengatakan bahwa itu semua hanya salah paham.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

"Benar, Pak," jawab Akram lugas, tanpa keraguan setetes pun. "Saya dan Almeera pacaran."

Deg!

Meski sudah menduga Akram akan melanjutkan sandiwara mereka, mendengar cowok itu mengakuinya secara formal di depan Kepala Sekolah rasanya tetap membuat jantung Almeera serasa mau meledak.

Pak Haris melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya dengan raut kecewa. "Akram... kamu itu Ketua OSIS. Anak kebanggaan sekolah. Kamu tahu persis aturan tidak tertulis bagi anggota inti OSIS. Tidak boleh ada hubungan asmara yang bisa mengganggu fokus akademik dan profesionalitas organisasi. Apalagi..."

Pak Haris melirik tajam ke arah Almeera. "...dengan siswi yang catatan akademiknya jauh di bawah rata-rata. Almeera, nilai ujian harian Matematika dan Fisika kamu bulan ini berada di angka 45. Bapak tahu kamu berbakat di musik, tapi ini sekolah, bukan studio rekaman."

Wajah Almeera memerah padam. Rasa malu dan gengsi bercampur aduk. Diremehkan masalah nilai di depan cowok terpintar se-Bina Bangsa benar-benar menghancurkan harga dirinya.

"Maaf, Pak," cicit Almeera sambil menundukkan kepala.

Melihat Almeera menunduk, rahang Akram mengeras. Ada sesuatu di dadanya yang terbakar melihat istrinya direndahkan, meski itu oleh Kepala Sekolah sendiri.

Akram mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke mata Pak Haris dengan sorot yang menantang namun tetap sopan.

"Pak, aturan OSIS melarang hubungan asmara yang mengganggu fokus akademik," kata Akram, menekankan kata mengganggu. "Bagaimana jika hubungan ini justru membawa dampak positif?"

Pak Haris mengangkat alisnya. "Maksud kamu?"

"Saya jamin, nilai Almeera tidak akan berada di bawah rata-rata lagi," ucap Akram mantap.

Almeera refleks menoleh menatap Akram dengan mata melotot. Lo ngomong apa sih, tiang listrik?! batinnya menjerit panik.

"Ujian Tengah Semester tinggal tiga minggu lagi," lanjut Akram, mengabaikan tatapan horor Almeera di sebelahnya. "Saya akan menjadi tutor pribadi Almeera setiap hari sepulang sekolah. Kalau nilai Matematika dan Fisika Almeera tidak tembus angka 80 di UTS nanti..."

Akram menarik napas pendek, lalu menjatuhkan bom keputusannya.

"...saya akan mengundurkan diri dari jabatan Ketua OSIS secara sukarela."

Ruangan itu hening seketika. Hanya terdengar detak jarum jam dinding.

Almeera membeku. Otaknya mendadak konslet. Angka 80?! Matematika?! Gue dapet 60 aja udah tumpengan! Dan... dia mau ngorbanin jabatannya?!

Pak Haris menatap Akram lekat-lekat, mencari keraguan di mata cowok itu. Namun yang ia temukan hanyalah tekad baja yang tak tergoyahkan. Kepala Sekolah itu akhirnya menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya.

"Kamu berani mempertaruhkan jabatan yang kamu kejar mati-matian sejak kelas sepuluh, hanya untuk seorang perempuan?" tanya Pak Haris pelan, nada suaranya berubah menjadi lebih lunak.

Akram melirik Almeera dari sudut matanya, senyum tipis terukir di bibirnya.

"Bukan sembarang perempuan, Pak. Tapi Almeera," jawab Akram tenang.

Almeera merasa wajahnya seakan baru saja disiram air mendidih. Perutnya bergejolak hebat. Ia buru-buru membuang muka, menatap ujung sepatunya sendiri, berusaha mati-matian agar air matanya tidak jatuh karena saking terharu dan gugupnya.

Pak Haris tersenyum tipis. "Baik. Bapak pegang janji kamu, Akram. Tiga minggu dari sekarang. Jika nilai Almeera tidak mencapai target, kamu serahkan id card Ketua OSIS kamu ke meja saya. Sampai saat itu tiba, Bapak akan pura-pura tutup mata soal gosip di mading. Silakan keluar."

"Terima kasih, Pak."

Akram berdiri, memberikan isyarat pada Almeera untuk mengikutinya. Mereka keluar dari ruangan itu dalam diam, berjalan menyusuri koridor yang kini sudah sepi karena bel pulang berbunyi setengah jam yang lalu.

Begitu mereka sampai di area parkiran yang kosong, pertahanan Almeera hancur berkeping-keping. Ia membalikkan badannya dan memukul dada Akram dengan tas ranselnya sekuat tenaga.

"LO GILA YA?!" jerit Almeera frustrasi, napasnya memburu. "Angka 80?! Matematika sama Fisika?! Lo pikir otak gue ini mesin kalkulator?! Otak gue ini isinya ketukan drum sama melodi, Akram! Dapet 60 aja butuh keajaiban, apalagi 80!"

Akram hanya terkekeh pelan, menahan pukulan tas ransel Almeera dengan satu tangan. "Lo ngeraguin kemampuan ngajar gue, atau lo emang males mikir?"

"Gue ngeraguin kewarasan lo! Kalau nilai gue jeblok, lo bakal turun jabatan! Reputasi lo bakal hancur! Dan itu semua gara-gara gue!" Suara Almeera mulai bergetar. Emosinya benar-benar memuncak. Antara merasa bersalah, panik, dan... tersentuh.

Mendengar suara Almeera yang bergetar, tawa Akram mereda. Ia melepaskan tas ransel itu, lalu melangkah maju. Tangannya terulur merapikan rambut Almeera yang sedikit berantakan karena angin sore.

"Al," panggil Akram lembut. Ia menunduk, menatap wajah gadis itu yang kini merah menahan tangis. "Gue nggak bakal turun jabatan. Tahu kenapa?"

Almeera mendongak dengan bibir mengerucut. "K-kenapa?"

"Karena gue nggak pernah kalah," Akram tersenyum percaya diri, senyum arogan yang kali ini entah kenapa membuat Almeera merasa sangat aman. "Dan gue nggak akan biarin istri gue dipandang sebelah mata sama siapa pun. Mulai malam ini, jadwal lo di apartemen cuma satu: belajar sama gue sampai otak lo berasap."

Almeera mendengus kesal, mengusap sudut matanya dengan kasar. "Dasar diktator! Suka-suka lo deh! Kalau lo sampai nangis darah ngajarin gue, jangan salahin gue ya!"

"Gue lebih suka bikin lo yang nangis ngerjain soal trigonometri," goda Akram sambil memakaikan helm ke kepala Almeera. "Naik. Kita pulang. Tutor lo udah siap nyiksa lo malam ini."

Pukul 20.00 WIB, Apartemen 2507.

Meja pantry apartemen yang biasanya bersih dan estetik, malam ini berubah wujud menjadi zona perang akademik.

Buku paket tebal berjejer. Kertas coret-coretan berserakan. Dua cangkir kopi hitam dan susu hangat tergeletak di sudut meja.

Almeera duduk di kursi bar dengan rambut diikat cepol asal-asalan, memakai kacamata antiradiasinya yang bulat besar. Ia sedang menggigit ujung pensilnya dengan frustrasi menatap deretan angka dan simbol sinus-kosinus yang baginya terlihat seperti aksara alien.

Di sebelahnya, Akram duduk dengan sangat santai. Ia memakai kacamata bacanya yang berbingkai tipis hitam—sebuah pemandangan langka yang diam-diam membuat Almeera salah fokus sedari tadi. Ketampanan Akram dengan kacamata baca itu rasanya tidak manusiawi, sangat nerd tapi mematikan.

"Lo lihatin muka gue terus, rumus di kertas itu nggak bakal otomatis pindah ke otak lo, Al," tegur Akram tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatan Almeera. Tangannya mengetuk-ngetuk pelan kertas di depan gadis itu dengan ujung bolpoin.

"S-siapa yang lihatin elo!" Almeera tergagap, buru-buru menunduk menatap bukunya. "Gue lagi mikir! Ini angka 2 dari mana asalnya coba?! Tadi di baris atas nggak ada!"

Akram menghela napas panjang. Ia menggeser kursinya merapat hingga bahu mereka bersentuhan. Aroma maskulin itu kembali menguar, mengganggu konsentrasi Almeera yang memang sudah setipis tisu.

"Ini dipindah ruas, Almeera Azzahra. Positif pindah ruas jadi negatif," Akram mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya melingkar di belakang kursi Almeera untuk menunjuk bagian kertas yang salah.

Posisi itu membuat Akram seolah sedang memeluk Almeera dari samping. Wajah cowok itu begitu dekat hingga hembusan napasnya mengenai pipi Almeera.

Almeera membeku. Otaknya yang tadi sedang memproses angka, kini benar-benar blank. Jantungnya berdetak liar. Ia melirik profil samping wajah Akram. Bulu mata cowok itu terlihat panjang di balik lensa kacamatanya, dan rahangnya yang tegas bergerak pelan saat ia berbicara.

"Paham nggak?" Akram menoleh, tepat saat Almeera sedang menatap bibirnya.

Jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa inci.

Hening.

Mata hitam legam Akram menatap lurus ke dalam mata cokelat Almeera. Ia tidak menarik wajahnya menjauh. Sebaliknya, tatapan Akram perlahan turun dari mata Almeera, menatap bibir gadis itu, lalu kembali ke matanya.

Napas Almeera tertahan. Ia merasa seluruh darah di tubuhnya berdesir hebat.

"Fokus, Al," bisik Akram, suaranya serak dan sangat berat. "Kalau lo natap gue dari jarak sedeket ini terus... gue nggak jamin kita bakal lanjut belajar."

Sengatan listrik itu membuat Almeera tersadar. Ia langsung memundurkan wajahnya dengan panik hingga kursinya nyaris terjengkang ke belakang.

"E-eh! I-iya! Pindah ruas! Gue paham! Gue kerjain sendiri!" seru Almeera heboh, menarik bukunya menjauh dan mulai mencorat-coret asal untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

Akram terkekeh pelan. Ia bersandar kembali ke kursinya, menikmati pemandangan istrinya yang sedang salah tingkah luar biasa. Belajar matematika ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang ia perkirakan.

Namun, di tengah suasana romantis-canggung itu, layar ponsel Almeera yang tergeletak di atas meja tiba-tiba menyala. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp muncul.

Karena ponsel itu terletak tepat di tengah meja, mata Akram tanpa sengaja membaca pop-up banner pesan tersebut sebelum Almeera sempat membaliknya.

Reyhan Dirgantara:

Al, Ketos arogan itu beneran pacar lo? Atau dia cuma alibi doang? Gue ngerasa ada yang aneh. Kita ketemuan besok yuk, ada yang mau gue omongin.

Udara di meja makan itu mendadak berubah menjadi es.

Tangan Akram yang memegang bolpoin seketika berhenti mengetuk meja. Rahangnya kembali mengeras. Ketenangan yang baru saja terbangun hancur lebur dalam hitungan detik.

Almeera yang baru sadar ponselnya menyala, melirik layar dan matanya membelalak ngeri. Ia buru-buru menyambar ponsel itu, tapi Akram sudah lebih dulu menahan pergelangannya dengan gerakan cepat namun tak terbantahkan.

"Oh," suara Akram sangat dingin, menusuk langsung ke gendang telinga Almeera. "Jadi musisi jalanan itu masih belum nyerah juga?"

"K-Kram, ini... ini cuma Kak Reyhan nanya biasa," cicit Almeera, berusaha melepaskan tangannya, namun genggaman Akram terlalu kuat.

Akram menatap Almeera dengan kilat berbahaya di matanya. Rasa cemburu buta yang sempat mereda kemarin, kini kembali menyala seperti disiram bensin.

"Balas pesannya sekarang," perintah Akram dengan nada mutlak, melepaskan tangan Almeera dan menunjuk ponsel itu dengan dagunya. "Bilang sama dia, lo nggak bisa ketemuan karena besok lo ada kencan. Sama cowok lo yang sebenarnya."

1
Sri Musdalefi
dasar orang tua ngak punya otak...
Khusnul Khotimah
bukannya Shofia sudah tahu yah rahasia pernikahan waktu ngasih sufres ke apartemennya.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
Aidil Kenzie Zie
sampai jumpa di cerita selanjutnya thor 🥰🥰💓💓💓
Aidil Kenzie Zie
bukannya Shopia udah tau y tor pas bab21 apa pura-pura aja🤔🤔🤔tapi kok histeris gitu
Khusnul Khotimah: iya di baba 21 kan udah tahu shopia
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Astaga ini orang tuanya kok ndk ngerti posisi anaknya masih sekolah sich 😡😡
Aidil Kenzie Zie
udah mau lulus ternyata 🤭🤭🤭 kirain masih kls 2🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
nggak usah mikir kariernya Al takutnya kalian di DO dari sekolah gara-gara nikah masih sekolah 😭😭😭tapi kalo pake kekuasaan papanya Akram mungkin masih lolos 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Al terima aja perlakuan Akram disekolah toh wajarlah dia kan suami kamu 🤣🤣🥰🥰
Murni Dewita
👣
Aidil Kenzie Zie
bukannya begitu mereka masuk pintu dikunci?kok datang oma bilangnya nggak dikunci apa pake remote y tor🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
penasaran itu si Devan emang siswa murni pindahan atau ada campur tangan Heera🤔🤔
Emi Sudiarni
kren kak critanya
Aidil Kenzie Zie
jangan sampai Akram nekat unboxing kamu Al gara-gara cemburu 🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Heera cari mati 😡😡😡
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
jujur Al
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Aidil Kenzie Zie
lha si Mak mak nggak paham apa kalo anak sekolah belum boleh nikah kecuali kuliah nggak mungkinkan ngaku kalo mereka suami istri 🤦🏻🤦🏻🤦🏻🤦🏻
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!