[SUDAH TERBIT]
Ingin beli, chat me atau DM di @diagaa11
Dengan sengaja aku menggantikan kakakku di hari pernikahan kakakku. Namun pada akhirnya aku kehilangan pria yang kucintai, inikah karma?
***
Zora: Aku ini istrimu apa peliharaan yang selalu di kurung?
Gavin: Sekali kau menjadi milikku, jangan berharap orang lain bisa menyentuhmu
Cek lanjutannya...
Note: Part tidak lengkap karena untuk kepentingan penerbitan.
#My Third Novel#
Ig: @diagaa11
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiAgaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberanikan Diri
Gavin memberanikan diri ingin membuka pintu di depannya, namun perawatan yang baru datang mengejutkan Gavin.
"Excuse me sir, what are you doing here? (Permisi tuan, apa yang anda lakukan di sini?)"
"Oh I'm sorry, I'm a patient family. I want to visit her (Oh maafkan aku, aku keluarga pasien. Aku ingin mengunjunginya)," jawab Gavin
"I see, but sorry sir... Patients will soon enter the operating room (Oh baiklah, tapi maaf tuan... Pasien akan segera memasuki ruang operasi)"
"Is this time for surgery? (Apa ini waktunya untuk operasi?)" tanya Gavin
"Yes sir (Iya tuan),"
Gavin pergi kembali ke ruangan Radit, sementara perawat tadi menjemput Zora untuk segera memasuki ruang operasi.
"Radit..." panggil Gavin tergesa-gesa
"Apa sih Gav? Jangan ngagetin lah," protes Radit
"Apa... Apa ini waktu Zora lahiran?" tanya Gavin
"Iya, jadwalnya hari ini. Kenapa?" tanya Radit
"Kenapa operasi?" tanya Gavin
"Pinggul sempit," jawab Radit
Gavin mulai panik sendiri, ia tau jika Zora itu takut jarum suntik. Malah sekarang Zora harus di operasi untuk kelahirannya.
"Lebih baik kau temani dia, saat ini keluarganya belum ada yang datang," pinta Radit
"Huh baiklah," jawab Gavin
Gavin keluar dan berlari mencari ruang operasi. Ia ingin sekali menemani Zora berjuang untuk kelahiran anaknya. Gavin menunggu di luar cemas, mondar-mandir ke sana kemari karena cemas.
"Ya Tuhan... Semoga Zora baik-baik saja," gumam Gavin
Doa tiap Doa terlontar dari mulut Gavin, tak lama Gavin mengambil ponselnya dan menelfon Rose.
"Halo..."
"Halo ini siapa? Berikan ponselnya pada Rose!"
"Kak Gavin? Kenapa telfon?"
"Mike? Kenapa kau membawa ponsel Rose?"
"Uhm... Dia calon istri ku, kami sedang bersama. Ada apa kak?"
"Datanglah ke rumah sakit kota sekarang bersama Rose!"
"Ada apa? Apa kau sakit?"
"Zora melahirkan!"
"Apa? Oke-oke kami segera ke sana!"
Tak lama Rose dan Mike datang berlari menghampiri Gavin yang cemas sejak tadi.
"Bagaimana Zora?" tanya Rose
"Ia masih di dalam," jawab Gavin
"Bagaimana kakak bisa menemukan Zora?" tanya Mike
"Ceritanya panjang!" jawab Gavin
½ jam kemudian seorang perawat datang keluar menghampiri Gavin, Mike dan Rose yang cemas sejak tadi.
"Zora's family? (Keluarga Ibu Zora?)"
"Saya suaminya," jawab Gavin
"Like this, Zora's mother is bleeding too much. He needs additional blood supply, but right now blood type A is empty. Are any of you blood type A? (Begini, ibu Zora berdarah terlalu banyak. Dia membutuhkan suplai darah tambahan, tetapi saat ini golongan darah A kosong. Apakah ada di antara Anda golongan darah A?)"
"I... My blood type is A (Aku... Golongan darahku A)," jawab Rose
"Follow me for a match test (Ikuti saya untuk tes kecocokan),"
Rose secepatnya pergi mengikuti perawat tersebut untuk mendonorkan darahnya. Waktu berjalan, semua telah selesai. Zora berhasil melahirkan dengan selamat, Rose juga sudah mendonorkan darahnya.
"Huh.... Syukurlah semua selesai," ucap Gavin menghela nafas
Gavin mengikuti perawat tadi yang membawa Zora kembali ke kamar perawatan. Gavin sejak tadi duduk di samping Zora sambil menggenggam tangan Zora.
"Sorry, give him the best medicine so he doesn't feel pain after the anesthesia is gone (Maaf, berikan dia obat terbaik agar dia tidak merasakan sakit setelah anestesi hilang)," pinta Gavin
"Okay Sir (Baik tuan),"
Gavin setia menemani Zora sampai Zora kembali sadar.
"Zora... Sadarlah, aku di sini! Ayo kita pulang dan besarkan anak kita dengan baik. Ayo bangun rumah tangga kita dengan penuh cinta," gumam Gavin sambil mencium tangan Zora
Zora sedikit menggerakkan jarinya, perlahan ia membuka matanya. Ia melihat ada seorang pria di samping nya.
"Radit..." panggil Zora
Gavin terkejut saat mendengar Zora menyebutkan nama Radit. Ia menyesal saat tau Radit lebih sering menemani Zora selama mengandung.
Apakah se cinta itu kau pada Radit, aku Gavin Ra... Gavin! Maafkan aku tidak menemanimu selama kau mengandung - Batin Gavin
Gavin melonggarkan genggamannya, ia berniat ingin pergi. Gavin sungguh tidak ingin menyakiti Zora lagi. Namun tangan Zora mengencangkan genggamannya.
"Jangan pergi..." pinta Zora
"Apa?" gumam Gavin
"Jangan tinggalkan aku..." pinta Zora
Gavin mengurungkan niatnya untuk pergi, ia kembali duduk di samping Zora.
"Zora...." panggil Gavin
"Ga Gavin... Ja jangan ambil anakku! Jangan pisahkan aku dan putriku!" pinta Zora
"Tidak.... Aku tidak akan memisahkan kalian. Zora ayo pulang, ayo kita rawat putri kita bersama," pinta Gavin
"....."
Zora masih tidak percaya dengan perkataan Gavin, selama ini yang Zora takutkan adalah Gavin akan mengambil putrinya. Itu juga jadi alasan mengapa Zora belum siap kembali bersama Gavin.
"Tidak... Kamu hanya menginginkan putriku!" jawab Zora
"Ti tidak Zora, aku juga menyayangimu. Aku mencintaimu!" jawab Gavin
Zora terkejut mendengar jawaban Gavin, ia seperti tidak percaya dengan perkataan Gavin.
"Sudahlah... Jangan tipu aku Gavin," jawab Zora
"Aku serius, aku mencintaimu. Sejak kau pergi, kau seperti membawa setengah nyawaku. Aku tidak bisa lagi hidup dengan tenang Zora, aku mohon cukup kau menyiksaku! Aku mencintaimu!" jawab Gavin
Zora masih bingung harus apa, haruskah ia senang? Atau sebaliknya? Atau malah harus waspada? Entahlah, bolehkah Zora melupakan hal ini sejenak saja?
"Zora..." panggil Viola yang baru datang
"Kakak..." jawab Zora sambil tersenyum
"Gavin?" kaget Viola
"Baru datang?" tanya Gavin
Viola dan Leon yang baru datang melongo melihat Gavin yang sudah dulu datang di samping Zora.
"Masuklah," ujar Zora yang membuyarkan lamunan Viola dan Leon
"Selamat jadi ibu adikku sayang..." ucap Viola sambil memeluk Zora
"Terima kasih kakak. Kau juga harus siap jadi tante," jawab Zora
"Oh seperti aku akan terlihat semakin tua dengan keponakan cantik ku ya!" ujar Viola
"Walau tua kau tetap cantik," jawab Zora
"Bisa saja," ucap Viola
Jika Viola dan Zora berpelukan mesra, Gavin sedang sibuk menghalangi Leon agar tidak terlalu dekat dengan Zora.
"Apa yang kau lakukan Gavin!" kesal Leon
"Jangan dekat-dekat dengan Zora! Dia mungkin masih sakit!" jawab Gavin
"Mana ada orang sakit hanya karena dekat denganku!" kesal Leon
"Tidak bisa, pokoknya jangan dekat-dekat!" larang Gavin
"Excuse me, but it's time for the baby to drink breast feeding (Maaf sudah waktunya bayi minum ASI)" ucap perawat yang baru masuk
"Oh okay," jawab Zora
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Happy reading:)
Rasain tuh Vin,saat kamu di tinggal baru kamu tau arti kehilangan dan penyesalan..😡😡