"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah
mata Sena mulai sembab melihat wajah dingin Mamanya yang tergeletak di tanah, tanpa busana yang utuh.. lebam dan bahkan luka gores yang cukup parah! di sampingnya terduduk dengan tanpa baju namun masih menyisakan celana nya, pak Surya menatap dendam dan marah pada kepala Desa yang terus meneriaki nya berzina dengan Utari, Mama dari Sena
"saya berani bersumpah!!! jika benar saya yang berniat buruk pada Utari maka biarkan petir menyambar habis saya dan keluarga saya!!" pekik Surya, suaranya yang bergetar dan penuh amarah menggema di telinga mereka semua banyak yang tak berani percaya karena mereka tau siapa Surya dan banyak juga yang curiga jika Surya memang di jebak dengan dalang yang sebenarnya adalah kepala desa sendiri, pria tua berhidung belang yang sudah lama mengincar Utari semenjak wanita itu masih gadis dulunya
Maja terduduk lemas di samping tubuh istrinya, matanya menatap kosong. baru tadi pagi dirinya masih bergurau dengan istrinya itu, suara dan tawanya masih terngiang indah di telinganya. tubuhnya gemetar, tak ingin percaya jika wanita yang terbaring dengan mata yang melotot menunjukkan ketakutan dan dendam itu bukanlah istrinya
"Tari... Tar? kamu dengar suara aku kan?.. Tar.. ayo bangun.. aku disini.." lirihnya bergetar hebat
"Maja.. percayalah.. ini semua salah faham! saya tidak akan melakukan hal buruk pada Tari, dia seperti adikku sendiri!! ini.. pak Darwin yang melakukan..."
"DIAMM!!!!" teriak Surya, matanya memerah menahan amarah. Surya menggelengkan kepalanya, Surya tau jika akan sia-sia untuk dirinya menjelaskan sekarang
Sena yang masih polos itu menatap Surya dengan penuh tanda tanya, kenapa? apa yang terjadi? mengapa pak Surya dan Mamanya tak memakai baju yang utuh? mengapa pak Surya masih bangun sedangkan Mamanya sudah seperti tak bernafas lagi? mengapa pak Surya melakukannya?
pak Surya membisu, bibirnya terasa kelu melihat tatapan Sena yang begitu menusuk, bukan! bukan dirinya! dia bukan pelakunya!! tapi bagaimana menjelaskan hal itu pada mereka disaat hati dan fikiran mereka sedang kacau sekarang ini?
"pak!! pak.. Bapak kenapa? apa yang terjadi pak?" tanya Rini menangis menghampiri suaminya yang sudah menyimpan begitu banyak lebam pada tubuhnya
Surya menggelengkan kepala sambil menatap mata istri nya, Arini faham maksud suaminya dia pun percaya jika suaminya tak akan melakukan hal keji itu!
"tak ada ampun untuk pezina! Desa kita tidak boleh tercemar karena orang keji ini!" teriak Darwin mengangkat parang di tangannya
"benar!! Desa kita memang tidak boleh tercemar! Bisma punya bukti jika Bapak gak bersalah!!" teriak Bisma lantang, tak rela jika ayahnya menjadi kambing hitam, bocah itu dengan temannya juga memiliki lebam pada mata dan tulang pipi mereka
Maja tak lagi peduli dengan mereka semua, tubuhnya yang gemetar itu berusaha sekuat tenaga menggendong istrinya, dalam benaknya dia hanya ingin menyelamatkan sang istri, Sena mulai menangis, suara nya begitu pilu melihat Mamanya yang lemas dalam pangkuan sang Papa. banyak yang ingin membantu Maja, bahkan mereka menyiapkan mobil pick up untuk membawa Utari ke rumah sakit, di tengah kerumunan pak Adam buk Uswati berteriak histeris melihat putrinya yang di bopong sang menantu, mereka ikut naik ke mobil untuk segera kerumah sakit
sedangkan Bisma menyerahkan bukti kebejatan pak Darwin pada warga, membela sang Ayah agar terlepas dari kambing hitam itu
"ini milik pak Darwin! wah.. ternyata orang bejat yang sebenarnya adalah kepala desa kita!" ucap seorang warga melihat sabuk, kalung emas dan jam tangan milik Darwin
"semua barang ini kami rampas saat pak Darwin ingin melarikan diri! saya, bapak dan Riki ingin membantu bibi Tari yang di lecehkan pak Darwin tapi pak Darwin malah memukul kami bahkan bapak juga di pukul sampai pingsan! pak Darwin lupa dengan sabuknya tapi jam tangan dan Emas memang kami yang merampas saat dia berusaha menyakiti kami! Bapak di fitnah!! dalang yang sebenarnya adalah pak Darwin!!" jelas Bisma yang kesaksian nya di benarkan oleh Riki, teman sebayanya itu
"DIAM!!! semua ini bohong!! omongan bocah ini BOHONG!! dia hanya ingin melindungi laki-laki biadab ini!!" Bantah Darwin ketakutan
"tak pantas!! kami sudah menduga jika pak Surya tidak mungkin sekeji itu!!"
"anak-anak itu berbohong!!! mana mungkin say.."
"biadab!!! manusia laknat! tidak pantas menjadi kepala Desa Bukit Rindang! benar-benar mencemarkan nama baik Desa kita!! hukum dia!!" potong warga Desa
semua warga Desa yang sudah curiga sejak awal mulai mengerumuni pak Darwin tak mendengar rintih atau maaf nya, tak peduli dengan pembelaannya mereka bermain hakim sendiri, melepas geram yang sudah lama mereka pendam. kali ini menjadi kesempatan untuk mereka menggulirkan Darwin yang sudah cukup lama meresahkan warga Desa
"Bapak.. Sena.. Bibi Tari.." Arunika yang sejak tadi terabaikan, menangis dan bingung tak ada yang memperdulikannya. Sena meninggalkannya begitu saja setelah menepis tangannya tadi, tangis pilu Sena mengundang tangisnya juga, apa yang terjadi? mengapa semua menyalahkan ayahnya? lalu mengapa dengan bibi Tari? mengapa dia terluka? mengapa dia diam padahal matanya terbuka? kenapa semua orang memukuli kepala Desa setelah itu? semua pertanyaan itu memutar di benaknya tanpa ada jawaban tanpa ada seseorang yang akan menjawab nya
"Aru... jangan nangis.. jangan nangis ya? kita kerumah sakit juga liat keadaan bibi Tari di sana" ucap Bisma menenangkan adiknya itu
seorang wanita paruh baya, berpakaian rapi dan mewah juga dengan tampilan yang menor lengkap dengan kaca mata hitam dan Hell's nya datang ke tengah kerumunan
"sudah sudah!!! jangan main hakim sendiri lagi.. bawa dia kepihak berwajib! tak boleh ada ampun untuknya!" ucap Surya membenahi kericuhan itu
"benar!! pak Surya benar.. pria bejat ini memang harus di hukum mati!!" sahut warga lainnya menarik paksa Darwin yang sudah lemas dan babak belur itu
"khm.. permisi.. saya mau tanya, rumah Liando anak saya dimana ya?" tanya wanita itu dengan tangan yang begitu ragu menyentuh pundak salah satu warga desa
"Liando? ah.. maksudnya pak Maja ya? dia di rumah sakit sekarang istrinya terluka parah setelah di lecehkan kepala desa, anda ini mertuanya Utari ya? wah kebetulan sekali" jawab pak Mali yang kebetulan sekali dirinya di tanya
"mertua? saya tidak punya menantu orang desa!! tunjukkan rumah sakit di mana, saya ingin menjemput putra saya! Liando Atmaja!" celetuk nya dengan nada angkuh, pak Mali ingat jika Maja memang tinggal di desa tanpa persetujuan keluarganya, Mali menggelengkan kepalanya tak habis fikir melihat kesombongan wanita itu
"ikut pak Surya saja, dia akan ke rumah sakit kami akan membawa pak Darwin kekantor polisi setelah itu baru kami menjenguk Utari" jawab pak Mali menunjuk ke arah Surya dan keluarganya yang sudah menaiki mobil pick up lainnya, wanita itu mendengus kesal meninggalkan warga desa yang masih ribut disana
Maja berdiri dengan kepala yang di sandarkan pada pintu ruang ICU, batinnya terus berdo'a agar istrinya selamat.. Sena sudah sesenggukan duduk di kursi tunggu rumah sakit itu, suaranya tak lagi terdengar namun air matanya masih mengalir cukup deras neneknya, Uswati memeluknya erat sambil menangis mencoba menenangkan cucunya itu, Adam pun meski hatinya remuk dia berusaha tabah dan menenangkan menantunya, mengelus pelan pundak Maja memberinya sedikit rasa tenang
"Liando?" panggil seseorang dari kejauhan, Maja berbalik menatap wanita yang sudah hampir dua belas tahun tak dilihatnya itu
"Mama?" gumamnya lemas, suaranya pun serak
"ayo pulang!! sudah saatnya perusahaan papa kamu, kamu ambil alih!!" pekik wanita itu menarik kuat tangan Maja
"Ma!! apa Mama datang hanya demi hal itu? istri aku masih didalam Ma! setidaknya Mama tanya bagaimana keadaannya dulu!!" tolak Maja menepis tangan Mamanya
"Liando!!" kesal wanita itu
"heh.. wanita desa itu tak pantas buat kamu!! dia bahkan sekarang sudah tak suci lagi buat apa kamu pertahan kan!! lebih baik kamu pulang sekarang! Sera jauh lebih baik dari wanita itu!!" teriak nya pada putranya yang menatapnya dengan penuh amarah itu
"Wanita desa yang kamu rendahkan itu adalah putriku!!! kamu tidak pantas menghinanya!!" balas Uswati yang terima dengan keangkuhan wanita yang berstatus besannya itu